Wednesday, October 1, 2014

A Wish: The Prologue



Kalau saja dia berbentuk definisi, mungkin tidak akan seperti ini. No? Kalau kau ingin ini menjadi epilog, mengapa tidak kau putuskan saja benangnya. Atau kalau kau ingin ini menjadi prolog, mari kita simpul agar dia selalu erat. Ya, meski kau tahu, hati orang yang dewasa tidak hanya membutuhkan perasaan tetapi juga kesiapan. Tapi tak pentingkah konsep de facto bagimu? Oke, mungkin kau lebih paham konsep atom dan molekul. Lalu aku harus bagaimana? Jika pintu itu tertutup, apakah kau ingin aku melompat seperti maling melalui jendela? Begitu? Sepertinya aku yang telah salah menganalisa. Ya, coba saja, bagaimana mungkin seorang laissez-faire berkompromi dengan merkantilis? Konyol. Ini mencari konyol namanya. Tapi, Sayang, sekonyol apapun, kau selalu tahu bahwa aku sudah letih dengan malu. Lagi dan lagi, karenamu.


-wanita ini-