Wednesday, January 6, 2016

Jogja New Year (3): Negeri Atas Awan Mangunan

Again, kami sampai di tempat ini atas informasi Mas Joyo (beruntungnya tahu jalan tanpa perlu buka GPS, yay!). Perlu untuk diketahui bahwa perjuangan untuk mencapai tempat ini bukanlah suatu perjalanan yang mudah. FYI, daerah Mangunan Imogiri ini terletak di atas jajaran bukit tinggi Gunung Kidul, saya ulangi ya...bukit tinggi, jadi tentu letaknya berada cukup di atas untuk dijangkau dengan kendaraan maupun jalan kaki (gempooor kaliii kalau musti jalan kaki 1 km lebih menanjak ke atas dari parkiran bawah). Kalau Anda ke daerah ini membawa mobil pribadi/umum, pastikan bahwa driver mobil Anda memang sangat ahli dan betul-betul lulus ujian SIM A/B. Sebab jalan menuju lokasi parkiran atas betul-betul menanjak yah kurang lebih 70-80 derajat (entah mungkin Anda mengira saya yang lebay, tapi saya pastikan sebetulnya memang jalannya sangat menanjak dan curam). Kondisi jalan sempit sehingga ketika ada mobil dari atas yang hendak turun, kita yang di bawah harus mengantri (demikian pula sebaliknya). Jika berpapasan dengan motor, Anda pun harus ekstra hati-hati, sebab kanan-kiri jalan itu adalah jurang. Salah-salah malah ban Anda selip ke samping....(rada ngeri sih membayangkan). Juga kondisi jalan tidak begitu bagus. Intinya adalah just make sure that you go with professional driver who have a good skill! Thank you Mas :*


Waktu perjalanan naik menuju ke lokasi, yang memegang setir kemudi bukan Mas Joyo, ini juga yang membuat saya sedikit was-was. Kakak laki-laki mengajak salah seorang temannya, sebut saja Kak Marcos, dia yang memegang setir selama perjalanan dari Pathuk hingga ke Mangunan. But, believe me, I prayed as long as we got there. Serem sama driver-nya! Hahaha. Kak Marcos ini orangnya pendek, lucu, gemuk dan imut. Yah gimana nggak serem coba, kaki Kak Marcos saja tidak cukup panjang untuk menginjak gas dan rem di bawah jok kemudi, hahaha. Perasaan mengantuk karena sejak berangkat dari rumah disetiri Mas Joyo pun hilang seketika saat Kak Marcos yang mengambil alih kemudi.

Kak Marcos ini rada fasih untuk misuh, tetapi rada konslet juga untuk bercanda. Satu yang bikin tambah naik adrenalin kami adalah Kak Marcos ini gampang lose of focus! Please deh yaaaa..... Diajak bercanda dikit aja dia ketawa-tawa ngakak sampai nggak kelihatan matanya (-____-"). Digodain dikit aja dia bisa noleh lama ke arah belakang yang godain dia. Bayangkan kalau itu dia lakukan selama perjalanan kami naik turun bukit. Berdoa adalah jawaban termudah yang bisa saya lakukan dalam hati dan mulut. (x____x)


Tiket masuk ke lokasi ini murah, saya lupa kalau tidak salah Rp 5.000,-/orang. Sebagai informasi, Anda jangan memarkir mobil/sepeda motor di bawah sebab kalau untuk mencapai bukit atas Anda bisa berjalan sejauh 1 kilometer dan menanjak. Yah, tapi kalau mau olahraga kaki dan jantung sih silakan saja, hahaha. Sampai di area parkir pun kami harus menyusuri tangga setapak menuju ujung dari bukit itu, dari ujung bukit itulah kita bisa melihat indahnya alam Gunung Kidul. Ada sebuah sungai yang mengalir indah tepat di bawah bukit. Jika Anda beruntung datang pada pagi hari, Anda bisa melihat barisan awan di bawah tepat Anda berdiri. Wuaaah luar biasa ya? Itulah sebabnya lokasi kebuh buah Mangunan itu disebut juga Negeri di Atas Awan, sering juga dijadikan lokasi prewed. Kami tidak terlalu lama menghabiskan waktu di sana. Berhubung situasi makin siang makin ramai dan sudah tidak nyaman.

Alhamdulillah pulangnya Mas Joyo yang megang kemudi, sehingga kami merasa aman. Oh ya, jangan lupa mampir ke Dapur Tiwul Ayu Mbok Sum ya kalau sudah sampai di sini, untuk oleh-oleh khas Gunung Kidul, Anda harus mencobanya. Tempat ini sering ramai menjadi tujuan orang untuk membeli Tiwul khas Gunung Kidul.

Berikut foto-foto kami dari lokasi, semoga menjadi inspirasi Anda untuk berlibur!




XoXo, mmuaaach <3>