Monday, September 8, 2014

Dearest, Mister...


Tuan,
Kau tahu mulut ini bisa saja salah menyebut namamu.
Lalu menggantinya dengan nama lain dalam mantra doaku.
Seperti cinta yang juga bisa kehilangan arah.
Mengapa kita menyalahkan navigasi, jika kita sendiri yang kehilangan haluannya. 
Cinta tidak sama seperti alam, yang akan selalu punya petanya sendiri.
Kemana angin berhembus.
Kemana matahari menjatuhkan sinarnya.
Kemana daun mengering akan gugur.
Kemana tetesan air akan bermuara.

Tuan,
Kau harus tahu, cinta juga tak sama dengan langit senja.
Perlahan menghitam membuka tabir malam.
Apa engkau hanya ingin menyebutnya sekadar purwaka dalam fiksi? 
Kemudian kau kendalikan tutur alurnya?
Padahal kau sendiri tahu, pun sangat memahami,
Melihat rupanya saja kita tak bisa.
Lalu bagaimana caramu untuk percaya?
Juga waktu yang tidak nampak bekas lakunya.
Lalu bukankah kita yang hidup di dalam waktu?

Tuan,
Jika engkau bisa menebak kemana arah nahkodanya.
Aku pastikan bahwa kali ini kau akan benar,
Bukan karena layarnya yang terkembang sempurna.
Atau karena angin yang membelokkannya.
Tapi karena aku cerminan darimu.
Bukankah kau tahu aku akan selalu menjadi cerminmu?
Jika kau ingin melihat merah, nyalakan saja apinya.
Jika kau ingin melihat putih, manifestasikan ia dalam bunga.
Jadi, kini kau tahu, begitu mudahnya bukan air muka akan berganti?

Tuan,
Jika isi kepalamu akan selalu berpikir dengan pola 'seharusnya'.
Maka kini kau akan tahu, 
Bahwa hati selalu punya 'aturannya' sendiri.
Tidak semua harus diungkapkan, tidak semua mampu dijelaskan.
Banyak yang tidak mengerti, lalu terluka dan saling menyalahkan.
Bukankah embun tidak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta?
Lalu mengapa engkau mempercayai pola 'mengharuskan' rasa?
Jika hari ini engkau memilih untuk pergi.
No matter how far you go, please remember that the horizon is still way beyond.



Regards,


Bening Rahardjo