Tuesday, September 30, 2014

Day 8 Blog Challange: My Glory Day






Monday, September 29, 2014

Day 7 Blog Challange: If I Won The Lottery



Hmm, actually, this is a difficult question, because I never play lottery :D But I can imagine it wisely. If someday, I win the lottery, no matter how lot the number, I will share it to those who have more right than me to receive the money.  

No hypocrite. I need much money too. We all need much money, yes. I have sooo many needs as a human, correct. But, when you talk about 'mercy' as a humanitarian, this is what I had in mind. Let's look at them the elderly in nursing homes, or children with special needs around us, as well as I think it is wonderful to share with them all joy and happiness. I know, they are not trained to ask for money, or hoping for mercy from us. No. I am surely understand. However, as an example: for children with special needs, we can use that money for something more to educate and train their motor-nerves. They don't need much money to show you that they are happy. If you are asking them: how you feel today? I am sure, they will show you how happy they are. With what? With their smile that they will give to you. How simple to be mercy for other, No? Than I spend that money on a toast with friends or fill my shopping chart with many stuff. You know, that man is born to pursue satisfaction, and to which you pursue worldly satisfaction, when will you be satisfied? Isn't that depend on humanity and gratitude that you have? 


I also want to build a counseling place for assaulted women and children. A place without judgment, a place to recover their physical and mental trauma, a place to warm them as 'precious human', a place to develop their skills and provide them a better education about 'mercy'. I think we all can provide encouragement and support for their mental development, so that they are able to survive in the future. Believe me, it's not easy to build their confident after all.


Regards,

Bening Rahardjo

Sunday, September 28, 2014

The Perfect 'Katsumoto' Day



Tuan, engkau tahu bahwa perasaan ini tidak bisa direncanakan datangnya, ataupun dibunuh jika dia berwujud. Mungkin ada di antara kita yang mencintai seseorang dengan keterlaluan anggunnya, yang sering tak tergapai, yang tahu, tapi memilih untuk tidak membalas. Haruskah kita berdiam? Selalu ada nama yang tak ingin lekas-lekas hilang dari ingatan, dan masih menjadi candu yang tak reda-reda juga. Apakah kita bisa memilih 'nama' itu?

Kau yang mengajariku untuk menjadi florist bunga realita kehidupan. Kau yang mengajariku untuk bertarung seperti singa yang kelaparan. Kau juga yang mengajariku untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan dalam hidup. Lalu, hari ini kau memutuskan untuk menyusuri jalanan sepi seorang diri. Jangan paksa aku untuk menyampaikan kata, karena aku rasa diamku kali ini akan lebih baik. Kau tahu Tuan, ini bukan lagi tentang air mata. Tapi api kemarahan di dalamnya. 

Bukankah yang paling penting, bahwa hari-hari ini kita sudah berupaya yang terbaik dalam hidup? Dan bahwa kita sudah menjadi pemenang di dalamnya, layaknya Katsumoto. Meskipun kabar baik atau buruk yang akan kita dengar, hari itu akan tetap menjadi hari-hari sempurna dalam hidup. Kita bisa melihat langit biru nan cerah dan sakura bermunculan seperti musim semi datang. Apapun bisa dirangkai menjadi keindahan dan berkah untuk diri sendiri dan mungkin juga orang lain, di tangan-tangan yang tepat. Bukankah kau bilang itu inti tujuan mulia hidup ini?

Tuan, maafkan jika keputusanmu memunculkan reaksi kemarahan dariku. Kau yang mengajariku untuk berperang layaknya Spartan, lalu kau pula yang takut menghadapi hari sempurna itu, dan memilih untuk berhenti. Wanita ini terlalu egois. Aku tidak ingin menjadi api. Tapi kau yang memantiknya. Bukankah selalu kubilang, aku adalah cerminmu?


Jika kau telah sampai pada tujuanmu, hapuslah nama ini dari batu tempat pertama kita bertemu. Biarkan ia terkikis beserta ilalang yang memagarinya nanti. Tidak ada cerita. Tidak pernah akan ada cerita.





-Wanita ini-


QuoteOfTheDay: DOT 28.9.14


NO COMMENT
is
The Best Choice 

Day 6 Blog Challange: What's Inside The Bag?




1. Wallet
2. Pocket for handphone and coin
3. Riding motor equipment: sun glasses; gloves; mask
4. Pen
5. Flashdisk
6.Make up: lotion; body butter; face powder; lipstick; mascara
7. Eyeglasses
8. Mukena/Praying clothes
9. Charger/Power bank
10. Headset
11. MP3/MP4
12. Handphone


That's all!



Saturday, September 27, 2014

Day 5 Blog Challange: 25-Love-Songs I Love! (List of Dream Wedding Song) ^^



1. Why Do You Love Me - Sandy Sandoro
2. Because You Loved Me - Celine Dion
3. A Woman Like You - Lee Brice
4. From This Moment - Shania Twain
5. Unbreak My Heart - Toni Braxton
6. A Whiter Shade of Pale - Michael Bolton
7. Tell Me - Side A
8. Looking Through Your Eyes - Leann Rimes
9. Marry Your Daughter - Brian McKnight
10.Nothing's Gonna Change My Love For You - Goerge Benson
11. How Do I Live Without You - Trisha Yearwood
12. Hello (is it me you looking for?) - Lionel Richie 
13. Endless Love - Lionel Richie ft Diana Ross
14. We Could Be in Love - Lea Salonga ft Brad Kane
15. Starting Over Again - Natalie Cole
16. The Gift - Jim Brickman
17. I Wanna Grow Old With You - Westlife
18. Tonight I Celebrate My Love - Peabo Bryson ft Roberta Flack
19. Beauty and The Beast - Celine Dion ft Peabo Bryson
20. A Whole New World - Peabo Bryson ft Regina Belle
21. I Wanna Take Forever Tonight - Peter Cetera ft Crystal Bernard
22. God Gave Me You - Bryn White
23. Just Tell Me You Love Me - England Dan ft John Ford Coley
24. My Valentine -  Martina McBride ft Jim Brickman
25. I Do - Colbie Caillat


You're Still Be 'Somethin' in My Eyes



Jika cinta hanya menjadi kata kerja, 
Maka biarkanlah sang pemuja menikmati tempat persembunyiannya.
Apakah ia kurang pemberani, kurang upaya?
Kita tahu ini bukan permainan ular tangga,
Untuk bisa terelak dari berhenti dan terjatuh pada satu angka.
Lantas memilih untuk tidak merampungkan kepahitan.
Apa itu bagian dari rencana jahat sebuah pemikiran?

Akan selalu ada kecenderungan bahwa cinta tidak terpuaskan.
Lalu mengapa kita memilih untuk berdiam?
Bukankah tak perlu ada kebencian dalam setiap pengabdian?
Atau pemaksaan dalam setiap penolakan.
Aku tidak mengumpat.
Dan tak akan kutunjukkan padamu jika aku mengumpat.
Kau lihat, aku hanya berdiam.
 
Jika sekadar mencapai finish lebih penting daripada menetapkan haluan,
Mengapa tidak kita rampungkan ini dengan objek lain yang memungkinkan?
Kau, aku, "kita".
Mungkin hanya sebuah euforia yang diuapkan.
Lalu sebentar lagi ia akan melebur bersama udara.
Tidak pernah akan terlihat meski ada dimana-mana.
Dan bahkan sia-sia jika kita menyembunyikannya.


Kau, 
Masih cukup menjadi rindu
Bagi perempuan ini...


Friday, September 26, 2014

Day 4 Blog Challange: My Favorite Quote

"What you give is What you get return"                                                                          (Bening Rahardjo)

~Just a latePOST~








Thank you for the letter and the gift.... :)

Love,

-BR-


Thursday, September 25, 2014

Tell Me

By- Side A





We Could Be in Love

By: Lea Salonga ft Brad Kane






Nada Sumbang Arkhais


Mungkin ini saatnya untuk mengikhaskanmu. Bukan. Ini bukan menyerah kalah lalu berhenti berharap. Tidak. Ada hal-hal di dunia ini yang mungkin lebih baik tidak untuk dikatakan. Seperti halnya perasaan ini. Dikatakan atau tidak, ya, dia akan selalu mengagumimu dari suatu sudut yang tidak pernah kau tahu. Aku memilih untuk meletakkan semua angan-anganku, menggantinya dengan doa-doa indah untuk kebahagiaanmu. Wanita ini telah menyadari suatu hal yang keterlaluan bodohnya, bahwa ia bukanlah orang yang kau harapkan muncul sebagai sosok Sembodro-mu atau Dewi Shinta-mu. Bagaimana mungkin seorang jalang yang terbuang lantas kegedhen empyak kurang cagak ingin dianggap sebagai Dewi Kahyangan? Bisa bikin Si Dhalang ngguyu kemekelen nanti. Wanita ini juga telah menyadari kalau kebodohan pambudi-nya saja melebihi wong asor, bagaimana mungkin dia mau gathuk-mathuk menganalogikan dirinya sebagai seorang wanodya cerdas beradab. Aku sudah legawa. Sungguh, kali ini, aku legawa. Biarkan semesta malam ini menjadi saksi, bahwa wanita ini meletakkan angan-angannya untuk kebaikan pria kinasih-nya. Dia tidak ragu. Tidak lagi ragu. Dan kalau perlu, Si Dhalang bisa mengujinya kapan saja DIA mau. Duh Gusti, bukankah urip iku urup?

Terima kasih semesta.


Aku,
Wanita yang mendendangkan Gendhing arkhais Centhini