Saturday, November 23, 2013

After My Besties's Funeral..

Dear readers,
Saya hanya ingin cerita. Saya hanya ingin menumpahkan perasaan dalam blog ini. Sudah lama sekali, amat sangat lama, saya vakum dari blog ini. Dan, kembali, seperti ini lagi..
Entah kenapa, setiap kali--setelah vakum, saya kembali menulis di blog ini--harus dengan kondisi kehilangan 'lagi'...
Saya gunakan Bahasa Indonesia kali ini.

"Ketika kau sudah tidak tahu lagi siapa yang bisa mendengarkan ceritamu, maka tulislah.
Ketika kau sudah tidak tahu lagi siapa yang bisa merasakan kesedihanmu, maka berdoalah, ceritakan pada Tuhan-mu."

Ini hari ketiga setelah kepergiannya..

Namanya Ita. Orangnya cantik, kulitnya bersih, bersahaja, karakternya kuat, cerdas, religius, mandiri, penuh kreativitas dan insting yang tajam. Kami bersahabat, sejak duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar. Selalu bersekolah di satu sekolah yang sama. SD-SMP-SMA. Ita sudah bercita-cita menjadi guru matematika sejak kelas 1 SD. Dan, Allah mengabulkan cita-citanya. Dia bercita-cita ingin dapat melahirkan dan menggendong baby-nya, dan Allah mengabulkan, meski sebentar. Dia seorang guru matematika yang cerdas, sahabat yang baik, wanita sholehah, isteri yang handal, dan seorang IBU yang luar biasa mulia! Kami menghabiskan waktu bersama sepanjang hingga sisa usianya kemarin..

Saat di bangku SD, bahkan kami sudah membuat iri teman-teman sekelas lain, karena persahabatan kami yang begitu erat. Lucu mengenang masa itu. Bisa dibayangkan, bagaimana saat kalian awal masuk SD? Tidak tahu harus duduk di sebelah siapa? Tidak mengenal siapa-siapa? Saat itulah Ita mendekat dan menggandengku masuk kelas, dia bilang "Kamu duduk sama aku ya? Aku Ita, kamu siapa?". Itulah kalimat pertama yang selalu terngiang di memoriku. 
Aku selalu sebangku dengannya dari awal duduk di kelas 1, rangking kami juga selalu bersaing di rangking 1 atau 2 dari 40 siswa. Begitu dekatnya, sampai dia sering memberi aku uang untuk jajan saat pelajaran olahraga, karena dia kasihan mungkin melihatku hanya duduk menungguinya jajan di kantin. (Orangtuaku tidak mendidik anak kecil untuk "jajan", tapi kami hanya diberi bekal roti dan air minum dari rumah). Kami sering pulang bersama, bergantian main ke rumah satu sama lain. Sampai akhirnya duduk di bangku kelas 2, guru memisahkan tempat duduk kami dengan alasan klasik: untuk melihat kemampuan riil kami berdua. Tidak mengapa, toh pada kenyataannya setelah kami pisah tempat duduk pun, kami selalu masih di rangking atas. Ada satu teman lagi yang mulai dekat di kelas 2, namanya Hesti. Sering aku mengalami dilema di antara Ita dan Hesti ini. Ita terkadang suka merasa "ditinggalkan" saat akubersama Hesti.  Yah, perasaan iri anak kecil saat itu :).. Hingga akhirnya, aku putuskan untuk kami bermain bertiga. Di kelas 4, datang murid baru, namanya Nita. Mulai saat itu pula, aku, Ita, Nita dan Hesti menjalani hari berempat bersama. Kami adalah sahabat akrab--katakanlah saat ini disebut "geng" mungkin. Begitu dekatnya kami, hingga membuat banyak teman yang iri :p Apalagi, kami juga memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas teman-teman sekelas saat itu.
Saat masuk SMP, tidak disangka, kami berempat bisa kembali bersekolah di satu sekolah yang sama. Hanya kami tidak bisa satu kelas. Saat SMA, aku pun masih satu sekolah dengan Ita Meskipun tidak satu kelas, aku tetap sering bertemu Ita, kami bergosip, membuat lelucon, bercerita banyak tentang orang yang disukai atau tentang keluarga. Wajar. Rumah Ita lumayan dekat, sehingga aku sering bertandang ke rumahnya. Orang tua, dan keluarga besarnya pun tahu bahwa kami berdua adalah sahabat dekat. Bahkan tetangganya pun tahu bahwa aku dan Ita memang sepasang sahabat.

Hanya saat kuliah, dia diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta, dan aku di Yogyakarta. Layaknya gadis yang mulai tumbuh dewasa, kami bercerita banyak satu sama lain. Banyak hal yang bahkan tidak cukup untuk dituliskan satu per satu sebagai gambaran kedekatan kami.
Hingga, tahun lalu, dia dilamar dan menikah dengan seorang pria pujaan hatinya. Dari banyak teman dan sahabat di bangku SD, SMP ataupun SMA, hanya aku yang diberi kehormatan untuk hadir menyaksikan dan memberi doa atas pernikahannya. Aku bahagia untuk sahabatku, Ita.
Sesekali, kami saling berkirim sms, aku tahu dia sudah berkeluarga dan aku membatasi diriku untuk tidak terlalu banyak bertanya dan bertandang ke rumahnya, tidak seperti sebelum dia menikah tentunya.
Tahun ini, aku sering bertemu dengan ibu dari sahabatku ini, dan sering mengobrol banyak dengan ibunya jika kami bertemu. Aku tahu, Ita sudah hamil. Aku tahu perkembangannya. Aku bahagia untuk kehamilannya.

Terakhir, aku bertemu ketika shalat Idul Adha tahun ini, saat aku sudah berada di tanah lapang dan mencari shaf terdepan untuk shalat, tiba-tiba seseorang menetup bahuku. Aku melihatnya, dan di belakangku berdiri seorang wanita sangat luar biasa cantik, dengan baju gamis berwarna krem, dengan jilbab warna senada. Wajahnya cerah, bersih, berseri, sungguh luar biasa cantik! Meskipun tanpa make-up menghiasai wajahnya, namun wajah itu teduh dan bersinar, aku yakin karena air wudhu.... Itulah Ita. Sahabatku yang menepuk punggungku. Perutnya sudah membuncit. Kami bersorak dan saling berpelukan. Saling mencium pipi. Sambil masih merangkulnya, aku mengelus perutnya "Sudah berapa bulan Ta?", dan dia menjawab "Ini sudah jalan 9 bulan". Aku gembira bukan main, berarti aku akan segera mendapat keponakan dari sahabatku. Aku bertanya lagi, "Kapan HPL kata dokternya?", dan dia bilang "Bulan depan sih, mohon doanya yah". Tentu saja, tanpa ia minta pun, aku berdoa dan berharap atas kelancaran persalinannya nanti.
Ini kalimat terakhir yang sangat aku ingat, aku bilang saat itu "Ta, semoga lancar yah..semua ibu dan bayinya sehat selamat". Dan saat itu, Ita hanya menjawab "Amiin ya Allah, makasih ya. Semoga bayinya sehat selamat."
Saat itu, dia hendak duduk di sebelah shaf-ku, tapi aku memang mencarikan duduk untuk ibu dan adikkku. Aku minta maaf pada Ita, dia hanya tersenyum dan bilang "Gak apa-apa, aku mau nyari ke sebelah sana dulu, sepertinya sih ada yang masih kosong. Oke? Yuk, Daah..."

Dan....tak kusangka itu kalimat dia terakhir yang bisa kudengar....

Ita, sahabatku meninggal setelah melahirkan putera-nya, bayi mungilnya yang masih sangat merah....
Di hari pemakamannya, aku bahkan tak kuasa melihat keranda yang membawa jasad sahabatku. Ketika Nita menangis keras, aku tidak bisa berbuat dan berkata apapun selain memeluknya dalam pundakku. Saat, setelah pemakaman...masih banyak takziah yang memberi ucapan bela sungkawa kepada keluarga, aku pun turut di dalamnya. Ada banyak guru yang hadir, karena Ita juga seorang guru. Ada beberapa teman SMA yang hadir pula. Keluarga menyalami satu per satu dengan tegar. Namun, ketegaran mereka runtuh....saat aku menampakkan wajahku. Ibunya histeris dan memelukku dengan erat "Ita sudah berpulang lebih dulu, Dik....Ita sudah secepat ini lebih dulu daripada kita...."
Aku tidak bisa meneteskan air mata, hatiku perih, hingga benar-benar seperti kaku. tidak mungkin aku menangis dan membuat ibu sahabatku lebih histeris. Aku hanya memeluknya dengan erat dan berbisik "Ibu, yang kuat! Yang tabah! Saya juga sangat menyayanginya, Bu!"...
Entah, semua yang ada di ruangan itu, tentunya miris melihat kami berpelukan dan ibunya menangis histeris seperti itu. Lebih hiseris lagi, ketika tantenya Ita menyodoriku seorang bayi merah laki-laki sambil berkata "Ini keponakan kamu Mbak, ini anak Ita...."
Ya Robb....
Bergetar rasanya hatiku saat aku mencium bayi merah itu....dalam hati, aku berdoa untuknya.






Masih seperti tidak percaya rasanya Ita sahabatku pergi secepat ini, di usianya yang 25 Tahun... Memang, semua sudah menjadi ketetapan dan ketentuan YANG MAHA AGUNG, tapi... aku percaya, Allah SWT memanggilnya secepat ini -saat baru saja menjadi IBU- karena DIA mencintainya.

I love you Ta...............I'm so proud of you :')



 

Tuesday, November 5, 2013

So What - PinK



So, so what?
I'm still a rock star
I got my rock moves
And I don't need you