Friday, October 17, 2014

The Art of Communication


Berbicara mengenai up and down dalam suatu hubungan--baik itu hubungan persahabatan, hubungan dalam keluarga, hubungan dalam pergaulan sosial, hubungan dalam organisasi, maupun hubungan dengan pasangan--setiap pribadi pasti pernah mengalaminya. Namun, hanya sedikit dari mereka yang mampu berkomunikasi dengan baik untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Seperti saya pribadi, saya beberapa kali berselisih dengan pasangan saya dalam skala yang lumayan sedang menguras emosi. Terkadang nada tinggi ataupun air mata tidak jarang menjadi bumbu di dalamnya. Pasangan saya adalah orang yang sangat menghargai kata 'komunikasi' dalam sebuah hubungan. Mungkin, karena dia terbiasa sebagai pemimpin yang harus mengerti akar permasalahan yang dihadapinya, atau bahkan menjadi pemecah masalah dengan mencari solusi yang terbaik. Bersyukurnya, pasangan saya juga menularkan cara-cara itu kepada saya. Sehingga konflik-konflik yang terjadi dalam perjalanan kami bisa dijadikan sebagai momentum pembelajaran bagi kami masing-masing untuk lebih mengenal satu sama lain, belajar memahami dan menerapkan ilmu komunikasi dengan baik. Kami memang menerapkan model 'diskusi' dalam setiap hal. Termasuk masalah yang sering kadang--sebagai wanita--membuat saya lebih sering emosional dan sensitif. Kami berusaha mendiskusikan itu dari sudut pandang kami masing-masing dan saya rasa cara itu cukup 'fair' untuk membuktikan bahwa kami sudah melakukan komunikasi yang baik sebagai sepasang yang berbeda pemikiran. Sehingga kami menemui titik temu yang baik.

Mungkin, yang jauh lebih berat adalah ketika cara-cara berkomunikasi kita dihadapkan kepada banyak orang, bisa jadi dalam hal pekerjaan, organisasi, maupun lingkungan sosial. Tidak semua pribadi mampu kita baca dengan baik. Inilah yang terkadang membuat kita kewalahan ketika harus 'berdiskusi' dengan banyaknya kepala--yang bahkan kita belum tahu apa isi yang ada dalam kepala-kepala tadi. Terkadang, cara komunikasi kita dengan seorang melankolis tentunya akan jauh berbeda dengan seorang sanguinis yang lebih ekspresif dan terbuka dalam menyampaikan apa yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka. Apalagi jika kita bertemu dengan seorang koleris, tentu cara berkomunikasinya pun tidak akan sama dengan para plegmatis. Pada intinya, semua butuh fleksibilitas dari komunikator sendiri dalam 'membaca' komunikan yang dihadapinya.

Sun Tzu saja mengajarkan kita bagaimana seni menghadapi lawan, bahwa "Kunci kemenangan dalam sebuah pertempuran adalah memahami maksud musuh". Jadi, kita harus bisa memahami maksud orang-orang yang menjadi lawan bicara kita. Caranya? Adalah dengan menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Di sisi lain, Sun Tzu mengajari kita bahwa ketika menjadi pendengar itulah kita akan mampu membaca lawan bicara kita secara lebih jeli. Sehingga pada saat yang sama, kita mampu membangun strategi yang tidak berbentuk dan tidak kelihatan. Kita bisa membaca lawan bicara dengan mengendalikan situasinya. Namun, mereka tidak tahu dan tidak merasa bagaimana kita mengawasi mereka. Itulah seni komunikasi. Seorang komunikator yang baik mampu menginspirasi orang lain serta meyakinkan mereka untuk bertindak yang terbaik, baik sebagai tim maupun untuk organisasi.



Regards,

Bening Rahardjo