Tuesday, July 26, 2011

Galau...

Entah apa yang sebenarnya bersarang dalam diriku ini. Sudah berulang kali aku merasakannya. Rasa sakit yang begitu luar biasa di dada kiriku. Rasanya aku sering hampir pingsan bila berlari-lari menuju kampus karena terlambat kuliah. Sering pula aku alami rasa sesak yang amat di dadaku, rasanya susah sekali untuk bernafas. Saat berenangpun, pernah dadaku seperti hampir terbakar rasanya. 

Aku mencoba untuk tidak menggubris semua itu. Aku masih begitu bahagia menjalani hari-hariku bersama teman-teman. Seperti biasa, dengan segala aktivitasku yang begitu padat setiap harinya, aku tetap bersemangat dan selalu memasang senyumku yang paling cantik. Aku merasa lebih bahagia apabila bertemu dengan banyak orang, bercakap dengan mereka, beradu argumen dengan mereka. Mungkin, aku tidak perlu terlalu merisaukan apa penyakitku, bahkan ketika teman-teman terdekatku yang sering menolongku ketika kehilangan kontrol atas diriku sendiri, saat aku pingsan, saat aku melemah dengan tubuhku. Mereka menyuruhku untuk menaruh perhatian lebih pada diriku sendiri, pada kesehatanku, karena tidak tega melihat kondisku yang akhir-akhir ini sering di luar kendaliku. Aku sendiri kurang begitu mengerti, kadang tubuhku bisa diajak bekerjasama dengan otak dan kemauanku, tapi tak jarang pula tubuhku jadi di luar kontrol diriku sendiri.

Kadang, aku merasa ketakutanku lebih besar dari keyakinanku atas diriku sendiri, bahwa aku kuat, bahwa aku baik-baik saja. Setelah aku merasa kesakitan yang luar biasa, orangtuaku membawaku pada spesialis, dan seketika aku divonis sesuatu. Menyakitkan, tentu. Aku merasa, dokter yang menanganiku lebih pantas untuk dikasihani, terkadang. Usianya tua, sudah sangat tua, bila berjalan lemah dan sedikit terpincang, namun kecerdasan dan keahliannya menghibur pasien-pasiennya, itu yang nomor satu aku acungi jempol. 

Harusnya bukankah seusiaku saat ini yang merawatnya? Dia yang menjadi pasienku. Namun ini kebalikannya, sungguh hal konyol. Kakek tua sepertinya, yang sudah seharusnya di rumah dan dirawat, kini gantian merawat orang. Orang penyakitan sepertiku, yang jumlahnya tidak sedikit setiap kali dia menjalankan praktik jaga dan praktik umum di rumah sakit. Setahuku, dia wira-wiri ke dua rumah sakit. 

Kembali lagi pada kondisiku, vonis itu terkadang bagai momok tersendiri, namun terkadang kuperoleh sebagai penghargaan pada kekuatan dan kesabaranku, terkadang pula aku merasa sebagai penggugur dosa-dosaku, semoga. Mungkin aku cukup lihai dalam menyembunyikan kambuhnya penyakitku. Tidak ada yang tahu. Hanya aku dan ketakutanku. Namun kubalut dengan senyum palsu. Huh. Menyedihkan. Tapi kemudian aku berkaca pada kakek-nenek yang sering check control bersamaku di hari yang sama. Indah melihat mereka tersenyum. Kondisinya entah sama entah lebih parah dariku, tapi tatapan mereka tetap bersemangat, jadi mengapa aku harus bersedih.

Sering aku menghibur diriku, bila memang takdir sudah memanggil, bukankah setiap manusia yang punya jiwa tidak akan bisa lari menghindar? Jalani saja. Berdoa, agar khusnul khotimah, itu saja yang kulakukan.

Aku sedih, ketika dulu Eyang yang bahkan lebih paham nama dokter spesialis yang menanganiku, bertanya: "berarti, kamu selama ini mengidap penyakit ini? Penyakit untuk orang-orang seusiaku?"
Maaf, Eyang…aku menyembunyikan ini darimu. Dari semuanya. Bukan aku tidak mau bercerita. Tapi aku sedih, sedih dengan kekhawatiran kalian kepadaku. Biar saja. Aku menyimpan ketakutanku sendiri.

Hingga kini, masih saja fluktuatif kondisiku. Pernah dalam setahun yang lalu aku sama sekali tidak kambuh parah, namun di tahun ini, sekalinya kambuh, aku bahkan pernah merangkak tanpa busana keluar dari kamar mandi, merasakan sakit yang luar biasa yang bahkan rasanya ingin membuatku terkapar. Aku ngglesot, merangkak, mengambil obat yang kutaruh di meja dekat kamar mandi. Oh! Shame!

Itu yang kutakutkan…hingga aku berjaga-jaga menuliskan nomor handphone ibuku di dompet dan alamat rumahku yang jelas, sewaktu-waktu terjadi sesuatu dengan kondisiku. Ada orang yang langsung bisa menghubungi beliau. 

Sudahlah…mungkin cukup aku yang tahu bagaimana, toh kalaupun aku bercerita, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi nyeri dan sakitku….

Alloh, I know…YOU love me more than they do…..:’)