Sunday, October 26, 2014

That's Why The Four Kampret Are For...


"Ning, Bas hari ini pulang! Besok kita berempat harus ngumpul!" 
Sebuah pesan teks dari Benny a.k.a Bendot sudah gw baca dengan penuh senyum mengembang. Yes, I am so excited! Gimana nggak excited coba, untuk sekadar melewatkan momen ngumpul berempat seperti yang kami rencanakan seperti ini pun selalu membutuhkan waktu yang tidak mudah diatur. Schedule kami berempat memang tidak sama, terutama si Bas yang sudah merantau ke luar kota lagi, jadi musti menyesuaikan dia. Kalau kami bertiga--gw, Bendot dan Fuad--adalah makhluk yang tidak bisa ditebak. Kadang-kadang bisa saling tetiba mengunjungi satu sama lain. Yah, walaupun sekedar buat cerita hal nggak penting, ngasih barang nggak penting, ataupun sekedar melewatkan waktu istirahat siang bersama alias nge-selo bareng (trust me, yang ini jangan dipercaya). Kebetulan banget, beberapa minggu belakangan ini gw lagi penat dengan berbagai macam pikiran. Berkumpul sama The Kampret adalah obat berharga yang tidak akan gw lewatkan. No.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba.
"Ning, kita bertiga udah ngumpul di tempat ngopi biasa. Area timur. Cepetan ke sini."
Singkat cerita, gw yang terakhir datang. Begitu gw parkir motor, sudah terlihat tiga gundul yang sudah sangat amat gw kenal. Mereka sudah duduk-duduk seperti biasa dengan rokok dan makanan serta gelas berserakan. Sialan, gw ditinggal! 
"Haaaaaiiiiiii kaliaaaaannnn!!!! Aaaaakkk!!!"
Gw terlalu excited untuk menyapa mereka. Bahkan, saking excited-nya gw sudah pamer gigi bahkan semenjak di tempat parkir. Beberapa pengunjung dan waitress di situ langsung melihat kehebohan kita, pastinya. Aaaakkk! Muka datarnya Si Fuad yang tambah item nampak selalu sibuk dengan layar gadget-nya. Muka Bas yang tambah bersihan dan tambah kinclong jidatnya nampak berseri-seri ketemu gw. Muka Benny yang tambah kucel nggak jelas juga selalu nampak siap nge-bully gw. Aaaah, gw terlalu happy ketemu mereka! Baru datang aja gw sudah disambut dengan pertanyaan:
"Sudah beli batik untuk seragam kita bertiga kan, Ning?". 
"Ntar pas ngiring manten, lo jangan lupa ajak-ajak ya? Sekalian liburan ke Bali kan lumayan".
"Lo pasti tahun depan kan? Tapi, sama yang mana dulu ini?"
Ketemu mereka artinya harus siap dengan bully-an sarkastik yang sudah amat sangat familiar didengar dari jaman SMA. Kami tidak akan saling nge-bully kalau tidak sedekat ini. Justru karena kami sudah sangat hafal karakter masing-masing, jadi santai-santai saja sih kalau mendengar celetukan-celetukan gila dan yang pasti lumayan kejam. Saat lagi ketawa-tawa, Bas yang duduk di sebelah gw tiba-tiba nyodorin telapak tangannya.
"Ning, bisa pegang tangan gw?"
"Hah? Maksudnya?"
"Udah pegang aja lah"
"Udah. Kenapa?"
"Tuh, kapan lagi kita bisa pegangan tangan kaya gini coba kalau sudah pada nikah nanti? Sekarang, mumpung lo belum nikah, gw mau pegang tangan lo lebih lama."
"Apaan sih lo? Menye ah! Hahaha" 
Bas, tuh kan gw langsung melow. Iya juga sih. Selama ini, gw ngerasa biasa-biasa saja sahabatan hampir 10 tahun sama mereka. Melewati fase up and down kehidupan bareng mereka, tumbuh bersama mereka. Kalau tiba-tiba salah satu dari kami menikah duluan, pastinya hari-hari ini tidak akan semanis ini untuk ditemui di hari-hari ke depan. Sudah ada suami atau isteri atau bahkan anak yang pastinya akan selalu didahulukan. Fase kehidupan. Gw inget Dita yang sudah menikah lebih dulu dengan Mas Lukman. Gw jadi ngerti, kenapa segitunya mereka takut gw nikah duluan.

Kilasan bayangan jaman SMA kembali menggoda untuk dikenang, begitu juga dengan masa-masa kuliah. Sekarang, yang terlihat hanyalah pria-pria dewasa (yang masih kekanakan juga) pekerja kantoran dan pekerja seni di depan mata. God, thank you. Thank you for blessing me with all best friendship around me. Rasanya, mereka para lelaki ini bisa menjadi sangat-sangat nggak ada jaim-nya di depan gw. Entah gimana kalau mereka bertingkah di depan pasangannya masing-masing. Gw terlalu excited ketika menghabiskan waktu bersama mereka, sampai kadang nggak peduli capek badan. Seharian kami melewati waktu bersama dari tempat ngopi, karaoke dan diakhiri dengan sesi curhat-curhat para single. Curhatan asmara, kerjaan, keluarga, sampai akhirnya sesi curhatan itu terhenti dengan celetukan ringan dari Fuad yang tiba-tiba:
"Eh, sekarang bulan apa sih Ning? November ya?"
"Masih bulan Oktober keleus... tapi udah hampir akhir Oktober juga sih..."
"Wah sebentar lagi Desember ya? Edan, cepet banget..."
"Emang lo mau ngapain, Ad? Tempo kredit nasabah?"
 Dengan keterlaluan sumringahnya Fuad bilang: 
"Bukannya gitu, ini tuh sudah mau tahun baru lagi coba, 2015 sebentar lagi kan? DUA RIBU LIMA BELAS, COY!!! KAPAN KALIAN NIKAAAAHHH???"
!!(-______________-)!!

Sumpah, perasaan pas sesi curhat dia lebih milih tidur dan nguping sambil merem. Tapi sekalinya bangun kok ya langsung merusak suasana abis nih si tengil! Bas mulai menunduk muram, gw mulai menerawang ngelihat bintang-bintang, sedangkan Bendot hanya senyum penuh nafsu lalu misuh dengan fasih, "Faaaaakkkk kowe Ad!!!"
"Loh, fak fak piye lho, Ndot? 2015 sudah di depan mata, tapi kalian masih aja curhat-curhat nggak jelas. Pertanyaanku bener to: trus kapan kalian nikahnya?" 
Kami bertiga melihat dengan gemas ke arah si tengil yang lagi cengar-cengir sambil sentrap-sentrup karena flu. Giliran dia yang bakal kena bully nih, batin gw. Benar saja:
"Eh, ngomong-ngomong lo sendiri apa kabar sama yang di Siloam, Ad? Sudah putus? Kalo putus, kita minta traktiran lagi boleh juga sih, mumpung masih semangat karaoke-an ini. Hahaha."
"Iya, Ad. Lo itu memang manusia paling cuek. Saat temen-temen yang lain pada sharing, lo sok jaim, sibuk mulu sama gadget. Padahal bisa gw tebak, pulang dari sini lo nangis-nangis ngeratapin nasib sambil sholat istikhoroh. Iya kan? Hahaha."
"Elo nanya pertanyaan itu ke kita bertiga, Ad? Eh, emangnya lo yakin Tika mau nikah sama lo? Kisah lo sama Bas itu nggak jauh beda kalii, bedanya cuma lebih tragis siapa dulu ini? Hahaha"
Hahaha. Sudah hafal banget sih gw sama muka si tengil Fuad kalau kena kecrohan balik dari anak-anak. Cengar-cengir nggak jelas. Ya, gw sih ragu sebenarnya sama dia. Gw nggak yakin kalau dia bakal nikah juga tahun depan seperti rumor yang beredar di kalangan anak-anak. Siapa juga yang betah punya pacar cuek dan tengil macam Fuad ini, coba? Dia ini tipe manusia yang lebih mentingin nasabah daripada pacar. Buat dia, nasabah is number one. Pacar, bisa jadi ada di urutan ke-sekian, setelah keluarga, teman, bola, gadget dan stick PS pastinya -____-

Aih! Pertanyaan Fuad bikin kami mikir lagi tentang 2015. Bas langsung menggumam pelan,
"Gw aja baru selesai training bulan Juni, gimana mau nikah tahun depan. Pahit-pahitnya kayak gini sudah gw bilang juga ke cewek gw, tapi ya dia punya pandangan sendiri. Ibaratnya kita ngajak berlari orang yang jongkok, gimana coba? Rasanya gw ingin mengutuk jarak! Komitmen itu penting ketika kita ada dalam LDR, jangan sampai berakhir dengan Lungo Dewe Rapopo, wes biasa... Bayangin, gw tuh sering loh makan sendiri, pergi ke mall sendiri, nonton sendiri. Bahkan yang terakhir gw nonton Annabelle sendirian. Karena apa? Karena wes biasa..."
Hah? Nonton Annabelle sendirian? Gw melongo dan cuma bisa mbatin dalam hati: "Untung aja Bas, lo nggak ikut-ikutan harakiri di dalam bioskop! Bisa jadi sekuel Annabelle nanti..". Si Benny pula nambahin galau,
"Ya kalau gw, Vicky bilang sih dia mau stay di Jogja setelah lulus. Gw ingin melipat jarak kalau bisa."
"Melipat jarak? Lo pikir atlas dilipet-lipet?" Gue cuma bisa membatin. Hadee... honestly, gw nggak ngerti sama sekali dengan pemikiran pria-pria ini. Segitu amat sih mikirin tentang 'jarak'. Gw yang beda pulau aja masih bisa menjaga satu sama lain. Mungkin, siiiih. Gw rasa begitu, nggak tahu deh dengan pasangan gw ngerasanya gimana. Gw keceplosan:
"No, You're wrong, Bas! I think LDR itu bisa diatasi nggak hanya dengan komitmen, tapi juga kompromi. Itu yang jauh lebih penting. Lo bakal tahu apakah pacar lo itu orang yang mentingin ego-nya atau mentingin hubungan kalian, dengan kata kompromi. Kalau nggak bisa diajak kompromi, ya sudah tinggalin aja. Lo yang harus tegas. Masalahnya, lo siap nggak buat ninggalin dia."
"Gw itu orang yang sangat-sangat pengertian Ning, coba bayangin. Sekalipun dia berbohong dan gw tahu kalau dia berbohong, gw masih ngikutin alur dia. Ya gw maklumin, tapi itu nggak hanya sekali dua kali, Ning masalahnya...kadang dia bodoh juga gitu bohongnya"
"Nggak. Lo tahu Bas, menurut gw, orang yang sudah tahu bahwa dia dihujani dengan kebohongan-kebohongan yang terus-menerus dan dia masih bisa bertahan dengan itu, itulah orang yang jauh lebih bodoh! Bahkan ke-ter-la-lu-an bo-doh-nya!" 
Bas sepertinya tertohok banget dengan kata-kata gw yang terakhir. Sampai dia mengulang pelan kata-kata gw 'keterlaluan bodohnya'. Mendengus dan membuang asap rokok pelan. Lagi-lagi, Fuad hanya nyeletuk sembari menguap:
"Iki opo to cah... malam minggu kok yang dibahas galau-galauan mulu! Pulang yuk, Arsenal bentar lagi main nih! Gw juga mau pijit dulu biar badan segeran."
Mulailah Bas dan Bendot menerawang kisahnya masing-masing sambil menikmati rokok di tangan. Kusut tambah kusut deh tu muka. Gw melirik ke arah Fuad. Datar. Masih sama datarnya ketika kami berempat ketemu di tempat ngopi. Sialan, ni bocah emang pantes dijuluki kampret bermuka datar. Meskipun kami bertiga--gw, Bas dan Benny--melepas masalah kami masing-masing, si Fuad masih saja bertahan dengan gadget di tangan. Kelihatannya sih dia cuek dan datar banget ekspresinya. Tapi, asal kalian tahu aja. Pas lagi karaoke-an, dia paling semangat nyanyin lagu "Sakitnya Tuh Di Sini". FYI ya, bahkan Fuad tiba-tiba nge-capture video lagu itu pas banget di kata-kata "sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku... sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh..." dan dia nunjukin capture-an itu dengan semangat ke gw. Hahahahaha. I know you, Ad. I know you! Sedatar apapun muka lo, lo nggak bisa menyembunyikan kegamangan hati lo juga soal NIKAH TAHUN DEPAN. Hahaha.

Sudahlah ya, rasanya seperti ngemong pria-pria labil dalam sehari kemarin. Apapun yang kalian hadapi guys, ingat lagu terakhir yang kita nyanyikan dengan semangat 45 kemarin ya! :)








I wouldn't trade it for anything. Never, no, never. Our friendship is the best present ever. The fantastic 'kampret' four. Thank you for every moment we've shared...


Regards,

-Kampret Berwajah Teduh-