Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Saturday, March 18, 2017

Viewer Discretion in Social Media

Baru saja kemarin netizen Indonesia dibuat heboh oleh aksi bunuh diri seorang laki-laki warga Jagakarsa yang merekam aksi nekadnya gantung diri dengan video live di Facebook. Video live tersebut menjadi viral setelah akun @lambe_turah mempostingnya. Sorry not sorry, buat saya pribadi, lu mau bunuh diri apa gimana terserah aja, kalau mau ninggalin pesan bermakna buat keluarga yang ditinggal, silakan. Tapi karena itu sudah merambah media internet, mempostingnya secara LIVE dan membiarkan seluruh masyarakat untuk melihat aksi lu, itu jelas SALAH. Ada juga cara-cara seperti itu bakal menjadi legitimasi sosial kalau dibiarkan.

Seketika saat akun @lambe_turah memposting mengenai info ini, saya langsung cari tahu akunnya. Beuuh! Malah banyak yang nge-share videonya. Ni orang-orang mikirnya apa sih ya, batin saya waktu itu. Bukannya di-report kek ke Official Facebook bahwa pemilik akun udah meninggal; juga adanya konten video berisi violence di dalamnya yang sangat tidak pantas ditonton. Eh malah banyak yang nonton dan membagikannya. Hmm... Parahnya lagi saya hanya baca komentar orang-orang di situ. Kebanyakan sih menyesal sudah nonton dan merasa takut. (Jelas lah. Ngapain juga coba pakai nonton tindakan suicide gantung diri, nungguin orang meregang nyawanya sendiri pakai tali sampai sakaratul maut menyakitkan. Saya mah ogah).

Seingat saya dulu juga pernah ada aksi gadis 12 tahun bunuh diri membakar diri sendiri yang kemudian direkamnya secara live juga di Facebook. Fitur siaran langsung media sosial jadi dimanfaatkan untuk merekam aksi bunuh diri. Mungkin depresi yang tidak ditangani dengan baik menjadikan orang mudah untuk melakukan hal-hal nekad. Please kepada para pembaca dimanapun Anda berada, apabila menemukan contoh kasus seperti ini lagi, langsung REPORT ACCOUNT saja. Report video-nya juga biar pihak Facebook langsung menutupnya. Bukan hal yang pantas lah disebarin. Apalagi jika dilihat oleh orang-orang dengan emosi labil atau anak-anak, bisa menjadi contoh buruk tentunya. Seperti apabila Anda melihat konten yang tidak layak dilihat/dibaca di media sosial, saat ini pihak penyelenggara media sosial sudah menerapkan layanan report account atau block untuk mencegah konten negatif. Tidak perlu disebarluaskan, langsung saja laporkan. Kalau Anda menyebarkannya, sama saja Anda meracuni orang lain. Please, be wise ya peeps!


Regards.


Saturday, January 2, 2016

RIP Madame Natalie Cole



This morning when I browsed on twitter, there was a news that bit shocked me. Yea, we have lost the legend R&B and jazz woman singer, madame Natalie Cole has died. Such a heart-breaking to heard that news. For me, personally, madame Natalie Cole is such a great masterpiece of songwriter and singer. She has brought a fabulous musical to the world. Natalie Cole has blessed this earth with her beautiful voice through song and will be remembered for years to come. 

Being of 90's generation bring me back to play her beautiful voice on playlist, Rest In Peace, Natalie Cole. You will be loved... This was the song that always brought me memorable pieces of sad, joy, love, friendship, cruel and everything.





Saturday, December 19, 2015

Dies Natalis 66 Tahun UGM, Bersinergi!




"...Bagi kami almamater, kuberjanji setia...
Kupenuhi dharma bakti, untuk Ibu Pertiwi...
Di dalam persatuanmu, jiwa seluruh bangsaku...
Kujunjung kebudayaanmu, kejayaan Nusantara..."


Meski jalan tak selalu sama, setiap orang punya caranya masing-masing untuk berbakti dan memenuhi dharma baktinya. Selamat atas Dies Natalis Universitas Gadjah Mada ke-66, kampus biru, kampus kebanggaan Indonesia, kampus tertua yang dibangun bangsa untuk pendidikan tinggi negeri, kampus yang berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta, kampus kecintaan kami... Congratulations for all of us! Vivat Academia, Vivant Professores! Sesuai dengan tagline campaign tahun ini, UGM Bersinergi!



Saturday, December 12, 2015

Jangan Sepelekan Gejala Alzheimer!

Semalam, saya berkomunikasi dengan kedua sahabat saya, Fuad dan Benny. Semenjak musim hujan ini, kami jarang keluar bareng, selain kesibukan masing-masing juga dikarenakan hujan yang tidak bisa dipastikan turunnya. Kami tetap menjaga komunikasi melalui groupies internal di beberapa jejaring sosial. 
"Efek obat penenang ternyata bikin nge-fly" Status Fuad yang pertama muncul.
Secara spontan saya langsung menyambar.
"Lu stress? Nggak usah aneh-aneh deh. Pakai obat segala!"
"Bokap gue yang make."
"Bokap? Untuk?"
"Bokap gue sudah nggak kaya dulu lagi, Ning. Sudah banyak berubah."
"Separah itu harus pakai penenang?"
"Kalau gelisahnya muncul, kadang juga emosinya meledak-ledak."
"Ya penderita dimensia memang begitu."
"Penyakit tua lah." 
"Ajak ngobrol lah. Biar nggak ngerasa sepi. Bokap lu nggak butuh penenang tapi perhatian."
"Gimana mau ngobrol? Setiap hari sekarang dari pagi sampai malam bokap sendirian di rumah."
"Ya Elu jangan colud sampai malam mulu."
"Lembur neng...."
Waktu yang bersamaan, saya juga berkomunikasi dengan Benny.
"Fuad kenapa tuh?" Saya menyapa Benny bersamaan dengan status Fuad muncul.
"Depresi kali."
"Kenapa? Kok obat penenang segala?"
"Biasalah, jomblo. Masalah apa coba selain butuh pasangan."
"Akut."
"Kemarin pas gue dari rumah dia, dia sempat cerita soal bokapnya."
"Bokapnya kenapa lagi?"
"Nggak tahu, halusinasi atau apa, jadi dia sering ditelfon bokapnya untuk pulang cepat. Bokapnya ketakutan dan marah-marah."
"Bener kan dugaan gue. Apa tuh namanya, gue lupa?"
"Apa hayooo?"
"Malah kayak TTS."
"Barusan gue tanya dia, bokapnya kambuh lagi."
"Iya, gue juga udah dibales."
"Lebih tepatnya sih bokapnya butuh cucu, bukan obat."
"Rese!"
Well, singkat cerita guys, jadi bapaknya Fuad menang mengidap penyakit yang biasa menyerang orang-orang yang sudah usia senja, Alzheimer. Sejujurnya, saya sering mendengar tentang penyakit ini, tetapi kurang pengetahuan mengenai seluk-beluk penyakit Alzheimer. Saya mencoba mencari artikel-artikel melalui google yang membahas mengenai penyakit Alzheimer.

Source: www.cnn.com

Setelah membaca, saya baru menyadari bahwa penderita alzheimer mesti dimotivasi untuk terus melakukan aktivitas fisik. Misalnya, berolahraga ringan secara teratur setiap hari seperti senam, jogging atau jalan cepat. Memperbanyak aktivitas sosial di luar rumah juga bisa mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif di usia tua. Kegiatan sosial dan berkumpul bersama orang banyak akan membuat perasaannya semakin menyenangkan. Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat sangatlah penting.

Pengidap alzheimer biasanya akan mengalami perubahan perilaku. Misalnya, bangun tengah malam, bepergian tanpa tahu tujuan, lupa dengan anggota keluarga serta identitas dirinya, lupa meletakkan kunci mobil, lupa dengan nominal uang, lupa nomor telepon, lupa nama makanan yang biasa dimakan, lupa harus mencampurkan gula/garam dalam minuman, disorientasi waktu, lupa jalan menuju kamar mandi di rumah sendiri, lupa cara-cara mengaduk air, bahkan dalam taraf yang lebih buruk bisa berakibat lupa pada panggilan biologis tubuh (misal: ketika terasa pipis harus pipis, lupa rasanya ketika harus BAB dan lain-lain). Perubahan perilaku ini bukanlah kehendak si pasien melainkan memang efek dari penyakitnya. 

Alzheimer merupakan satu penyakit yang berhubungan dengan menurunnya fungsi otak. Seseorang yang menderita alzheimer skema otaknya akan terlihat cenderung mengerut daripada mereka yang normal. Terkadang mereka seperti mendengar suara/bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan. Secara emosi dan mood mereka juga menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Penyakit ini menyerang fungsi otak sehingga mengalami penurunan. Penderitanya akan kehilangan kemampuan intelektual dan sosialisasi yang cukup parah sampai sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

Kalau kita membaca di wikipedia mengenai penyakit Alzheimer ini, ada beberapa tokoh dunia terkenal yang pernah mengidap penyakit Alzheimer semasa hidupnya. Contohnya, mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Wilson Reagan, tokoh filsuf abad ke-19 Ralph Waldo Emerson, pengarang dan politikus terkenal dari Inggris Sir Winston Leonard Spencer Churchill, penulis kenamaan dari Inggris Enid Mary Blyton dan bahkan sosok Ratu Juliana dari Belanda. Secara keseluruhan penyakit Alzheimer ini bisa merusak pembuluh darah dan apabila tidak terkendali dengan baik semuanya akan merusak pembuluh darah, termasuk di otak. Sementara itu, stres juga memengaruhi menurunnya fungsi otak. Depresi yang berkelanjutan pun dapat merusak fungsi daya ingat. 


Orang alzheimer masih bisa melakukan aktivitas normal dengan bantuan orang-orang sekitar. Mereka masih punya harapan untuk dapat hidup berkualitas. Tentu dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan kasih sayang yang besar dari orang-orang di sekitarnya. Pemakluman apabila mereka melakukan sesuatu di luar kontrol dirinya, bukan lantas kita menghujani dengan hujatan/ejekan/emosi. Menurut artikel-artikel terpecaya yang saya baca, obat penenang bisa diberikan kepada penderita Alzheimer tetapi harus dalam anjuran dokter dan dengan dosis yang tepat. Ilmu medis belum mengetahui bagaimana mencegah atau mengobati penyakit Alzheimer ini. Namun, penting untuk mendapatkan ahli yang mampu menolong penderita dan keluarganya untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat penyakit Alzheimer. Selain itu meditasi juga baik untuk membantu memperbaiki pola tidur dan mengurangi depresi akibat penyakit ini.


Semoga bermanfaat, salam sehat!

-Bening Rahardjo-


Friday, December 11, 2015

Membingkai Kabupaten Karanganyar Menjelang Satu Abad

source: www.karanganyarkab.go.id
Kabupaten Karanganyar adalah sebuah kabupaten yang berada dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 800,20 Km2. Kabupaten ini terdiri atas 17 kecamatan yang masing-masing menyimpan potensi daerah yang mendukung kemajuan wilayah. Nama Karanganyar hampir tidak banyak dikenal oleh masyarakat yang tinggal di luar Pulau Jawa, memang. Namun, jika menyebut Gunung Lawu pastinya ingatan orang akan selalu melekat pada Kabupaten Karanganyar. Berbagai potensi alam dan peninggalan budaya dapat kita jumpai di lereng barat Gunung Lawu seperti: Grojogan Sewu Tawangmangu, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Gumeng Jenawi, Air Terjun Jumog, Cumpleng, Sapta Tirta Pablengan, Telaga Madirda, Hutan Pringgodani, Hutan Sekipan, Hutan Gunung Bromo, Puncak Lawu, Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Kethek, Pura Saraswati, Pura Pamecekan, Situs Dayu, Situs Palanggatan, Situs Watu Kandang, Situs Menggung dan masih banyak lagi potensi keindahan alam, buatan, maupun peninggalan budaya di kabupaten ini, baik yang sudah dikelola dengan baik maupun yang masih dalam tahap untuk dikelola.

Perkampungan di lembah Gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar. Source: Deni Kurniawan

Kejuaraan urban downhill di Tlogo Dlingo, Gondosuli, Tawangmangu. Source: www.facebook.com/IndonesianDownhill
Tanggal 18 November adalah tanggal yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karanganyar. Setiap pemerintah daerah yang baru berlomba-lomba untuk menyemarakkan bulan November agar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Kabupaten Karanganyar akan tanah kelahirannya. Bulan November tahun 2015 kemarin merupakan bulan momentum perayaan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar ke-98. Angka 98 merupakan angka yang masih tergolong muda untuk ukuran kabupaten/kota. Ya, apabila dibandingkan dengan kabupaten/kota yang usianya sudah di atas 100 atau bahkan 200 (misalnya Jakarta, Semarang, Palembang, Magelang, Medan, dll), tentu angka 98 masih merupakan angka yang terbilang muda. Meski terbilang angka yang muda, angka 98 adalah angka menuju pada usia satu Abad. Angka yang fantastis untuk usia manusia. Lantas apa saja pencapaian-pencapaian Kabupaten Karanganyar menjelang satu Abad usianya?

Menjelang satu abad usia Kabupaten Karanganyar, ada beberapa bingkai indikator pencapaian-pencapaian Kabupaten Karanganyar yang ingin saya tuangkan dalam tulisan saya di sini. Bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kabupaten Karanganyar ke-97 dan ke-98 kemarin, saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat melihat upaya baik dari pemerintah daerah dalam membenahi dan mengembangkan potensi yang ada di Kabupaten Karanganyar. Banyak terobosan dan ide-ide baru yang sebelumnya hanya menjadi wacana klasik bunga tidur masyarakat dan nampaknya sekarang sudah mulai diupayakan. Salah satu hal yang membuat saya semakin cinta dengan tanah kelahiran saya adalah mulai digaungkannya sejarah lokal Kabupaten Karanganyar. Ya, selama ini mungkin tidak banyak warga Karanganyar sendiri yang tahu bagaimana sejarah terbentuk dan tercetusnya nama 'Karanganyar'. Apalagi untuk mengenal sejarah-sejarah lokal perjuangan pemuda Karanganyar di masa penjajahan dulu. Masih banyak sejarah lokal yang tidak terekspos oleh pemerintah daerah setempat. Banyak pula potensi pariwisata, pertanian, perkebunan yang tidak tergarap dengan baik. Namun, dengan adanya visi dan misi baru yang dibawa oleh pemerintah daerah yang baru ini, sepertinya angin segar mulai berhembus. Setidaknya, kita harus menjadi bangsa yang menghargai dan menjunjung nilai-nilai lokal yang sudah ditanamkan oleh para pendahulu. Berkembang sesuai dengan kemajuan jaman adalah tuntutan. Ya, tetapi menjaga eksistensi lokal serta nilai-nilai budaya yang sudah ada juga akan selalu mengingatkan kita akan: "Siapa kita, dari mana asal-usul kita, akan kemana kita menuju?".

Karnaval HUT RI ke-70 melintasi Jalan utama Lawu. Source: Deded Asmarahady
 
Gowes pagi di Lawu. Source: Choonwei Tay


Nama Karanganyar tidak terlepas dari perjuangan Raden Mas Said atau yang biasa kita kenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa. Saya sangat bersemangat ketika mengetahui bahwa sejak tahun 2014 lalu, kisah perjuangan Raden Mas Said diangkat dalam sebuah tari kolosal. Bisa dikatakan dramatari lebih tepatnya. Alangkah indahnya jika tari perjuangan ini tidak hanya ditampilkan saat upacara hari jadi saja, atau hanya mengambil setting di alun-alun kota saja. Mengapa tidak digarap lebih serius untuk menjadi sebuah dramatari dalam sebuah panggung teatrikal terbuka secara khusus seperti Sendratari Ramayana di Candi Prambanan beberapa waktu sekali? Selain menarik jumlah wisatawan lokal maupun asing, saya rasa kita punya sejarah lokal yang sangat luar biasa untuk dikenang dan diceritakan kepada anak cucu kelak. Banyak nilai-nilai keteladanan yang bisa kita petik dari sejarah Raden Mas Said. Konsep 'manunggaling kawula gusti', sifat eling (ojo dumeh, hati yang mituhu), empan papan, amanah, keadilan, ketulusan, team work, prinsip-prinsip perdagangan dan ekonomi yang terintegrasi demi kesejahteraan rakyat, nilai kesusilaan, nilai keindahan, kecerdikan, kejujuran, serta nilai-nilai yang lain. Akan lebih baik apabila formulasi ajaran Tri Dharma yang digagas oleh Raden Mas Said mampu diterapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar:
  1. Rumongso handarbeni (merasa ikut memiliki);
  2. Wajib melu hangungkrebi/hanggondheli (kewajiban untuk membela dan mempertahankan);
  3. Mulat sariro hangroso wani (kesadaran dan keberanian untuk melakukan koreksi diri/otokritik).
Sebagai wilayah yang menyimpan banyak potensi dan dianugerahi kemerdekaan oleh Tuhan Yang Maha Esa, masing-masing dari kita mempunyai tanggung jawab untuk mewarisi jiwa semangat dan kepahlawanan dari leluhur. Kita memiliki tanggung jawab untuk mengelola sumber daya yang ada dengan penuh ambeg paramarta artinya tidak konsumtif, tidak merusak alam dan tatanan budaya sendiri. Kita memiliki tanggung jawab untuk membangun dan membenahi tatanan kehidupan bermasyarakat yang demokratis. Sekadar menjadi "Maju dan Sehat" saja tidak cukup, kita harus menjadi daerah yang sehat, cerdas, bermartabat, berperadaban, berkemajuan dan berkarakter. Apa artinya maju bila tak berautentik? Think global, act local. Mengapa kita tidak belajar dari mentalitas masyarakat Jepang? Meski mereka dituntut untuk menjadi negara maju, bukan berarti mereka meninggalkan budaya lokalnya begitu saja. Justru mereka bangga pada apa yang sudah diwariskan oleh nenek moyangnya, sebab nilai sejarah selalu mengandung pesan moral bagi kehidupan selanjutnya. Penetrasi kecepatan teknologi dan informasi dunia dapat mengubah perilaku sosio-kultural masyarakat lokal. Itu mengapa, saya pribadi sangat mengharapkan bagi pemerintah daerah yang sekarang dan selanjutnya untuk menanamkan nilai-nilai lokal kepada masyarakat Kabupaten Karanganyar dimulai sejak dini. Sekarang, banyak inovasi-inovasi di bidang teknologi dan informasi, semakin baik apabila dapat dimanfaatkan bagi siar/gaung kepada masyarakat.

Tengok saja Kabupaten Sukoharjo yang berbenah dengan wilayah satelitnya, Solo Baru. Investor berdatangan untuk beramai-ramai membangun 'kota baru' yang penuh dengan mall, kawasan pemukiman elite, hotel-hotel dan pusat perekonomian lainnya. Andaikata Kabupaten Karanganyar ingin menata sebuah kawasan seperti Solo Baru, hal ini tidak mustahil. Namun, perlu diingat pula bahwa Kabupaten Karanganyar tidak harus mendorong pertumbuhan masyarakat menjadi konsumtif, mengapa tidak kita berbenah menjadi kota produktif? Banyak hal yang bisa dibenahi terkait sumberdaya yang ada di Kabupaten Karanganyar, ambillah contoh bidang pariwisata. Selama ini masyarakat Karanganyar sendiri masih terlihat 'kurang bangga' dengan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Karanganyar, yang padahal, kita punya banyak potensi alam yang indah di kaki Gunung Lawu. Ini adalah salah satu berkah alamiah terkait dengan posisi geografis. Seharusnya, pemerintah bisa menggenjot potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Karanganyar. Misalnya, mengapa tidak kita kembangkan pariwisata kreatif di Kabupaten Karanganyar dengan menampilkan berbagai potensi budaya, tari-tarian, hasil kerajinan masyarakat dan lain-lain dalam sebuah event budaya? Bukan lantas menjiplak ide dari daerah lain lalu mengada-ada. Tapi sumberdaya-sumberdaya penting yang kita miliki bisa berpotensi besar apabila digarap dengan sungguh-sungguh.

Demikian halnya dengan bidang pertanian, hasil pertanian yang baik pun bisa membuat suatu daerah menjadi swasembada pangan bagi daerah-daerah di sekitarnya, tentu apabila diproyeksikan dengan baik. Satu hal yang membuat saya optimis adalah Kabupaten Karanganyar masih memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Beruntungnya kita tinggal di daerah yang subur, tanah yang baik untuk pertanian dan perkebunan, serta sumber mata air yang melimpah. Namun, seiring dengan pertumbuhan manusia yang semakin cepat, sudah banyak pula wilayah pertanian dan perkebunan yang kemudian beralih menjadi lahan perumahan. Penting bagi pemerintah daerah untuk mengatur tata ruang daerah dengan baik agar Kabupaten Karanganyar tidak kehilangan lahan potensial untuk pertanian dan perkebunan, dimulai dari sekarang tentunya. Ambil contoh tetangga terdekat, Kota Surakarta, semakin pesat pertumbuhan ekonomi penduduknya, semakin menipis pula lahan pertanian yang ada. Lahan pertanian menjadi barang yang amat mahal dijumpai karena tergerus oleh modernisasi kota yang tidak seimbang dan pertumbuhan penduduk. Apabila pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya di segala aspek (tidak hanya mengacu pada satu aspek saja), saya yakin bahwa visi yang ingin dicapai oleh pemimpin yang baru yakni "Maju dan Sehat" akan dapat terwujud. Jika petani kita sejahtera, ini bisa menjadi indikator penting kemajuan daerah. Satu hal lagi yang khas dari pertanian (mungkin lebih ke arah bidang agrofarmasi tepatnya) yakni tanaman obat Tawangmangu. Lihat, kita sudah punya balai penelitian dan pengembangan untuk tanaman obat dan industri farmasi. Mengapa tidak kita angkat Kabupaten Karanganyar dengan pengembangan tanaman obat dan ramuan tradisionalnya? Bukan karena latah mengikuti daerah tertentu, tetapi memang kita sudah punya lahan yang bisa dikembangkan.
Bupati Karanganyar, Bapak Juliyatmono sedang menilik persawahan. Source:  www.solopos.com

Jalur pedestrian di Jalan utama Lawu. Source: www.suaramerdeka.com
Membangun infrastruktur tentu membutuhkan anggaran yang besar dan perlu pengerjaan yang lumayan menyita waktu. Tetapi, penataan pembangunan infrastruktur yang baik bisa menjadi investasi jangka panjang bagi daerah. Penataan dan pembangunan kawasan Taman Pancasila dan alun-alun menjadi harapan optimis bagi wajah baru Kabupaten Karanganyar yang rapi, bersih dan sehat. Bicara mengenai kawasan alun-alun tiga/empat tahun yang lalu, saya mempunyai cerita tersendiri mengenai premanisme di sana, sebab pada waktu itu kawasan alun-alun masih sepi dan kurangnya penerangan lampu-lampu kota. Kawasan itu dulunya lebih terkenal sebagai tempat mangkal anak-anak muda yang condong dengan stereotype negatif. Namun kini, alun-alun sudah kembali pada fungsi semula sebagai public sphere bagi seluruh warga Karanganyar. Baik dari anak kecil hingga orang tua pun bisa menikmati kawasan ini sebagai ruang publik yang nyaman. Pembangunan plasa alun-alun dan sidewalk sepanjang Jalan utama Lawu menjadikan Kabupaten Karanganyar terlihat lebih rapi tertata. Tentu semua masyarakat juga bergembira dengan terwujudnya proyek fly over Palur yang bakal dibuka sebentar lagi. Semoga fly over bukan hanya sekadar wujud 'gagah-gagahan' dari pemerintah daerah, tetapi benar-benar dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Infrastruktur yang baik adalah faktor lain sebagai penunjang penting kemajuan ekonomi suatu daerah. Meski begitu, beberapa akses menuju daerah harus diperbaiki dan ditambah. Seperti jalan Ngargoyoso menuju Candi Cetho yang masih banyak jalan berlubang, jalan bergelombang di jalur lingkar selatan (Tegalgede-Papahan), jalan berlubang di sepanjang Gaum-Kaliboto dan mungkin di beberapa daerah lain yang masih harus diperhatikan aksesnya. Juga masalah kurangnya penerangan jalan masih menjadi pemicu angka kriminalitas di beberapa titik.

Uji coba fly over Palur. Source: @binamargajateng

Fly over Palur, Karanganyar dilihat dari atas. Source: www.sindonews.com

Pendidikan di Kabupaten Karanganyar berkembang dengan cukup baik, dilihat dari penghargaan/reward yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada siswa-siswa berprestasi di Kabupaten Karanganyar dengan menyokong bantuan pendidikan tinggi, pendidikan gratis juga meringankan beban ekonomi orangtua dari semua lapisan. Namun, yang perlu diingat bahwa pendidikan gratis bukan lantas menjadikan orangtua dan guru bisa berlaku seenaknya. Orangtua juga harus menyadari akan kebutuhan buku dan seragam bagi anak-anaknya, sedangkan guru juga harus menyadari bahwa pendidikan gratis bukan lantas menjadikan guru malas mengajar/berinovasi karena alasan tidak adanya alokasi dana untuk sekolah. Sekolah juga harus menyadari bahwa mereka harus tetap memberikan hak siswa untuk mendapat fasilitas yang baik, nyaman dan mendukung. Semangat para pemuda Karanganyar untuk belajar hingga pendidikan tinggi juga termotivasi dengan baik, bisa kita lihat dari naiknya angka pemuda-pemudi daerah yang diterima Perguruang Tinggi Negeri favorit dari tahun ke tahun. Berkembangnya ruang kreativitas bagi komunitas-komunitas baik seni, pecinta alam dan lingkungan, pecinta binatang, komunitas sosial, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan lain sebagainya.

Kesehatan adalah masalah urgent bagi setiap manusia. Memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat adalah kewajiban bagi pemerintah daerah. Bersama peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar ke-98 kemarin, pemerintah daerah bekerjasama dengan BPJS untuk men-cover kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Karanganyar. Pelayanan kesehatan di Kabupaten Karanganyar masih perlu peningkatan, keberadaan Puskesmas di daerah-daerah juga perlu dioptimalkan keberadaannya. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah, RSUD Karanganyar harus berbenah dalam persaingan pelayanan kesehatan dengan pihak swasta khususnya di wilayah Karanganyar sendiri. Kebersihan dan kenyamanan lingkungan rumah sakit adalah mutlak bagi syarat pelayanan kesehatan yang baik.

Lautan manusia di Konser Iwan Fals pada puncak Hari Jadi Karanganyar ke-98, source: akun instagram drummer Yose Kristian

Selebihnya, perayaan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar oleh pemerintah daerah dua tahun belakangan ini adalah sebuah progres baik dan mendapat sambutan positif dari semua lapisan masyarakat. Hiburan, siapa yang tidak menyukai hiburan? Semua tentu terkadang merasa jenuh dengan aktivitas monoton berminggu-minggu dengan pekerjaannya masing-masing (bertani, berkebun, beternak, aktivitas di kantor, aktivitas pekerja sosial, aktivitas wirausaha, berdagang, dll), bentuk pertunjukan seperti mengundang artis ibukota tentu menjadi hiburan menarik bagi masyarakat. Hiburan yang bisa dinikmati oleh semua lapisan, tidak hanya diisi dengan pertunjukan musik yang hanya diikmati oleh pemimpin saja (Pemimpin berkaraoke berdendang ria, masyarakatnya hanya 'terpaksa' menonton sambil memble. Well....It's soooo old).

Parahnya kebakaran hutan Lawu 2015 kemarin yang sempat menewaskan 7 pendaki. Source: www.detik.com
Seperti konser Iwan Fals kemarin, menurut saya adalah pilihan bijak dari pemerintah daerah apabila ingin menunjukkan dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pesan-pesan sosial dan pesan-pesan cinta lingkungan. Sebab Om Iwan Fals adalah salah satu artis ibukota yang menjadi ikon duta lingkungan dan duta untuk masalah sosial. Kebanyakan lagu-lagu Iwan Fals dapat dinikmati dan diterima oleh tidak hanya pemuda tetapi juga orangtua. Kedatangan Iwan Fals ke bumi Karanganyar tentu membawa pesan positif bagi permasalah lingkungan dan permasalahan sosial di Kabupaten Karanganyar (Sebagai contoh: kebakaran hutan lawu dan penanganan dengan penghijauan kembali; pesan pemerintahan yang bersih dan jujur, pesan sosial mengenai pemuda yang membangun bangsa, dll). Menurut saya tidak ada yang sia-sia sepanjang itu dapat dinikmati oleh  semua lapisan. Bukan hanya menuruti kehendak pemimpin atau kehendak satu kelompok tertentu. Toh, apa yang sudah masyarakat berikan dalam bentuk pajak, restribusi dan lain-lain, kembali bermanfaat untuk masyarakat. Demikian pula dengan event-event lainnya yang tentu berkembang ke arah positif, tentu ini akan memicu semangat bagi warga Karanganyar untuk lebih produktif dan berkreasi.



Regards,

Bening Rahardjo



Ps: Anda bisa melihat beberapa pesona Kabupaten Karanganyar dalam akun instagram saya, atau juga bisa melihat update Kabupaten Karanganyar melalui akun facebook Karanganyar Tenteram (https://www.facebook.com/lawu.karanganyar) bisa dilihat di contact. Jangan lupa berkunjung ke Karanganyar ya! :)


Sunday, November 29, 2015

Konser Iwan Fals HUT Karanganyar ke-98

Mendung menggantung di langit sebelah timur, utara dan selatan. Nampaknya kota kami akan diguyur hujan lebat. Benar saja, butiran air lumayan deras menghujani seluruh kota sejak siang hingga sore. Saya berharapnya sih hujan saja, tanpa pemadaman listrik. Jika ya, malam minggu kelabu, pikir saya. Sekelabu apa lagi saya harus menggambarkan coba, apabila hari Anda tersusun dengan komposisi: single; malam minggu; hujan lebat; mati lampu? Satu hal yang paling layak adalah berakhir di tempat tidur, tidur lebih awal dan mencoba bermimpi tentang Richard Armitage atau Theo James lagi jajan bakso di depan mata. Namun, rupanya Tuhan mengerti harapan kaum single macam saya. Alhamdulillah setelah maghrib hujan berangsur reda.

Sabtu malam kemarin adalah hari yang spesial untuk kota saya. Tepat pada hari itu adalah puncak acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-98 dengan digelarnya Konser Iwan Fals dalam tema "Lawuku Hijau dan Damai". Sebelumnya Om Iwan Fals memang sempat mengikuti rangkaian acara penghijauan Hutan Lawu di Cemoro Kandang yang sempat terbakar hebat beberapa waktu lalu. Kegiatan penanaman sejuta pohon ini juga merupakan kampanye lingkungan yang disuarakan oleh pemerintah daerah yang baru melalui Om Iwan sebagai duta lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam ada beberapa jenis, diantaranya damar, eukaliptus, kayu putih, beringin, liwung, dan tontrok. Salah satu langkah cerdas dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk menggandeng musisi sekelas Om Iwan Fals yang memang terkenal sebagai aktivis lingkungan, juga tentunya karena beliau dapat menggerakan massa yang besar dari jumlah OI/Orang Indonesia, sebutan untuk fans base Iwan Fals. Pemerintah Kabupaten Karanganyar memang berkomitmen untuk program Karanganyar Ijo Royo-Royo, sehingga dengan adanya kejadian kebakaran Hutan Lawu kemarin, menjadi pengingat bagi seluruh warga masyarakat bahwa pentingnya menjaga alam demi keberlangsungan ekosistem tahun-tahun ke depan.

Iwan Fals dan Bupati-Wakil Bupati Karanganyar dalam aksi penanaman sejuta pohon di Hutan Lawu. Source: www.sindonews.com
Malam kemarin, saya tidak bisa langsung menuju area konser dikarenakan ada acara kumbokarnan untuk hajatan tetangga dekat yang mengharuskan saya untuk setidaknya sumbang muka sebentar. Yah, saya pikir-pikir sih tidak terlalu telat untuk datang ke konser, karena mungkin saat kami tiba di sana nanti, Om Iwan baru naik panggung. Setelah acara selesai, saya bersama beberapa teman langsung bersemangat bergegas menuju lokasi konser. Jreeeeng....jreeeeennggg......Baru sepeda motor kami memasuki wilayah kurang lebih 2 kilometer dari spot konser berlangsung, antrean parkir kendaraan dari roda dua sampai roda empat sudah memenuhi wilayah sekitar itu. "What the heck!" Batin saya. Sebetulnya area 1 kilometer dari lokasi konser sudah steril dan tidak boleh dimasuki oleh kendaraan. Namun, saya terlalu bersemangat untuk mencari 'jalan tikus', menembus lalu-lalang orang yang berjalan kaki daaaaaannnn sampailah saya serombongan di parkiran 50 meter dari lokasi konser! Hahahaha. Sumpah, tidak tahu bagaimana jadinya kalau kami harus berjalan sepanjang lebih dari 2 kilometer untuk ke lokasi konser. Bahkan mas-mas penjaga parkir di lokasi itu heran bagaimana kami masih bisa memasuki area steril. Tanpa membuang waktu, saya dan teman-teman langsung menuju lokasi. Anyway, untuk memasuki lokasi konser ini pihak penyelenggara dan dibantu dengan aparat kepolisian mengerahkan penjagaan di pintu-pintu masuk dengan metal detector. Begitu hampir melalui pemeriksaan, saya sempat melihat banyak sekali sabuk-sabuk yang dijejer digantung. Hmm, mungkin salah satu upaya pencegahan apabila terjadi kerusuhan. Termasuk botol-botol minuman keras yang berhasil disita dan diamankan.
Iwan Fals konser di Karanganyar, source: Joglosemar/Rudi Hartono
Syukurlah, kami datang tepat saat Om Iwan mulai mendendangkan lagu ke-dua. Jadi kami masih bisa menikmati penampilan Om Iwan hingga selesai. Berhubung saya pendek, saya mencoba merangsek maju ke tengah. Meski hujan mengguyur sejak siang, tetapi malam itu sepenuhnya milik masyarakat Karanganyar dan OI tentu saja. Saya pikir "Gila! Ini mah melebihi kepadatan malam perayaan Tahun Baru!". Banyak OI berdatangan dari luar daerah sejak siang hari, bahkan area 1 kilometer sekitar lokasi konser sudah ditutup sejak pukul 13.00, dialihkan menuju lingkar selatan dan lingkar utara. Bang Iwan dan band begitu energic menghibur masyarakat, tak lupa menyelipkan celetukan-celetukan berisi pesan sosial dan pesan untuk tetap menjaga lingkungan. Konser berjalan dengan damai, meski sempat ada sedikit keributan kecil. Jangan sebut Om Iwan sebagai musisi berkelas kalau tidak bisa mengendalikan massa. Bahkan dengan gaya bercandanya yang khas, beliau berhasil menarik perhatian massa kembali kepadanya.

Source: Instagram drummer Iwan Fals, Yose Kristian
And, here I wanna tell you. Selagi menikmati konser, saya melihat ada beberapa panitia membawa sekantong karung plastik wadah beras. Rupanya mereka memunguti botol-botol plastik air minum yang dibuang dengan sengaja oleh penonton. Mereka juga memunguti sampah-sampah selama konser berlangsung sehingga area itu terlihat tetap bersih dari sampah plastik. Satu kata: Salut!!! Saya sungguh mengapresiasi komitmen Om Iwan dan EO untuk menjaga lingkungan. Tidak hanya sekadar beliau ungkapkan melalui ajakan-ajakan dari mulut dan lagu saja, tetapi juga aksi nyata membersihkan sampah di sekitar lokasi konser. Contoh baik bagi massa yang ada di situ. Saat konser berakhir, saya melihat segerombolan anak muda yang memunguti sampah-sampah botol dan plastik. Hmm, look at that, Om Iwan succeed give an encouragement to the younger. What a great aspect!

Satu lagu yang membuat saya merinding malam itu adalah ketika Om Iwan mulai memetik gitar intro lagu Ibu. Seketika penonton mulai duduk di tanah dan menyalakan penerangan apa saja yang mereka punya, dari senter, sorot lampu HP, lilin, dsb. Merindiiiingggg!!! Kekuatan syair lagu berjudul Ibu itu memang mampu memberikan efek yang luar biasa kepada ribuan penonton yang ada malam itu. Termasuk saya pribadi, tanpa dikomando, saya seketika mengeluarkan Hp dan mengangat tangan saya tinggi-tinggi mengikuti irama intro lagu itu. Ternyata hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang di sekitar dan di depan saya, tanpa dikomando.

Acara konser keseluruhan berjalan dengan lancar, Om Iwan membawakan kurang lebih 15 lagu. Kemudian penampilan itu ditutup dengan pesta kembang api hingga larut malam. Aaaaannnddd, bisa dibayangkan bagaimana kami pulang kan? Hahaha. Untungnya sih dapat parkir hanya 50 meter di sebelah timur lokasi konser. Jadi kami tidak perlu berjalan sepanjang 3 Kilometer seperti orang-orang. Yah, hanya perlu menutup wajah dengan masker ketika mengendarai motor membelah lautan manusia yang berjalan berduyun-duyun. Siap-siap disoraki "Huuuuuuu...." saat melewati mereka. Sabaaaaarrrr..... yang penting nggak gempor jalan kaki :D


-salam damai-

Bening Rahardjo



Saturday, November 21, 2015

Fashion Bondage 1: Siffon Sackdress by House of Eny

*All these pictures bellow are protected by Copyright Laws and Intellectual Property Rights*

Semi-formal Blue Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Vira 

Semi-formal Sogan Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Dini


Semi-formal Orange Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon with pleat detail on front
Photographer: Aryo
Model: Dewi

 
Semi-formal Natural Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon on shoulders
Photographer: Aryo
Model: Vira
Semi-formal Grey Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon, detail sprinkled with sequins at the waist
Photographer: Aryo
Model:Vira

Semi-formal Red Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Vira

Semi-formal Navy Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon on shoulders
Photographer: Aryo
Model:Dini


Saturday, November 14, 2015

Sugeng Ambal Warsa Kaping 98, Karanganyar!

Semalam cuaca cukup cerah, meski sempat terdengar gemuruh petir tetapi hujan tidak turun deras, sedikit gerimis saja. Kebetulan, di tengah kota kami, tepatnya di alun-alun kota/plaza alun-alun, sedang diadakan acara bertajuk Soloraya Creative Expo 2015. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Karanganyar ke-98. Tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, saya merasakan banyak sekali perubahan positif dari tata ruang kota di tempat kelahiran saya ini. Pemimpin baru, perubahan tata ruang yang baru, kebijakan baru, UMR yang naik lebih signifikan, tentunya semua ini juga berdampak positif bagi semangat baru warga Karanganyar. 


Saya selalu suka acara-acara yang merakyat, Anda bisa menyebutnya 'kampungan', 'ndeso', or whatever. Tell you, I don't care. Bagi saya yang pecinta budaya lokal ini, tentu saja acara-acara seperti Expo atau pesta rakyat menjadi sebuah pertunjukan menarik untuk dikunjungi. Saya tidak hanya akan menemui pemandangan penuh sesak dengan berbagai macam aroma keringat di sana, sebab itu sudah pasti jelas, tetapi juga pemahaman baru akan hal-hal baru. Ada seorang kawan yang ketika saya ajak mengujungi tempat-tempat dan acara-acara merakyat, kemudia ia merasa itu adalah tempat/acara yang membosankan dan membuat dia pusing. Tidak demikian dengan saya.

Mungkin lebih cocok baginya untuk duduk bersantai di kafe-kafe dengan alunan musik, menyantap menu mewah meski dengan isi kantong yang dipaksakan. Asal bisa mengisi album elektronik di akun Instagram-nya. Mungkin, tempat-tempat dengan lampu-lampu menyorot tajam di sana-sini, gemerlap dan penuh dengan aroma pengharum ruangan yang dingin. Asal bisa berpose layaknya fashionista sejati untuk bisa dipajang di lama Instagram-nya. Ya. Bukankah ini hampir sama dengan situasi dimana seorang teman yang jarang berjumpa dikarenakan kesibukan masing-masing, lantas mengajak Anda untuk bertemu di suatu tempat yang cozy, dengan headline 'meet up', but then, believe me, after she/he asks you to take a wefie or selfie, then she/he stuck on their smartphone to upload the pictures, and forget to talk to you. Selfish, yes, we are. They ask you to meet up, but disregarding you with their attitude. No, you're welcome.

Sebuah pelajaran besar bagi saya. Itulah mengapa saya lebih senang pergi ke tempat-tempat merakyat bersama orang-orang yang memang benar-benar tertarik. Mendatangi event bertajuk 'meet up' hanya jika saya merasa benar-benar dirindukan oleh mereka, bukan seperti berjudi untuk menentukan akhir cerita 'meet up' tadi. Apakah saya akan diacuhkan karena smartphone-nya atau kami akan benar-benar menikmati obrolan yang memang menyenangkan. Sekali lagi, itu pilihan. Saya memilih dengan pertimbangan dan sebagian besar adalah pengalaman.

Saya senang sekali bermain ke tempat-tempat yang masih kental dengan budaya, saya senang sekali bahkan turun menyusuri bukit sebentar hanya untuk bermain air di kali pegunungan ketika sedang bepergian. Saya senang memotret aktivitas sosial yang dilakukan orang-orang di tempat merakyat, seperti pasar tradisional, acara budaya lokal, dan lain-lain, dengan mata dan hati saya sendiri. Indah. Menenangkan.

Damai mengunjungi tempat yang tidak hanya bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan sosial atas, tetapi juga terjangkau bagi mereka, orang-orang kampung yang memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang besar pada keramaian. Jangan mengeluh ramai berdesakan, pusing dan bau kalau Anda mengunjungi pasar tradisional, pasar malam, pameran, bazaar buku, pasar tiban dan sejenisnya. Sebab saya pastikan, Anda pasti akan mendapati semua itu.

Tahun 2015 ini, hari jadi Kabupaten Karanganyar diisi oleh banyak event menarik, mulai dari launching logo Burung Derkuku untuk Kabupaten Karanganyar (ada sejarah lokal yang ingin diangkat oleh pemerintah yang baru, salut), pengajian akbar, kejuaraan beberapa cabang olahraga, napak tilas Raden Mas Said (ini adalah sejarah lokal yang menurut saya sangat bagus untuk diangkat juga), lomba tradisional (maksudnya permainan tradisional yang sudah hampir mulai dilupakan seperti bakiak, balap karung, tarik tambang, dll), gerak jalan massal, bazaar buku, pagelaran wayang kulit, trail adventure di lereng Gunung Lawu (kakak saya pun menjadi salah satu peserta di acara ini), jambore karya inovatif masyarakat Karanganyar, khitanan massal, TNI Military Expo, Soloraya Creative Expo (namun saya lihat semalam acara ini bukan hanya diisi oleh stand-stand dari Soloraya saja, ada juga dari daerah Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara), lomba karawitan dan masih banyak lagi.

Stand yang paling saya minati adalah stand milik TNI, menurut saya TNI mencoba menghilangkan kesan seram para tentara yang masih hinggap di benak masyarakat. Mereka sangat ramah menyambut masyarakat yang antusias untuk mengetahui seluk beluk senjata, kendaraan, pakaian, dan lain-lain. Beberapa juga menyambut saya dengan sangat ramah, mempraktekan cara memegang senjata yang berat, kemudian menjelaskan dengan serius. Meski banyak pertanyaan meluncur dari bibir saya, mereka juga sangat sabar menjawab, bahkan sesekali diisi dengan lelucon. Bahkan, salah seorang memasangkan topi baretnya di atas kepala saya ketika hendak berfoto. Ya, ramah sekali. Merakyat. Mereka menyapa, menyalami dan menggendong anak-anak kecil yang takut-takut ingin mengajak berfoto bersama. Bahkan mereka mengeluarkan sebuah tank tempur yang sengaja diparkir di halaman depan plaza alun-alun agar masyarakat bisa melihat, memegang bahkan memasuki ruang sempit di dalam tank tersebut. Apresiasi tinggi kepada TNI kita!



Apalah arti sebuah tanah tempat tinggal jika tidak bisa menjadi sarana yang baik untuk masyarakat yang ada di dalamnya? Mungkin ini yang digagas oleh pemerintah daerah yang baru. Perbaikan city walk di sepanjang jalan utama membuat jalan terlihat lebih lebar, tatanan Pedagang Kaki Lima juga lebih rapi. Area publik dimanfaatkan dengan sangat baik untuk bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Area publik tidak hanya dikuasai oleh pedagang-pedagang yang mangkal, sehingga tidak ada tempat nyaman untuk publik berkreasi. Perbaikan Monumen Kasih Ibu di pusat kota, perbaikan Taman Gajah dengan air mancur warna-warni, penataan Taman Pancasila, masterplan untuk public area di Waduk Lalung, dll. Perlahan tapi pasti, Kabupaten Karanganyar mulai berbenah. Pertumbuhan ekonominya pun terasa lebih baik dengan standar UMR yang lebih signifikan, layanan sosial yang juga lebih baik di bidang pendidikan, kesehatan terutama. Meski banyak hal yang masih perlu diperbaiki di sana-sini. Kenyamanan orang ketika memanfaatkan ranah publik untuk tempat berkreasi, mulai dijunjungnya nilai-nilai sejarah dan budaya lokal tidak hanya dalam pendidikan formal untuk generasi muda di sekolah saja, tetapi juga untuk masyarakat umum yang masih buta akan sejarah dan budaya lokal.  


Sugeng ambal warsa kutha kinasih Karanganyar ingkang kaping 98, mugi tansah handarbeni hangrungkebi, lan mulat sariro angroso wani. Guyup rukun ngudi tentrem saklawase. Kaya ingkang dadi pemujine, Kabupaten Karanganyar Tenteram.




-Bening Rahardjo-


Sunday, December 28, 2014

"Sar Klewer Kobongan!"

"Sar Klewer kobongan!".

Kira-kira begitulah bunyi pesan berantai di Bbm dan Wa dari kakak dan beberapa teman yang mengabarkan kalau sedang terjadi kebakaran di Pasar Klewer, sekitar pukul 22.00 WIB. Saya yang sudah tidur dari pukul 20.00 karena badan sedang tidak fit karena flu, baru membaca pesan tersebut pukul 01.45 dini hari. Ingat belum shalat Isya' saya terbangun dan mendapati banyak pesan masuk ke handphone saya. Pasar Klewer kebakaran? Masih sambil di atas kasur, saya lantas membuka timeline twitter. Benar saja, pukul 01.00 dini hari saja masih banyak yang bersliweran di timeline sembari memberikan berita teraktual kondisi Pasar Klewer yang terbakar sekitar pukul 20.30 WIB itu. Saya tidak tahu sampai separah apa kebakarannya, karena mau membuka link gambar saja bandwidth server dari handphone payah dikarenakan bad signal Indo**t di rumah saya sudah hampir di tahap S-O-S. Saya hanya mengirimkan pesan ke Ibu dan beberapa orang dekat saja dini hari itu.

Pagi hari ini, pukul 05.53 WIB saya coba lagi koneksi internet dari handphone saya yang lumayan agak sedikit lebih baik. Begitu gambar-gambar di timeline bisa ditampilkan...innalillahi wainnaillaihi roji'un...ternyata saya baru tahu bahwa kebakaran semalam begitu hebatnya sampai melahap ratusan kios di deretan timur dan barat. Entah apa penyebabnya. Well, sejujurnya, pikiran buruk lantas menghampiri analisa saya sendiri pagi tadi. Saya ingat master plan Pasar Klewer yang pernah diajukan beberapa waktu lalu namun ditolak oleh para pedagang. Berbagai macam sumber akurat memberikan informasi mereka mengenai kondisi Pasar Klewer terkini. Hingga saat ini pukul 11.56 WIB, sudah tidak terlihat api yang menyala dari sisi luar pasar, tapi sisa kain-kain yang terbakar di dalam masih mengeluarkan asap yang bisa menjadi potensi kembalinya api membesar. Ya Tuhan, apapun yang menjadi penyebab kebakaran itu, semoga bukan karena sabotase oknum-oknum tertentu. Kita tunggu saja kabar hasil olah TKP dari tim forensik Jawa Tengah selanjutnya nanti.

Amukan api di Pasar Klewer semalam. Source: Dari berbagai sumber
(Pukul 00.30 WIB dini hari). Petugas gabungan berusaha memadamkan kobaran api. Source: Dari berbagai sumber
Amukan api sekitar pukul 00.00 WIB dini hari. Source: Dari berbagai sumber
(Pukul 00.56 WIB dini hari). Api terlihat di sebelah barat gapura Klewer. Source: @tentangSolo
Kondisi Pasar Klewer pukul 06.00 WIB. Source: Dari berbagai sumber


Pukul 06.00 WIB, petugas dan relawan membantu pedagang menyelamatkan beberapa dagangan. Source: dari berbagai sumber

Pasar Klewer pukul 09.00 WIB. Asap masih mengepul dari dalam kios. Source: Dari berbagai sumber

Api merembet ke sebelah utara. Source: dari berbagai sumber
(12.00 WIB) Api membesar karena angin, mobil DAMKAR sedang mengentikan kobaran. Source: @tentangSolo
(12.00 WIB) Asap bertambah banyak dari sebelah dalam. Source: @tentangSolo
(Pukul 12.30 WIB) Masih terlihat api dari bagian dalam kios :( Source: @tentangSolo

(Pukul 12.40 WIB) Semoga hujan membantu proses pemadaman api siang ini. Source: @tentangSolo

Baru beberapa hari lalu saya menemani pakde dan teman-temannya mencari oleh-oleh Intip Solo untuk saudara-saudara di Jakarta. Masih lekat kemacetan area Pasar Klewer setiap harinya. Dulu, Almarhum Bapak juga sering mengajak kami jalan-jalan di Pasar Klewer atau Pasar Gede. Sementara simbok rewang di rumah sering minta diantarkan ke Toko Mas yang berada di deretan lantai bawah sebelah timur, untuk menjual atau membeli perhiasan pada cicik-cicik juragan emas. Biasanya kalau jalan-jalan di sekitar Pasar Klewer, Bapak tidak lupa mengajak kami mampir ke Warung Tengkleng Bu Edi di dekat Gapura Klewer. Begitu terkenalnya tengkleng Pasar Klewer sampai bahkan mengundang penasaran banyak orang untuk mencoba mencicip masakan khas Solo tersebut. Pasar Klewer sendiri bukan hanya sekedar pasar tradisional semata. Namun, Pasar Klewer sudah menjadi trade mark bagi Kota Surakarta, selain tempat-tempat belanja batik yang lain seperti Beteng ataupun Laweyan. Saya dan adik saya juga sering berbelanja batik ke Pasar Klewer. Hampir sama dengan Beteng, yang membedakan hanya sepandai-pandainya saja Anda melakukan tawar-menawar di pasar itu. Kabar yang beredar, Pasar Klewer adalah pasar tekstil tradisional terbesar se-Asia Tenggara.

Gapura Pasar Klewer (potret aktivitas normal)

Semoga api di lokasi Pasar Klewer segera dapat diatasi. Begitu juga dengan para pedagang, semoga diberikan kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Al Fatihaah. #PrayForSolo #PrayForKlewer



Friday, December 19, 2014

Dies Natalis UGM Ke-65

Hari ini bertepatan dengan Dies Natalis UGM ke-65, dengan tema "65 Tahun UGM Mengabdi", berbagai macam kegiatan untuk memperingati acara ulang tahun kampus telah diagendakan. Tanggal 14 Desember 2014 kemarin, salah satu pakdhe saya juga ikut serta dalam acara 'Niti Laku: Suci Nyawiji Datan Mangro'. Suci Nyawiji Datan Mangro adalah surya sengkalan dari tahun 2014 yang bermakna secara tulus bersatu, fokus pada satu tujuan, merupakan momentum silaturahmi seluruh anggota Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) dan para civitas academica UGM dalam suasana damai, penuh semangat serta kegembiraan. Ya, kebetulan banyak pakdhe budhe dari keluarga saya yang juga alumni dari UGM, mereka termasuk alumni angkatan lawas. Sementara generasi ke-tiga ini, saya dan adik lelaki saya Yostri yang meneruskan. 



Pakdhe kemarin cerita bagaimana acara tersebut berjalan, hari itu yang diagendakan dihadiri oleh banyak tokoh penting negeri ini yang--saya rasa tanpa kebetulan--dilantik dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi. I mean, you know lah... Bapak Jokowi juga alumni dari UGM. Jadi saya rasa pengangkatan menteri-menteri dari almamater yang sama juga bukannya tanpa tidak disengaja. Acara itu adalah acara niti laku perpindahan kampus Gadjah Mada dari Keraton Yogyakarta ke kampus Bulaksumur. Kata pakdhe lagi, peserta diajak menapaki rute perpindahan dengan berjalan kaki bersama, diiringi pasukan dari Keraton Yogyakarta: Pagilaran Keraton - Masjid Gedhe Kauman - Jl. Pangurakan/Trikora - Jl. Margo Mulyo/A.Yani - Jl. Malioboro - Jl. Kleringan - Jl. Margo Utomo/P. Mangkubumi - Tugu Yogyakarta Jl. Jend. Sudirman - Jl. Cik Di Tiro - Bundaran UGM - Jl. Pancasila/Boulevard - dan finish di Balairung UGM.

Seharusnya, acara niti laku itu bisa dihadiri oleh banyak tokoh menteri, pejabat, Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga Bapak Jokowi sendiri sebagai alumni UGM. Namun, berhubung telah terjadi  bencana alam longsor di Banjarnegara dua hari sebelumnya, maka para petinggi itu pun mengalihkan agenda yang sebelumnya di UGM langsung menuju ke Banjarnegara. Sehingga niti laku tersebut sedikit terasa kurang spesial. Ibu Rektor baru pun juga langsung meluncur ke lokasi bencana, karena beliau alumni Geologi, mengikuti instruksi Bapak Basuki Hadimuljono (Menteri PU). Jadilah acara tersebut hanya dipandu oleh Bapak Ganjar Pranowo selaku Ketua Kagama. Tetapi setelah selesai acara niti laku pun, beliau langsung meluncur ke lokasi bencana, dikarenakan beliau juga Gubernur Jawa Tengah. Hari itu, pakdhe tidak mengikuti acara sampai selesai. Beliau bersama beberapa temannya sesama anggota Kagama hanya meninjau beberapa proyek orang Geologi di sekitar Gunung Kidul dan Wonogiri, lalu pulangnya mampir ke Solo.

Ya, setidaknya Bapak Jokowi sudah membuka Festival Anti Korupsi beberapa hari sebelumnya di Grha Sabha Pramana bersama dengan ketua KPK. Setahu saya sih, sebelum Bapak Jokowi menjabat sebagai Presiden pun, beliau aktif dalam kegiatan Kagama. Bahkan saya pernah melihat langsung beliau datang saat acara Lustrum Kehutanan, almamaternya. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai Walikota Surakarta. Begitu juga dengan almarhum Prof Suhardi, mantan Ketua Umum Gerindra yang juga alumni Kehutanan. Beliau juga seangkatan dengan salah satu pakdhe saya. Cerita dari pakdhe, beliau juga selalu aktif apabila ada acara-acara yang mempertemukan Kagama.


Ya, begitulah kekeluargaannya alumni Gadjah Mada dan kecintaan mereka kepada almamater. Seperti makna Panca Prasetya Alumni UGM yang terucap dalam pengukuhan. Luar biasa, di masa-masa kuliah, saya selalu ikut serta setiap tahun dalam sosialisasi pendidikan tinggi ke sekolah-sekolah, baik yang pelosok maupun di perkotaan. Saya selalu mengulang-ulang cerita yang sama tentang asal mula Kampus UGM. Universitas negeri tertua yang di bangun atas prakarsa pribumi. Begitu haru-nya, saya selalu bangga ketika mereka--teman-teman lain sesama almamater--memberi ejekan pada warna almamater UGM yang--honestly, I dunno what color is it--saya justru dengan bangga menceritakan asal mula warna almamater ijo lumut khas UGM itu. Bagaimana perjuangan kalangan terdidik pribumi kita dan juga kerelaan dari Keraton Ngayogyakarta yang memberikan ruang bagi UGM untuk berdiri.

Saya ingat bagaimana ketika saya datang sebagai mahasiswa baru di tahun 2006, yang masih menikmati kuliah dengan bangku-bangku tua dan gedung tua Fisipol, baik kampus Sekip maupun kampus Socio-Yusticia. Para kakak tingkat yang waktu itu masih ada bahkan yang berpakaian seadanya dengan sandal jepit ke kampus. Masa dimana kantin Fisipol masih sering digunakan sebagai tempat diskusi berbagai macam aktivis. Saya ingat beberapa nama kakak tingkat yang kebetulan tinggal di depan kamar indekos. Salah satunya Mas Didi, dia punya banyak sekali teman-teman dengan berpenampilan 'nyentrik' yang datang dan pergi masuk kamarnya. Saya selalu menyapa mereka dengan sebutan 'Oom'. Semuanya anak-anak aktivis yang sering sekali ngobrol dengan 'tema berat' ditemani cangkir-cangkir kopi dan rokok. Wajah mereka tatkala menyapa saya "Hi, Bening!" terlihat kusut, sekusut teori-teori klasik yang saya dengar meluncur fasih dari mulut mereka. Pada masa itu, bahkan teman-teman saya anak Komunikasi yang cenderung sedikit lebih 'waw' secara penampilan, akan melontarkan pertanyaan: "Kenal dimana Ning sama mas-mas itu?". Entah dengan maksud apa, atau apa yang salah dengan look mereka. Memang sih, siapa yang tidak serem kalau melihat mas-mas itu. Ada yang berambut gondrong, kaos oblong seadanya, sandal jepit swallow usang, celana cargo pendek, tas ransel, rokok, belum lagi yang bertato atau pasang tindik di telinganya. Ada salah satu dari kawanan mas-mas itu yang saya panggil 'pakdhe', hingga teman-teman saya menyangka bahwa dia adalah pakdhe saya sungguhan. Bukan. Saya mengenal mereka dari pemikiran-pemikiran mereka yang luar biasa. Orang-orang luar biasa yang pernah berjuang di Tahun 1998 bersama para mahasiswa UGM lain di angkatan itu. Beruntung, saya bisa mengenal mereka, duduk bercengkerama menikmati kopi buatan saya di tempat indekos saya kadang-kadang. Ya, mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi perubahan roda pemerintahan negeri ini di tahun itu. Mereka menceritakan kelamnya masa-masa itu. Kepanikan dan keinginan untuk bangkit yang disertai dengan pertumpahan darah. Sungguh pertumpahan darah, kata mereka. Bahkan tidak jarang mereka berpindah-pindah tempat indekos karena harus menghindari militer saat itu. 

Berbeda sekali ketika saya melangkahkan kaki di kampus Fisipol yang sekarang. Tidak ada lagi bangunan tua itu, kini berganti gedung baru berlantai 5. Sudah tidak ada lagi tangga-tangga tua Fisipol yang biasa saya naiki terengah-engah saat telat kuliah dulu. Tidak nampak lagi bangunan Gedung Kuliah Umum milik Fisipol dan Hukum yang salah satu ruang besar di lantai 3-nya sering dijadikan tempat kuliah bersama. Tidak ada lagi ring basket di Gedung Kuliah Umum yang sering saya gunakan untuk bermain basket bersama anak-anak dulu. Tidak ada lagi Lapangan Sanshiro tempat anak-anak laki-laki biasa bermain futsal. Semuanya berubah. Namun, kenangan dan semangat dari Mas Didi dan kawan-kawannya itu tetap ada dalam ingatan saya. Semangat sesama warga Fisipol tidak ada yang berubah.

Selamat ulang tahun almamaterku, jayalah UGM!



Bening Rahardjo
-Fisipol Angkatan 2006-