Monday, January 11, 2016

Undangan Pernikahan dari Mantan: Yes or Nah




"Datang ya? Beneran hlo, aku sama calon isteriku mengharap kedatanganmu."

Momok adalah ketika mantan memberi kamu undangan pernikahannya dan mengharap kamu untuk datang. Itulah yang terjadi kepada saya. Sebelumnya, mantan hanya mengundang saya via messengers. Sempat terpikir mungkin dia hanya berbasa-basi setelah saya menanyakan kapan dia akan melangsungkan pernikahannya. Tetapi beberapa minggu kemudia dia datang ke rumah dan memberikan undangan langsung kepada saya dan kakak saya. Well, okay. Sempat terlintas bahwa saya akan cukup mengirimkan kado saja lewat kakak. Saya tidak ingin menjadi orang yang salah tempat, itu kan hari bahagia mantan dan pasangannya. Eh, ternyata, orangtua mantan juga datang secara pribadi ke rumah untuk menemui ibu saya, mereka mengundang kami untuk datang ke acara pernikahan anaknya. Oh, man! 

Memang hubungan antara kami tetap terjalin baik meski sudah tidak bersama, termasuk dengan keluarganya. Dulu, saya sempat dekat dengan mantan ini ketika SMA, kira-kira sudah 10 tahun lebih. Setelah tidak bersama, si mantan berhubungan dengan wanita yang hingga kini menjadi isterinya. Isterinya mengenal saya, yah walaupun kadang saya mendengar kabar bahwa isterinya sedikit cemburu dengan saya. Namun, saya pribadi sih tidak ada masalah dengan mantan dan keluarganya, begitu pula dengan ibu saya. Kakak laki-laki saya juga sangat dekat dengan si mantan karena sama-sama penyuka otomotif. Bahkan ibu saya diminta untuk menjadi hamong tamu di acara resepsi ngundhuh mantu, hahaha. Lucu juga sih sebenarnya. Sampai orangtua mantan meminta saya untuk hadir: "Nanti datang hlo ya Nak, pokoknya minta dibantu sampai selesai, bener hlo!". Saya hanya senyam-senyum ngerasa keki sendiri.

Membayangkan hadir di pernikahan mantan pada awalnya cukup membuat saya ragu, apakah sebaiknya saya datang atau tidak? Saya berpikir apa saya betul-betul diharapkan kedatangannya? Saya takut nanti akan menjadikan suasana pernikahan mereka menjadi tidak nyaman. Tapi, saya kan tidak berniat buruk? Tidak ada sedikitpun rasa cemburu, iri dan bahkan ingin memanas-manasi pengantin wanitanya. Toh, hubungan saya dengan keluarga mantan ini sudah seperti saudara. Saya juga mengenal baik dengan anggota keluarga mantan. Hubungan saya dengan mantan sendiri pun sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Pasangannya juga mengenal saya dengan baik, yah meski saya tahu bahwa pasti ada rasa cemburu di hatinya, tetapi saya memegang betul batasan-batasan saya selama berkomunikasi dengan mantan. Lagipula itu kan jaman 10 tahun yang lalu, sudah berapa lama kami melewati bagian-bagian perjalanan kehidupan kami masing-masing. Sempat berkonsultasi dengan ibu, haruskah saya datang? Ibu pun malah memberikan nasehat kepada saya untuk datang. Tidak masalah, katanya. Asal niat kita baik untuk menjalin silaturahmi, cukup.

Fix, saya akhirnya datang ke pernikahan mereka kemarin. Saya tidak sendiri, saya ditemani ibu, kakak dan 3 sahabat saya. Kebetulan dua sahabat yang lain juga mendapat undangan. Jadilah kami bersama datang ke pernikahan si mantan. Saya juga sempat melewati momen canggung ketika diminta harus berfoto bersama. Saat bersalaman sih saya bersikap biasa saja, pasang senyum termanis dan tertulus yang ada. Sungguh, saya benar-benar ikut berbahagia kalau akhirnya mereka menikah. Sebab, saya sendiri mengetahui perjalanan pacaran mereka sudah lama, hampir 10 tahun. Sejak lulus SMA, si mantan melanjutkan pendidikan pelayaran. Ketika sudah mulai berlayar, mereka berdua jarang bertemu, sesekali kalau si mantan pulang. Bahkan saya sempat marah-marah ke mantan waktu hubungan mereka renggang, setahu saya pasangannya adalah orang yang sangat sabar. Wanita yang kurang sabar gimana coba, punya pacar tapi tidak pernah ketemu dengan pacarnya dan masih setia sampai hampir 10 tahun? Dia memang layak untuk dijadikan pendamping bukan? Alhamdulillah pada akhirnya mereka menikah.

Kembali lagi, momen paling canggung adalah ketika saya dan 3 sahabat saya diminta foto bersama di akhir acara. Yah, bagaimanapun 3 sahabat saya ini juga tahu hubungan saya dan mantan di masa SMA. Sehingga waktu foto-foto malah kami bertiga (saya, mantan&isterinya) dikecrohi habis-habisan. Gila. Rasanya muka saya mau saya taruh di balik panggung saja. Saya sih nggak masalah, tapi saya jadi ngerasa nggak enak dengan isteri si mantan. Mantan juga jadi canggung. Akhirnya saya mencairkan situasi kembali dengan memeluk si isteri dengan erat dan berbisik: "Maaf ya Mbak, jangan diambil hati teman-teman ini. Selamat ya, saya seneeeng banget kalian akhirnya bisa di titik ini". Dibalasnya dengan terima kasih dan pelukan juga, rasanya ploooong banget setelah itu. Dia bahkan berbisik: "Makasih banyak ya Mbak Bening sudah datang, tolong sampaikan makasih kami juga ya ke ibu dan kakakmu". What a great moment. Sudah saya bilang kan, wanita yang luar biasa! ^_^


Itu saja cerita dari saya pribadi, semoga bisa menjadi pertimbangan kalian ketika mendapati situasi canggung datang ke pernikahan mantan. 
Bye!



Bening