Friday, July 4, 2014

Budaya Membaca dan Menulis




"You can make anything by writing" - C.S Lewis
Dewasa ini kita sering kali dimanjakan oleh kemajuan teknologi dan informasi melalui media elektronik terutama jaringan internet. Kemudahan mendapatkan akses jaringan internet sudah bisa kita rasakan bahkan tanpa melalui computer, cukup dari handphone berlabel ‘smart’ saja kita sudah bisa mengakses internet melalui fitur-fitur yang tersedia. Ada manfaat besar yang bisa kita rasakan dari perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat ini. Namun juga tentu dalam semua evolusi ada dampak yang ikut muncul di dalamnya. Entah dampak positif maupun negatif, semua memiliki konsekuensi.

Sekarang adalah jamannya teknologi, dimana semua orang bisa dengan mudah mengakses informasi apapun dari internet. Ada keuntungan dan ada kekurangannya. Bagi entrepreneur, keuntungannya adalah kita tidak harus berkantor di satu tempat. Kita bisa berkantor dimana saja sepanjang kita punya akses teknologi yang baik. Klien juga tidak harus dari ranah local saja, tapi bisa mencakup klien yang lebih luas. Informasi dan pengetahuan juga bisa kita pelajari dari internet. Namun, kekurangannya adalah kita menjadi malas dengan cara belajar konvensional. Semua yang konvensional sudah mulai ditinggalkan orang. Padahal tidak semua cara belajar konvensional itu tidak lebih baik dari pembelajaran berbasis teknologi seperti yang terjadi saat ini. Contohnya, dulu untuk mendapatkan gambaran atau menjawab suatu kasus empiris yang ditemui dalam dunia pendidikan, seseorang harus membuka buku (bahkan tidak hanya satu buah buku saja) guna mendapatkan jawaban dan gambaran tersebut. Namun saat ini, orang cenderung memilih mencari jawaban melalui mesin pencari Google di internet. Cukup dengan satu atau dua keyword saja sudah muncul berpuluh-puluh tautan di dalamnya. Bisa kita pilih salah satu dengan mudah. Tidak perlu menulis ulang atau mengetik ulang seperti yang dilakukan orang secara konvensional, tetapi cukup dengan copy-paste lalu jadi. Nah, kebiasaan buruknya adalah budaya 'copy-paste' ini juga diaplikasikan di dunia pendidikan formal, sehingga yang banyak terjadi adalah kasus plagiarisme. 

Esensi dari dunia pendidikan sekarang sudah banyak melenceng, siswa bukan lagi fokus pada budaya membaca dan menulis, tetapi hanya terfokus pada bagaimana caranya agar lulus Ujian Nasional. Ilmu bukan lagi hal utama ketika seseorang menempuh pendidikan, tetapi yang paling utama hanya sebatas pada “nilai” dan “tittle”. Bagi mereka, toh tanpa membaca buku-buku teori yang dianggap sangat konservatif tadi, mereka juga bisa lulus dengan nilai yang baik. Kemudian cara-cara pragmatis pun dilakukan. Kehidupan dunia selalu berevolusi. Teknologi menjadikan sebagian besar generasi Y atau generasi Echo Boomer jauh dari budaya membaca dan menulis. Generasi Y mungkin unggul dalam hal multitasking, tetapi ketergantungan pada teknologi juga menjadikan mereka memiliki pola pikir pragmatis, serba instant dan egosentris. Tujuan pragmatis, laku pragmatis, pemikiran pragmatis. Konsep ini bahkan sudah dimulai dari budaya di dalam keluarga dan di dalam institusi pendidikan. Fenomena “membaca elektronik” lebih berkembang dari sekadar membaca “buku manual”. Jangankan buku teori yang setebal alas tidur, buku-buku karya sastra saja semakin tidak diminati.

"Melihat dan mendengarkan itu kodrat manusia. Tidak perlu diajari, tidak perlu dibiasakan. Tetapi negara yang besar dan maju itu karena selalu berusaha menge'mbangkan budaya baca dan tulis. Apapun, salah satunya adalah sastra. Sastra itu melengkapi semua yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Para sastrawan membuat karya sastra bukan tanpa dasar, melainkan dari perjalanan hidup. Dimana diharapkan akan bisa menjadi batu loncatan kehidupan"
- Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa Solo
Menurut sastrawan Ahmad Tohari dalam acara bedah novel "Dari Kota Solo hingga Brattleboro", remaja saat ini lebih berminat pada buku-buku dengan label 'best seller' yang bernuansa komedi gaul. Buku-buku seperti ini tidak memerlukan penelitian, tidak memerlukan riset, tidak memerlukan penegasan. Semua yang ada di internet juga bisa diracik menjadi tulisan kemudian diterbitkan. Banyak penerbit yang memerlukan eksistensi, banyak penulis yang memerlukan ketenaran. Masyarakat sendiri justru menikmati bacaan yang bersifat ringan dan menghibur, mereka tidak tertarik membaca bacaan 'berat' dan yang memerlukan waktu lama untuk mencerna. Para terpelajar semakin jauh dari budaya membaca, apalagi budaya menulis. Bagi mereka budaya 'copy paste' jauh lebih praktis. Mudah, murah, cepat dan tidak perlu berpikir terlalu lama. Memang banyak yang ingin menulis, tetapi juga masih bersifat karya instant. Tidak semua berimbas baik untuk kehidupan manusia itu sendiri. Menulis menumbuhkan kreatifitas dan merangsang perkembangan otak bagi pelakunya.


"We first make our habits, then our habits make us" - John Dryden, kritikus sastra Inggris
Oleh karena itu, anak-anak generasi Z yang sedang dalam masa pertumbuhan saat ini harus dibiasakan dengan budaya membaca dan menulis, agar budaya membaca dan menulis tidak hilang dari kehidupan sehari-hari. Mengenalkan anak pada dunia membaca dan menulis akan sangat bermanfaat untuk perkembangan baik otak maupun psikis. Melalui budaya membaca dan menulis, artinya kita selalu memberi asupan dan mengajari pikiran serta jiwa. Sedang memberi asupan untuk pikiran dan jiwa itu adalah fitrah manusia yang baik, sebagai loncatan dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Bagaimanapun, generasi Z akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Semoga dengan semakin canggihnya teknologi pendukung untuk generasi Z nanti, tidak menggerus esensi dari dunia pendidikan yang sebenarnya. 



Regards,


Bening Rahardjo




Thursday, July 3, 2014

Waiting for "Pilpres" 9 Juli 2014

Sudah siapkah Anda untuk Pemilu tanggal 9 Juli nanti?

Seminggu lagi Warga Negara Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi terbesar untuk menentukan pemimpin Negara, ya, tanggal 9 Juli pemilihan presiden secara langsung tentunya sudah sangat dinantikan oleh seluruh masyarakat. Sudah mantapkah pilihan Anda? Masing-masing punya jawabannya. Bahkan teman saya yang kuliah di Belanda sudah mengabari akan melaksanakan pemilu tanggal 5 Juli nanti. Jujur, saya pribadi sudah jengah dengan money politic, black campaign dan immature-nya masyarakat kita dalam menyambut 9 Juli nanti. Bagaimana tidak? Saya yakin, anda yang punya pikiran ‘waras’ pasti juga sama jengahnya dengan saya. Ya bagaimana tidak saya sebut immature, kalau setiap hari menonton berita di televisi isinya malah saling menyudutkan. Masing-masing media memuat pemberitaan yang condong kepada salah satu capres. Saya coba beralih ke koran langganan harian, ternyata sama saja. Sekarang koran langganan saya pun sudah condong ke salah satu capres. Bahkan hingga kalawarti Jawa langganan mingguan saya pun juga sudah tidak netral. *sigh* Saya coba membuka timeline twitter isinya juga saling serang sana-sini, saling tuduh sana-sini dari masing-masing pendukung capres-cawapres.  Di twitter, tidak hanya tokoh masyarakat, artist, bahkan hingga mereka yang ‘dianggap’ sebagai pemuka agama pun tidak terlepas dari kondisi immature politik seperti sekarang ini. Apalagi masyarakat umum, dari yang merasa paling pintar, paling tahu, hingga paling-paling yang lain. Padahal, banyak diantara mereka yang ternyata masih pemilih pemula. Ada pemilih pemula yang sudah merasa paling pintar bahkan sampai merasa sudah sedemikian 'oh-so-yes' dengan menyudutkan Capres tertentu *dalam hati: tahu apa to kamu Le...mbok ya sekolah dulu yang bener, belajar yang rajin, baru komentar*. Aksi unggah DP twitter pun juga tidak kalah menarik. Mulai menjejerkan foto dengan nomor urut pasangan yang didukung, hingga memasang foto selfie mereka dengan capres. Tidak kurang juga peran dari Photoshop dan agen-agen edit foto dalam mendukung aksi ini. 

Saking jengahnya, saya pindah ke Facebook. Oh well…. Ternyata timeline di Facebook pun tidak jauh berbeda, malah lebih parah dari kicauan Twitter yang hanya mampu diungkapkan dalam 160 karakter saja. Karakter di Facebook yang lebih panjang, otomatis juga mempengaruhi panjangnya aksi balas-berbalas, serang-menyerang, bahkan aksi saling membagikan tautan dari link-link yang mereka anggap sangat mendukung. Aksi unggah foto profile dengan identitas nomor urut pasangan pun tidak luput dilakukan. Bahkan ada yang frontal saling adu argument dalam sebuah comment *mikir: ini maunya apa to yaaaa mereka* Siapa pun makhluk yang ‘masih’ normal akan dianggap ‘tidak normal’ dalam dunia immature politik saat ini. Siapa yang berdiam dianggap tidak paham politik. Siapa yang aktif ‘berkicau’ dianggap paling tahu, paling pintar, dan paling-paling yang lainnya tadi. *God! I am feeling ‘oh-so-lost’!*

Jadi, makna asas pemilu LUBERJURDIL itu mungkin sekarang hanya tinggal LUBER saja. Ya, LUBER kemana-mana. Gimana ndak LUBER, kalau hal yang seharusnya rahasia sekarang malah diumbar kemana-mana? Mau dibilang RAHASIA gimana kalau individu-individunya sendiri yang dengan bangga mengaku-aku dukungan kepada capres-cawapres tertentu? Dulu (duluuuuu sekali) orang itu tabu mengungkap siapa yang akan mereka coblos di Pemilu. Sekarang? Orang dengan bangga malah woro-woro di media social. Tidak hanya woro-woro atas dukungannya, malah kadang sampai kebablasan saling lempar opini yang merasa ‘paling’ tadi. Kalau mengutip kata-kata Bapak Taufik Ismail saat Kongres Pemuda Nasional di Jakarta 2012 lalu, beliau bilang: “Saya heran, kenapa masyarakat Indonesia saat ini senang sekali dengan kata ‘paling’ untuk membanggakan dirinya sendiri“. Exactly! Orang yang sungguh-sungguh mempelajari dan memahami ilmu politik dengan bijak, pasti akan setuju dengan kalimat ini:Menyelami politik tidak cukup hanya dengan sehari dua hari, tidak cukup pula digambarkan dengan warna hitam dan putih, tidak cukup  hanya dengan satu dua referensi. Setiap politikus & negarawan punya peta politik masing-masing”.

Saya pernah saking kesalnya dengan salah seorang teman (sorry Bre kalo lo baca ini), saya balas kalimat-kalimat dia yang saya rasa terlalu menyudutkan salah satu capres. Yah, memang hak setiap orang untuk berpendapat dan mengeluarkan ekspresinya, tetapi ada bijaknya kalau kita punya landasan argument yang kuat terlebih dahulu. Landasan itu dari mana? Ya dari referensi macam-macam. Jangan Anda merasa sudah paling tahu dan paham kalau Anda hanya 'belajar' dari media televisi X atau Y misalnya. Kalau Anda tahu dan belajar dari media, tentunya Anda pun tahu bahwa muatan suatu media tidak mungkin terlepas dari kepentingan individu di situ. Jangan pula Anda merasa paling tahu, kala Anda hanya belajar dari media elektronik. Apalagi link-link yang bahkan tidak jelas siapa yang menulisnya. Di jaman serba gadget seperti sekarang ini, siapa sih yang tidak senang menulis melalui piranti elektronik? Lebih mudah dibaca banyak orang, lebih mudah menggiring opini banyak orang. Kalau Anda ingin belajar, carilah sebanyak mungkin referensi untuk diri Anda sendiri. Membaca satu buku saja juga tidaklah bijak, coba Anda baca beberapa referensi jika memang Anda menemukan banyak pertentangan pendapat di situ, karena buku juga buatan manusia. Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak referensi yang Anda dapatkan sebagai pendukung. Semakin bijak pula Anda memandang suatu kasus dari pelbagai sudut pandang. Toh siapapun yang jadi presidennya nanti, kita akan tetap jadi rakyatnya bukan? Jadi untuk apa saling menjelekkan. Mereka sama-sama cerdas. Bicara kekurangan, semua juga ada kekurangan. Bicara bersih atau tidaknya, well, I have to say this: Apa Anda yakin semua yang berkecimpung di dunia politik itu 'bersih'? Semua diatasnamakan "RAKYAT". Rakyat yang mana dulu? Anda rakyat, saya juga rakyat, kita Warga Negara Indonesia adalah rakyat Indonesia. Oknum dalam dunia politik yang mengkultuskan rakyat sebagai pendongkrak untuk eksis dalam kekuasaan. Politik itu tidak kotor. Orang-orang di dalamnya-lah yang menggunakan cara kotor untuk mengotori politik itu sendiri.
 
Suatu ketika saat diskusi tentang Pemilu Presiden di rumah, bahkan simbok rewang saya di rumah saja bisa mengatakan: "Jan-jane coblosan ki yo ming ngedu uwong. Ha yo pora ngedu jenenge? Hla sing kono pilih ngono, sing kene pilih ngene. Tembe mburine do padu dewe-dewe". ("Sebenarnya Pemilu itu hanya mengadu orang saja. Bagaimana tidak? Kalau yang di sana memilih si itu, yang di sini memilih si ini. Ujung-ujungnya malah saling bertengkar").

Kalau saya menanggapi simbok rewang ini dengan kalimat:"Ha yo kuwi. Mbok gek ndang Pemilu, gek ndang nyoblos, gek ndang rampung, gek ndang bubar wong-wong le do ngroso paling pinter kuwi". ("Hla ya itu. Semoga segera datang Pemilu, biar segera nyoblos, biar segera selesai, biar segera bubar juga orang-orang yang merasa paling pintar itu").

Beda lagi kalau kata Cak Lontong, begini:

Apapun pilihan Anda, saya hanya bisa mengajak. Jangan lupa JENTIK UNGU untuk 9 Juli nanti! 5 menit untuk 5 tahun yang akan datang. Jangan khawatir, bagi Anda yang berada di tanah rantau atau Anda yang akan bepergian tanggal 9 Juli nanti, anda bisa mengurus Formulir model A-5 untuk tetap bisa memberikan hak suara Anda.


Semoga 9 Juli segera tiba. Selamat mencoblos! :)



Salam DAMAI,


Bening Rahardjo

Thursday, June 26, 2014

"UJI NYALI" Convo


Yesterday, my youngest sister Lintang suddenly shouted after read a broadcast that she received on her BBM group. While me and Rahma stood beside her just looked each other. "Nooo! I have to call old brother now! I have to tell him about this!" Lintang murmured. Then she had a talk on phone with someone (on loudspeaker). Then I knew it was my old brother, he still worked at his office. Everyday he worked until 9 p.m. Lintang talked to my old brother with enthusiastic voice and innocent face. Here's the conversation:
"Hallo!"
"Hey?"
"Brother?"
"Ya, what happen?"
"Brother you have to hear this. I have good information for you!"
"What?"
"Tomorrow Misteri Dunia Lain on Trans TV will take shooting in our town! It's really!"
"........"
"Brother? Do you hear me?"
"Umm, yes..."
"Listen, you should apply for Uji Nyali talent! Okay?"
"Wha...What?"
"Later, if you win, you will get lot of money from it. Believe me, you have to try!"
"Hah?"
"I forgot, it's about 1 million rupiahs maybe, or less than that. Whatever. I dont care. But you have to try okay?"
"........"
"If you win that talent, you can buy delicious food for all of us! Or, no...you can give me money, how about 1 hundred thousand rupiahs? Yes. 1 hundred thousand rupiahs for each of us! How?? You're must be interesting on this!"
"........."
"Hallo, Brother? Are you there? Are you listening to me?" 
"What do you mean? I have to try? Wa, wait..."
"Yes! Sure! Tonight the registration will be closed in 9 p.m at Lor Inn Hotel"
"What? Hey.... Wa, wait...."
"Hey! It's 8.30 p.m right now. Look! You still have half of hour to get there!"
"Dear, shut your mouth please! I want to asking you!"
"Ummm... Okay? What do you want to ask?"
"You phone me on this night just because you want me to be their TALENT on UJI NYALI???"
"Yes! And the location is already full with people too right now"
"So,.....Are you HIRING me to get money for you all by UJI NYALI???"
"Right! Okay brother, sorry my pulse is getting less"
"Wa....wait"
"Okay brother, I'll text you the talent requirement, read it well. Bye maksimal!"

Clik. 
Lintang put her handphone off. I looked each other to Rahma, then we laughed lot over that conversation. Hahaha. That was SILLY CONVO EVER between Old brother with my youngest sister! Omaigad! 

Guys, if you want to know what is Masih Dunia Lain Trans TV Show and Uji Nyali, you can googling it. Believe me, you will laugh too :d



Regards,


-BR-

Monday, June 23, 2014

Ada Apa dengan Kopi?




"Sudah minum kopi hari ini, Mbak Ning?"
"Kalau belum, aku bersedia kok delivery service kopi dari rumah. Tinggal calling aku saja, dekat ini"

Gubrak. Salah satu klien gw yang baru datang dan buka pintu tiba-tiba nyapa gw dengan kalimat itu, tentunya sambil mringis mamerin gigi depannya. Adik gw, si Lintang yang saat itu juga ada di sebelah gw pun langsung ngelempar pandangan ke gw, habis orangnya berlalu, kita berdua ketawa cekikian.

Heran, udah segitu hafalnya ya klien-klien gw sama kebiasaan gw yang kambuh akhir-akhir ini? Yes, ngopi. A glass of Mochachino with a bit ice. Entah kenapa kebiasaan buruk ini datang lagi. Kadang gw bertanya-tanya juga ke diri gw sendiri, apa gw lagi gelisah? Banyak pikiran? Karena gw seribu koma sekian persen yakin, kalau gw ngopi, itu artinya gw lagi banyak pikiran. Believe me or not, gw ini bukan tipe yang doyan kopi sebenarnya. Kofimix aja hanya nyeruput sedikit punya Ibu atau kakak gw, itupun kadang-kadang karena ada masalah sama lambung. Bahkan, mencium aroma white coffee di rumah dalam radius 5 meter aja, gw udah mual-mual. Padahal rewang di rumah dan adik gw suka banget bikin white coffee. Serius. I am not coffee-holic. Adik-adik gw juga tahu ini, gw paling anti sama bau white coffee. Nah, terus? Sekarang, kenapa gw menggilai kopi lagi seperti waktu masih kuliah? Itu dia jawaban yang sebenarnya gw tahu jawabannya, tapi masih aja bertanya-tanya.

Hadee, Ning. Hidup sehat dong! Release all of stress and live your life with all good stuff! Udah lama juga nih gw nggak konsul sama Prof. Fathoni tentang perkembangan kesehatan gw sendiri. Maunya apaaa ni bocah! Nggak mau kambuh tapi masih aja hidup nggak sehat. Mau sembuh tapi masih aja nggak rutin check-up. Minta dikeplak ~,~




-BR-

Sunday, June 22, 2014

A Man Cooking



Today, I just reached home after had weekend out of the town. I met my stepbrother-sister and stepmother there. We had quality time which rarely we had. At least, I tasted food that cooked by my stepbrother. It reminded me of some memories at past, when we stayed at one house. Everyday we laughed together when he taugh me to cook. When we had our dinner, my stepbrother told me that he would running his new business. He would open new restaurant. I was curious and asked everything about that plan. 

"So,...,What menus would you serve in your restaurant?"
"Umm, I would like to serve menus like soup and porridge at the morning and I would serve Indonesian food at night. I am aiming for specific market"
"Waw, that sounds interesting!"
"Yea, I've analyzed the market too!"
"And the location?"
"Near Ambarukmo Plaza, the left side, you still remember?"
"Good. Ya, I remember it. By the way, who's the chef? You've got a guy for this?"
"I am the chef"
"YOU???" (a bit choke) 
"You didn't know if I can cook???"
"WHAT???"
"Hey, don't underestimate me. I can cook well!"
"No, okay, I mean, yes...I knew you can cook well"
"Of course!"
"Yea, but what I really knew, it was just for noodles".
"Heey, better than that!"
"Really?"
"Yes. You've never seen me cooking, that's why. I used to go to a cruise school, remember?"
"Ya, I remember it. But, seriously???"
"Okay, I'll make breakfast for you tomorrow morning that ye may believe me!"
"Ha-ha,....,okay! Sounds nice!"

And the morning, he really woke up early just to cook breakfast for us. Oh God! Haha. I really missed my brother!
*God, thanks for blessing me with big family :)


Regards,

BR


Friday, June 20, 2014

Indonesian Songs That Sung By Foreign Musicians

Ik weet niet waarom, I recently feel something different with Friday. Perhaps, today at evening, I'll meet someone again who I really want to meet. Hij is echt nice person, en ernst... ik hou van slim man! :)

Leave it, slechts een intermezzo. Rest, I am just checking Youtube and finding Indonesian songs which bought by musician from foreign country. Actually, it was oude liedjes but still interesting to listen. If you are curious about Indonesian liedjes, it's no less cool compare with western song anyway :) You just try to find @nlpeter on Youtube and listen to Indonesian songs that he has cover at there. Peter is a Dutch, but he loves Indonesian culture. Such a nice voice to heard (with his terrible accent that make the song more funny) lol. The song that I love to hear are:

"Jangan Menyerah" by d'Masiv



Now, I wanna share with you the list of Indonesian songs that singing by foreign musicians, check this out:

1. "Sempurna" by Anda and The Backbone -- "Sempurna" by Nicholas Theo (Mandarin version)


2. "My Heart" by Acha ft Irwansyah -- "Heart" by Nicholas Teo (Mandarin version)


3. "Tak Bisakah" by Peterpan -- "Kya Mujhe Pyaar Hai" Ost.Woh Lamhe (Indian version)


4. "Di Belakangku" by Peterpan -- "Aao Mile Chale" Ost.Woh Lamhe (Indian version)


5. "Hingga Akhir Waktu" by Nine Ball -- "Till The End of Time " by Christian Bautista (English version)

6. "Sephia by Sheila On 7 -- "Sophia" by Qi Pin (Mandarin version)


7. "Teman Tapi Mesra" by Ratu -- "Dreaming of The Time" by Ladylike (Swedish version)

8. "Cari Jodoh" by Wali Band -- "I No Can Do" by Fabrizio Faniello (English version)
9. "Baik-Baik Sayang" by Wali Band -- "My Heart is Asking You" by Fabrizio Faniello (English version)

10. "Bengawan Solo" by Gesang -- "Bengawan Solo" by Mona Fong (Mandarin version)

So....What do you think about that songs, guys?


Salam,


-BR-

Thursday, June 19, 2014

Sincerity



 
Berlakulah yang tulus dalam kebaikan, tetapi pilihlah ketulusan yang tidak menghinakanmu"

Saya pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat itu dalam sebuah pertemuan. Pertama kali kalimat itu sampai di telinga saya, saya hanya mengangguk-angguk saja. Namun, begitu saya mengingat kalimat itu lagi dan merenungi maknanya, saya belum mampu memahami.

Ya, kebaikan. Sudah biasa kita dengar. Selama manusia berpegang kepada agama dan prinsip-prinsip humanisme, tentu dia sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Agama mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan. Demikian pula dengan prinsip-prinsip humanisme, yang mengatakan kepada kita untuk hidup berdampingan dengan manusia lain dalam kebaikan. Ya, sudah tidak perlu dijelaskan lagi apa arti kebaikan. Lalu, ketulusan. Kita pun tahu apa makna kata “tulus”. Tulus itu tanpa pamrih. Tulus itu tidak dimanipulasi. Tulus itu tidak mengharapkan pujian. Tulus itu tidak mengharapkan imbalan. Tulus itu pengorbanan. Tulus itu tidak mengharapkan orang lain akan berbuat hal yang sama kepada kita nanti. Itu tulus. Agama juga mendorong kita untuk melakukan kebaikan yang dilandasi dengan rasa tulus. Seperti seorang ibu yang mencintai anaknya. Seorang anak yang merawat bapaknya ketika bapaknya telah tua. Seorang dermawan yang memberi sebuah roti untuk makan siang gelandangan. Seorang guru yang memberi nasehat kepada muridnya. Itu semua adalah contoh kebaikan yang dilandasi ketulusan.

Tapi apakah yang dimaksud dengan ketulusan yang tidak menghinakan? Berulang kali saya berpikir keras atas jawaban pertanyaan ini. Apakah semua tulus itu tidak selalu berarti tulus? Apakah ada ketulusan yang manipulatif? Apakah ada ketulusan yang menghinakan seseorang? Setelah membaca-baca beberapa buku psikologi dan memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu secara matang, saya baru menemukan jawabannya melalui peristiwa-peristiwa yang banyak mengubah kehidupan saya. Oke, manusia tidak akan bisa menjawab suatu pertanyaan sampai pada akhirnya ia menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan dirinya sendiri. 

There are sincerity on them

Kalau kita flashback ke masa lalu, mungkin sekitar 50 atau 70 tahun yang lalu, saat ayah ibu kita masih kecil, atau bahkan masa dimana kakek nenek kita masih remaja. Ketika kita berbicara tentang ketulusan, perasaan dan batin mereka masih murni. Belum termanipulasi dengan budaya, cara pandang, bias kecerdasan, industri hiburan, serta oligarki hawa nafsu. Dulu, ketulusan tidak mempunyai penafsiran lain. Namun, hari ini, makna ketulusan seolah sudah menjadi bias. Karena kita hidup di jaman yang penuh konspirasi, manipulasi dan bahkan nama Tuhan pun sering diseret ke pusaran manipulasi demi melindungi kepentingan dirinya sendiri. Pernah mendengar bagaimana seorang koruptor bersumpah atas nama Tuhan bahwa ia tidak melakukan tindakan korupsi, meski telah ada bukti-bukti nyata yang ditemukan penyidik? Pernah mendengar bagaimana seseorang bersumpah atas nama Tuhan demi mewujudkan balas dendamnya? Pernah melihat bagaimana seseorang menangis haru telah menyelesaikan tesis-nya, padahal tesis itu dia jiplak dari orang lain? Pernah melihat bagaimana seorang tersenyum penuh kemenangan di dalam sebuah lomba lari, padahal dia telah melakukan sabotase pada peserta lainnya? Ya, ketulusan dalam arti kepasrahan memang telah dilakukan, tapi persepsi-persepsi dan tindakan salah itulah yang telah mencederai arti ketulusan.

Meminjam sebuah filosofi “Kebohongan, bila terus-menerus didengungkan sebagai kebenaran, akan diterima sebagai kebenaran”. Memang begitulah adanya, kebohongan tidak berubah. Namun cara pikir orangnya-lah yang berubah. Penerimaan manusia atas kebohongan yang berubah. Seni yang paling sulit dalam melakukan sebuah ketulusan adalah justru terletak pada lingkaran-lingkaran yang mengitarinya. Dari sisi itulah bagaimana kita memandang ketulusan itu sendiri. Bagaimana persepsi-persepsi yang terbentuk yang melandasi cara pandang kita. Tidak terlepas juga dari tujuan masing-masing individu.

Lalu, masih adakah ketulusan yang benar-benar tulus di muka bumi ini? Tentu. Anda pernah bercermin? Apakah cermin pernah memberi komentar atas penampilan anda? Dari cermin itulah kita merefleksikan diri kita sendiri. Apakah wajah kita sedang terlihat ceria, apakah wajah kita sedang terlihat sedih, apakah wajah kita sedang terlihat marah? Tidak ada yang lebih tulus dari cermin. Lalu, kalau anda mengatakan bahwa cermin hanyalah sebuah benda mati. Maka saya katakan, anda punya cermin di dalam diri anda. Apa itu? Jawabannya adalah hati nurani. Hati nurani manusia, selamanya tidak akan pernah bisa berdusta. Sekalipun anda melakukan kejahatan dan bibir anda mengucap anda bahagia. Hati nurani anda tidak akan pernah sama. Hanya saja, manusia lebih memilih untuk memanipulasi hati nuraninya sendiri ketimbang mengikuti apa kata hati.

Maka, menjadi tulus saja tidaklah cukup. Masih ada persoalan lain, apakah ketulusan itu akan menghinakan anda, atau sebaliknya akan memuliakan. Apakah ketulusan itu hanya untuk mengelabuhi banyak hal dalam kehidupan, ataukah akan menjadi titik balik bagi seseorang. Pilihlah ketulusan yang seperti cermin, yang tidak akan pernah menghinakan diri anda. Ketulusan yang tidak terkontaminasi dan termanipulasi oleh kepentingan lain. Pilihlah sebuah ketulusan yang tidak akan mencederai arti ketulusan itu sendiri.


Salam,
    

Bening Rahardjo





(Read more: English version)