Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Wednesday, March 29, 2017

Wisata Alam Rumah Pohon Banyu Anyep, Jatiyoso, Karanganyar

Hello again peeps! How was your weekend? Kalau saya sih, weekend kali ini lumayan seru. Kemarin saya habis jalan-jalan ke sebuah lokasi wisata baru di daerah kelahiran saya, Kabupaten Karanganyar, Solo. Anyway, lokasinya bernama Banyu Anyep. Kalian pernah ke kebun buah Mangunan di Imogiri, Yogyakarta; atau ke rumah pohon di Kalibiru Kulonprogo, Yogyakarta? This location offers you the best view that mixed by Mangunan and Kalibiru. Just visit to prove my words! 😊

Banyu Anyep, entah kenapa lokasi ini diberi nama Banyu Anyep. Tapi memang lokasinya sejuk, lebih sejuk dari Tawangmangu atau Sarangan. Sebelum masuk ke area rumah pohon, di depan ada sebuah tuk/mata air yang bisa digunakan siapa saja untuk cuci tangan atau sekedar membasuh wajah. Airnya memang super dingin. Pantaslah kalau lokasinya dinamakan Banyu Anyep.
Kalau kalian bertanya dimana lokasi wisata ini berada, silakan buka GPS (mungkin nggak ada sih di GPS, ahaa 😅 tapi minimal bisa mengakses daerah Jatiyoso). Kalau Anda berkendara, saya sarankan naik motor yang waras. Lokasinya bisa sih diakses dengan mobil, tetapi benar-benar harus lihai yang mengemudikan. Sebab jalannya sempit; curam; kanan-kiri berupa jurang dalam; agak berlubang; tanjakan dan tikungan juga ekstrem. Jika Anda berkendara dari arah jalan matesih-tawangmangu: setelah melewati lampu merah dekat pasar matesih ambil jalan yang ke arah tembus Jumantono. Kurang lebih jalan 1km, Anda akan bertemu pasar kecil (lebih tepatnya kios berjejer-jejer kalau siang hari). Ambil jalan ke kiri menuju Desa Beruk. Jika tidak ada di GPS, tanya pada penduduk lokal, pasti mereka tahu arahnya sebab Desa Beruk cukup dikenal oleh karena lokasinya yang sangat jauh dari kota. 

Eits, tapi jangan salah... Meski jauh dari kota, Desa Beruk sudah diisi dengan rumah-rumah penduduk yang megah dan mewah. Mungkin rata-rata bekerja di luar Jawa atau bekerja sebagai pedagang dan pemasok pertanian. Mobil yang diparkir di rumah-rumahnya juga sudah banyak yang bagus. Setelah melewati Desa Beruk ini, believe me or not....ternyata Anda harus melewati beberapa bukit lagi untuk sampai di desa yang tertinggi di Jatiyoso. Helppp..... 😲

Nanti di sepanjang menuju lokasi rumah pohon, Anda akan diarahkan dengan papan petunjuk sederhana. Sampailah Anda di Kelurahan Wonorejo, Jatiyoso. Lokasi dimana wisata Banyu Anyep berada.

Seru sih! Deg-degan sepanjang jalan membonceng motor. Mana waktu kemarin saya berboncengan dengan motor bebek, pas di tanjakan kebetulan ada penduduk lokal yang memberhentikan (Saya nggak tahu waktu itu ada kejadian apa, di kali. Mungkin ada yang terperosok atau gimana). Jadi lah motor kami tidak kuat naik ke tanjakan, yang mengharuskan saya gempor jalan kaki naik bukit 😂 Well done.

Don't imagine too much. Banyu Anyep ini bukan ditangani oleh Dinas Pariwisata alias masih ilegal, ditangani oleh penduduk setempat. Jadi masalah keamanan belum bisa saya jaminkan untuk Anda. Tapi mengenai view yang bisa Anda dapatkan di sini, saya jamin Anda tidak akan menyesal! Rumah pohonnya juga masih ditopang kayu penyangga seadanya, pengikatnya juga masih berupa kawat ringan. Plus lagi, wisatawan lokal banyak yang BELUM paham konsep keamanan! Heran saya...sudah dipasangi tulisan maksimal 4 orang di atas papan, tidak lebih dari 5 menit. Lah ini malah uyel-uyelan berebut buat eksis foto. Yaelah...hits boleh, cerdas tetap harus kali! 


Anda bisa melihat puncak Lawu dari dekat dan melihat kota Karanganyar, Wonogiri, Surakarta dari atas sini. Semoga pihak pemerintah daerah segera turun tangan mengelola lokasi-lokasi wisata lokal yang banyak hits di media sosial ini, sehingga bisa menarik wisatawan asing dan wisatawan dari daerah lain yak! 😉



Regards.



Sunday, March 19, 2017

Join BDK Cycling Club (Klub Gowes)

Selamat berhari minggu, teman!

Hari ini tadi diawali dengan mendung yang menggantung, saya pergi bersepeda bersama dengan klub sepeda kantor kakak. Hal baru lagi saya coba. Awalnya tidak tertarik untuk ikut gowes, apalagi gabung di klub pesepeda. Beberapa waktu lalu kakak menawarkan saya untuk gabung sebagai anggota klub sepeda kantornya. Saya ditawari membayar seratus ribu rupiah untuk menjadi anggota plus sebuah jersey club. Sempat nanya ini itu. 
"Entar kalau cuma gue yang orang luar kantor gimana Kak? Nggak mau ah, gue sungkan.." 
"Udah lu ikut aja. Lagian ini klub untuk umum, yang ikut itu kebanyakan para nasabah. Orang kantor mah malah pada nggak tertarik". 
"Serius nih? Tapi ntar gue naik  apa?"
"Ya naik sepeda lah, Oneng.. Namanya juga klub sepeda."
Hello brooo... gue mah juga tahu kalau gowes itu naik sepeda. Maksudnya...gue kan cuma punya sepeda polygon yang dipasang kerenjang di depannya. Is that make a sense for join the cycling club? Bisa-bisa sepeda gue paling unyu ntar. 😣
Akhirnya saya bergabung. And for the first info, hari minggu akan ada acara gowes bareng 10Km. Ya acaranya jatuh pada hari ini tadi. Waduh, 10Km? Awalnya mikir serem juga bayangin 10Km. Pulang pergi berarti udah 20Km. Belum jarak dari rumah ke tempat kumpul. Buat yang sudah senior gowes mah.. Pasti jarak segitu hanya kacang buat mereka *hormat suhu!*. Sanggup apa enggak ya saya sepedaan segitu jauhnya. Sepedaan paling jauh terakhir kali ya waktu ke sekolah jaman SMP. Lol 😝 Habis itu, saya sepedaan paling banter dari rumah ke alun-alun kota aja. Basmallah aja deh.

Berbekal sepeda yang saya punya, jersey polyster bagus, sepatu olahraga yang nyaman dan air minum, akhirnya saya berangkat juga ikut acara klub. Anyway, setelah dijalani ternyata it was fun! Huulaa.. Kumpul sama bapak-bapak yang usianya rata-rata pensiunan sih, seru juga. Mungkin yang usia 30-40 hanya beberapa, malah yang sudah sepuh lebih mayoritas. FYI, sepeda mereka ya sepeda untuk gowes yang memang mehong harganya. Jauh lah kalau dibandingkan sepeda saya yang apa atu. Awalnya dijalan yang menanjak curam saya nggak kuat, masih dituntun. Beginner. Harap maklum. So far, menyenangkan sekali ternyata. Serasa di negeri oranye yang kemana-mana pakai sepeda gowes. Pantesan orang barat lebih kuat secara fisik dibanding kita, karena kita kemana-mana naik motor mobil. Mau beli sesuatu ke warung yang hanya 30 meter aja naik motor. Lah orang barat lebih suka bersepeda dan jalan kaki. Hal positif yang baik dicontoh.

Pengalaman pertama saya sih ada beberapa kendala, seperti:
  1. Kram (actually, saya nggak pemanasan lebih dulu. Padahal pemanasan kaki, tangan dan badan itu penting. Jangan asal mengayuh sepeda saja).
  2. Tidak kuat di tanjakan curam. Nih ya gaes.. Ada triknya ternyata mindah-mindahin geer sepeda itu. Bodohnya saya karena nubie, asal aja pindah geer. Emang sih kalau tanjakan landai, cukup main feeling. Maksudnya, kalau masih kuat tanpa pindah geer ya diusahakan tetap mengayuh/jangan berhenti.
  3. Alat pompa portable. Ya, saya lupa bawa alat ini. Penting sekali, kalau ban kita kempes di jalan, tidak perlu cari bengkel. Bahkan untuk mereka yang sepedanya dah mahal-mahal itu, ternyata punya alat emergency untuk menangani permasalahan sepedanya sendiri loh gaes.
  4. Handuk kecil. Baju jersey yang dipakai biasanya gampang dingin karena keringat , apalagi saya pakai jilbab begini. Keringat udah basah aja di dada dan punggung. Nah, biasanya para pesepeda bawa handuk kecil minimal untuk mengelap keringat. Pada tahap jarak yang lebih jauh, biasanya mereka bawa baju ganti. Agar tidak terjadi paru-paru basah, angin duduk atau masuk angin.
  5. Minyak gosok. Penting! Apalagi kalau sewaktu-waktu terjadi kram.
Itu sih beberapa yang saya pastikan lain kali kalau ikut gowes lagi harus dibawa. Memang rasa kekeluargaan sesama pesepeda satu klub itu besar ya. Contoh kecil waktu saya mau parkir sepeda, harus menjinjing melewati trotoar tinggi, salah seorang bapak langsung menawarkan bantuan dengan sigap. Apalagi karena saya perempuan dan paling muda diantara mereka 😄


Jadi gimana, kalian ada yang tertarik gabung klub gowes? 😉


Regards.



Monday, February 27, 2017

Life List: Pengalaman Pertama Mendaki

Hi guys, postingan saya kali ini mau bahas seputar pendakian. Pasti kalian punya dong Life List yang ingin kalian lakukan minimal sekali dalam hidup? Demikian juga dengan saya, salah satu hal terbesar dalam hidup yang ingin saya lakukan adalah mendaki. Bagi banyak orang, mungkin melakukan pendakian ke gunung-gunung adalah hal normal dan biasa dilakukan. Tetapi bagi sebagian orang lain dengan kondisi fisik yang kurang beruntung, mendaki mungkin akan menjadi pengalaman berharga yang ingin mereka lakukan minimal sekali dalam hidup. Pengalaman saya kali ini adalah kali pertama dalam menaklukan ego saya dan diri saya sendiri. Kalau ada yang bertanya apa sih motivasi naik gunung? The truth is, saya ingin merasakan sensasi mendaki seperti yang banyak orang ceritakan, meski dengan kekurangan-kekurangan yang saya miliki. Banyak orang bercerita bahwa kalau kamu ingin tahu dirimu yang sebenarnya, cobalah mendaki gunung. Semua watak aslimu akan keluar. Dulu sih nggak begitu paham. KKN UGM selama 3 bulan di tempat yang terpencil nggak ada sinyal dan sangat jauh dari modern, menurut saya itu juga bisa memunculkan watak asli seperti apa hanya dalam seminggu di rumah pondokan hehehe :p


Nggak sih, itu hanya salah satu motivasi. Salah dua yang lain adalah rasa minder saya. Minder? Kok bisa? Iya. Sejujurnya, saya sering sekali iri melihat banyak teman yang sering pamer foto muncak. Bawa-bawa bendera merah putih di puncak. Bawa-bawa tulisan "Elu dapat salam dari ketinggian sekian Mdpl" (oh gosht!). Atau yang paling ekstrem adalah foto bergandengan tangan (dimana hanya tangan si pengandeng doang yang kelihatan) di puncak sama pasangan, sambil dikasih caption ala-ala "Jangan lepaskan genggamanmuuu oooww...." (somehow, malah mirip liriknya Tulus). Sering sih mikir, mereka naik puncak segitunya ya persiapan bawa tulisan segala, trus mikir mau foto pose begini begitu, dll. Who knows guys, mungkin saya aja yang terlalu iri. Eh tapi betul loh, kalau niat awal kalian mendaki untuk lebih memahami diri dan memaknai hubungan dengan alam; hubungan dengan Sang Pencipta, kalian pasti nggak akan se-alay itu untuk pamer ke khalayak.. Peace to all! xD  

Another reason is.... the guy who has my heart (ahiyy!), adalah seorang anak gunung banget deh. He named hiself as a traveler, nature lovers. Gileeee....mimpi apa saya jadi secret admirer orang macam begini hahahaha. Bertolak belakang banget sama saya. Saya adalah orang yang homey sekali. Clue for me: family, sensitive, fragile, books, art, theater, basketball, fashion, advocacy, social. Jauuuh dari kata traveling. Oke lah, saya suka melakukan vacation at least thrice in a year, but ya nggak pernah naik gunung. Sampai suatu ketika, saya selalu menemukan postingan-postingan doi yang pakai caption begini: "Wanita yang hobi traveling dan hiking itu istriable banget". Nah loh! Seketika saya mikir...emangnya wanita yang rumahan banget, yang lebih senang menghabiskan waktu dengan buku, teater, hobi basket dan nonton basket, seni lukis, mengamati perkembangan fesyen, hobi nulis dan uji coba masak; isn't she worth for a wife? Lol. God, beruntungnya para wanita yang diberkahi dengan fisik yang sehat dan kemampuan untuk bisa olahraga lari marathon dan naik gunung. Saya jadi bercermin ke diri sendiri. Olahraga lari aja harus dengan advice yang benar dari dokter. Udara dingin juga saya tidak kuat, susah nafas dan jantung jadi agak nyeri. So, dari situ...saya punya tekad dan list of life untuk minimal sekali dalam hidup naik gunung. Bukan berarti untuk menunjukkan ke si dia itu loh ya. That's a cheesy. Kalau saya mau pamer mah, saya upload foto terus saya tag dah si doi, pakai caption: "Eh, gue udah istriable banget looh!". Hahaha. NOPE. Buat saya, yang terpenting adalah berkompromi dengan tubuh dan diri sendiri. Itu saja.


Lanjut cerita, bagi teman-teman yang sering naik gunung pasti familiar dengan apa yang musti dipersiapkan; bekal apa yang harus dibawa terutama pada gunung yang masih aktif yang masih berbau belerang;  juga medan seperti apa yang bakal ditemui. Namun, bagi mereka para pemula dan orang-orang yang belum pernah sama sekali mendaki, pasti akan sangat memerlukan sharing pengalaman. So, the story begins from this...

Sekitar dua minggu lalu saya baru saja pulang dari 'muncak' (God...baru pertama kali dalam hidup rasanya saya nuliskan kata ini). Jujur, due to my medical health history, saya memang sangat dilarang untuk melakukan aktivitas berat oleh dokter; apalagi aktivitas seperti naik gunung, membayangkannya pun tidak. Bagi penderita jantung seperti saya, sangat berbahaya jika memaksakan diri. For some reason, finally I could fill one of my llife list. But then, I gave my best advice to you--person with the same medical health history--DON'T DO ANYTHING THAT COULD ENDANGER YOURSELF. That's all.

Jadi saya melakukan perjalanan ke salah satu gunung di daerah Dieng bersama dengan rombongan. Sekian orang yang bergabung, hanya saya kira-kira yang masih single; sedang yang lain bergabung bersama dengan pasangan mereka. It was okay. I mean, literally okay until I found difficulties with me. Bukan masalah baper loh ya. Yaelah, masalah apalagi sih selain yang saya ceritakan di atas. Yup kondisi jantung yang tidak stabil. The thing became worse when you chose the wrong time for traveling. Ya, waktu itu saya pikir pertengahan bulan Februari sudah masuk ke spring season. Well, ternyata sampai seminggu sebelum tanggal keberangkatan cuaca masih sama dinginnya. Curah hujan tinggi, angin kencang dan udara yang begitu dingin.  

The day was coming.

Berangkatlah saya dengan bekal winter jacket, duck boots anti licin, gloves, hat, socks, wool scarf, baju berlapis-lapis, jilbab langsungan yang super comfy dan hangat. Beberapa hari sebelum berangkat saya sudah prepared macem-macem tuh; mulai dari make up yang bakal dipakai biar kulit nggak kusam dan kering (dari sekian banyak persiapan entah kenapa harus ini yang muncul di benak saya saat itu. Lol!); juga bawa bekal makanan snack untuk nyemil biar bisa ngilangin dingin kalau ada api unggun (dikira kemah pramuka kali ya hahaha). Alat mandi; minimal sabun cuci muka, sikat gigi dan tooth paste. I told you nih, sampai sana hilang semua angan-angan kamu bakalan gosok gigi ataupun cuci muka. Hilang semua selera mengunyah snack atau minum orange water. EVEN, my most gold chimera....doing make up biar muka agak kinclong saat foto-foto; maupun angan-angan bakalan ada api unggun. Hell! Semua itu nggak bakalan kalian lakukan. Buat menangkal udara dingin yang begitu menusuk tulang aja kita udah sangat payah, apalagi mau make up an. Hahaha, the stupid thing I've ever dreamed saat mau muncak. Yah maklumin aja ya, anak baru xD


Jadi pastikan saja kalian bawa ini:
  • Baju hangat dan jacket yang tidak gampang basah saat terkena kabut, sebab ini bahaya untuk paru-paru kalian juga ya.
  • Jangan pakai celana yang terlalu skinny dan berbahan tipis, kalau ada sih celana cargo untuk naik gunung; atau jeans biasa yang nyaman.
  • Kalau memakai jilbab, pakailah jilbab yang aman dan nyaman. Nggak ribet dengan peniti dan jarum pentul dan inner dan lain-lainnya. Lol.
  • Sepatu usahakan yang bawahnya tidak licin, agar saat kalian mendaki dan berpijak pada batu-batu yang licin, tidak mudah terpeleset.
  • Masker, kaus kaki, sarung tangan, topi penutup telinga, dan wool scarf
  • Obat-obatan khusus; plester, tissue basah, kantung plastik (untuk membuang sampah agar tidak mengotori puncak, saat turun kalian bisa membuangnya di tempat pembuangan sampah)
  • Air minum (sumber kehidupan, fungsi lainnya ya saat nggak ada air di puncak bisa kalian gunakan untuk wudhu emergency)
  • Roti, makanan yang gampang dimakan. Kemasannya tidak ribet untuk dibuka.
  • Tas ransel yang kuat
  • Kompas dan peluit.
  • Senter biasa/head lamp (yakin kalian akan butuh ini) 




Singkat cerita, rombongan saya harus berpindah dari bus besar ke kendaraan omprengan mini untuk bisa menjangkau lokasi. Masih tengah malam kami harus menyusuri jalanan sepi, kecil, licin, berkabut tebal. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari shalter bus besar tadi, kami sampai di desa terakhir untuk menuju lokasi. Oh ya, the sad news was...tepat 3 kendaraan di depan kami, satu rombongan kendaraan tergelincir ke jurang. Suasana jadi bertambah mencekam. I couldn't tell you in detail, but the weather was really bad. Even our driver also said he had a few days bad weather conditions there. When I looked out the window, fog obscured the view. Visibility to the front was only about 1 until 2.5 meters. Really bad. Sampai akhirnya sempat berhenti beberapa menit, hingga 3 kendaraan di depan kami tidak berani melanjutkan perjalanan. Sopir rombongan kami membuka jalan untuk yang lain dengan sangat lihai dan hati-hati. Mendebarkan. Kurang lebih 1 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di parkiran terakhir untuk menuju pintu masuk ke puncak.

Pukul hampir setengah 1 dini hari, guide kami mengumpulkan tim untuk berdoa bersama, sempat beliau mengatakan bagi anggota rombongan saat itu yang merasa tidak kuat secara fisik untuk ke atas, sebaiknya tidak melanjutkan. Sebab, memang kami diberi peringatan dari pos penjagaan di pintu masuk bahwa cuaca sangat buruk, bisa jadi jarak pandang semakin ke atas semakin tipis. Kami memang mengejar sunrise pagi itu dari puncak, berharap akan cerah tanpa kabut. Cuaca begitu dingin berkabut hingga ketika saya membuka masker bisa berhembus uap dari mulut saya. Lembab dan basah. Saya membuka hp saat itu sinyal masih agak bagus, suhu terakhir adalah 9' Celcius. Okaaay......here we go.... Sempat terpikir untuk tidak ikut ke atas, tapi akhirnya I challenged myself. Bismillahirrohmanirrohim... In the name of God, with His Almighty, I have to do this, batin saya waktu itu. I didn't bring my med, actually...

Berangkatlah kami dari pos pertama melewati jalan menanjak yang sudah dibuat dengan bata-bata awalnya, makin lama makin tidak kelihatan karena tebalnya kabut dan gelap. Medan yang kami lalui juga makin lama makin berupa bebatuan besar, belum lagi angin yang mashaa Allah kencangnya. I never imagined in my whole life would be in a situation like that. LIKE THAT, Gusti....enteng banget saya ngetiknya. Hahaha. Sepanjang jalan yang bisa kami ucapkan dalam hati hanya doa-doa, perbanyak dzikrullah dan mengingat bahwa there's no power without His Name, Allah SWT. Setelah melewati pos kedua, saya makin merasa lelah luar biasa. Ya gimana ya, olahraga yang biasa saya lakukan hanya lari kecil dan yoga sederhana aja. Routine sih abs workout 7 menit. Nah ini tiba-tiba harus melalui medan menanjak begitu. Jantung saya rasanya berdebar tidak keruan dan panas. Nafas semakin memburu dan terengah. Rasanya dada mau meledak. Beristirahat namun tetap berdiam dan berdzikir dengan lafaz perlahan. Gilaaa aja, saya nggak mau tiba-tiba bikin susah satu team rombongan di situ. Makanya dalam hati saya cuma bisa bilang KAMU HARUS KUAT, NING! Inget seorang teman dulu pernah bilang, hal-hal yang pantang kamu ucapkan saat mendaki adalah mengomel, mengeluh, atau dalam bahasa jawa 'nyelathu'. Jadi sebisa mungkin saya membatin pada diri saya sendiri untuk tidak mengeluh. Melewati pos ke-dua, medan semakin terjal dan berat. Angin juga luar biasa kencang (SERIUS!). Langkah kami juga tidak kelihatan, hanya berbekal feeling saja sih. Dalam hati kami masing-masing waktu itu saya yakin, pasti sama membatin: Gue salah milih tanggal pendakian! Lol. Yah, as you know saja, dari jumlah rombongan kami itu, hanya empat orang saja (termasuk guide) yang pernah punya pengalaman naik gunung, yang lain it was the very first moment layaknya saya.

Akhirnya setelah melewati pos terakhir.....Kami benar-benar sampai di PUNCAK. OMG! 2565 Mdpl! Entah berapa lama perjalanan kami ke puncak (mungkin sekitar 3 jam lebih), yang jelas sampai sana saya langsung shalat subuh. Hell! Nggak ada air di atas, dengan susah payah kami hanya berwudhu memakai botol air mineral seadanya. Selesai sholat (di udara sedingin itu, I didn't know sure seberapa celcius, yang pasti....dari awal aja udah 9'C...kira-kira di atas dengan kabut setebal itu dan angin sekencang itu, saya cuma bisa memperkirakan suhu di bawah 5'C pastinya. Sebab HP saya juga sudah tidak ada sinyal. Kami berharap kabut bisa segera menipis agar golden matahari terlihat. Apesnya kami....hingga pukul 6 pagi, matahari tidak juga terlihat karena tebalnya kabut dan cuaca yang sangat buruk. WORTH THE JOURNEY. Hahahaha. Sarkas deh.

Ya, itu pengalaman pertama saya naik gunung. Belum setinggi Lawu atau gunung lain sih, tetapi buat saya pribadi dengan riwayat kesehatan yang saya sebutkan tadi, untuk bisa mencapai tempat setinggi 2565 Mdpl adalah pengalaman yang luar biasa hebat dan tidak akan terlupakan. Meski tidak bisa melihat matahari karena kabut dan cuaca yang tidak mendukung, saya serombongan tim tetap bersyukur. Gave a check for one of my life list! :)




- Bening Rahardjo-




Sunday, November 16, 2014

Berenang di Pegunungan Menoreh? Brrrr...


Sewaktu saya membuka-buka kumpulan folder dalam album foto di laptop lama, saya menemukan video ini. Well, sebenarnya ini video yang saya rekam sudah beberapa tahun yang lalu. Di dalam video ini ada beberapa wajah teman-teman saya yang juga sudah cukup lama tidak bertemu. Kalau tidak salah video ini saya rekam sewaktu menemani kedua teman lelaki berenang. Saya, Keiko, Andar dan Narto yang memang sudah cukup lama tidak merasakan air kolam renang, akhirnya bersuka-cita dengan semangat 45 bermain air. Namun, bisa Anda bayangkan sendiri berenang di pegunungan dengan suhu yang sangat dingin dan tentu saja juga dengan air kolam yang superrb dingin. Masa-masa kegiatan kampus yang mentakdirkan kami harus menikmati waktu beberapa lama di Pegunungan Menoreh. Kolam renang ini sepi sekali, jadi serasa kami sewa untuk bermain-main berempat. Namun, karena tidak betah dengan hawa dingin saya dan Keiko 'mentas' duluan sambil merekam kekonyolan Narto dan Andar yang melakukan beberapa pose dalam berenang. Masa-masa yang cukup konyol, menghibur diri dari kepenatan jauh dari hiruk pikuk kota haha :D

Ps: Untuk Narto, Andar ataupun Keiko yang kebetulan nemuin postingan ini, ini bukan untuk malu-maluin kalian hlo, tapi video ini memorable banget! Aku ketawa ngakak terus nonton video ini dan satu video lagi yang lain. Rasanya ingin reunian ke Menoreh lagi sama kalian! :')



Regards,

Bening Rahardjo


Sunday, October 5, 2014

Day 13 Blog Challange: 10 Place to Visit in Around The World

1. Taka Bonerate Island - Indonesia




2. Heidelberg - Germany



3. Valencia - Spain


4. Lake Thun - Switzerland 



5. Lighted Cherry Blossom Lake - Japan



6. Rhone-Alpes - France


7. Autumn in Nami Island - South Korea


8. Texas Riverwalk - United States




9. Venezia - Italy

10. Santorini - Greece





Wednesday, April 30, 2014

Indrayanti Beach: The Cryptic Angel

Hi travelista!
Have you ever heard of Pantai Indrayanti or Indrayanti Beach? It's a new tourist resort on south coast of Yogyakarta. The beach has white sand, crsytal distict ocean water, and complete with cottages and restaurants that surrounds it. Because the place is uncalculated than Parangtritis, so the place is still very lush. 

How to get there?

Here's the map *just click to large it*

It's located at east of Sundak beach, precisely at Desa Tepus (Tepus Village) on district Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta (it may taken approximately 2 hours from Yogyakarta). Though here's no Indrayanti Beach written on the map, but you can see clearly, Indrayanti Beach located between Sundak Beach and Siung Beach. You can travel through Tepus Village fork to the south. Then if you are in doubt, you can ask local people for the right direction to Indrayanti Beach.

Actually there are many other beaches on Wonosari coast which are still pure from travelers. This is list of beautiful beaches in Gunung Kidul

The white sand beaches at Gunung kidul

I may say Indrayanti Beach is similiar with Kuta Beach at Bali. Don't believe me? Okay, check this pictures then...

Indrayanti beach's gate 
Indrayanti view from the hill
The gazebo and stilt houses
View from gazebo
The bench to sit and enjoy the wind blow

What facilities at there?


Here you can enjoy a romantic dinner in cafe around the beach, with the wind and sound of wave. It will certainly become unforgettable romantic expertise too. You can choose seafood menu here. You can take rest at bench or gazebo, there are also stilt houses and honai houses (typical house of Papuan tribes, made ​​of straw/fringe/grass). You should pay only 5000 rupiahs for admission. 

Here's the price list of resort at Indrayanti Beach

You can enjoy the sunbathe here...
Beautiful, isn't it?
Fresh fish with coconut ice...
Dont forget to try "SAMBAL" (fresh chillies grounded with bit salt and onion)
Dried sea plants
Dont forget to buy souvenirs too :)

What do you think? Are you interested to travel to Yogyakarta? :)


Regards,

-BR-

Friday, April 25, 2014

Amazingly-Mozzie-Tastic of Karimunjawa Island

Have you ever heard about Karimunjawa Islands? Perhaps people been very familiar with Bali Island. Even traveler was told that it's not enough just 100 days to venture around all islands in Indonesia (with its whole cultural and exotic tourist resort). Yes, maybe Indonesia is identical with Bali Island. But in fact, there are so so soooooooo many tourist destinations in Indonesia which are interesting to visit beside Bali Island. One of them is Karimunjawa Islands. 

From thousand beaches in Indonesia, Karimunjawa is one of the best beaches. It's really beautiful and unforgettable. For me, Karimunjawa is one of island that you are required to visit. Besides quiet, this island offers you peaceful place unparalleled. You can find peaceful at the edge of beach. The clean white sand, friendly people, clear blue water, fresh air and wealth marine. Exciting isn't it?

This island is located in district of Karimunjawa, Jepara, Central Java Provinces. Since 200, Karimunjawa was defined as National Park with an area of ​​111.625 hectares. Karimunjawa Islands is included in 27 island clusters in Java. This island is lowland with its tropical forest. There are 5 islands inhabited by local people, including Parang Island, Nyamuk Island, Kemujan Island, and Genting Island.

How to get there?

Here's the map:
Central java map in capture
From the map above, we can see there are two ways to get Karimunjawa Islands. Remember, if you leave whether from Semarang or Jepara, it will affect to the ship cost, and also it depends on what class you choose. Here I write for you guys the update schedule and cost from Central Java Provincial Culture and Tourism Office (2014), but price can be change every time. 

1. First, you can leave from Tanjung Mas Harbour (from Semarang) to Karimunjawa Harbour 

by KARTINI 1 SHIP

Here the schedule:
A. Semarang - Karimunjawa :     Saturday       09.00-13.00 (Indonesia West Side Timing) /WIB
                                                            Monday        08.00-12.00
B. Karimunjawa - Semarang :     Sunday         14.00-18.00
                                                            Wednesday   13.00-17.00
Ticket Price:
Executive         Rp 150.000,-
Business           Rp 130.000,-

2. Second, you can leave from Kartini Harbour (from Jepara) to Karimunjawa Harbour

by KARTINI 1 SHIP
Here the schedule:
A. Jepara - Karimunjawa :        Tuesday              09.00-11.30 (Indonesia West Side Timing) / WIB
B. Karimunjawa - Jepara :        Wednesday         08.00-10.30

Ticket Price:
Executive         Rp 90.000,-
Business           Rp 80.000,-

by MURIA SHIP
Here the schedule:
A. Jepara - Karimunjawa :        Monday              09.00-15.00 (Indonesia West Side Timing) / WIB
                                                           Wednesday         09.00-15.00
                                                           Saturday              09.00-15.00
B. Karimunjawa - Jepara :         Tuesday              08.00-14.00 (Indonesia West Side Timing) / WIB
                                                           Thursday             08.00-14.00
                                                           Sunday                08.00-14.00
Ticket Price:
Economy         Rp 30.000,-
VIP                    Rp 80.000,-

by EXPRESS CANTIKA
Here the schedule:
A. Jepara - Karimunjawa :          Monday             10.30-12.00 (Indonesia West Side Timing) / WIB
                                                             Tuesday             10.00-11.30
                                                             Friday                14.00-15.30
                                                             Saturday            10.30-12.00
B. Karimunjawa - Jepara :           Monday            13.00-14.30 (Indonesia West Side Timing) / WIB
                                                            Wednesday       10.00-11.30
                                                            Saturday            08.00-09.30
                                                            Sunday              14.00-15.30
Ticket Price:
Executive          Rp 85.000,-
Business            Rp 110.000,-

But keep in mind, travel to Karimunjawa is not easy as you go somewhere else, due to air waves which is sometimes can not be crossed, so you need to know first if the date and month that you specify can be traversed or not. If you don't take info details, you can stuck on the island for a week. If you have lots money to trip, you can take chartered plane from Ahmad Yani Airport in Semarang to fly to Dewandaru Airport in Kemujan Island. Look at map below.

Karimunjawa Islands map *click to large it

At Karimunjawa Islands you can see many variety of marine biota and fauna that refresh your eyes. Among them are deers, long-tailed-monkeys and hundreds of aquatic fauna. If you move closer to Geleang Island and Burung Island, there is kind of rare fauna such as white-chest-sea-eagles, hawksbill and green turtles. In Menjangan Besar Island you can enjoy the beauty of ornamental fishes, sharks, and other fishes. You also can go to the breeding of white and grey sharks, then swim together with them (just if you're brave for the dare).
Welcome sign will welcomes you at the harbour
The view is perfectly PARADISE!
Cottages near the beaches
All facilities are complete, such as hotels, house inn, restaurants, mosque, and souvenir stalls. There are Amore Cafe and Restaurant if you want some entertaining place at night. You also can buy local handycraft such as salted fish, dried fish, or things made from local famous wood carving. There are 3 local wooden such as Dewandaru, Setigi and Kalimasada. Local people believe that each wood has different symbol and meaning. 

New Ocean hotels
Karimunjawa Inn hotels
Besides our stomach and sleep needs, there are also complete facilities for swimming, snorkeling and diving. Even more, there is glass bottom boat that we can rent if you can not swim.

Snorkeling
Diving
Swim around grey sharks :d
Are you challenge for this? :d
You can also taste the typical-Indonesia-food with fresh seafood and rice (and don't forget to taste the sambal--fresh chilli sauce that grilled). It's only 50 thousands rupiahs for big fish--it's enough for three). Or you can go to Alun-Alun at night to taste Nasi Goreng and Satay, with yummy dessert Pisang Owol (grilled bananas with cheese and chocolate) and also Martabak Telor/Martabak Manis (fried egg and spring onion pancakes). It's cheap but really tasty!


You can do beach-sitting here and enjoy the air
Beautiful marine biota


So, have you put Karimunjawa Islands in your vacation destination list? :)