Wednesday, August 10, 2011

I’ve Often Wondered if Love’s an Illusion

Untuk matahari yang menebarkan sinar dan kehangatannya
ke mana pun dia pergi, dan menjadi contoh bagi semua orang,
yang berfikir melampaui cakrawala-cakrawala mereka...

tak seorang pun menyalakan lampu untuk kemudian menyembunyikannya di balik pintu;
keberadaan cahaya adalah untuk menghasilkan lebih banyak cahaya, untuk membuka mata orang-orang,
untuk menyingkap hal-hal yang menakjubkan yang ada di sekitar;
tak seorang pun mengorbankan hal terpenting yang dia miliki: cinta...
tak seorangpun meletakkan mimpi-mimpinya ke dalam tangan mereka yang mungkin menghancurkannya.
tak seorang pun, tentunya, kecuali aku...


kali ini senjatanya bukan lagi panas menyala, tetapi ironi dan represi.
siapa pun yang kebetulan menyadari keadaannya dan berani mengungkapkan faktanya, lebih sering dihadapkan pada rasa ketidakpercayaan.
pada umumnya, ayah, ibu, isteri, suami, atau anak mereka, atau siapa pun, alih-alih merasa bangga, justru melarang mengungkit hal itu, takut membuka celah penghinaan bagi keluarga mereka.
Aku paham.

kusadari saat itu bahwa, tak peduli betapapun detailnya aku mengungkapkan fakta-fakta,
secara tak langsung aku telah berkolaborasi dengan kebohongan itu;
bahkan bila niat di balik naskahku adalah untuk menghapus mitos tentang posisiku sekarang ini, orang-orang akan lebih mempercayai apa yang ingin mereka percayai....

Aku melihat, seakan-akan aku penonton perjalanan hidupku sendiri, sementara hatiku berjuang sia-sia melarang dirinya tergoda pada seseorang, pada lelaki, yang tidak seharusnya ada dalam hidupku...
aku bertepuk tangan ketika akal sehat kalah dalam peperangan, dan yang bisa kulakukan hanya menyerah dan menerima bahwa aku telah jatuh cinta...
cinta itu memimpinku melihat hal-hal yang tak pernah terbayangkan ada--laku, ritual, pengejawantahan, trans.
percaya bahwa aku sedang dibutakan oleh cinta, aku meragukan semuanya, tapi keraguan sama sekali tidak melumpuhkanku, malahan mendorongku ke arah samudera hal yang keberadaannya tak mampu kuakui.
energi ini pula yang, dalam masa-masa sulit, telah membantuku menghadapi kesinisan.
dan karena cinta itu tetap hidup, energi itu tetap ada, meskipun cinta telah meninggal, meskipun yang kuinginkan saat ini hanyalah melupakan apa yang pernah kulihat dan pelajari...
Aku hanya sanggup menjalani semua itu saat bergandengan tangan dengannya...

Sepeninggal dirinya kini, aku membutuhkan segalanya untuk secepat mungkin kembali ke keadaan semula. aku akan berkonsentrasi pada masalah-masalah baru, aku ingin kembali berfikir bahwa dunia ajaib hanya sebuah tipuan cerdik,
bahwa orang-orang penuh dengan takhayul, bahwa semua yang tak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan tak punya hak untuk eksis...
jika ada kemungkinan menemukan penghiburan dari tragedi kehilangan seseorang yang amat kita cintai,
itu adalah harapan yang perlu ada, bahwa barangkali semua yang terjadi adalah yang terbaik...
aku terbangun dan jatuh tertidur dengan keyakinan itu...

sisa kehidupanku akan menjadi benturan pahit antara mimpi personalku dan kenyataan kolektif.
mengenalnya seperti aku mengenalnya, kupikir dia berjuang hingga akhir, menyia-siakan tenaga dan kebahagiaanku untuk mencoba membuktikan sesuatu yang tak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, siap memercayaiku...


tapi, lalu, berapa banyak dari kita dapat menghindar dari derita melihat hal terpenting dalam hidup kita menghilang dari satu momen ke momen lain berikutnya?
yang kumaksud bukan hanya orang-orang, tatapi juga niat dan impian kita; kita mungkin bertahan hidup, tapi, cepat atau lambat, jiwa kita akan meledakkan kefanaan.
kejahatan paling sempurna--karean kita tidak tahu siapa yang membunuh kebahagiaan kita, apa alasan mereka atau di mana kita bisa menemukan pihak yang bersalah....

sadarkah kita dengan apa yang kita lakukan, pihak-pihak bersalah tanpa nama? kuragukan itu, karena kita sendiri--orang-orang tertekan, orang-orang arogan, kita yang tak berdaya dan yang berkuasa--adalah korban dari kenyataan yang kita ciptakan sendiri...

mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memahami duniaku...
ya, itulah cara terbaik memikirkan hal itu--duniaku.
pada akhirnya, aku belajar menerima bahwa aku hanya penghuni sementara, ada di sana karena rasa simpati, seperti orang yang menemukan dirinya di dalam rumah besar nan indah, mengunyah makanan mewah, dan sadar bahwa ini hanyalah pesta, dan akan tiba semua lampunya dipadamkan, sang pemilik beranjak tidur, pintu tertutup dan kita kembali ke jalanan....

Aku sedang kembali, atau, lebih jelasnya, sebagian diriku sedang berbalik pulang menuju dunia di mana yang masuk akal hanyalah yang sanggup kita lihat, sentuh dan rasakan...
aku ingin kembali ke dunia serba maya, ke dunia surat tilang, ke dunia serba materialistis, kepada film-film konyol dan horor, kepada cuaca tak menentu.
Bahwa aku akan menikah, akan memiliki anak, dan masa lalu akan menjadi samar, yang pada akhirnya akan membuatku bertanya kepada diriku sendiri: "Bagaimana mungkin aku bisa sebuta ini? bagaimana mungkin aku bisa senaif ini?
kemudian mengikuti saran nenekku, menaruh gunting di samping dipan tidurku untuk memotong akhir dari mimpi itu.
hari berikutnya, aku akan memandangi gunting itu dengan rasa menyesal, tapi aku harus  bisa menyesuaikan diri hidup di dunia ini lagi, atau akan terancam menjadi gila karenanya....