Wednesday, June 18, 2014

Am I Feminist 'Enough'?

Is this what-are-so-called 'feminist' ??
Setelah ngobrol dengan mas Hendra, salah seorang relasi yang berprofesi sebagai seorang fotografer dari Bali, saya sedikit kepikiran tentang kalimatnya saat bercakap dengan saya kemarin.
"Ning, aku tu orangnya apa adanya. Boleh usul?"
"Ya, silakan saja mas"
"Sebaiknya foto kamu yang bawa bendera AS itu dihapus saja. Itu usulku"
"Oh itu, haha, memangnya karena apa mas?"
"Tidak tepat saja timing-nya kalau kamu mau nampilkan sisi feminis kamu ke laki-laki. Kalau seperti itu, sisi feminis kamu tidak terekspos dengan tepat jadinya, tidak menarik. Tapi aku suka yang hitam putih, natural cantik"
"Owalah, haha, aku tu berteman dengan siapa saja mas, dari negara mana saja. Ndak memandang apa agamanya, rasnya, batasan negara, mau laki perempuan, mau hitam mau putih. Buatku semua manusia sama. And that's flag from my friend. Aku orang yang easy going dengan asal muasal temanku. Makasih hlo mas sudah dikasih masukan, tapi masukannya ditampung dulu"
"Tidak apa-apa. Aku hanya usul. Kamu juga boleh usul apapun sama aku. Tidak kenal maka tak sayang"
"Iya, saya tahu kok. Suka hunting dimana mas?"
"Dimana saja. Ada usul? Bali banyak tempat menarik. Pasar juga menarik"
"Bagus, blusukan juga dong ya. Lalu prefer ke objek apa?"
"Jujur saja, wanita adalah objek yang selalu menarik untuk fotografi menurutku. Tapi masalah selera. Apa saja yang menarik bisa"
"Halah, modus. Haha. Kalau aku sih cuman mau bilang, kenapa ndak ngambil tema sosial, menurutku itu lebih interesting"
"Ya baguslah kita bisa saling sharing"
Sisi feminis. Ya, sisi feminis yang tidak terekspos. Pemikiran feminis yang beragam. Entah kenapa percakapan singkat kami itu mendorong saya untuk membuka lagi buku lama tentang teori feminis yang diberikan oleh salah seorang teman kepada saya. Saya teringat bagaimana saya mempelajari tentang pemikiran feminis pada saat kuliah dulu. Demi memenuhi rasa keingintahuan saya yang begitu besar itu, saya mendorong diri saya sendiri untuk mengambil kelas lintas jurusan hingga ke Jurusan Sosiologi (anyway, jiwa saya dilandasi oleh Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tidak hanya Ilmu Komunikasi semata). Saya ingat bagaimana Rosemarie Putnam Tong, penulis buku Feminist Thought mengatakan bahwa dari buku itu dia juga belajar bahwa menjadi feminis merupakan suatu proses panjang yang muncul dari rasa takut dan kepahitan. Feminis bermula dari kesadaran akan ketimpangan. Mengutip kata-kata Simone de Beauvoir, "One is not born, rather becomes, a woman". Ya, perempuan memang tidak semata-mata dilahirkan, tetapi perempuan adalah suatu proses menjadi. Demikian pula dengan feminis. Tidak ada prototipe jenis perempuan atau laki-laki dengan karakter, perempuan atau pemikiran tertentu.

Or this one, what-are-so-called-'feminst' ??

Feminis bukan hanya sebuah label ideologi monolitik semata. Banyak perspektif yang bisa digunakan untuk pendekatan feminis. Dari kalimat Mas Hendra, saya berpikir bahwa ternyata masih banyak masyarakat yang memberikan stereotipe feminis dengan teori sifat alamiah untuk menunjukkan kualitas feminin. Misalnya kelembutan, kesopanan, kesantunan, kesederhanaan, sensualitas, intuitif, dan lain-lain. Masih ada perspektif di masyarakat yang membandingkan kualitas feminis dengan kualitas maskulin. Saya bukan wanita yang sepenuhnya sependapat dengan pemikiran Feminis Liberal, Feminis Radikal, maupun Feminis Marxis-Sosialis. Mungkin saja ada beberapa pendapat Mas Hendra yang saya setuju, bahwa menurutnya, sampai saat ini tidak ada objek yang lebih menarik untuk fotografi, selain wanita. Namun, perlu diingat pula bahwa wanita bukan hanya sebatas komoditi kapitalis. Bukan berarti saya membenarkan Feminis Psikoanalisis, karena berbicara mengenai esensi dari psikoanalisis maka kita harus menggali lebih dalam mengenai psike perempuan, mengenai latar belakang pengalamannya yang spesifik.

What does 'feminism' mean to you?

Kalaupun saya memajang foto dengan bendera AS di page akun media sosial, itu bukan berarti saya ingin menunjukkan maskulinitas yang saya miliki. Toh, saya memajang foto di page akun media sosial, itu juga bukan karena saya ingin menunjukkan feminitas yang saya miliki. Saya juga tidak ingin menolak tataran feminis yang diberikan masyarakat pada wanita. Saya tidak dapat membenarkan juga bahwa 'citra' seorang perempuan adalah identik dengan 'sensualitas' di mata publik. Mungkin, apa yang berkembang di masyarakat adalah contoh ketidakpedulian yang dinaifkan dunia atas moral dan karakteristik seorang wanita (yakni, sebagian besar 'nilai' yang dipuja-puja dalam diri wanita). Menurut Beauvoir, wanita harus bangga dengan seksualitas perempuannya. Setiap orang dapat berbahagia dengan tubuhnya. Tetapi tidak selayaknya kita menempatkan tubuh sebagai pusat jagad ini, bukan?

Equality? Equal as what concept??
Kata feminis, tidak seharusnya menjadi pembatas tentang konsep arbitrer rasio dengan emosi, tubuh dengan nalar, inferior dengan superior, seni dengan ilmu pengetahuan, filsafat dengan sastra, bahasa dengan realita, ataupun kesadaran dengan ketidaksadaran. Identitas diri bukanlah sesuatu untuk dipaksakan. Bukan pula hanya tatanan simbolik. Apakah hanya karena sebuah bendera AS lantas dianggap mengaburkan feminis dalam diri seorang wanita? Apa bedanya juga dengan sebuah bendera Indonesia? Atau bendera United Nations? Apakah tatanan simbolik telah mengatur suatu masyarakat berkuasa terhadap individu? Sehingga setiap individu harus menginternalisasikan bahasa dan tatanan simbolik tersebut dalam peran gender yang dianggap baik apabila konstan? Satu kalimat yang perlu kita ingat, bahwa: "Setiap orang menemukan dirinya melalui refleksi dirinya pada diri yang lain".

"This is what a FEMINIST looks like"

Mas Hendra, kalau Mas baca tulisan ini, will be glad for me if we have another discussion about this topic again. Sepertinya interesting kan? Salam!


Regards,

 
-Bening Rahardjo-