Sunday, March 19, 2017

Join BDK Cycling Club (Klub Gowes)

Selamat berhari minggu, teman!

Hari ini tadi diawali dengan mendung yang menggantung, saya pergi bersepeda bersama dengan klub sepeda kantor kakak. Hal baru lagi saya coba. Awalnya tidak tertarik untuk ikut gowes, apalagi gabung di klub pesepeda. Beberapa waktu lalu kakak menawarkan saya untuk gabung sebagai anggota klub sepeda kantornya. Saya ditawari membayar seratus ribu rupiah untuk menjadi anggota plus sebuah jersey club. Sempat nanya ini itu. 
"Entar kalau cuma gue yang orang luar kantor gimana Kak? Nggak mau ah, gue sungkan.." 
"Udah lu ikut aja. Lagian ini klub untuk umum, yang ikut itu kebanyakan para nasabah. Orang kantor mah malah pada nggak tertarik"
"Serius nih? Tapi ntar gue naik  apa?"
"Ya naik sepeda lah, Oneng.. Namanya juga klub sepeda."
Hello brooo... gue mah juga tahu kalau gowes itu naik sepeda. Maksudnya...gue kan cuma punya sepeda polygon yang dipasang kerenjang di depannya. Is that make a sense for join the cycling club? Bisa-bisa sepeda gue paling unyu ntar. 😣
Akhirnya saya bergabung. And for the first info, hari minggu akan ada acara gowes bareng 10Km. Ya acaranya jatuh pada hari ini tadi. Waduh, 10Km? Awalnya mikir serem juga bayangin 10Km. Pulang pergi berarti udah 20Km. Belum jarak dari rumah ke tempat kumpul. Buat yang sudah senior gowes mah.. Pasti jarak segitu hanya kacang buat mereka *hormat suhu!*. Sanggup apa enggak ya saya sepedaan segitu jauhnya. Sepedaan paling jauh terakhir kali ya waktu ke sekolah jaman SMP. Lol 😝 Habis itu, saya sepedaan paling banter dari rumah ke alun-alun kota aja. Basmallah aja deh.

Berbekal sepeda yang saya punya, jersey polyster bagus, sepatu olahraga yang nyaman dan air minum, akhirnya saya berangkat juga ikut acara klub. Anyway, setelah dijalani ternyata it was fun! Huulaa.. Kumpul sama bapak-bapak yang usianya rata-rata pensiunan sih, seru juga. Mungkin yang usia 30-40 hanya beberapa, malah yang sudah sepuh lebih mayoritas. FYI, sepeda mereka ya sepeda untuk gowes yang memang mehong harganya. Jauh lah kalau dibandingkan sepeda saya yang apa atu. Awalnya dijalan yang menanjak curam saya nggak kuat, masih dituntun. Beginner. Harap maklum. So far, menyenangkan sekali ternyata. Serasa di negeri oranye yang kemana-mana pakai sepeda gowes. Pantesan orang barat lebih kuat secara fisik dibanding kita, karena kita kemana-mana naik motor mobil. Mau beli sesuatu ke warung yang hanya 30 meter aja naik motor. Lah orang barat lebih suka bersepeda dan jalan kaki. Hal positif yang baik dicontoh.

Pengalaman pertama saya sih ada beberapa kendala, seperti:
  1. Kram (actually, saya nggak pemanasan lebih dulu. Padahal pemanasan kaki, tangan dan badan itu penting. Jangan asal mengayuh sepeda saja).
  2. Tidak kuat di tanjakan curam. Nih ya gaes.. Ada triknya ternyata mindah-mindahin geer sepeda itu. Bodohnya saya karena nubie, asal aja pindah geer. Emang sih kalau tanjakan landai, cukup main feeling. Maksudnya, kalau masih kuat tanpa pindah geer ya diusahakan tetap mengayuh/jangan berhenti.
  3. Alat pompa portable. Ya, saya lupa bawa alat ini. Penting sekali, kalau ban kita kempes di jalan, tidak perlu cari bengkel. Bahkan untuk mereka yang sepedanya dah mahal-mahal itu, ternyata punya alat emergency untuk menangani permasalahan sepedanya sendiri loh gaes.
  4. Handuk kecil. Baju jersey yang dipakai biasanya gampang dingin karena keringat , apalagi saya pakai jilbab begini. Keringat udah basah aja di dada dan punggung. Nah, biasanya para pesepeda bawa handuk kecil minimal untuk mengelap keringat. Pada tahap jarak yang lebih jauh, biasanya mereka bawa baju ganti. Agar tidak terjadi paru-paru basah, angin duduk atau masuk angin.
  5. Minyak gosok. Penting! Apalagi kalau sewaktu-waktu terjadi kram.
Itu sih beberapa yang saya pastikan lain kali kalau ikut gowes lagi harus dibawa. Memang rasa kekeluargaan sesama pesepeda satu klub itu besar ya. Contoh kecil waktu saya mau parkir sepeda, harus menjinjing melewati trotoar tinggi, salah seorang bapak langsung menawarkan bantuan dengan sigap. Apalagi karena saya perempuan dan paling muda diantara mereka 😄


Jadi gimana, kalian ada yang tertarik gabung klub gowes? 😉


Regards.



Saturday, March 18, 2017

Viewer Discretion in Social Media

Baru saja kemarin netizen Indonesia dibuat heboh oleh aksi bunuh diri seorang laki-laki warga Jagakarsa yang merekam aksi nekadnya gantung diri dengan video live di Facebook. Video live tersebut menjadi viral setelah akun @lambe_turah mempostingnya. Sorry not sorry, buat saya pribadi, lu mau bunuh diri apa gimana terserah aja, kalau mau ninggalin pesan bermakna buat keluarga yang ditinggal, silakan. Tapi karena itu sudah merambah media internet, mempostingnya secara LIVE dan membiarkan seluruh masyarakat untuk melihat aksi lu, itu jelas SALAH. Ada juga cara-cara seperti itu bakal menjadi legitimasi sosial kalau dibiarkan.

Seketika saat akun @lambe_turah memposting mengenai info ini, saya langsung cari tahu akunnya. Beuuh! Malah banyak yang nge-share videonya. Ni orang-orang mikirnya apa sih ya, batin saya waktu itu. Bukannya di-report kek ke Official Facebook bahwa pemilik akun udah meninggal; juga adanya konten video berisi violence di dalamnya yang sangat tidak pantas ditonton. Eh malah banyak yang nonton dan membagikannya. Hmm... Parahnya lagi saya hanya baca komentar orang-orang di situ. Kebanyakan sih menyesal sudah nonton dan merasa takut. (Jelas lah. Ngapain juga coba pakai nonton tindakan suicide gantung diri, nungguin orang meregang nyawanya sendiri pakai tali sampai sakaratul maut menyakitkan. Saya mah ogah).

Seingat saya dulu juga pernah ada aksi gadis 12 tahun bunuh diri membakar diri sendiri yang kemudian direkamnya secara live juga di Facebook. Fitur siaran langsung media sosial jadi dimanfaatkan untuk merekam aksi bunuh diri. Mungkin depresi yang tidak ditangani dengan baik menjadikan orang mudah untuk melakukan hal-hal nekad. Please kepada para pembaca dimanapun Anda berada, apabila menemukan contoh kasus seperti ini lagi, langsung REPORT ACCOUNT saja. Report video-nya juga biar pihak Facebook langsung menutupnya. Bukan hal yang pantas lah disebarin. Apalagi jika dilihat oleh orang-orang dengan emosi labil atau anak-anak, bisa menjadi contoh buruk tentunya. Seperti apabila Anda melihat konten yang tidak layak dilihat/dibaca di media sosial, saat ini pihak penyelenggara media sosial sudah menerapkan layanan report account atau block untuk mencegah konten negatif. Tidak perlu disebarluaskan, langsung saja laporkan. Kalau Anda menyebarkannya, sama saja Anda meracuni orang lain. Please, be wise ya peeps!


Regards.


Friday, March 17, 2017

(Apakah) Tuhan (Perlu) Berpolitik (?)

Yo guys, judul postingan ini mungkin terdengar 'bit strange'. Actually, memang ini terkait dengan isyu hangat yang sedang banyak diberitakan oleh media belakangan: Pemerintah melalui Kementerian Agama tengah menyusun aturan mengenai ceramah di rumah ibadah yang berlaku untuk semua agama yang diakui di Indonesia. Read this linkhttp://m.metrotvnews.com/video/primetime-news/8koXodRK-pemerintah-siapkan-standarisasi-ceramah-di-rumah-ibadah

Ketika membaca beberapa berita online mengenai wacana ini, saya seketika langsung mikir: "Wait, wait... Maksudnya penyeragaman seperti apa? Penyeragaman konten kah? Penyeragaman format kah? Atau yang seperti apa?; Maksud label standarisasi itu bagaimana ya? Apakah-- ceramah, khutbah, kajian, atau apapun bentuknya itu--harus melalui semacam screening baik/tidaknya, layak/tidaknya?"; Apakah itu bisa bermakna 'pembatasan'?. 

Lalu mulailah saya mencari informasi tentang wacana ini. Segitu kritisnya ya kondisi toleransi umat beragama di negara kita hingga perlu adanya aturan mengenai ceramah di rumah ibadah? Rumah ibadah. To be sure... Bukan sekadar 'rumah' atau tempat. Tetapi ini jauh lebih sakral maknanya. Tempat dimana kita lebih memfokuskan diri pada hubungan hamba dengan Tuhan. Tempat kita mencari kedamaian diri dan energi spiritualitas. Mari kita bahas dari berbagai sudut pandang.

Rumah ibadah bermacam-macam, sesuai dengan agama yang diakui dan dilindungi oleh negara: ada masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng. Semua itu adalah tempat suci yang digunakan bagi umat untuk melakukan praktik keagamaan. Masing-masing agama punya ajaran tentang kebaikan. Masing-masing agama punya topik bermacam-macam bersumber dari kitab suci, yang dapat dipakai bagi para pendakwah untuk melakukan praktik keagamaan kepada umat (pemeluk agama). Praktik keagamaan ini bermacam-macam, bisa mencakup ceramah, ritual, khutbah, peringatan atau pemujaan, kajian, dll. 

Bukan bermaksud apriori, tetapi wacana baru mengenai aturan ceramah di tempat ibadah, menurut saya hal itu boleh atau bisa dilakukan hanya jika keadaan suatu negara sudah sedemikian gentingnya untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas nasional. Itu yang mengusik saya, apakah keamanan dan stabilitas nasional kita sudah pada tahap yang bisa dikatakan kritis? Apakah warga negara sudah benar-benar krisis toleransi hingga memunculkan wacana seperti tersebut oleh pemerintah? 

Label standarisasi ini--seperti yang ditulis di media-media--cenderung meletakkan posisi pemerintah bermanipulasi politik pada agama. Apakah Tuhan yang kita sembah di tempat ibadah perlu berpolitik? Hambanya iya, melakukan politik. Apakah agama juga menjadi manuver lain bagi elit kala jalan politik sudah dirasa kaku dengan cara 'lawas'? Sudah jelas iya. 

Mungkinkah pribadi individu sebagai pemeluk agama ataupun sebagai umat masih bisa berteduh pada bunyi "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing; dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu". Jaminan ibadah yang kemudian dilabeli dengan 'standar' yang ditetapkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa politik dan agama menjalankan peran masing-masing dalam keutuhan negara. Kita tidak mungkin mendasarkan pilihan politik yang tidak ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebaliknya, politik juga bisa memecah belah kerukunan beragama.

Lalu pertanyaannya adalah beragama itu apa sih? Apakah hanya dengan mengucapkan kalimat tertentu "Aku percaya Tuhan" bisa dianggap beragama? Apakah dengan mengakui adanya kekuatan luar biasa di luar diri individu? Apakah beragama itu pengakuan secara formalitas? Apakah beragama itu adalah ketika individu bisa berdoa kepada Tuhan? Apakah beragama itu sebatas pengakuan bahwa individu menganut agama tertentu? Lalu dimana letak pemahaman, pengahayatan akan ajaran agama dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya? Melalui agama itu sendiri diatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan sesama manusia.

Apakah tempat suci yang dianggap 'rumah Tuhan' begitu 'perlu' diajak berpolitik? Kita semua tahu bahwa sejarah penyebaran agama adalah melalui jalan politik. Bukankah tempat ibadah merupakan tempat yang dianggap suci dalam penyelenggaraan peribadatan? Tempat dimana individu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Tempat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta,. Tempat untuk memaknai hubungan manusia sebagai hamba dengan segala kekurangan dan dosa-dosanya. Tempat dialog/komunikasi sosial antarpemeluk agama mengenai pemahaman keagamaan.

Pemerintah sendiri menjamin dan melindungi tempat ibadah sebagai wujud nyata dari UUD 1945 mengenai kebebasan beragama. Sejarah bangsa menjelaskan bahwa negara dan landasan negara kita disepakati di atas kesepakatan bersama. Semua kembali lagi kepada UUD 1945 dan Pancasila, bahwa negara kita menjamin kebebasan tetapi juga mengakui perbedaan di dalamnya. Kita telah belajar nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 mengenai toleransi beragama sejak bangku sekolah dasar. Kemudian apabila dalam praktiknya di kehidupan bernegara nilai-nilai tersebut luntur, apakah kemudian cara mengatasinya dengan melakukan 'penyeragaman' ceramah atau khutbah di tempat ibadah akan efektif? 

Mungkin yang ditakutkan oleh pemerintah adalah berkembangnya paham-paham radikal dari praktik keagamaan yang dilakukan di tempat ibadah. Tidak kita pungkiri bahwa saat ini sedang marak peningkatan radikalisme yang memunculkan konflik dan kekerasan sosial bernuansa agama. Tengok saja pilkada atau pilpres yang selaku diwarnai dengan konflik dan perpecahan berbasis SARA. Sudah menjadi hal melelahkan bagi siapa saja yang melihat dari konteks humanisme tentunya. Tindakan memaksakan pendapat, bahkan pada tindakan memobilisasi massa pada satu pandangan politik tertentu dengan nama agama. Well, bagi saya silakan saja apabila individu meyakini suatu pandangan tertentu mengenai politik (yang dibasiskan pada keyakinan agama), tetapi apakah TUHAN perlu dilibatkan dalam deprivasi politik? Sedangkan sebagai individu beragama kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Suci. Tuhan adalah Maha dengan segala Maha-NYA.


Sangat kompleks apabila melihat dari sudut pandang netral. Beberapa yang bisa dipandang secara kasat mata mengapa radikalisme bisa menjamur dan menjadi endemi sosial, yakni: Pertama, euforia kebebasan yang tidak mau peduli kepada pihak lain yang berakibat menurunnya toleransi; Kedua, fragmentasi politik dan sosial di kalangan elit yang berimbas pada grassroot dan menyebabkan konflik laten horizontal; Ketiga, tidak konsistennya penegakan hukum, terutama beberapa kasus konflik dan kekerasan sosial membawa atribut keagamaan; Keempat, disorientasi nilai dan norma sosial, ujung dari semuanya adalah kebimbangan individu dan ketidakpercayaan pada lembaga penyelenggara pemerintahan yang berakibat penyimpangan nilai dan norma sosial (bahkan nilai dan norma agama itu sendiri). 

Kelompok radikal sangat mudah memanfaatkan tempat ibadah yang tidak terurus dengan baik oleh masyarakat sekitar. Akan lebih gampang menyusupkan paham radikal melalui agama. Maka upaya menanggulangi radikalisme ini tidak cukup hanya dilakukan satu dua elemen saja, tetapi diperlukan semua elemen untuk bersinergi. Penguatan nilai norma Pancasila dan UUD 1945 sangat perlu diajarkan terus-menerus. Tidak cukup hanya di sekolah-sekolah, di dalam institusi dan keluarga pun perlu diperkuat. Peran keluarga dan masyarakat adalah yang paling dekat untuk membentengi dari propaganda radikalisme terselubung dalam praktik keagamaan. Masyarakat yang dapat mengawasi praktik keagamaan yang dilakukan di tempat ibadah yang ada di sekitar mereka. Pengurus tempat ibadah juga harus melibatkan masyarakat setempat sehingga apapun kegiatan keagamaan yang dilakukan atas sepengetahuan masyarakat sekitar.


Regards.

Wednesday, March 15, 2017

'Bug Transition' at Work (Do What You Love / Love What You Do)

Hi, apa kabar? Hope you guys in a good and happy situation. Bless for all of us :)

Hmm... have you ever faced 'bug transition' at work? No, this is not about the 'bug' as in software system, kinda like that analogy. I mean, each people may react differently to different type of changes; or event the same type of change occurring at different times in life. For example I had a weird problem when I was suddenly confronted with the work related to tender or auction; as some of you already knew, that my basic previous work before are related to computer and fashion; and right when I'm faced with the procurement tender process, of course I experienced a kind of 'bug transition', like some kind of 'jetlag' at work. I just realize that I am facing a very much different job from what I've lived, in spite of the fact that all still related to administration stuff, but this is obviously much different. When I lived my role at fashion work, I so enjoyed it. Take care of mailing, filing documents, scheduling a meeting with client, set the work plan, do the contract agreement, choose material fabrics, body fitting, make sure the tailors working hard to support production system, do packing, shipping, and others. I know, a job that is associated with passion will feel more alive and energized. True.


Afterwards, when I was faced with tender projects which its debt ceiling could be far above the usual contract I ever signed, honestly I felt scared and nervous. Is this the work I really want? Still, the document selection were super strict and meticulous, no doubt, it was electronically and transparently project organized by the government. All bidders could monitor via internet. Still, bureaucratic system are very complicated. It does not matter when it comes to permission and other terms, because it should to be legal. But my point here is, the appointment documents that are exhausting; you have to get there, you have to go here, you have to do this, you have to be so (anyway I don't know what's the function of electronic transparency here). When the government are ready for electronic procurement, it should not need to be complicated as it was for physical document screening process. Well, maybe it was just me who don't understand about auction. Just skip.
 
Adjusting to a new culture and environment is a normal process and can generate a wide variety of reactions and feelings. People move through life they continually experience change and transition. These changes often result to new networks, new relationships, new behaviors, and new self-perceptions; juts like what I faced. Many people go through a period of personal frustration or disenchantment with their new environment. Such a 'culture shock' and it's normal part. Whereas, this could be a serious problem if the stress factors aren't handled properly. Still, to keep in mind is happiness. Are you happy living your job? Or is it just to make something negative to you? It's all up to you. We have different type of person at work. There are people who are challenged to do work which 'THIS ISN'T ME AT ALL'. Beside, there are people who prefer to pursue job what became their PASSION. It depends which personally are you? Me? I am clearly for the second anyway. I don't want to be stuck in the wrong place :)


 So for those of you who also experienced a 'bug transition' as I am, let us prepare ourselves to adapt with any situation. Be bouncy and flexible, because life is just a matter of how we are prepared to accept any impacts. Be bold for the change, and more importantly: Be bold for who you are!




Regards,

Bening Rahardjo