Tuesday, August 3, 2010

Gulawentah

Sudah 22 tahun ternyata Alloh memberikan jatah usiaku, insyaAlloh ke depan harus menjadi hamba yang lebih bermanfaat untuk orang-orang yang disayang dan cintai....

Oia, tiba-tiba saja saya teringat semalam, habis cerita dengan teman kosan mengenai kehidupan masa kecil yang saya lalui dengan tinggal bersama Eyang Kakung dan Eyang puteri. Sejak kecil dari mulai lahir jebrot saya memang tinggal bersama Eyang Kakung-Puteri serta Ibu dan juga Mas Warih. Karena Ibu sibuknya bekerja, otomatis segala bentuk gulawentahan setiap hari bersumber langsung dari Eyang. Singkat cerita, Eyang saya itu adalah sosok yang 'njawani' banget istilahnya. Beliau seorang mantan kepala desa dan lurah selama 28 tahun pengabdian. Jadi, tentunya masyarakat sekitar sangat hormat dan segan kepada Eyang dan keluarga kami. Oleh karena sifatnya yang begitu 'mbapaki', dan sangat 'lurus' itulah beliau keras dalam mendidik kami. Mungkin memang, bagi orang yang belum memahami, hal-hal seperti itu dianggap 'saklek' dan 'strike' sekali, tapi apapun itu, saya bersyukur sekali bisa menemani dan 'nderek' Eyang sampai akhir usia beliau.

Ketika pertama kali saya menempati 'garasi semang saya' di Jogja, saya berkenalan akrab dengan mas-mas yang menempati garasi di depan tempat saya tinggal. Dulu kami sering ngopi bareng sembari bertukar banyak hal dan pengalaman. Tiga orang mas-mas yang sering ngobrol dengan saya itu suatu ketika pernah bertanya: "Ning, entah kenapa jadi pengin sekali main ke rumahmu, kenal dengan keluarga kamu". Hehe, ini bukan suatu rayuan atau apa, tapi benar-benar mereka ini penasaran sekali dengan keluarga saya. Ketika saya cerita tentang "budaya' keluarga saya, baru mereka memaparkan dengan senyum:
"Ooo...pantes....dah kelihatan banget kok dari cara kamu jalan, cara kamu duduk, cara kamu bicara, hahaha".
Waktu itu, saya tidak begitu paham maksudnya, tapi sekarang setelah dirunut lagi, barulah jelas sekali maksud perkataan mereka 4 tahun lalu.

Sebagai prolog saja tadi, memang Eyang saya baik Kakung maupun Puteri menggulawuntah saya dan Mas Warih dengan didikan yang 'njawani' banget.
Contoh kecil yang sampai sekarang saya bawa: cara duduk setimpuh dimana-mana; ambeng/piring yang disesuaikan dengan ukuran usia, misal: ambeng untuk Eyang, khusus dan tidak ada seorangpun yang berani memakai, saya pun menyadari piring saya sendiri yang mana. Itu juga berlaku untuk gelas. Gelas khusus dari mulai Eyang sampai rewang di rumah.

Saya juga ingat, betapa dulu takutnya ketika makan malam bersama-sama, jangan sampai bikin suara 'kecap' ataupun gaduhnya sendok beradu dengan piring, wuihhh....sekali di lirik Eyang Kakung saja. kami sudah 'godres' ketakutan, kalau-kalau 'githik kayu'nya sampai melayang ke tangan atau badan kami. Oia, sekedar tahu saja, untuk kursi/ posisi duduk pun seperti sudah 'diatur' juga di rumah kami, mana yang 'biasa' untuk Eyang, mana pula yang untuk kami. Hahaha...terbayang kan bagaimana 'budaya' di rumah Eyang yang sangat saya rindukan sekarang....T_T hiks,,

Belum lagi didikan yang lain, dari mulai membatik, masak sama rewang di rumah, bahkan ketika njagong, saya ingat sekali selalu menemani Eyang Puteri, duduk di sebelahnya, didandani dengan dress 'nyepruk' dengan rambut dikuncir ala daun jambu (diikat satu di atas lalu diberi pita warna-warni).
 Kemudian sambil membawakan tas Eyang, 'nderek lenggah' bersama Eyang-Eyang yang juga berhaha-hihi dengan panggilan khas 'mbakyu' atau 'mas lurah', dengan bau khas sirihnya yang 'nyegrog' hidung. Lalu Eyang-Eyang yang lain itu akan memberikan 'salam tempel' kepadaku kalau pulang, atau sekadar memberikan bungkusan kacang mede atau permen warna-warni. Hehehe, salah satu senangnya jadi wayah mantan Lurah yaa itu salah satunya, banyak diberi makanan dan sangu (yaa, walaupun kala itu hanya Rp 25,- tapi nilainya sudah sangat besar bagiku).

Eyang Kakung sangat sayang, sangat-sangat menyayangi kami (saya dan mas), tapi nek lekas duka...weleeh....sampai-sampai Eyang Puteri nangis-nangis nggondeli supaya beliau tidak menghukum kami. Hukumannya sih sederhana, cukup diikat dengan jarik, lalu ditaleni di cagak/soko tiang di rumah, atau di'rut' istilahnya. Bukan sesederhana itu namanya kalau hukuman, tapi yang membuat takut kala itu adalah kami diikatnya di "kamar lawa", istilah kami untuk menyebut "ruang pengasingan sementara" di rumah Eyang. Ruangan di belakang omah nggandok, di dekat sumur tua di belakang rumah, ruangan yang sudah sangat lama tidak dipakai, hanya untuk gudang kayu, sehingga di atapnya sudah menjadi sarang kelelawar yang jumlahnya puluhan......(Wuaaaa.....bisa dibayangkan kan betapa takutnya kamu, apalagi kalau hukumannya dilakukan tengah malam, hiks....). Atau kadang juga, jika kesalahan kami sampai membuat Eyang sangat-sangat "duka", cemeti amarasuli akan menyusul untuk memecuti tubuh kami....(hedeeewww....serem sihh).

Saya pernah secara sembunyi-sembunyi mengajak teman-teman saya yang 'urakan' untuk bermain di rumah (karena mereka itu tidak berani menginjakan kaki di rumah, maka saya yang memaksa untuk main ke rumah--padahal Eyang paling tidak suka saya bergaul dengan anak-anak yang bengal dan tidak tahu tata krama). Nah...kebetulan, kamar mandi Eyang yang di luar dekat sumur itu luas sekali, apalagi bak mandinya...seperti kolam renang. Dengan air yang wening, jernih (salah satu inspirasi nama saya, haha=D), kami dengan 'urakannya' mandi nyemplung dan ciblon di bak mandi itu sambil main busa sabun.

Sampai ketika tiba-tiba Eyang Puteri mengetahui dan duka sejadi-jadinya sama saya dan teman-tema, duhh...malunya ketika Eyang memarahi teman-teman saya itu (dan jangan harap mereka sampai detik ini mau main ke rumah lagi=P). Ketika Eyang Kakung dilapori, beliau langsung menjewer telinga saya sampai merah, dipecuti dan direndam di bak selama sehari dikunci dari luar kamar mandi, hahahahahahaha.......=D

Yaa Tuhaann....mungkin kalau itu terjadi di jaman sekarang, ada orang yang melaporkannya sebagai bentuk KDRT terhadap cucu kali yaa...=P

Tapi, apapun itu, yaah...bentuk kenakalan anak kecil yang 'ingin mencoba berontak' dari 'aturan Ndalem' saja, hahahaa....=D

Saya sangat sangat bersyukur mendapat gulawentahan yang sangat bermakna dari Eyang.....=) dan selalu merindukan masa-masa indah itu......=*








*****