Friday, December 30, 2011

Happiness

Note: Tulisan ini untuk melengkapi tulisan saya yang sebelumnya berjudul Most of All They Taught Me Happiness, karena saya pikir masih ada tautan satu sama lain. Bukan sebuah kisah penting, namun menjadi penting ketika kita sedikit berusaha memahami pribadi lain. 

Dalam hal ini, mungkin akan saya isikan pribadi saya sendiri terutama. Saya akan sangat berbahagia apabila Anda membaca tulisan saya ini dengan menanggalkan pikiran-pikiran konservatif yang ‘saklek’, semoga Anda membaca tulisan ini dengan berpedoman bahwa saya manusia biasa yang mempunyai segala emosi, segala keinginan, segala kemunafikan, segala kamuflase, segala gengsi, segala egois, segala pertanyaan dan harapan. Bahwa saya, Anda, kita, adalah manusia secara universal. Makhluk Tuhan. Mempunyai jantung dan bernafas. Itu saja.

Semuanya bermula dari sebuah pertanyaan demi pertanyaan yang menyelinap dalam otak dan hati saya…


Saya, sebagai pribadi yang jauh dari kata 'sempurna' --cantik, cerdas, kaya, baik, lugu, berlaku halus dan sopan, serta energik—jauh dari itu semua. Saya hanyalah seorang wanita bernama Bening. Memulai hidup dengan nafas dan detak jantung yang lemah kemudian menguat, menguat dan menguat, menjadi wanita yang menemukan independensi dalam perjalanan hidup saya. Mengenai perjalanan itu sendiri, bukan hanya saya, tapi juga Anda, pastinya mempunyai garisnya sendiri-sendiri yang telah dilalui. Entah tawa, tangis, suka, bahagia, sedih, marah, kecewa, semua menyertai perjalanan kita. Saya tidak akan mendongengkan kisah hidup saya satu per satu di sini, biarlah semua menjadi cerita saya sendiri. Anda pun punya dongeng perjalanan hidup untuk anak-cucu nanti, pasti. Namun, satu yang hendak saya bagi di sini, yakni sebuah perjalanan saya dalam pencarian jawaban dari sebuah kata: HAPPINESS, ya….kebahagiaan!

Terlepas dari semua yang menjadi masalahnya, saya menyadari bahwa saya banyak mengeluh. Betapa saya tidak mengeluh untuk semua masalah yang begitu kompleks dan bahkan untuk mengurai benang ruwet itu dari ujung yang sebelah mana saja, tidak ketemu-ketemu. Kadang saya merasa cerita hidup saya terlalu sinetron-minded. Sahabat terdekat–tempat curhat saya—pernah mengatakan: 


“pantesnya dibikin skenario sinetron aja tuh, Ning, cerita hidup lu!”. 


Saya sendiri terlalu merasa hidup saya ini sebuah drama, sandiwara. Hingga terkadang saya berdoa dan berharap untuk sesuatu yang lebih real. Saya berdoa datangnya sebuah yang nyata, bukan sandiwara. Jadi, saya hidup setiap hari dengan harapan, saya mampu mengurai satu per satu masalah-masalah yang saya hadapi. Konyol bukan? saya bahkan merasa bahwa saya ini artis lakon utama pemeran sandiwara sinetron untuk alur hidup saya sendiri, huh!


Lagi-lagi, ibarat satu kerikil, tidak akan cukup untuk mengokohkan tembok tanpa campur tangan bata, pasir, semen dan lainnya. Sekuat apapun kerikil disusun, tembok itu tidak akan jadi-jadi juga. Kalau saya mengibaratkan diri saya sendiri adalah kerikil, sedangkan material lain itu adalah mereka dan apapun yang bersangkutan dengan kompleksitas masalah, apakah saya cukup mampu untuk menguatkan tembok itu? Pada akhirnya, saya putuskan, bahwa saya tinggal menjalani hidup ini saja, semua yang menjadi benang ruwet itu, memang sudah digariskan ruwet. Jadi biarkan saja, daripada saya pusing mencari mana ujungnya, mana yang mestinya diluruskan. Saya sangat percaya, skenario Tuhan lebih indah. Benang yang tadinya ruwet itu, dapat dengan mudah digantiNYA dengan yang baru, jika DIA menghendaki terjadi. Bahkan tanpa perlu mengurai benang lama, hanya dengan kata “JADI” bisa saja menjadi sebuah baju indah, dengan benang baru yang bisa dibeli lagi. Jadi, saya pikir, untuk apa saya susah-susah berusaha mengurai yang ruwet dan bundet kalau begitu?

Akhirnya, saya mendapati ‘serangan hidup’ berturut-turut: mulai dari masalah keluarga yang begitu pelik; sebulan kemudian saya divonis penyakit yang tidak diduga; tiga bulan kemudian operasi penyakit lain yang juga tidak diduga pula; dua bulan kemudian kehilangan sosok eyang--orangtua terkasih yang sangat saya cintai dan mencintai saya, yang saya dhereki sejak bayi jebrot hingga usia 20an; sebulan kemudian kehilangan lagi sosok orang yang mewariskan darah dagingnya pada saya, ya bapak kandung saya sendiri;…..lengkap rasanya!

Dua tahun berjalan, saya tetap saja belum bisa sepenuhnya menyadari bahwa sekarang saya sudah tidak lagi bersama orangtua terkasih….yang saban hari selalu men-support saya, mencintai saya, menerima saya apa adanya sebagai seorang anak sekaligus cucu dengan segala bentuk kenakalannya. Masih terkadang hingga saat ini, saya merasa seperti kehilangan penyangga dalam hidup saya, saya menyadari bahwa saya terlalu rapuh tanpa beliau! Hingga ketika saya sudah sangat rapuh, satu-satunya hal yang bisa membangkitkan aroma kehadiran beliau dalam hidup saya adalah dengan nyadran ke ‘astana laya’-nya lalu kemudian pulang dan tidur di kamar beliau—sambil memikirkan segala wejangan yang selalu beliau sampaikan ketika saya mengalami hal yang sama. Berulang dan berulang. Saya seperti kecanduan dengan kasih sayang beliau. 


Lama-lama, saya menyadari bahwa hidup tidak sepasti hari kemarin. Ada kemungkinan-kemungkinan yang selalu terjadi hari ini dan esok hari. Namun, satu kepastian, bahwa Tuhan sengaja mengambil semua itu dari saya, karena DIA ingin mendidik saya: 
“Inilah hidup di dunia!”. 
Bukan sesuatu yang abadi, bukan sesuatu yang selalu indah dan manis; ada kalanya pahit dan satirnya sangat menyesakkan hati kita. DIA Maha Tahu bahwa saya mampu, karena itu saya diberi. ‘Pemberian’ Tuhan ini kadang saya rasa terlalu ‘banyak’, hingga saya lelah dan merasa baterai saya sudah melemah. Setiap low bat, DIA pun telah menyiapkan skenario sebagai ‘charger’ kembali. Jadi, saya bersyukur, tanpa saya sadari dan saya mintakan, Tuhan selalu memperhatikan dan memberikan semua kebutuhan saya….

Saya katakan ‘kebutuhan’, bukan ‘keinginan’. Karena keinginan itu berasal dari pribadi saya—yang balik lagi, sebagai seorang manusia mempunyai segala nafsu emosi lumrah. Keinginan saya bisa bermacam-macam, dan pencapaiannya pun juga bisa bermacam; sukses-tidak sukses; gagal-tidak gagal; sesuai-tidak sesuai; terpenuhi-tidak terpenuhi. Inilah yang terkadang kita tidak sadari, kita menginginkan sesuatu. Bila kemudian yang kita dapatkan bukan seperti yang kita inginkan, ada rasa kekesalan, kekecewaan, kesedihan; padahal jauh dari semua itu, Tuhan lebih tahu bahkan Maha Tahu apa yang kita butuhkan, dan tentunya itu yang terbaik untuk kita, karena DIA Sang Maha Tahu. Keinginan itu timbul sejajar dengan adanya rasa kepuasan. Oleh karena kita belum merasa puas, timbul keinginan kita atas sesuatu—yang berlebih dari kondisi sebelumnya pastinya, atau setidaknya, pencapaian kondisi yang dapat dikatakan lebih baik.

Nah, yang saya alami di sini mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kesenjangan antara rasa kepuasan dengan keinginan. Jika semuanya berjalan dengan sesuai, selaras, itulah sebuah kebahagiaan. Simpel saja, itulah tafsiran manusia normal mengenai ukuran kebahagiaan. Namun, sepanjang saya mengalami berbagai peristiwa yang pelik dalam hidup saya, dan atas dasar itu pulalah saya mulai ‘melakukan pencarian tentang apa itu kebahagiaan?’, saya menemukan beragam jawaban dari sesuatu yang tidak pernah saya sangkakan datangnya…..

Dulu, tolak ukur saya di dunia ini adalah UANG. Bagaimana mungkin Anda mengelak bahwa uang adalah hal paling penting untuk bisa tetap bertahan hidup di dunia ini? Saya tidak akan memunafikkan, bahwa seorang yang hidup tanpa uang, itulah mereka yang kehidupannya di dunia selalu ditimpa kesedihan, kepiluan, kekurangan, dan lain-lain. Kurang gizi lah, kurang uang untuk makan sehari-hari lah, kurang pendidikan lah, kurang tempat tinggal lah, kurang dipandang lah, kurang diajeni lah. Jadi, bagi saya, uang itu MUTLAK = HUKUM ALAM. Siapa yang beruang, dialah yang memiliki segala duniawi, itulah yang bertahan sampai alam jebol nanti. Kemudian, mengenai PEKERJAAN, ini pun berkaitan dengan materi duniawi. Siapa yang lebih terpandang, mereka itulah yang memiliki jabatan dan pekerjaan yang dianggap ‘layak’—tentu berbeda dengan pengemis, tukang becak, tukang sapu, tukang parkir, pembantu, dll. 


Awalnya, saya sangka bahwa tolak ukur kebahagiaan itu adalah ketika kita merasa terpenuhi segala keinginan manusiawi. Saya merasa AKAN bahagia apabila saya punya banyak uang. Saya merasa AKAN bahagia kalau saya punya pekerjaan dan kedudukan yang hebat. So? Merasa puas setelah mencapai semuanya? Mari kita tanyakan pada diri kita pribadi, bahasa kerennya self talk. Apakah yang kita rasakan itu suatu kebahagiaan? Atau sekadar kepuasan? Lantas apa bedanya kebahagiaan dengan kepuasan? Kita merasa bahagia lalu kita puas? Atau kita merasa puas lalu bahagia?




Anda bingung?? Begitu juga saya *sigh*

*NJUK NGOPO NING KAMU BIKIN TULISAN INI?????*


Entahlah, tapi kebahagiaan itu bagi saya adalah sebuah energi positif yang terbangun dari dalam pikiran kita sendiri. Semakin dicari asalnya dan dimana kita dapat menemukannya, maka semakin absurd keberadaannya. Ini bukan mengenai materi. Bukan mengenai kedudukan dan pekerjaan. Mengejar materi dan kedudukan, tidak akan pernah ada puasnya. Rasanya masih akan kurang terus. Perasaan bahagia tidak hanya stuck pada ukuran seperti itu. Saya pernah melakukan sesuatu--anggaplah perjalanan--untuk menemukan keberadaan kebahagiaan. KONYOL? Jelas! Anda boleh menertawakan saya. Namun, saya bersyukur, kalau saya tidak pernah melakukan 'perjalanan' tadi, saya pun tidak akan pernah tahu bahwa hidup dapat kita nikmati di mana saja. Lalu, yang akhirnya saya sadari, bahwa kebahagiaan itu tidak akan saya dapatkan di luar. Kebahagiaan itu adalah keputusan diri saya sendiri, dalam diri saya sendiri. Bukan terbangun oleh materi dan orang-orang/lingkungan yang saya gauli.


Semoga Anda tidak bingung memahami tulisan saya :)