Thursday, September 25, 2014

Nada Sumbang Arkhais


Mungkin ini saatnya untuk mengikhaskanmu. Bukan. Ini bukan menyerah kalah lalu berhenti berharap. Tidak. Ada hal-hal di dunia ini yang mungkin lebih baik tidak untuk dikatakan. Seperti halnya perasaan ini. Dikatakan atau tidak, ya, dia akan selalu mengagumimu dari suatu sudut yang tidak pernah kau tahu. Aku memilih untuk meletakkan semua angan-anganku, menggantinya dengan doa-doa indah untuk kebahagiaanmu. Wanita ini telah menyadari suatu hal yang keterlaluan bodohnya, bahwa ia bukanlah orang yang kau harapkan muncul sebagai sosok Sembodro-mu atau Dewi Shinta-mu. Bagaimana mungkin seorang jalang yang terbuang lantas kegedhen empyak kurang cagak ingin dianggap sebagai Dewi Kahyangan? Bisa bikin Si Dhalang ngguyu kemekelen nanti. Wanita ini juga telah menyadari kalau kebodohan pambudi-nya saja melebihi wong asor, bagaimana mungkin dia mau gathuk-mathuk menganalogikan dirinya sebagai seorang wanodya cerdas beradab. Aku sudah legawa. Sungguh, kali ini, aku legawa. Biarkan semesta malam ini menjadi saksi, bahwa wanita ini meletakkan angan-angannya untuk kebaikan pria kinasih-nya. Dia tidak ragu. Tidak lagi ragu. Dan kalau perlu, Si Dhalang bisa mengujinya kapan saja DIA mau. Duh Gusti, bukankah urip iku urup?

Terima kasih semesta.


Aku,
Wanita yang mendendangkan Gendhing arkhais Centhini