Sunday, November 9, 2014

Jarak Ini


Jarak.
Ah, aku hanya bisa bergidik takut dengan kata itu, kini.
Kata yang sebelumnya bisa kueja dengan mudah, bisa kutertawakan dengan riang.
Kurasa, aku mulai menjadi penakut.
Ya, takut untuk mengeja dan bahkan menertawainya.
Kurasa, aku mulai menjadi pengecut.
Kecut untuk menghadapi jalan terjal yang sedang kita tuju.
Tapi kau selalu katakan, "Tenang sayang, akan ada 1000 jalan lagi di depan".
Tuan,
Aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa jarak ini memisahkan raga kita sangat jauh.
Terlalu jauh malah.
Baru sekejap mendengar tawamu kemarin, hari ini senyap kembali.
Baru sekejap memandangi wajahmu, hari ini yang tersisa tinggal bayangan lagi.
Sang Gibran bilang cinta hanyalah kerinduan yang mentahbiskan waktu.
Namun bagiku, cinta selalu menengadahkan tangan untuk meminta secara egois.
Bukankah begitu seharusnya sebuah kisah dirajut?
Kita tidak cinta pada sendiri.
Kita tidak rindu pada sendiri.
Ah, kini aku hanya bisa memutar memori
Kembali menikmati malam bercakap-cakap dengan angin sepi.
Memandang bintang sembari meyakini.
Bahwa hatimu akan selalu di situ.


Regards,

Bening Rahardjo