Thursday, October 30, 2014

Runaway Baby

Hi guys!! I wanna share this fun video from Korean skater guys. I just found it when I wanted to search some modern dance choreography for my sister, Lintang. I thought 'Runaway Baby' from Bruno Mars was good song to dance. Then, I found this video, aha! This is a new kind of inline skate. Artistic, simple, feel good and downright fun to watch, eh and one thing, really...this video makes me and Lintang want to try it with our skates! :D

Check this video out!





Regards,

-BR-


Wednesday, October 29, 2014

One Text Received...



Ting Tong... 
*one text received*
*read*
From: Emo Fadzil
+628180----003
"Ning, pin BB-mu berapa? Hari ini aku lamaran."

GLEK!*MELONGO*
*ngetik sambil mangap*
To: Emo Fadzil
+628180----003
"HAH?! SERIUS?!! Edan kowe Ma! Nggak ngabarin dari kemarin!"

Ting Tong...
*one text received*
*read*
From: Emo Fadzil
+628180----003  
"Baru dikabari kemarin Ning. Masih nanti sore kok."

*TAMBAH MELONGO*
*ngetik sambil nahan nyesek lahir batin*
To: Emo Fadzil
+628180----003
"Nanti? Sore tuh SEKARANG INI kaliii... Edan lo nggak kabar-kabar dari semalem! Trus, gw diundang ke sana?"

Ting Tong...
*one text received*
*read*
From: Emo Fadzil
+628180----003
"Nggak usah kalo sibuk, cuman ngabarin aja kok :)"

*NANAR*
*ngetik sambil mejemin mata*
To: Emo Fadzil
+628180----003
"Okay deh, say! Selamat yah! Semoga nanti acaranya lancar! Besok-besok cerita loh ke gw! Awas kalo nggak main ke sini!"

Ting Tong...
*one text received*
*read*
From: Emo Fadzil
+628180----003
"Iya, Ning. Makasih doanya :)"

Ema sms gw beginian siang-siang menjelang sore begini??? Siapa yang nggak syok setengah nyesek lahir batin coba? Ghost!! Satu orang terdekat lagi yang nikung gw, hahaha! FYI aja nih, bulan Agustus lalu gw makan berempat sama Benny, Fuad dan Ema. Di situ malah sumber utama yang curhat ngegalau tentang bulan November tuh gw. Lah, dia aja waktu itu minta saran ke gw gimana caranya biar cepet-cepet dilamar. Dia yang udah pengen banget nikah, tapi belum ada calon (nah sekarang dia beneran dilamar). I am curious about that guy. Semoga aja bukan makhluk alay jadi-jadian yang kenalan di facebook. Asli, gw agak khawatir sama temen gw yang satu ini. Berhubung dia sedikit rada kacau juga sih anaknya. Semoga aja dia bener-bener ketemu calon suami yang bisa ngebimbing dunia akherat. Amiinn.

Ah! Ini kabar bahagia! Gw harus ngehubungin anak-anak The Kampret yang lain:

*ngetik layar hape sambil penuh nafsu*
To: Bendot, Bas, Afu
"Gilaaakk! Ema lamaran hari ini, Jon!!"

Ting Tong
*one text received*
*read*
From: Bendot
+628572----112
"Lah, BUSYET!"

*ngetik sambil ngakak miris*
To: Bendot
+628572----112
"Kamvret, malah dia yang ngeduluin gw! Hahaha"

Ting Tong
*one text received*
*read*
From: Bendot
+628572----112
"Syukuri apa yang ada... Hidup adalah anugerah..."

*ngetik sambil usap ingus*
To: Bendot
+628572----112
"Kita boleh ngakak, tapi dalam hati mewek, hahaha"

Ting Tong
*one text received*
*read*
From: Bendot
+628572----112
"Faaaakkk!!!"

*ngetik sambil senyum puas*
To: Bendot
+628572----112
"Ntar malem ke sana boleh nggak ya?"

Ting Tong
*one text received*
*read*
From: Bendot
+628572----112
"Mau ngapain lu? Sama siapa lu? Siap lahir batin lu? Dijamin nggak mupeng lu? Nggak ngerasa nyesel lu?"
*baca teks sambil misuh dalam hati: Sialan lo Ndot!

Okay, rasanya, mau terbang ke angkasa trus escape sebentar ke tempat yang ada saljunya. Ngadeeeemmmm.... Benar-benar lengkap hari ini kisah The Kampret untuk ditulis... (-_______-)"

*ngetik dilayar hape sambil mikir keras*
To: Ema Fadzil
+628180----003
"Dear Ema sayang, semoga lamaran hari ini lancar yaa... I wish all best for you, congratulations! :)"
*senyum penuh makna sambil ngelihatin teks buat Ema"


Congratulations Ma, see that... Jodoh itu tidak bisa dipercepat ataupun ditangguhkan datangnya, kan? Seperti yang gw bilang dulu. Lo nggak perlu risau dan nge-galau, kalau emang pria itu jodoh lo, alam akan berkonspirasi untuk kalian berdua. You know, I am happy for you :)



Regards,


-BeningRahardjo-


Tuesday, October 28, 2014

Because You Loved Me



"Because You Loved Me"
By: Celine Dion


For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I'll be forever thankful baby
You're the one who held me up
Never let me fall
You're the one who saw me through through it all

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
You lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I'm grateful for each day you gave me
Maybe I don't know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
You lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You've been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
You lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

I'm everything I am
Because you loved me

Monday, October 27, 2014

QuoteOfTheDay: 27.10.2014

"Bahkan hanya mendengar kabarmu saja, membuatku jatuh terjerembab untuk ke-sekian kalinya... Aku hanya bayi yang belajar merangkak dalam rengkuhanmu. Tolong, jangan kau buat aku terjatuh lagi kali ini."


Epitaf Sunyi



Untukmu,
Manusia yang terengkuh dalam waktu...

Aku hanya mampu menjilid malam dalam lembar-lembar sunyi
Dan mengeja bayang-bayang bias dalam bait-bait stanza
Aku hanya pengumpat malam yang berjelaga
Pengagum surya yang keterlaluan teriknya
Di sudut sana, dalam sebuah rumah tua
Kau tahu bahwa epitaf itu akan selalu ada
Bahkan meski kau nodai dengan bunga-bunga liar serta dedaunan kering
Dia tak akan terkoyak
Hanya sejurus berdebar dalam batas sendu

Kau tahu...
Kekalutan dan ketakutan ini bukan lagi barang baru
Namun kini,
Semua ruang kosong itu terlalu pahit dalam sekap
Kau bilang kau ingin menjamu malam berpesta pora
Sedang aku hanya seorang diri yang terajah mantra dalam kesumat
Aku hanya serupa sejarah yang terlalu muda
Yang terpatri sudah dalam mimpi-mimpi pahit
Dan tak ada anggunnya untuk dikenang atau bahkan diamini.


-pengagum dalam epitaf sunyi-


Kabinet Kerja Bapak Jokowi - JK (2014-2019)

Kemarin (Minggu, 26 Oktober 2014) tepat pukul 17.00 WIB, kita telah menyaksikan bersama Bapak Jokowi sudah mengumumkan nama-nama calon menteri yang sedianya akan dilantik siang hari ini (27 Oktober 2014). Sesaat pengumuman, saya sempat tertinggal beberapa menit menyaksikan siaran langsung di televisi. Namun, saat sesi foto Bapak Presiden Jokowi dengan calon-calon menteri, saya berteriak girang kepada Ibu yang ada di sebelah saya.

"Ibu! Itu kan Profesor Pratikno!! Kok, kok...Pak Pratikno ada di sebelah Pak Jokowi....?"

Ibu saya hanya menjawab pelan "Hla memang, Pak Pratikno terpilih jadi Mensesneg Kabinet Kerja Jokowi"

Waw! Bangga sekali ada warga Fisipol UGM yang terpilih sebagai menteri dalam Kabinet Kerja Jokowi ini. Ketika di tahun-tahun saya kuliah dulu, Prof Pratikno adalah dekan saya di Fisipol, kemudian tahun 2012 beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Rektor. Sebagai mantan warga UGM saya juga merasakan perubahan-perubahan positif dari Rektor sebelumnya ke Rektor baru. Jadi ketika saya melihat beliau berdiri sebagai calon menteri baru di sebelah Bapak Presiden, saya merasa beliau layak terpilih karena kredibilitas dan pengabdiannya yang tinggi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Ya, Bapak Presiden Jokowi menamai kabinet yang dibentuknya dengan nama sederhana namun sarat makna, yakni "Kabinet Kerja". Kata "kerja" di sini bukan hanya sebuah kata benda yang berarti pasif, namun kata kerja yang berarti aktif. Semoga dengan nama sederhana yang sarat makna ini, para calon menteri yang terpilih oleh Bapak Jokowi benar-benar mampu bekerja secara nyata seperti visi Bapak Presiden, "Kerja, kerja dan kerja!". Semoga nama-nama baru yang terpilih sebagai calon menteri dalam kabinet ini juga betul-betul bisa membantu Sang Presiden membawa perubahan baru bagi bangsa Indonesia.

Saya lihat ada beberapa nama calon menteri dari almamater UGM. Kalau saya tidak salah lihat kemarin sore, selain Prof Pratikno sebagai Mensesneg, ada Dr.Ir Basuki Hadimuljono sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; ada Ibu Retno L P Marsudi lulusan HI Fisipol juga sebagai Menteri Luar Negeri; dan yang paling terlihat jelas ada Bapak Anies Baswedan, P.hD sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah. Selain itu, kabar gembira untuk adik-adik yang duduk di bangku sekolah menengah pastinya adalah nama calon menteri baru yang betul-betul sudah fasih malang-melintang sebagai aktivis dalam dunia pendidikan. Khususnya lagi, di dalam kabinet yang baru ini pendidikan dasar dan menengah juga telah terpisah dari pendidikan tinggi. Semoga ini bisa menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia yang selama ini hanya diisi dengan uji coba (berganti-ganti) sistem pendidikan yang berimbas besar tentu saja kepada siswa. Saya ingat dalam ujian SMP dulu, saya sudah menemui sistem pendidikan baru. Belum ada dua tahun di SMA, saya juga menemui perubahan sistem pendidikan lagi. Pastinya, saya yakin ini juga dirasakan oleh adik-adik yang tengah duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Berikut adalah daftar lengkap nama-nama lengkap dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi (2014-2019):



Selamat bekerja Kabinet Kerja, semoga amanah untuk membangun bangsa Indonesia seutuhnya!


Regards,


Bening Rahardjo


Sunday, October 26, 2014

That's Why The Four Kampret Are For...


"Ning, Bas hari ini pulang! Besok kita berempat harus ngumpul!" 
Sebuah pesan teks dari Benny a.k.a Bendot sudah gw baca dengan penuh senyum mengembang. Yes, I am so excited! Gimana nggak excited coba, untuk sekadar melewatkan momen ngumpul berempat seperti yang kami rencanakan seperti ini pun selalu membutuhkan waktu yang tidak mudah diatur. Schedule kami berempat memang tidak sama, terutama si Bas yang sudah merantau ke luar kota lagi, jadi musti menyesuaikan dia. Kalau kami bertiga--gw, Bendot dan Fuad--adalah makhluk yang tidak bisa ditebak. Kadang-kadang bisa saling tetiba mengunjungi satu sama lain. Yah, walaupun sekedar buat cerita hal nggak penting, ngasih barang nggak penting, ataupun sekedar melewatkan waktu istirahat siang bersama alias nge-selo bareng (trust me, yang ini jangan dipercaya). Kebetulan banget, beberapa minggu belakangan ini gw lagi penat dengan berbagai macam pikiran. Berkumpul sama The Kampret adalah obat berharga yang tidak akan gw lewatkan. No.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba.
"Ning, kita bertiga udah ngumpul di tempat ngopi biasa. Area timur. Cepetan ke sini."
Singkat cerita, gw yang terakhir datang. Begitu gw parkir motor, sudah terlihat tiga gundul yang sudah sangat amat gw kenal. Mereka sudah duduk-duduk seperti biasa dengan rokok dan makanan serta gelas berserakan. Sialan, gw ditinggal! 
"Haaaaaiiiiiii kaliaaaaannnn!!!! Aaaaakkk!!!"
Gw terlalu excited untuk menyapa mereka. Bahkan, saking excited-nya gw sudah pamer gigi bahkan semenjak di tempat parkir. Beberapa pengunjung dan waitress di situ langsung melihat kehebohan kita, pastinya. Aaaakkk! Muka datarnya Si Fuad yang tambah item nampak selalu sibuk dengan layar gadget-nya. Muka Bas yang tambah bersihan dan tambah kinclong jidatnya nampak berseri-seri ketemu gw. Muka Benny yang tambah kucel nggak jelas juga selalu nampak siap nge-bully gw. Aaaah, gw terlalu happy ketemu mereka! Baru datang aja gw sudah disambut dengan pertanyaan:
"Sudah beli batik untuk seragam kita bertiga kan, Ning?". 
"Ntar pas ngiring manten, lo jangan lupa ajak-ajak ya? Sekalian liburan ke Bali kan lumayan".
"Lo pasti tahun depan kan? Tapi, sama yang mana dulu ini?"
Ketemu mereka artinya harus siap dengan bully-an sarkastik yang sudah amat sangat familiar didengar dari jaman SMA. Kami tidak akan saling nge-bully kalau tidak sedekat ini. Justru karena kami sudah sangat hafal karakter masing-masing, jadi santai-santai saja sih kalau mendengar celetukan-celetukan gila dan yang pasti lumayan kejam. Saat lagi ketawa-tawa, Bas yang duduk di sebelah gw tiba-tiba nyodorin telapak tangannya.
"Ning, bisa pegang tangan gw?"
"Hah? Maksudnya?"
"Udah pegang aja lah"
"Udah. Kenapa?"
"Tuh, kapan lagi kita bisa pegangan tangan kaya gini coba kalau sudah pada nikah nanti? Sekarang, mumpung lo belum nikah, gw mau pegang tangan lo lebih lama."
"Apaan sih lo? Menye ah! Hahaha" 
Bas, tuh kan gw langsung melow. Iya juga sih. Selama ini, gw ngerasa biasa-biasa saja sahabatan hampir 10 tahun sama mereka. Melewati fase up and down kehidupan bareng mereka, tumbuh bersama mereka. Kalau tiba-tiba salah satu dari kami menikah duluan, pastinya hari-hari ini tidak akan semanis ini untuk ditemui di hari-hari ke depan. Sudah ada suami atau isteri atau bahkan anak yang pastinya akan selalu didahulukan. Fase kehidupan. Gw inget Dita yang sudah menikah lebih dulu dengan Mas Lukman. Gw jadi ngerti, kenapa segitunya mereka takut gw nikah duluan.

Kilasan bayangan jaman SMA kembali menggoda untuk dikenang, begitu juga dengan masa-masa kuliah. Sekarang, yang terlihat hanyalah pria-pria dewasa (yang masih kekanakan juga) pekerja kantoran dan pekerja seni di depan mata. God, thank you. Thank you for blessing me with all best friendship around me. Rasanya, mereka para lelaki ini bisa menjadi sangat-sangat nggak ada jaim-nya di depan gw. Entah gimana kalau mereka bertingkah di depan pasangannya masing-masing. Gw terlalu excited ketika menghabiskan waktu bersama mereka, sampai kadang nggak peduli capek badan. Seharian kami melewati waktu bersama dari tempat ngopi, karaoke dan diakhiri dengan sesi curhat-curhat para single. Curhatan asmara, kerjaan, keluarga, sampai akhirnya sesi curhatan itu terhenti dengan celetukan ringan dari Fuad yang tiba-tiba:
"Eh, sekarang bulan apa sih Ning? November ya?"
"Masih bulan Oktober keleus... tapi udah hampir akhir Oktober juga sih..."
"Wah sebentar lagi Desember ya? Edan, cepet banget..."
"Emang lo mau ngapain, Ad? Tempo kredit nasabah?"
 Dengan keterlaluan sumringahnya Fuad bilang: 
"Bukannya gitu, ini tuh sudah mau tahun baru lagi coba, 2015 sebentar lagi kan? DUA RIBU LIMA BELAS, COY!!! KAPAN KALIAN NIKAAAAHHH???"
!!(-______________-)!!

Sumpah, perasaan pas sesi curhat dia lebih milih tidur dan nguping sambil merem. Tapi sekalinya bangun kok ya langsung merusak suasana abis nih si tengil! Bas mulai menunduk muram, gw mulai menerawang ngelihat bintang-bintang, sedangkan Bendot hanya senyum penuh nafsu lalu misuh dengan fasih, "Faaaaakkkk kowe Ad!!!"
"Loh, fak fak piye lho, Ndot? 2015 sudah di depan mata, tapi kalian masih aja curhat-curhat nggak jelas. Pertanyaanku bener to: trus kapan kalian nikahnya?" 
Kami bertiga melihat dengan gemas ke arah si tengil yang lagi cengar-cengir sambil sentrap-sentrup karena flu. Giliran dia yang bakal kena bully nih, batin gw. Benar saja:
"Eh, ngomong-ngomong lo sendiri apa kabar sama yang di Siloam, Ad? Sudah putus? Kalo putus, kita minta traktiran lagi boleh juga sih, mumpung masih semangat karaoke-an ini. Hahaha."
"Iya, Ad. Lo itu memang manusia paling cuek. Saat temen-temen yang lain pada sharing, lo sok jaim, sibuk mulu sama gadget. Padahal bisa gw tebak, pulang dari sini lo nangis-nangis ngeratapin nasib sambil sholat istikhoroh. Iya kan? Hahaha."
"Elo nanya pertanyaan itu ke kita bertiga, Ad? Eh, emangnya lo yakin Tika mau nikah sama lo? Kisah lo sama Bas itu nggak jauh beda kalii, bedanya cuma lebih tragis siapa dulu ini? Hahaha"
Hahaha. Sudah hafal banget sih gw sama muka si tengil Fuad kalau kena kecrohan balik dari anak-anak. Cengar-cengir nggak jelas. Ya, gw sih ragu sebenarnya sama dia. Gw nggak yakin kalau dia bakal nikah juga tahun depan seperti rumor yang beredar di kalangan anak-anak. Siapa juga yang betah punya pacar cuek dan tengil macam Fuad ini, coba? Dia ini tipe manusia yang lebih mentingin nasabah daripada pacar. Buat dia, nasabah is number one. Pacar, bisa jadi ada di urutan ke-sekian, setelah keluarga, teman, bola, gadget dan stick PS pastinya -____-

Aih! Pertanyaan Fuad bikin kami mikir lagi tentang 2015. Bas langsung menggumam pelan,
"Gw aja baru selesai training bulan Juni, gimana mau nikah tahun depan. Pahit-pahitnya kayak gini sudah gw bilang juga ke cewek gw, tapi ya dia punya pandangan sendiri. Ibaratnya kita ngajak berlari orang yang jongkok, gimana coba? Rasanya gw ingin mengutuk jarak! Komitmen itu penting ketika kita ada dalam LDR, jangan sampai berakhir dengan Lungo Dewe Rapopo, wes biasa... Bayangin, gw tuh sering loh makan sendiri, pergi ke mall sendiri, nonton sendiri. Bahkan yang terakhir gw nonton Annabelle sendirian. Karena apa? Karena wes biasa..."
Hah? Nonton Annabelle sendirian? Gw melongo dan cuma bisa mbatin dalam hati: "Untung aja Bas, lo nggak ikut-ikutan harakiri di dalam bioskop! Bisa jadi sekuel Annabelle nanti..". Si Benny pula nambahin galau,
"Ya kalau gw, Vicky bilang sih dia mau stay di Jogja setelah lulus. Gw ingin melipat jarak kalau bisa."
"Melipat jarak? Lo pikir atlas dilipet-lipet?" Gue cuma bisa membatin. Hadee... honestly, gw nggak ngerti sama sekali dengan pemikiran pria-pria ini. Segitu amat sih mikirin tentang 'jarak'. Gw yang beda pulau aja masih bisa menjaga satu sama lain. Mungkin, siiiih. Gw rasa begitu, nggak tahu deh dengan pasangan gw ngerasanya gimana. Gw keceplosan:
"No, You're wrong, Bas! I think LDR itu bisa diatasi nggak hanya dengan komitmen, tapi juga kompromi. Itu yang jauh lebih penting. Lo bakal tahu apakah pacar lo itu orang yang mentingin ego-nya atau mentingin hubungan kalian, dengan kata kompromi. Kalau nggak bisa diajak kompromi, ya sudah tinggalin aja. Lo yang harus tegas. Masalahnya, lo siap nggak buat ninggalin dia."
"Gw itu orang yang sangat-sangat pengertian Ning, coba bayangin. Sekalipun dia berbohong dan gw tahu kalau dia berbohong, gw masih ngikutin alur dia. Ya gw maklumin, tapi itu nggak hanya sekali dua kali, Ning masalahnya...kadang dia bodoh juga gitu bohongnya"
"Nggak. Lo tahu Bas, menurut gw, orang yang sudah tahu bahwa dia dihujani dengan kebohongan-kebohongan yang terus-menerus dan dia masih bisa bertahan dengan itu, itulah orang yang jauh lebih bodoh! Bahkan ke-ter-la-lu-an bo-doh-nya!" 
Bas sepertinya tertohok banget dengan kata-kata gw yang terakhir. Sampai dia mengulang pelan kata-kata gw 'keterlaluan bodohnya'. Mendengus dan membuang asap rokok pelan. Lagi-lagi, Fuad hanya nyeletuk sembari menguap:
"Iki opo to cah... malam minggu kok yang dibahas galau-galauan mulu! Pulang yuk, Arsenal bentar lagi main nih! Gw juga mau pijit dulu biar badan segeran."
Mulailah Bas dan Bendot menerawang kisahnya masing-masing sambil menikmati rokok di tangan. Kusut tambah kusut deh tu muka. Gw melirik ke arah Fuad. Datar. Masih sama datarnya ketika kami berempat ketemu di tempat ngopi. Sialan, ni bocah emang pantes dijuluki kampret bermuka datar. Meskipun kami bertiga--gw, Bas dan Benny--melepas masalah kami masing-masing, si Fuad masih saja bertahan dengan gadget di tangan. Kelihatannya sih dia cuek dan datar banget ekspresinya. Tapi, asal kalian tahu aja. Pas lagi karaoke-an, dia paling semangat nyanyin lagu "Sakitnya Tuh Di Sini". FYI ya, bahkan Fuad tiba-tiba nge-capture video lagu itu pas banget di kata-kata "sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku... sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh..." dan dia nunjukin capture-an itu dengan semangat ke gw. Hahahahaha. I know you, Ad. I know you! Sedatar apapun muka lo, lo nggak bisa menyembunyikan kegamangan hati lo juga soal NIKAH TAHUN DEPAN. Hahaha.

Sudahlah ya, rasanya seperti ngemong pria-pria labil dalam sehari kemarin. Apapun yang kalian hadapi guys, ingat lagu terakhir yang kita nyanyikan dengan semangat 45 kemarin ya! :)








I wouldn't trade it for anything. Never, no, never. Our friendship is the best present ever. The fantastic 'kampret' four. Thank you for every moment we've shared...


Regards,

-Kampret Berwajah Teduh-



Friday, October 24, 2014

QuoteOfTheDay: 24.10.14

"Star still looks beautiful even it doesn't shine its original lights, even it appears in the dark skies, even sometimes it fades and becomes invisible. You know, you are that star. And me too."


Melukis Rindu


Jika aku mampu bertanya kepada alam,
Dimana letak rahasia dari semua kebohongan
Atau misteri dari sebuah jiwa yang bimbang
Tentu aku tidak akan merasa segelisah ini
Seperti anak kecil yang merengek menunggui es krim
Sampai seorang laki-laki dewasa datang memeluknya
Tersenyum sembari berkata: jangan khawatir nak, untuk saat ini, bukankah bunga lebih indah ditatap daripada sekedar menyicip rasa es krim?

Alam bilang aku yang tidak bisa melihat.
Alam bilang dia melihat matahari dalam senyum
Alam bilang dia melihat hujan dalam sendu
Entah,
Aku yang gila atau alam yang bermain tebak rasa
Aku berusaha sebanyak aku bisa,
Namun tetap tak tersentuh.

Tuan, andai kita bisa melukis rindu yang tak berkata.
Mungkin pagut tidak akan mempermainkan dalam kegamangan.
Demi sebuah ujung dari sebuah awal
Jangan membuat janji di atas bahagia
Karena semua ujung hanyalah misteri.
Maka sebelum rindu beranjak pergi,
Penjarakan dia di tiap- tiap bunga hatimu.


Regards,

Bening Rahardjo



How To Contour And Highlight Your Face?

Hi gals, I am sure you guys ever heard about this makeup techniques, yep, contour and highlight for glamorous makeup. Perhaps, many of you are already an expert on this technique, however maybe there are many people who are still in learning phase too, just like me :p


Highlight become one of makeup tricks that can give different look to accentuate or affirm makeup. The goal depending on its need. Is it to highlight the cheekbones, nose, or eyes that feel less than perfect, up to you.

While the contouring aims to improve certain areas of face so it looks more beautiful and balanced. Put simply, contouring is used to shade or shadow certain areas who want to set up or hidden. So our face looks more perfectthe common areas of face that need contouring trick such like T-area: eyes, nose, and cheeks.

For more details, let's look at picture below: 


So, how to apply this techniques?

There are two main techniques that used for basic contouring: Low-lighting and high-lighting. Low-lighting refers to use at darker colors in certain areas of face, the suppression is because you want to cover it. While high-lighting it highlight the area you want to 'lift' or highlight.




With my simply makeup stuff, I tried to apply this techniques. I tried to apply the evening/night makeup for formal event. Here I use highlight on my nose and cheekbones for looking more sharp. I use highlight under my eyes, a bit on forehead and chin too for glow looking (depend on its need, evening/night makeup).



I used makeup lamp to make my makeup looks glowing and I took picture. Just.... Tralalaaaaa.... Here the result:


Not too bad, uh? :D You may think that 'sculpt' the face is complicated thing to do. But the result is just opposite from what we think, you don't believe it? Basically, contouring is to highlight the natural features of your face. Because of that, there is no applicable rule. This approach will look different in each person. For make it better, just practice, practice and more practice!


Regards,

Bening Rahardjo


Thursday, October 23, 2014

The Monotony of Student Life



This is what really happen in Google when you go to search with keywords 'school makes me'. Wow! Look, what's Google tells us about school! We may ever complained about how hard it is to learn Math, Physics, Biology, Chemistry, Geometry, Geography, etc.,No? Then we feel like a failure when we have learned well, but still could not pass the test. I'm sure we all have similar experience. When you get a bad score and it feels like you are ashamed, want to cry. Especially if other friends (who even by cheating) can get good score more than us. I think the world stops spinning. Okay, perhaps this is become too much, but I'm sure we've all feel uncomfortable things about the school too.


I think, there are at least 10 reasons why students don't feel comfortable with their school:

1. 'Killer' teacher
It is often feared by most students due to teacher who is authoritarian. This may not realized by the teacher itself but instead realized by students who freak out when forgot to do homework that provided by the teacher. This is the most common reason why students don't attend school.

2. Super lots homework
The most often reason when you ask student like: "Why you don't like school anyway?". The answer will be like this: "Of course, can you imagine how we have lots of homework to do many times, even in our summer holiday?". How could this happen? It could happen because one teacher gives lots of homework to their students with no idea of how many homework also given by other teachers, so that students feel burdened. It could made students lost their spirit to study.


3. Minimum of school facilities
Well, it's also that I often hear. Sister of mine said, "Why there is no AC in my class, huh?". Ya, sometimes school facilities become an important grip so that students can rise their spirit to study, but in the other side it will add the cost of tuition too.

4. Bullying-everywhere
In accordance with school policy from unknown which sounds "Students with dominant group will intimidate minority group whereas the strong group will be the winner and the minor group will be the loser. It only can overcome by a revolution in that school (from the students itself)". That is one reason why many students hate school, especially students who are often bullied at school.

5. Boring-lesson 
The most hated subjects by students especially like: Physics, Mathematics (Algebra), Chemistry, Biology, History, even English, for not understood reasons. For students who already hated school, one minute seemed an hour. An hour seemed days. 

6. Do not understand the explanation that provided by teachers
Sometimes, students don't understand the explanation of a lesson given by teacher, but she/he doesn't want or doesn't dare to ask, so what happened later is boredom all long day in class.


7. Have no friend
If it becomes the reason too, maybe we can see details to personal of that student, whether he/she is less sociable, or other reasons that cause interaction is not developed between he/she and his/her social.

8. The dirty toilet 
I think the issue of cleanliness and convenience of toilet is also one reason why student don't like school, to be honest, when I was in high school, I often lazy to go to toilet with this reason. I think it is bit disgusting.

9. Too long school hour
I experienced it myself, especially when we are sitting at the end level of school, we will be offered by additional hours outside of school hours, which makes student very very stuck and tired (of course). Let us remember: It is not how long the hours of study that determine whether knowledge can/can not be absorbed by someone, but rather to 'QUALITY' of study itself. The more tired student, the more difficult his/her brain power to absorb knowledge.


10. Less money to buy snack for lunch
The reason is very strange, but there is also a reasonable way. However, don't blame their parents for this reason.  

Guys, sometimes, person need another person as a driver or a mentor in life. For example: friend, girlfriend, or spouse. You can do the same by looking for a person/community that can help or motivate your learning and achievement. Hang out with people who love to learn, can make us loves to learn too. In addition, try to find person or community that has good habit in study. Ask for their experience so we can learn something useful from them. Learn something here is widely understood, both formal and informal. We can learn about variety of skills such as assembling a computer, learning to write, make films, sailed entrepreneurship, and others.

So, 




Regards,

Bening Rahardjo 


Tuesday, October 21, 2014

The Indonesian New President: Mr. Joko Widodo / Mr. Jokowi

Indonesian New President 2014-2019, Mr. Joko Widodo
Kemarin kita bangsa Indonesia telah menyaksikan bagaimana proses serah-terima jabatan Presiden Indonesia ke-7 yang berlangsung di gedung MPR. Ya, Ir. H. Joko Widodo telah dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Ada rasa haru melepas mantan presiden yang sudah memberikan kontribusi selama 10 tahun terakhir ini. Namun, euforia masyarakat atas presiden baru juga terasa sekali, terlihat dari bagaimana Presiden Joko Widodo dikirab dari gedung MPR menuju Istana Merdeka dengan diiringi lautan manusia di sana. Mereka semua bersuka cita menyambut Presiden ke-7 Republik Indonesia. Memang sosok presiden baru ini menarik banyak perhatian rakyat Indonesia dan dunia internasional karena beliau berasal bukan dari kalangan elite tertentu ataupun militer. Beliau hanyalah sosok biasa yang berprofesi awal sebagai seorang pengusaha furniture kecil yang kemudian berkembang dan meneruskan awal karir politiknya sebagai Walikota Surakarta. Sosok Bapak Joko Widodo jauh dari ekspos media sampai pada saat beliau kemudian dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun lalu. Mengenai profil Bapak Presiden Joko Widodo ini bisa kita telusuri salah satunya melalui wikipedia. Namun, hal-hal kecil yang jauh dari ekspos media akan selalu terkenang tidak hanya oleh orang-orang terdekatnya, tetapi juga masyarakat Solo--seperti saya pribadi.

The situation when the 7th President being paraded by a horse-drawn carriage through the crowd
Saya cukup bangga ketika melihat proses serah-terima jabatan Presiden Republik Indonesia kemarin, bukan karena saya adalah pendukung Bapak Joko Widodo kala masa kampanye presiden. Saya berbicara dalam politik netral di sini. Saya merasa bangga karena setidaknya, saya pribadi telah menjadi saksi dan mendokumentasikan perjalanan kesuksesan kepemimpinan seorang Bapak Joko Widodo semasa menjabat sebagai Walikota Surakarta dalam sebuah penelitian skripsi mendalam mengenai Kota Surakarta masa itu. Saya sudah menyaksikan sendiri dari kampung ke kampung yang dibenahi sedikit demi sedikit oleh Bapak Joko Widodo. Bagaimana transformasi kebijakan birokrat yang kaku dan berbelit-belit menjadi lebih lunak dan nyaman. Saya juga merasakan kemudahan dalam mengurus perijinan penelitian dan bahkan bagaimana kompleksitas instansi-instansi yang harus saya kunjungi dalam memperoleh data, itu menjadi jauh lebih mudah hanya dengan berbekal 'visitor card'. Beliau memang mengutamakan pelayanan masyarakat, ketimbang tetek-bengek alur birokrasi yang berbelit-belit dan non-efisiensi. Sungguh jauh sekali perbedaan yang dirasakan oleh masyarakat di masa pemerintahan Bapak Joko Widodo sebagai Walikota saat itu, hal ini bisa Anda buktikan sendiri dengan bertanya kepada mulai dari para pedagang di Pasar Klithikan Semanggi, tukang becak yang mangkal di sekitar Alun-Alun Utara Surakarta, pedagang di Pasar Legi maupun Pasar Gede, sopir taksi yang biasa beroperasi di sekitar Stasiun Solo Balapan, warga di Kelurahan Kestelan, warga di sekitar Kali Pepe di Kelurahan Sangkrah, warga di sekitar pemukiman Silir, hingga elite-elite dan seniman besar Surakarta. Siapa yang tidak mengenal Bapak Joko Widodo yang sangat familiar dengan nama Jokowi sejak dulu? Bahkan jauh sebelum nama Jokowi terendus media nasional, sosok itu sudah sangat melekat dengan masyarakat Solo. Saya ingat sekali, dulu ketika mengangkat judul penelitian ini, salah satu dosen penguji saya bahkan mengejek habis-habisan sosok Jokowi sebagai Walikota Surakarta. Namun, menurut saya itu adalah awal dari menanjaknya karir politik Bapak Jokowi. Terbukti dengan award internasional yang dia peroleh sebagai Walikota Terbaik ke-3 Dunia dari The City Mayors Foundation. Saya meneliti di lapangan secara langsung dan turut menyaksikan perubahan-perubahan signifikan pada setiap lapisan masyarakat Kota Surakarta saat itu. Itulah mengapa, saya sangat mengapresiasi penghargaan yang diberikan dunia internasional atas keberhasilan dia mempimpin sebagai Walikota Surakarta saat itu.

Begitu mahirnya Bapak Joko Widodo saat itu mengemas potensi Kota Surakarta dalam rencana-rencana strategis yang baik, sehingga masalah-masalah utama seperti: pencemaran sungai; kepadatan penduduk; kemiskinan; tanah pertanian yang menyempit; dan sistem drainase yang buruk, mampu diminimalisir dengan baik. Di masa kepemimpinannya sebagai Walikota Surakarta, banyak kebijakan-kebijakan dan program-program baru yang begitu sukses dikenal dan berjalan baik di masyarakat hingga sekarang seperti: program BPKMS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta) dan PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta) yang didasarkan kepada cluster system; program PPLS (Pendataan Program Perlindungan Sosial) terpadu yang mencocokkan status ekonomi keluarga dengan bantuan perlindungan dari pemerintah agar lebih prioritas dan tepat sasaran; program PODES (Program Pendataan Wilayah Administrasi Desa) yang mengintegrasikan dan mengumpulkan data kualitas infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang ada di tiap-tiap kampung. Semua program dan kebijakan yang dijalankan tidak terlepas dari indikator IPM Kota Surakarta sendiri.

Strategi komunikasi Bapak Joko Widodo memang tidak perlu diragukan lagi. Masih begitu teringat bagaimana beliau melakukan pendekatan-pendekatan kepada para pedangan kaki lima Banjarsari yang enggan direlokasi ke Pasar Klithikan Semanggi. Bahkan penolakan keras melalui demonstrasi maupun vandalisme tidak membuat Bapak Joko Widodo marah, beliau malah mengundang para tokoh pendemo dalam jamuan makan dan membahas dengan kepala dingin. Saya teringat dengan gugon tuhon masyarakat Jawa bahwa "Wong Jowo iku yeng dipangku, mati". Ternyata benar adanya. Cara-cara manusia yang memanusiakan manusia lain, akan selalu diterima, karena pada dasarnya orang-orang yang berteriak adalah orang-orang yang ingin didengar dan diperhatikan. Beliau juga mengerti sekali bagaimana melakukan pendekatan masalah-masalah penataan pemukiman liar di sekitar bantaran sungai karena beliau pun pernah mengalami penggusuran ketika rumahnya harus dijadikan terminal waktu beliau kecil. Kegiatan-kegiatan di bidang seni dan pariwisata selalu diberi ruang untuk berkreasi, dikemas sedemikian indahnya dalam event-event yang tidak hanya berskala nasional tetapi juga internasional. Memang bisa dibilang bahwa Bapak Joko Widodo sangat mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Surakarta. Beliau memberi ruang khusus untuk pagelaran-pagelaran seni di ruang publik, seperti di Taman Sekartaji dan Ngarsopuro. Penataan city walk dan area internet publik bisa dinikmati masyarakat. Penataan Taman Balekambang yang semula mangkrak dan tidak terawat, juga menjadi primadona kembali atas peran besar Sang Presiden ke-7 ini. Ini bukan hanya dukungan omong kosong semata, tetapi beliau juga melakukan sinkronisasi sumberdaya yang tersedia dengan mekanisme perijinan dan penataan pertumbuhan kota dalam Perda RTRW melalui skenario kebijakan pembangunan yang lebih responsif. Di samping itu, penambahan dan perbaikan pada moda transportasi juga sangat diperhatikan oleh beliau, agar wisatawan maupun tamu yang berkunjung ke Kota Surakarta merasa nyaman. Bahkan tidak jarang beliau melakukan personal selling kepada para stakeholders maupun tamu-tamu dari negara lain sebagai calon investor.

Di bawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo sebagai Walikota saat itu, beliau bukan hanya menampuk tanggung jawab di atas pundak seorang diri, tetapi disadarinya betul bahwa peran serta para pelaku bisnis dan swasta serta peran dari masyarakat umum sangatlah penting dalam mendukung kesuksesan setiap-setiap kebijakan yang diambilnya. Jadi kesimpulan saya, partisipasi seluruh elemen masyarakat Kota Surakarta adalah yang menjadi kunci kesuksesan pemerintahan Bapak Joko Widodo yang menjabat sebagai Walikota Surakarta saat itu. Namun, dibalik pemimpin besar pasti ada kekurangan-kekurangan pula yang tidak luput dari pandangan kita. Apabila sekarang Bapak Joko Widodo telah resmi sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-7, tentu perlu dukungan kita semua dari berbagai elemen agar Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah kepemimpinannya mampu menjadi Indonesia yang lebih baik, seperti contoh kecil Kota Surakarta yang telah saya gambarkan tadi. Pentingnya peran seluruh elemen ini juga seperti yang disampaikan oleh mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di Istana Merdeka kemarin.

Look how humble he is when he is interviewed by media
Menilik dari retorika, memang sosok Presiden Joko Widodo tidak sama apabila dibandingkan dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi bukan dalam tempatnya apabila kita membanding-bandingkan pribadi satu dengan yang lain, yang pasti tidak sama. Setiap pemimpin mempunyai karakteristik masing-masing dalam memimpin, semua ada kelebihan dan kekurangannya. Jika secara penggunaan bahasa internasional Bapak Joko Widodo masih lemah, saya rasa itu masih bisa di-cover dengan 'bilingual translator' yang akan mendampinginya nanti. Tetapi, yang saya yakin adalah 'gaya blusukan dan pendekatan yang memanusiakan manusia' ala sosok Jokowi itu tidak akan pernah hilang meskipun beliau telah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Saran saya kepada keluarga Bapak Joko Widodo, mungkin harus dibiasakan mulai sekarang untuk menghadapi media. Tidak hanya media lokal saja kali ini, tetapi media skala nasional dan bahkan internasional. Bagaimanapun keluarga orang nomor satu di negeri ini akan selalu dipandang dalam setiap tutur, sikap dan lain-lainnya. Itu pasti. Tidak mungkin untuk dihindari, karena bagaimanapun Presiden juga butuh media sebagai rekannya. Tinggal bagaimana mengelola 'bentuk rekanan' ini agar terasa ingin 'kaku' atau sedikit lebih 'lunak' namun tetap tidak meninggalkan etika bermedia, semua tergantung kepada Presiden pula. Memang, Bapak Joko Widodo dikenal dekat dengan media. Namun, pihak media juga harus mengingat bahwa sekarang posisi seorang 'Jokowi' yang kini sudah bukan lagi dalam kapasitas sebagai Gubernur atau Walikota, tetapi seorang Presiden. Sehingga, penyebutan-penyebutan yang terkadang 'un-formal' juga harus disesuaikan sebagaimana mestinya untuk seorang Kepala Negara. Ibu Iriana Joko Widodo yang semula hanya ibu rumah tangga biasa, kemudian menjadi isteri Walikota, isteri Gubernur dan kali ini menjelma sebagai Ibu Negara, tentu harus banyak menyesuaikan diri juga. Begitu pula dengan putera-puteri beliau, yang mau tidak mau kehidupannya akan banyak diperhatikan oleh masyarakat luas. Tetapi saya pribadi berharap keluarga ini akan tetap menjadi keluarga yang humble dan jauh dari kepentingan-kepentingan elite politik yang menyimpang. Mari bersama mengawasi jalannya pemerintahan yang baru agar Indonesia menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Mr President, Mr. Jokowi and The First Lady, Mrs. Iriana Jokowi and their children: Raka, Kahiyang and Kaesang

Selamat bertugas Bapak Joko Widodo, Presiden kami yang baru. Semoga tetap amanah selama lima tahun kepemimpinan ke depan. Membawa gaung nama baik Indonesia di mata internasional.



Regards,

Bening Rahardjo