Tuesday, September 9, 2014

Romance


Mungkin, sesekali kita harus berkiblat ke Athena dalam urusan romance. Well, meskipun rada sedikit tragis (no, hampir semuanya tragic ending sih), tapi it shows us what an endeavor is. Kalau kalian orang yang tidak tertarik kepada romance ala Greece dan hanya terfokus pada sejarah, mungkin kalian bisa belajar how renaissance brought natural beauty too. Kalau kalian orang yang terlalu terfokus pada science, satu pilihan menarik mungkin adalah belajar dari a steampunk, maybe? Or how Albert Einstein found the E=mc2 formula and how Isaac Newton found the gravitational constant formula. Lucu sih, ketika membayangkan bagaimana tiba-tiba kita bertemu seseorang kemudian we feel the passion, we feel the pain. Seperti formula gravitasi, kita jatuh. Semua yang jatuh pasti sakit. Namun dalam hal romance, semua yang jatuh tetap akan terasa manis dikecap. Romance yang bisa kita ibaratkan sebagai sebuah gelas yang menunggu untuk diisi dengan isiannya. Kita semua tahu selalu ada sebuah kekosongan, sesuatu yang menganga dan mungkin terluka. Tapi kita juga tahu tak pernah ada jalan memutar dalam takdir. Ia cukup akan berkompromi sedemikian rupa dengan alam, secara proporsional, yang menurut kita agak ruwet tetapi selalu berbuah mengasyikkan. Hukum konspirasi semesta namanya. Bukan naif, justru karena kita meyakini bahwa Tuhan punya skenario-Nya sendiri untuk mengawinkan birunya laut dengan hijaunya pegunungan. Sounds too klise but everything is possible. Nature conspiration in excellence swallows us. Saya ingat ada satu pepatah lama bilang: "If someone had you since hello, you should make him/her forever".


Regards,


Bening Rahardjo