Monday, March 21, 2011

Pagi ini, kembali kulihat ia.......

Pagi ini, saat jadwal ngeshift, kembali aku melihatnya.....
Dari kursi dan dari balik kaca hitam ruangan ini, aku dapat dengan jelas memperhatikan segala tingkahnya.

Dia memikul cobek itu dalam sebuah keranjang dari rotan, yang dipikul di depan dan di belakang. Ayunan langkahnya yang mulai rapuh, tetap bersatu dalam semangat. Peluh atau lelah, jelas bukan suatu halangan baginya untuk tetap melangkah. Keliling dari ujung mana entah sampai ke ujung mana. Sepasti, yang aku lihat dan aku hafal dari penglihatan mataku, dia melangkah dari ujung jalan yang sangat jauh itu; menuju pasar, menunggui pembeli di pojokan kios pinggir jalan; tawar-menawar dengan pembeli pun terkadang tidak seberapa harga dibanding perjuangan dan semangatnya; setelah siang hari, saat pasar mulai sepi, seperti hari ini--saat jam-jam segini--ia melangkah memutari kampung-kampung; memikul puluhan kilo tumpukan cobek di bahu kirinya. Jika lelah, ia akan memindahkan ke bahu kanannya. Terkadang, entah telah terisi nasi dan air atau belum seharian itu, tapi ia masih tetap semangat mengayun langkah. Hanya sesekali, ia berhenti di depan, berlindung dari teriknya mentari di bawah pohon kulbanda nan rindang. Sambil mengusap peluh di dahi dengan tangannya. Lima menit, ia kembali melangkah keliling kampung. Begitu setiap hari, setiap aku menyaksikannya.....

Dia orang yang terlalu kuat, untuk mudah ditaklukkan oleh nasibnya...... Dia orang yang terlalu sehat, untuk rajin meminum obat-obatan dari dokter spesialis--seperti yang aku lakukan setiap hari..... Dia orang yang terlalu bahagia, untuk mampu menangisi perjuangannya.....


Ternyata, pagi ini, aku masih mampu melihatnya,.....menyaksikannya dari sudut pandang kekaguman, ......kenanaran,......,dan segenap rasa malu pada diriku,......

Ingin sekali berteriak kepadanya "aku sungguh mengagumimu", andaikan ia seorang artis yang haus dipuja-puja, atau andaikan ia seorang pejabat yang haus akan hormat,.....

Akan tetapi, orang seperti dia-lah yang mengajariku akan arti sebuah kehidupan,.....,kekuatan,......, dan semangat baru,......

Bukan air mata yang ia ajarkan,.....,tentu bukan itu yang ia harapkan atas pandangan orang kepadanya,.....


Oalah, Mbah,.....,hari ini, aku kembali belajar darimu,......, mendapat ilmu penting yang tidak pernah aku temukan dari dosen-dosen maupun mata kuliah apapun,......
Aku kembali menatapmu dari kursi ini,
Di usiamu yang sekitar 80 tahunan, dengan kulit-kulit yang sudah usang mengeriput, dengan selembar baju tipis hitam yang selalu kau kenakan itu, dengan butiran-butiran peluh yang keluar dari tubuhmu, dengan sendal jepit hijau tipis yang selalu menemanimu itu,......

Kau masih sangat perkasa memikul enam hingga delapan cobek batu besar maupun kecil, yang berat berkilo-kilo itu......


Aku akan berucap dengan penuh kebanggaan:


Engkau salah satu dari GURU dalam kehidupanku,...Mbah...

Bukan mengenai ilmu matematika, bukan ilmu alam, bukan ilmu sosial pula...
tentu lebih dari itu....


Tetaplah sehat ya Mbah Kung,.....,siapun namamu--orang bilang, apalah arti sebuah nama,......mungkin itu yang pantas kau ucapkan pada orang-orang yang memandangmu dengan penuh hormat, seperti aku.....

Tetaplah tersenyum,......,karena dengan melihat senyummu dari balik kaca hitam ini, aku akan sangat merasa bahagia, melebihi senyummu,......dan aku akan merasa jauh lebih sehat dan semangat untuk menapaki pekerjaan dan kesibukanku,.....


Karena, andai Njenengan tahu Mbah,......aku ingin memelukmu, bukan karena rasa ibaku padamu Mbah,....

terlebih,


karena dengan memelukmu, aku bisa menguatkan diriku sendiri.........

seperti yang aku rasakan, ketika aku memeluk Albert, Anwar, Puji, dan adik-adik kecilku yang lain di SDLB  itu,......




Aku sungguh mencintaimu, Mbah......seperti aku mencintai mereka,.............