Thursday, July 19, 2012

Big Two

-->
JAM DUA?? Haduuuuuuhhh, mampus gue telaaaatttt! Mana ada tamu orang manca yang hari ini mau datang ke sanggar lagi! Semua ini gara-gara cowok sialan ini yang udah nabrak gue sampai bikin gue bonyok kayak gini! Huh!
“Gue masuk rumah sakit gara-gara Lo tahu! Sekarang Lo mau pergi gitu aja? Sopan yaaa… helooooh, biar semua karma bakal balik ke keluarga lo!”
“Maksud Mbak apaan?”
“Lihat ya entar! Kalau cewek anggota keluarga Lo sekarat di rumah sakit kayak gue gini, habis ditabrak orang dan ditinggal pergi gitu aja! Rasain yang lebih pedih dari gue!”
“Loh, Mbak kok jadi nyumpahin mama saya sih? Mbak juga yang pakai lari-lari, udah tahu ada mobil kenceng jalan tadi!”
“Oh…jadi maksud Lo, gue yang salah gitu? Mata Lo tu yang perlu diperiksain! Nggak lihat tuh traffic signs tanda penyeberang jalannya ijo?” seorang wanita muda terkapar di sebuah ranjang putih berbicara dengan nada tinggi, bekas luka yang ditutup kain kasa dan plester ada di lutut, siku, dagu, dahi dan kepala bagian samping kiri. Dari seluruh lukanya, terlihat luka di bagian dahi yang paling parah sepertinya.
                “Bukan gitu, Mbak…saya tadi udah lihat itu warnanya ijo, tapi karena udah nggak ada yang nyebrang lagi, ya saya tancap gas…lagian Mbaknya pake lari tiba-tiba, ya mana saya tahu” seorang cowok berpenampilan stylish berdiri di samping wanita muda itu tadi, dari cara bicaranya terkesan egois
                “Lo pernah disekolahin nggak sih? Semua traffic light dimanapun, kalau tanda ijo, itu artinya jalan, dan gue nyebrang di saat lampunya masih ijo! Karena itu traffic signs buat para penyeberang jalan!” wanita muda itu tampak meringis sambil memegang kepalanya yang terasa pening, dia mencoba bangkit dari ranjangnya dibantu seorang suster muda yang hanya geleng-geleng mendengar pertengkaran kedua orang yang ada di dekatnya.
                “Iya, udah…maaf Mbak, saya ganti rugi semua biaya rumah sakit ini deh, dan…masalah kayak gini nggak usah diperpanjang ke kantor polisi segala ya?” cowok tadi berbicara dengan nada dilunakkan, tapi masih terlihat arogansinya.
                “Huh! Lo  takut kan kalo gue lapor polisi? Ujung-ujungnya aja Lo ngaku salah!” kata si wanita muda dengan mendengus.
                “Eh, Mbak, saya bayar ganti rugi rumah sakit ini bukan karena saya ngaku salah, tapi sebagai rasa kemanusiaan aja…” cowok itu kembali bersuara dengan nada tinggi.
                “WHAATTT??? Makan tuh uang buat rasa kemanusiaan Lo! gue nggak butuh! Gue juga punya kewajiban dan hak sebagai warga negara untuk penegakan hukum yang tegas!” berkata begitu si wanita muda sambil bergegas pergi ke bagian depan dengan jalan terpincang.
Ada tulisan administrasi Unit Gawat Darurat. Si cowok tadi buru-buru mengejarnya, sambil gugup. Ketika wanita muda tadi mengeluarkan dompetnya untuk membayar tagihan di depan administrasi, si cowok tadi langsung menyerahkan sejumlah uang dari dompetnya pula, diletakkan di depan petugas medis.
                “Sudah, Mbak…pakai ini saja. Ini cewek saya, saya yang bertanggung jawab sepenuhnya.” kata cowok itu berubah menjadi manis di depan petugas. Ancaman tadi cukup berlaku juga ternyata.
                Whaattt???? CEWEK SAYA? Batin si wanita muda dengan mendengus kesal, tapi diputuskannya untuk tidak berdebat di depan petugas medis UGD itu. Dengan jalan terseok-seok, dia buru-buru keluar dari UGD membawa seplastik obat, saat si cowok masih sibuk di depan administrasi. Celana jeans wanita itu terpaksa digunting karena lukanya di lutut yang perlu penanganan. Wanita muda itu menuju ke tempat pemberhentian angkot. Cukup lama menunggu, tiba-tiba sebuah mobil Terrios hitam menghampirinya. Seorang cowok turun dari balik kemudi, cowok yang berdebat dengannya di ruang UGD tadi.
                “Mbak, sebagai rasa permintaan maaf saya, biar saya antar Mbak pulang…maaf dengan kata-kata saya di dalam tadi. Pikiran saya sedang sangat kacau, ditambah saya panik karena menabrak orang…maaf Mbak, semoga Mbak masih membuka pintu maaf untuk saya” cowok itu memintanya naik ke mobil di depan banyaknya penunggu angkot dan penjual warung yang memperhatikan percakapan mereka.
Akhirnya ngaku juga nih cowok kalo dia yang salah! Huh! Dari tampilannya sih kayak anak borju, tapi usianya pasti di bawah gue! Ya udahlah, dia udah mencoba berbuat baik, apa salahnya gue terima. Wanita muda itu akhirnya menerima tawaran si cowok. Mobil melaju menuju ke alamat yang disebutkan si wanita muda.

***
Bandara itu penuh dengan para passangers yang keluar dari pintu kedatangan, disambut beberapa keluarganya dan mungkin juga sopir pribadi. Dari kejauhan, seorang wanita mengenakan jas merah, berwajah manis, dengan rambut yang baru saja dipotong pendek nampaknya, dicat warna plum segar, berjalan keluar di antara penumpang pesawat kedatangan dari Eropa yang baru saja landing di Indonesia beberapa saat yang lalu. Seorang lelaki bertubuh tegap, dengan setelan jas rapi telah menunggunya di depan. Wanita itu tersenyum dengan penuh sumringah, menghampiri lelaki yang telah menunggunya tadi.
Hey….Lady in red!” sapa lelaki tadi sambil tersenyum lebar, si wanita langsung menghambur berlari kepadanya, mereka berpelukan agak lama.
“Hmm…wajah, masih tetap sama, rambut masih seperti sapu ijuk, yaa…walaupun dah rapi dipotong sih, emm…badan tambah berisi, tinggi masih tetap tinggian kamu… emm…something else?” wanita itu mengamati lelaki di hadapannya sampai rinci dari atas ke bawah.
“Tambah rapi ya sekarang? Terlihat dewasa…hehe” wanita itu tersenyum hangat dengan penampilan lelaki di hadapannya, ya, dia sudah bekerja di salah satu LSM Internasional yang bergerak di bidang kehutanan, jadi sudah pasti sering wira-wiri ke luar negeri, pikir si wanita.
“Kamu yang terlihat tambah segar juga…dan tambah semakin de-wa-sa…” lelaki itu menanggapi singkat, disambut tawa renyah keduanya.
Rupanya dua tahun memisahkan mereka, membawa perubahan ke arah yang lebih signifikan. Tidak menyangka lelaki yang berpenampilan rapi itu dulunya tipe lelaki urakan yang berpenampilan gaya anak muda yang termakan pergaulannya. Gaya bicaranya yang cool juga perlahan mulai terbentuk, dulu, hanya kata-kata ngawur dan guyonan yang sering keluar dari mulutnya. Pembawaannya yang lebih kalem juga mulai nampak jelas. Hmm…wanita itu sangat bersyukur dengan segala perubahan yang ditinggalkannya selama dua tahun. Terbayang juga bagaimana perubahan yang menarik di keluarganya setibanya di rumah nanti. Indonesia…semuanya, sangat membuatnya rindu, setelah dua tahun di Eropa. Mobil SUV milik lelaki itu meninggalkan bandara Soekarno-Hatta dengan kecepatan sedang.
“Rencana kemana setelah ini?” tanya si lelaki tanpa menoleh, tapi dari nada bicara dan raut wajahnya menunjukkan perhatian dan kegembiraan tersendiri.
“Maksudnya? Kerja?” si wanita tadi bertanya memperjelas maksud dengan menoleh pada lelaki yang tengah serius menyetir itu. Si lelaki tersenyum.
Pheeeww…masih belum tahu aku…” jawab si wanita sambil mengembuskan nafas
“Kenapa nggak apply ke Deplu aja? Kamu cocok jadi Diplomat aku rasa…” si lelaki menoleh ke spion karena dia hendak membelok ke arah kanan.
“Masa sih? Aku nggak yakin malah…” si wanita menjadi merona malu.
Hla wong dari cara bicaramu yang ceplas-ceplos galak setengah mati dari awal ketemu dulu saja udah jelas bisa ketebak kok! Kamu itu pinter ngeyel!” kata lelaki tadi, membuat wanita itu terbahak-bahak, dia jadi teringat bagaimana dulu pertemuannya pertama kali dengan lelaki itu.
“Modal ngeyel kan belum cukup pantas untuk jadi Diplomat…” wanita itu tersenyum geli sendiri.
“Tapi aku serius, bahasa Inggrismu lancar, bahasa Belanda kamu kuasai, Indonesia apa lagi. Pinter di bidang seni dan budaya…kurang apa coba? Kurang berani aja kamu nyoba peruntunganmu” kata lelaki itu akhirnya serius lagi.
“Kamu yakin aku bisa?” wanita itu kini bertanya juga dengan serius.
“Pertama, keyakinan kepada dirimu sendiri dulu. Baru kamu nanya aku, kalau aku sih…selalu yakin dengan bakat dan peruntungan yang dimiliki setiap orang” kata-kata lelaki itu membuat si wanita terkesima, sejenak dia memandang lelaki di sampingnya, kemudian tersenyum.
Mobil yang mereka tumpangi sudah melaju di jalanan tol kota Jakarta yang semakin padat…

***
“Selama ini kita nggak jadian kok, gue sama Ricky cuma temen deket aja. Lagian, gue kan maen-maen aja sama dia. Lumayan lagi, ada yang antar-jemput tiap hari ke kampus!” seorang cewek dengan dandanan fashionable, rambut diwarna pirang dan berwajah cantik berkata dengan nada mengejek. Di hadapannya juga duduk beberapa cewek yang tampilannya juga 11:12 dengan cewek tadi.
“Gilak Lo Len! Udah berapa cowok Lo kadalin?” tanya salah seorang dengan disambut gelak tawa yang lain.
“Yaahh…lumayan lah kalau dibuat satu list, kayak daftar menu di restoran gitu…” jawab cewek yang pertama tadi, gelak tawa renyah bergema di depan ruang kuliah di salah satu kampus swasta ternama di Jakarta.
“Tapi, sampai kapan Lo mau kayak gitu terus ama Ricky? Kasihan juga sih tu anak. Gue lihat, dia cinta gila gitu sama Lo…” salah satu temannya bersuara juga.
“Hmm…belum tahu sih, tapi, mungkin dalam waktu ini masih gue pertahanin, ya…habis, si Renald kan baru pulang dari Aussie empat bulan lagi. Bete dong gue sendirian di sini, mana entar mesti naik taksi kalo kagak ada sopir antar-jemputnya!” jawaban cewek itu membuat tawa ngakak teman-temannya pecah, sahutan demi sahutan terjadi di situ.
Tanpa mereka sadari, seorang cowok menguping pembicaraan mereka dari tangga yang ada di dekat tempat cewek-cewek itu berkumpul. Wajah geram menahan amarah yang meledak nampak jelas di muka cowok itu. Mukanya memerah hingga otot-otot tangan yang sedari tadi menggenggam erat terlihat jelas juga. Sudah tidak tahan dengan ocehan kampungan cewek-cewek itu, si cowok keluar langsung berdiri di hadapan mereka.
“Ri…Ri…Ricky??!!” suara cewek yang rambutnya dicat pirang tadi tampak kaget, wajahnya seketika pucat pasi, teman-temannya pun tak kalah pucatnya. Mereka kaget karena tiba-tiba cowok yang diobrolin ada di hadapan mereka.
“Lo, udah lama datengnya? Biasanya Lo nelpon gue dulu kalau dah nyampe depan…gue…gue keasyikan ngobrol kayaknya, sampai nggak tahu Lo datang…” cewek itu masih berusaha sok manis
“Udah ngobrolnya?” tanya cowok bernama Ricky tadi dengan dingin, matanya setajam tatapan elang yang siap menerkam mangsanya.
“U,u…udah kok, udah, hehe…jadi, em…kita pergi shopping sekarang ya? Ya udah gu…” belum sempat cewek tadi meneruskan kata-katanya…
PLAK
@$#%&!?/%#!@&#
Tamparan keras menyambar pipinya hingga membuat cewek itu terjatuh, bibirnya berdarah.
“MURAHAN!” Ricky berkata dengan nada tinggi, semua yang ada di situ hanya shock melihat Ricky menampar cewek  tadi.
“Heleenn….” Teriak beberapa sahabat cewek itu tadi berusaha membantu cewek bernama Helen berdiri. Muka Helen memerah antara malu dan menahan mau nangis karena kesakitan. Seluruh mata yang ada di dekat lokasi itu memandanginya.
“Ri…Ricky…gue…gue, kenapa Lo nampar gue sih?” Helen masih berusaha bersandiwara.
“KAMPUNGAN! SANDIWARA LO KAMPUNGAN TAHU NGGAK??!! MURAHAN!!!” Ricky berkata dengan nada tinggi sambil menunjuk muka Helen.
“Maksud Lo ap…ap…apa….gue nggak…nger….” Helen berusaha menyentuh kaki Ricky.
“DIEM LO! JANGAN SENTUH GUE! KALO COWOK, UDAH GUE BOGEM MUKA LO ITU SAMPAI RATA!”
“Dan mulai sekarang… Lo! jauh-jauh dari hadapan gue! It’s over NOW!” Ricky berkata dengan nada dingin, kemudian berbalik dengan cepat menuju mobilnya yang diparkir di parkiran bawah. Semua mata di kampus itu melihatnya dengan tatapan entah iba, entah bingung, atau malah mungkin dukungan. Tapi Ricky tidak peduli. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kampus Helen, cewek sebayanya yang telah merendahkan harga dirinya tadi. Tamparan yang sepadan untuk harga dirinya yang tinggi. Tanggal dua Mei yang memang menjadi Hari Pendidikan Nasional, kini benar-benar menjadi hari pendidikan yang nyata baginya dalam hal urusan memilih betina! Huh!

***
“Aku nggak ngerti kenapa kamu ngajak aku ke sini, Nis…” seorang lelaki bersuara pelan memecah kesunyian, di sampingnya seorang wanita manis terdiam tanpa suara. Hanya menikmati hembusan angin laut dan suara deburan ombak Pantai Anyer.
Just enjoy…aku sedang ingin menikmati suasana  di sini saja, sama kamu…” wanita itu menjawab tanpa menoleh, tapi dari tatapannya yang lurus ke depan menyimpan beban yang berat, yang tak bisa diungkapkannya.
“Kamu cinta pantai banget yah?” lelaki tadi bertanya dengan senyum renyah
“Kamu seperti kenal aku baru setahun saja…” si wanita menjawab juga dengan senyum, tapi senyum yang berat. Lalu keduanya terdiam lagi, hening.
                Lelaki itu merasa ada yang aneh dengan wanita di sampingnya, wanita bergelar SIP, fresh from the oven itu. Dia mengingat lagi bagaimana, dua minggu yang lalu mendampingi wanita itu wisuda. Bersama keluarga dari si wanita, dia berfoto bersama mereka, mengenakan kemeja terbaru yang sengaja dibelinya untuk acara wisuda si wanita. Pakaiannya yang sehari-hari di pakainya di kampus, tidak mungkin dia pakai di acara wisuda si wanita.
“Ki…” wanita itu bersuara pelan, si lelaki menoleh dengan menebak-nebak dalam hati, pasti wanita di sampingnya itu tengah menyimpan sebuah beban yang berat untuk dikatakan, tapi apa?
“Aku…aku…aku keterima beasiswa ke Jerman…minggu depan aku harus berangkat…” wanita itu akhirnya berkata dengan lepas. Tatapannya masih kosong ke depan menunggu reaksi lelaki yang duduk di sampingnya.
How great that is! Selamat ya, Nis…! Aku turut bangga dengarnya!” lelaki tadi dengan ceria mengacak-acak rambut si wanita yang memang sudah acak-acakan tertiup angin.
“Tapi beasiswa S2, kita akan pisah dua tahun…” nada suara wanita itu terdengar berat. Si lelaki tidak bersuara sejenak, mengambil nafas agak dalam, lalu bersuara,
“Hanya dua tahun ini…”
“Bukan hanya! Ini udah kepisah berapa negara!” potong si wanita agak bernada tinggi.
“Teknologi kan sekarang maju, Sayang… Apalagi aku dengar, Jerman juga termasuk salah satu negara yang akses internetnya paling cepat, nggak usah khawatir ya?” si lelaki menenangkan dengan merangkul pundak wanita itu. Si wanita merebahkan kepalanya di bahu kiri lelaki.
“Aku berharap…semua yang di sini masih menunggu aku dengan sabar…” wanita itu bersuara pelan.
“Menunggu dengan harapan, kamu pulang dengan gelar Master di tangan…” si lelaki menambahi kalimat dengan senyum mengembang. Keduanya kemudian terdiam tanpa suara….

***
Di sebuah kafe kecil, musik klasik mengalun, dengan hiasan beberapa lampu kecil yang menambah kesan romantis tempat itu. Sepasang muda-mudi duduk di salah satu meja, pembicaraan mereka sangat serius.
“Kamu serius?” si perempuan berkerut dahinya.
“Aku serius, sangat serius… mungkin kamu menganggapku masih dalam saat bercanda, belum waktuku untuk serius. Tapi aku benar-benar serius…” yang laki-laki menyodorkan cincin dalam kotak merah kecil kepada perempuan itu tadi.
“Tapi…kamu nggak malu sama teman-teman kamu kalau mereka tahu nanti?” si perempuan bertanya lebih mendalam.
“Terserah menurut mereka apa, tapi bagiku ini wajar, sangat wajar… Jadi, apa kamu mau menerimaku?”
“Emm…” si perempuan bergumam dengan bimbang. Ternyata mereka sedang dalam adegan menyatakan cinta. Si lelaki menyatakan perasaannya kepada si perempuan dengan sebuah cincin perak nan cantik.
“Dua tahun bagiku bukan masalah utama, karena semuanya tidak ditentukan dari itu. Bagiku hanya masalah hati dan kenyamanan. Aku nyaman bersama kamu…” si lelaki berusaha menjelaskan.
“Emm… aku juga nyaman sih jalan sama kamu, kamu bisa jadi teman, bisa jadi kakak, bisa jadi guru yang mengajarkanku tentang hal-hal baru… tapi…apa iya nanti kita bisa membawa hubungan ini ke arah serius? Karena aku tidak berniat kalau hanya untuk sekedar mencari kecocokan…” si perempuan masih gamang.
“Kamu bisa percaya aku…dan kita jalani sama-sama…” hanya itu kalimat yang diucapkan si lelaki untuk meyakinkan perempuan yang ada di hadapannya.
                Si perempuan tersenyum dengan hangat. Anggukannya sudah menandakan jawaban pertanyaan si lelaki tadi. Rupanya perbedaan dua tahun antara mereka tidak bisa memisahkan keduanya begitu saja, bahkan bisa dibilang keduanya saling melengkapi.
                Dua tahun…wajar, ya…setidaknya aku memberi label wajar untuk diriku sendiri, karena aku nyaman bersamanya. Dia satu-satunya lelaki yang bisa membuatku tertawa lepas di dekatnya, menangis tanpa takut terlihat jelek di depannya, mengajarkan hal-hal baru dengan wawasan dan pergaulannya yang luas, dan aku bisa bercanda sekonyol apapun tanpa merasa perlu menjaga image di depannya. He’s the one…dan angka dua tak seharusnya menjadi momok bagiku…

***
Gedung Grha Wiyata Bhakti itu penuh oleh tamu undangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Si empunya hajatan memang sepasang yang memang bidang kerjanya melampaui batas-batas wilayah antar negara dan budaya. Terasa sekali meriahnya, tapi tetap dibalut dengan nuansa Jawa-Yogyakarta nan sakral dan elegan. Pengantin wanitanya sangan anggun dengan busana khas Yogyakarta, begitu juga dengan pengantin prianya. Mereka berdua sangat serasi berdiri di depan, menyalami tamu-tamu yang datang dan mengajak berfoto tanpa henti. Walaupun lelah, tersirat kebahagiaan dan rona ceria di muka masing-masing. Waktu yang mereka habiskan untuk menjalin hubungan jarak jauh Barcelona-Jepang ternyata tidak menyurutkan cinta mereka, apalagi setelah si mempelai wanita dipindahkan ke kantor Kedutaan di Madrid, cinta menyatukannya di Spanyol. Mereka segera memutuskan untuk menikah. Sekaligus sebagai pembuktian kepada keluarga masing-masing, bahwa perbedaan usia dua tahun tidak menjadikan alasan utama untuk dapat memisahkan mereka. Memang usia mempelai wanita lebih tua dua tahun dibanding si laki-laki, toh mereka tetap bisa mengatasi semuanya, karena kedewasaan itu adalah pilihan setiap orang, sedangkan umur itu suatu hal yang pasti.
Tamu undangan asing berdatangan, MC memberikan sambutan untuk mereka.
                “Selamat datang, sekali lagi untuk tamu undangan yang telah hadir di siang ini, dan tidak lupa kita ucapkan selamat untuk kedua mempelai kita yang berbahagia, Ganis Kartika Wulandari dengan Ricky Permana Adi, semoga menjadi awal untuk rumah tangga yang bahagia….” Kalimat itu juga diulangi dalam kalimat berbahasa Inggris karena tamu yang hadir tidak hanya dari kalangan Indonesia saja.
                Ricky dan Ganis berpandangan dengan senyum mengembang, sungguh suatu hal yang serasa mimpi bagi mereka untuk berdiri di pelaminan di hadapan beribu tamu undangan dari Indonesia maupun dari negara asing. Mereka serasa raja dan ratu sehari itu, apalagi dengan kostum mereka. Sungguh suatu kebetulan yang lucu, dimana awal mereka bertemu di tanggal dua Mei, sekitar pukul dua siang karena sebuah kecelakaan yang membawa mereka pada percekcokan. Kemudian mereka berpacaran, dengan usia yang terpaut dua tahun, Ganis lebih tua dari Ricky.Hingga dua tahun berpisah karena Ganis menerima beasiswa S2 ke Jerman, sampai kembali ke Indonesia, hingga akhirnya bertemu kembali di Spanyol di dua kota yang ada dalam negara itu, semua adalah kebetulan yang indah…. Jika kini mereka memutuskan menikah di tanggal dua Februari itu juga bukan karena disengaja, tapi karena cuti dan segala tetek-bengek lainnya memutuskan tanggal dua sebagai hari sakral mereka. Angka dua, bukan menjadi momok bagi keduanya, tentu… J