Thursday, November 19, 2015

BELA APA?

Photo by: Republika.com

Dua bulan belakangan ini rakyat Indonesia disuguhi oleh bahan diskusi baru, yakni program bela negara yang digagas oleh pemerintah melalui Kementrian Pertahanan. Bahkan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sewaktu diwawancarai oleh Pers mengatakan "...Bela negara dimaksudkan untuk memperkuat posisi rakyat yang secara ekonomi lemah. Kekuatan negara itu ada di rakyatnya, tapi ketika rakyat menganggur, makan kurang,  daya beli rendah, maka negara itu akan lemah,..."

Entah apa yang melatarbelakangi pemerintah dalam menafsirkan bunyi Pasal 30 Undang-Undang Dasar 1945 ini, "Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara". Baik, mari kita pahami lebih dalam maksud kata upaya pembelaan negara ini. Diawali dengan kata hak dan kewajiban di dalam satu kalimat. Ya, kita semua pasti setuju apabila negara dalam kondisi darurat militer dan semua warga negaranya berhak dan wajib membela negara. Tanpa diminta sekalipun saya yakin bahwa pemuda Indonesia cukup legowo untuk melakukan itu, pertanyaannya: siapa sih yang ingin perang? Saat di tengah situasi keamanan negara yang kondusif? Saat kita memiliki banyak jumlah Tentara Nasional yang tangguh dan alutsista yang canggih?

Apabila kita melakukan pencarian pengertian program bela negara ini, laman wikipedia telah menyiapkannya untuk Anda. Hal menarik yang perlu kita cermati, di halaman tersebut diambil contoh bela negara di beberapa negara seperti China, Korea, Israel, Amerika, dan Inggris. Mengapa pemerintah harus bercondong kepada contoh negara-negara tersebut apabila benar-benar menginginkan program bela negara yang sesuai dengan nilai-nilai UUD 1945 dan Pancasila? Bahkan secara personal, Menteri Ryamizard Ryacudu juga memberi contoh dengan menyebutkan negara Korea, memuji rasa rela berkoban yang tinggi. Kenapa harus mencontoh kepada Korea yang memang penduduknya rata-rata lebih senang untuk berkecimpung di dunia entertain, pertanian dan pelaku bisnis. Sedangkan Indonesia, orang akan bangga apabila mampu menjadi bagian dari militer, menjadi anggota militer (kita bisa merujuk pada jumlah tentara dan polisi yang kita miliki, maupun para pemuda-pemudi yang mendaftar sekolah militer setiap tahunnya). Korea wajar mewajibkan program wajib militer kepada penduduk laki-laki yang sudah dewasa setelah Perang Korea, karena negara mereka selalu siaga apabila harus berperang sewaktu-waktu dengan tetangga serumpun. Intinya adalah latar belakang politik. Mengapa Israel juga mewajibkan penduduk sipil untuk terjun di militer? Juga karena latar belakang politik. Kemudian pemerintah kita ingin mengadopsi wacana tersebut secara sepihak atas dasar kehendak mereka atas rakyat sipil tanpa menggodoknya dengan mendalam?

Kalau alasan pemerintah adalah untuk memperdalam kurikulum lima nilai dasar yakni cinta tanah air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, serta memiliki kemampuan awal dalam bela negara baik fisik maupun nonfisik, mengapa tidak para koruptor itu duluan yang diwajibkan untuk program bela negara ini? Rakyat sipil yang taat membayar pajak dan hukum harus menjalani program bela negara sementara para koruptor yang SAMA SEKALI TIDAK mencerminkan nilai-nilai Pancasila masih bisa dengan santai makan-makan di restoran di luar penjara? Menonton kejuaraan tenis sesekali lalu balik lagi ke penjara? Rakyat sipil diwajibkan untuk mencintai produk dalam negeri, di saat pemerintah menerbitkan Permendag No.87 Tahun 2015 tentang ketentuan impor produk tertentu yang mengancam keberlangsungan indsutri dalam negeri. Apa yang harus dibela?

Lucunya, ketika rakyat sipil disuguhi wacana mewajibkan bela negara tetapi saat yang bersamaan negara tidak bisa menjamin hak hidup rakyatnya. Bagaimana tidak? Wacana ini keluar disaat kabut asap melanda di beberapa tempat hingga berlarut-larut dan memakan korban. Apa yang harus dibela? Hak untuk hidup dengan bernafas di udara yang sehat saja tidak bisa dijamin oleh negara. Hak anak-anak untuk tenang bermain dan belajar dengan rasa aman saja tidak bisa dijamin oleh negara, serta bagaimana dengan ketegasan pemerintah atas kasus kekerasan yang menimpa anak-anak? Apa yang harus dibela?

Revolusi mental? Pembenahan mental? Mental siapa yang harus dibenahi? SIAPA atau APA yang harus dibela? Bukankah kita lebih pantas membela diri kita sendiri disaat pemerintah dan negara tidak bisa menjamin hak-hak dasar kita? Memang, meski tidak ada ancaman peperangan, pelatihan bela negara bisa saja dilakukan oleh negara jika muncul bentuk-bentuk ancaman yang dinilai bisa membahayakan keamanan negara. Bentuk-bentuk ancaman tersebut bisa saja berupa kejahatan terorisme internasional dan nasional, aksi kekerasan berbau SARA, pelanggaran wilayah negara baik di darat, laut, udara, dan luar angkasa, gerakan separatisme, kejahatan dan gangguan lintas negara, dan perusakan lingkungan. Oleh karena itu, rakyat sipil disiapkan sebagai komponen cadangan. Pemerintah merasa program bela negara ini dapat menjadi solusi untuk setiap permasalah bangsa di masa yang akan datang.

Photo by kapanlagi.com
Ya, kita melihat tujuan jangka panjang dari program bela negara ini, tetapi bukan hanya masalah dana, bagaimana program ini bisa efektif dalam membangun karakter bangsa? Program ini diberlakukan bagi SELURUH warga Indonesia sampai dengan usia 50 tahun, dengan jumlah peserta 100 juta orang dengan target waktu 10 tahun. Itu artinya, hampir semua pembaca opini saya ini (kecuali Anda yang sudah berusia di atas 50 tahun) kemungkinan akan dituntut untuk mengikuti realisasi dari program ini, terlepas status Anda sebagai siswa, mahasiswa, atau pekerja profesional. Rakyat sipil setiap hari disuguhi oleh dagelan politik para petinggi negeri, apakah orang-orang yang setiap hari hidup di kampung peduli pada wacana bela negara? Lebih baik mereka pergi ke ladang untuk mengisi perut mereka sendiri. Mereka lebih peduli pada harga bahan makanan yang melambung tinggi, mereka lebih peduli pada harga pupuk yang melonjak, mereka lebih peduli pada kurangnya distribusi bahan bakar untuk kegiatan sehari-hari, mereka lebih peduli pada mengapa pemerintah lebih banyak mengandalkan impor barang luar negeri daripada bagaimana caranya meningkatkan kualitas daya saing produk pertanian dan perdagangan nasional? Apa yang harus dibela? Siapa yang harus dibela?

Tanpa bermaksud apriori pada program bela negara, Menteri Pertahanan bermaksud untuk mengubah otak rakyat sipil agar bangga kepada negara ini. Otak? Bicara tentang otak bukankah lugas bila saya menyebutnya program doktrin? Mungkin yang dimaksud Bapak Menteri adalah hati, hati nurani kita sebagai rakyat Indonesia. Tunggu dulu, Anda merasa sudah punya nurani yang cukup untuk mengaku cinta Indonesia? Ya, kita semua cinta Indonesia, yang tidak cinta Indonesia itu hanya orang-orang bodoh yang korupsi di sana itu, orang-orang yang melakukan gerakan separatisme dengan radikal, orang-orang yang tega menghabisi nyawa anak kecil, orang-orang yang tega merampas hak-hak hidup warga sipil. Betul? Kalau memang seperti apa yang dikatakan Bapak Menteri bahwa program bela negara ini berbeda dengan program wajib militer, tanpa kekerasan fisik, akankah? Ataukah rakyat sipil hanya dijadikan alat politik pemerintah? Silakan beropini masing-masing, terlepas dari pendapat kita menolak atau mendukung, program ini akan mulai dijalankan. Selamat berbela negara!




-Bening Rahardjo-


Saturday, November 14, 2015

Aku Tenang





Aku Tenang
by: Gili Trawangan


Denganmu, tenang
Tak terfikir dunia ini
Karenamu, tenang
Semua khayal seakan kenyataan

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Karenamu, tenang
Semua khayal seakan kenyataan

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Aku berbeda
Aku berbeda

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Pikiran indah tentang surga
Seakan-akan disana
Berkhayal semua tentang jiwa. 
Ku tenang





 

Sugeng Ambal Warsa Kaping 98, Karanganyar!

Semalam cuaca cukup cerah, meski sempat terdengar gemuruh petir tetapi hujan tidak turun deras, sedikit gerimis saja. Kebetulan, di tengah kota kami, tepatnya di alun-alun kota/plaza alun-alun, sedang diadakan acara bertajuk Soloraya Creative Expo 2015. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Karanganyar ke-98. Tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, saya merasakan banyak sekali perubahan positif dari tata ruang kota di tempat kelahiran saya ini. Pemimpin baru, perubahan tata ruang yang baru, kebijakan baru, UMR yang naik lebih signifikan, tentunya semua ini juga berdampak positif bagi semangat baru warga Karanganyar. 


Saya selalu suka acara-acara yang merakyat, Anda bisa menyebutnya 'kampungan', 'ndeso', or whatever. Tell you, I don't care. Bagi saya yang pecinta budaya lokal ini, tentu saja acara-acara seperti Expo atau pesta rakyat menjadi sebuah pertunjukan menarik untuk dikunjungi. Saya tidak hanya akan menemui pemandangan penuh sesak dengan berbagai macam aroma keringat di sana, sebab itu sudah pasti jelas, tetapi juga pemahaman baru akan hal-hal baru. Ada seorang kawan yang ketika saya ajak mengujungi tempat-tempat dan acara-acara merakyat, kemudia ia merasa itu adalah tempat/acara yang membosankan dan membuat dia pusing. Tidak demikian dengan saya.

Mungkin lebih cocok baginya untuk duduk bersantai di kafe-kafe dengan alunan musik, menyantap menu mewah meski dengan isi kantong yang dipaksakan. Asal bisa mengisi album elektronik di akun Instagram-nya. Mungkin, tempat-tempat dengan lampu-lampu menyorot tajam di sana-sini, gemerlap dan penuh dengan aroma pengharum ruangan yang dingin. Asal bisa berpose layaknya fashionista sejati untuk bisa dipajang di lama Instagram-nya. Ya. Bukankah ini hampir sama dengan situasi dimana seorang teman yang jarang berjumpa dikarenakan kesibukan masing-masing, lantas mengajak Anda untuk bertemu di suatu tempat yang cozy, dengan headline 'meet up', but then, believe me, after she/he asks you to take a wefie or selfie, then she/he stuck on their smartphone to upload the pictures, and forget to talk to you. Selfish, yes, we are. They ask you to meet up, but disregarding you with their attitude. No, you're welcome.

Sebuah pelajaran besar bagi saya. Itulah mengapa saya lebih senang pergi ke tempat-tempat merakyat bersama orang-orang yang memang benar-benar tertarik. Mendatangi event bertajuk 'meet up' hanya jika saya merasa benar-benar dirindukan oleh mereka, bukan seperti berjudi untuk menentukan akhir cerita 'meet up' tadi. Apakah saya akan diacuhkan karena smartphone-nya atau kami akan benar-benar menikmati obrolan yang memang menyenangkan. Sekali lagi, itu pilihan. Saya memilih dengan pertimbangan dan sebagian besar adalah pengalaman.

Saya senang sekali bermain ke tempat-tempat yang masih kental dengan budaya, saya senang sekali bahkan turun menyusuri bukit sebentar hanya untuk bermain air di kali pegunungan ketika sedang bepergian. Saya senang memotret aktivitas sosial yang dilakukan orang-orang di tempat merakyat, seperti pasar tradisional, acara budaya lokal, dan lain-lain, dengan mata dan hati saya sendiri. Indah. Menenangkan.

Damai mengunjungi tempat yang tidak hanya bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan sosial atas, tetapi juga terjangkau bagi mereka, orang-orang kampung yang memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang besar pada keramaian. Jangan mengeluh ramai berdesakan, pusing dan bau kalau Anda mengunjungi pasar tradisional, pasar malam, pameran, bazaar buku, pasar tiban dan sejenisnya. Sebab saya pastikan, Anda pasti akan mendapati semua itu.

Tahun 2015 ini, hari jadi Kabupaten Karanganyar diisi oleh banyak event menarik, mulai dari launching logo Burung Derkuku untuk Kabupaten Karanganyar (ada sejarah lokal yang ingin diangkat oleh pemerintah yang baru, salut), pengajian akbar, kejuaraan beberapa cabang olahraga, napak tilas Raden Mas Said (ini adalah sejarah lokal yang menurut saya sangat bagus untuk diangkat juga), lomba tradisional (maksudnya permainan tradisional yang sudah hampir mulai dilupakan seperti bakiak, balap karung, tarik tambang, dll), gerak jalan massal, bazaar buku, pagelaran wayang kulit, trail adventure di lereng Gunung Lawu (kakak saya pun menjadi salah satu peserta di acara ini), jambore karya inovatif masyarakat Karanganyar, khitanan massal, TNI Military Expo, Soloraya Creative Expo (namun saya lihat semalam acara ini bukan hanya diisi oleh stand-stand dari Soloraya saja, ada juga dari daerah Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara), lomba karawitan dan masih banyak lagi.

Stand yang paling saya minati adalah stand milik TNI, menurut saya TNI mencoba menghilangkan kesan seram para tentara yang masih hinggap di benak masyarakat. Mereka sangat ramah menyambut masyarakat yang antusias untuk mengetahui seluk beluk senjata, kendaraan, pakaian, dan lain-lain. Beberapa juga menyambut saya dengan sangat ramah, mempraktekan cara memegang senjata yang berat, kemudian menjelaskan dengan serius. Meski banyak pertanyaan meluncur dari bibir saya, mereka juga sangat sabar menjawab, bahkan sesekali diisi dengan lelucon. Bahkan, salah seorang memasangkan topi baretnya di atas kepala saya ketika hendak berfoto. Ya, ramah sekali. Merakyat. Mereka menyapa, menyalami dan menggendong anak-anak kecil yang takut-takut ingin mengajak berfoto bersama. Bahkan mereka mengeluarkan sebuah tank tempur yang sengaja diparkir di halaman depan plaza alun-alun agar masyarakat bisa melihat, memegang bahkan memasuki ruang sempit di dalam tank tersebut. Apresiasi tinggi kepada TNI kita!



Apalah arti sebuah tanah tempat tinggal jika tidak bisa menjadi sarana yang baik untuk masyarakat yang ada di dalamnya? Mungkin ini yang digagas oleh pemerintah daerah yang baru. Perbaikan city walk di sepanjang jalan utama membuat jalan terlihat lebih lebar, tatanan Pedagang Kaki Lima juga lebih rapi. Area publik dimanfaatkan dengan sangat baik untuk bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Area publik tidak hanya dikuasai oleh pedagang-pedagang yang mangkal, sehingga tidak ada tempat nyaman untuk publik berkreasi. Perbaikan Monumen Kasih Ibu di pusat kota, perbaikan Taman Gajah dengan air mancur warna-warni, penataan Taman Pancasila, masterplan untuk public area di Waduk Lalung, dll. Perlahan tapi pasti, Kabupaten Karanganyar mulai berbenah. Pertumbuhan ekonominya pun terasa lebih baik dengan standar UMR yang lebih signifikan, layanan sosial yang juga lebih baik di bidang pendidikan, kesehatan terutama. Meski banyak hal yang masih perlu diperbaiki di sana-sini. Kenyamanan orang ketika memanfaatkan ranah publik untuk tempat berkreasi, mulai dijunjungnya nilai-nilai sejarah dan budaya lokal tidak hanya dalam pendidikan formal untuk generasi muda di sekolah saja, tetapi juga untuk masyarakat umum yang masih buta akan sejarah dan budaya lokal.  


Sugeng ambal warsa kutha kinasih Karanganyar ingkang kaping 98, mugi tansah handarbeni hangrungkebi, lan mulat sariro angroso wani. Guyup rukun ngudi tentrem saklawase. Kaya ingkang dadi pemujine, Kabupaten Karanganyar Tenteram.




-Bening Rahardjo-


Friday, November 13, 2015

Watched The Teather Show



Few days ago I bought tickets for Nglilir's Theater performances. Earlier, Those were CANGKIR #7 performances that held by 13th generation (in which, my generation was the first generation who initiated the founding of Nglilir Theater), CANGKIR means Calon Anggota Kreatif Teater Nglilir (Show that initiated by all creativity of prospective members). I remembered when I watched their first show, Calon Arang. This theater has been much evolved, sometimes I also watched when they held shows in TBS (Taman Budaya Surakarta). I also often see some performances of other theaters in TBS, but I give more point for Nglilir as their creativity decoration stage that is not half-hearted.
Salute, to Nglilir!



- BR -


Kucari Kamu

Kucari Kamu
By: Payung Teduh

Kucari kamu dalam setiap malam
Dalam bayang masa suram
Kucari kamu dalam setiap langkah
Dalam ragu yang membisu 

Aku cari kamu dalam setiap ruang 
Seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam
Aku cari kamu
Disetiap malam yang panjang
Aku cari kamu
Kutemui kau tiada
 
Aku cari kamu 
Di setiap bayang kau tersenyum 
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah
 
Aku cari kamu dalam setiap jejak
Seperti aku yang menunggu kabar dari matahari 
Aku cari kamu
Disetiap malam yang panjang
Aku cari kamu
Kutemui kau tiada
 
Aku cari kamu 
Di setiap bayang kau tersenyum 
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah
 
 
 
 
 
 

Thursday, November 12, 2015

Wanita Priyayi

"Lady with Kebaya" by Basoeki Abdullah

"Jangan pernah berkecil hati disebut sebagai Priyayi. Priyayi harus berpendidikan. Bukan hanya tentang bagaimana mengisi seluruh keranjangmu, tetapi bagaimana itu akan menjadi penerang sepanjang hidupmu." - Eyang Kakung


Tuesday, November 10, 2015

Selamat Hari Pahlawan, Eyang!



Bicara tentang Hari Pahlawan, tentu kita semua akan ingat pada nama-nama seperti Soedirman, Pattimura, Syahrir, Soekarno, Soepriyadi, Slamet Riyadi, Cut Nyak Dien, Kartini, Moh.Hatta, dll, bukan? Ya, seluruh rakyat Indonesia pastinya akan selalu mengenang perjuangan mereka dalam bentuk gerakan perlawanan kepada para penjajah. Namun, kali ini dalam postingan pribadi, saya akan memperkenalkan sosok pahlawan yang tentu kalian tidak akan mengenalnya. Justru, saya menjadikannya pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau orang lain mengatakan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bagi saya Eyang Kakung adalah orang yang sangat pantas untuk diberi gelar yang serupa, setidaknya, bagi saya pribadi. Ya.

Eyang adalah sosok pengganti figur seorang bapak. Mencintai saya dengan segala kekurangan saya di waktu kecil hingga remaja. Mengajari saya banyak ilmu tidak hanya dunia tetapi juga pendekatan spiritual kepada Yang Maha Esa. Membukakan hati saya kepada hal-hal penuh empati yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Memberikan saya pemahaman tentang dunia di luar yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Menambah wawasan saya kepada segala sesuatu yang belum pernah saya temui. Mendukung saya dalam segala situasi.

Mungkin bagi kalian, orang pertama yang mengajari kalian cara berlari, berjalan, membaca, menaiki sepeda adalah orang tua, tetapi dalam kehidupan saya, eyanglah yang memberikan semua ilmu itu. Sungguh, banyak hal yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu untuk membeberkan betapa ketulusan dan kebaikan yang ada di dalam diri Eyang Kakung bagi tumbuh kembang saya hingga pada saat usia saya yang sekarang ini, semua sangat berarti. Semua hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua saya, Eyang Kakung yang menempati posisi itu. Sampai saat ini, saya tidak terlalu fasih jika harus memboncengkan orang dengan sepeda. Saya bisa naik sepeda, sendirian, tanpa memboncengkan orang di belakang.

Pernah di suatu pagi, sehabis shalat subuh berjamaah di bilik kamar beliau yang sunyi, lantas beliau mengajak saya untuk berjalan-jalan pagi. Kami berjalan beriringan sampai di suatu kampung, yang masih dalam satu kawasan. Saya masih dapat mengingat suasana di kala itu, tentu tidak seperti sekarang ini yang sudah banyak lampu di sana-sini. Suasana pagi masih terasa sepi, remang dan dingin. Hanya sedikit rumah yang sudah berdiri kokoh di kampung. Tiba-tiba, Eyang Kakung menghentikan langkah saya dengan tangan kirinya.

"Kenapa, Eyang?"
"Sssst..."

Eyang hanya memberi isyarat dengan tangan kanannya agar saya diam sejenak. Beliau menunjuk ke arah depan, di tengah kegelapan subuh, dengan telunjuk jari kanannya. Saya mengikuti arah telunjuk itu, tidak menemukan apa-apa.

"Ada apa, Eyang?"
"Itu, ada macan. Kelihatannya dari hutan di seberang, ayo kita balik arah saja."

Eyang menarik tangan saya pelan-pelan berjalan berbalik arah, tanpa tergesa. Hanya langkah biasa yang penuh waspada. Ketika saya hendak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah kami benar-benar aman, Eyang Kakung hanya menahan tolehan kepala saya agar tetap melihat lurus ke depan. Entahlah, apa mungkin pada saat itu masih ada macan yang berkeliaran di hutan, di bukit yang letaknya tidak jauh dari kampung kami. Mungkin saja ada. Sebab saya pernah melihat sebuah kidang/menjangan/kijang yang pernah tertangkap oleh tetangga ketika sedang mencari kayu di bukit itu pula. Kemudian menjadi tontonan menarik orang-orang kampung di waktu itu. Termasuk saya, tentunya.

Pernah dalam perjalanan hidup saya ketika hendak mencari Perguruan Tinggi yang terbaik setelah lulus Sekolah Menengah Atas, di saat bersamaan kondisi kesehatan Eyang Kakung sudah naik turun. Beliau mengajari saya untuk bertirakat. Memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa dengan segala kerendahan hati. Berpuasa, berdoa dan berlaku jujur. Beliau selalu membangunkan saya pukul tiga pagi untuk mengawali aktivitas. Waktu sepagi itu Eyang Kakung sudah mengisi penuh bak mandi kami yang besar. Beliau meneruskan dengan menyapu halaman dan sekeliling rumah. Beliau selalu mengajarkan untuk membersihkan halaman sebelum orang-orang beraktivitas pagi. Oleh karena rumah kami berdekatan dengan sebuah pasar tradisional, hanya berjarak -/+ 30 meter, kami harus terbiasa menyapu sebelum orang-orang berlalu-lalang menuju ke pasar.

Saya selalu bertugas menyiapkan sarapan pagi setelah Eyang Puteri meninggal, hal yang biasa saya lakukan dari kelas empat SD. Kami punya rewang yang membantu pekerjaan memasak dan mencuci, mereka datang pukul 08.00 pagi hingga selesai pukul 16.00 sore, setiap hari, apabila tidak ada kepentingan lain. Kalau rewang saya sudah memasak sayur di sore hari, biasanya pagi itu saya tinggal menghangatkan dan menggoreng lauk saja. Ketika pencernaan Eyang sudah mengalami gangguan, saya selalu menawari apakah beliau menginginkan sarapan dengan bubur atau nasi biasa. Kalau beliau menginginkan bubur, saya akan pergi berbelanja ke pasar sebentar, jadi tidak aneh apabila terkadang pukul lima pagi, dengan berseragam, saya sudah mengantri untuk sebuah bubur di pasar. Hampir seluruh pedagang di pasar itu mengenal saya, bahkan hingga kini.

Pernah merasa sangat terjatuh ketika usaha saya gagal untuk menembus beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, bahkan Universitas Sebelas Maret yang dekat dari rumah, semua gagal saya tembus melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) waktu itu. Nilai rapor saya tidak mampu bersaing dengan para pendaftar lain. Banyak dari teman-teman saya yang melakukan mark-up untuk nilai rapornya sebelum mendaftar PMDK. Saya bukan orang yang dididik dengan cara seperti itu. Eyang Kakung selalu menekankan pada saya untuk berlaku jujur (laku jujur kang utama), beliau lebih bangga kepada apa yang saya peroleh dari proses yang saya jalani, ketimbang bagaimana hasilnya. Meski, apa yang sudah kita usahakan dengan harga yang terbaik tidak selalu pasti hasilnya sesuai yang kita inginkan. Namun, ternyata Yang Maha Kuasa memberikan saya kemudahan di lain waktu, tes mandiri Universitas Gadjah Mada yang saya ikuti akhirnya lolos seleksi

Satu kali dalam hidup saya, saya pernah sangat membahagiakan Eyang Kakung sebelum beliau sedo, ya dengan diterimanya saya di Perguruan Tinggi Negeri yang baik itu. Saya bahagia, setidaknya beliau pernah menemani perjalanan saya di Perguruan Tinggi selama hampir dua setengah tahun. Hal yang selalu mengingatkan saya kepada beliau, bertirakat. Saat sudah mencapai titik yang diinginkan, jangan lupa untuk tetap rendah hati, ingat Siapa Yang Membantumu dengan Segala Keagungannya. Suatu sore selepas maghrib, ketika kami duduk bersama di regol depan rumah, Eyang Kakung berpesan sangat dalam kepada saya tentang banyak hal. Banyak hal yang belum bisa saya maknai di usia saya waktu itu, sehingga banyak pula kalimat-kalimat Eyang Kakung yang tidak bisa saya pahami maksudnya. Saya ingat salah satunya beliau menembangkan bait Dhandhanggula, yang masih bisa saya nyanyika dalam hati:

|| Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana, sartane kawruhana. ||
 
"Ngger anakku, orang boleh menyombongkan ilmunya di depan kita, tidak mengapa. Kamu tahu, orang berilmu tidak akan pernah merasa bahwa dirinya berilmu. Selalu ingatlah akan ilmu padi. Sing bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa."

Ya. Nasihat hidup orang Jawa, tidak hanya bersumber dari agama-agama dan kepercayaan yang berkembang di tanah Jawa, seperti Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Kong Hu Cu, dan Islam, tetapi juga dapat kita temui dalam karya budaya yang berupa tulisan dari para pujangga, wali, raja, dan para kaum cendekiawan lainnya. Eyang Kakung saya adalah satu contoh pahlawan nyata untuk hidup saya, juga kehidupan orang lain, who knows? Selama hampir 30 tahun beliau menjadi pemimpin di wilayah kami, belum pernah sedikitpun saya mendengar orang berkata buruk tentangnya. Belum pernah sedikitpun saya melihatnya menghukum orang dengan semena-mena, belum pernah sedikitpun saya mendapati ajaran dan tuturan beliau yang menyimpang dari nilai-nilai filosofis kebudayaan dan kearifan laku manusia. Belum pernah saya mendapati beliau berkata kasar kepada rewang-rewang di rumah. Saya selalu mendapati beliau membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan datang kepadanya. Saya selalu mendapati beliau dengan sabar memberikan pitutur kepada orang-orang yang datang sekadar ingin meminta nasihatnya. Saya selalu mendapati beliau tengah berdoa khusyuk di sepertiga malam, memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Memberi. Saya selalu mengamati beliau selalu tergesa untuk datang awal setiap shalat jum'at di mesjid besar kami. Beliau selalu mengajarkan 'lebih baik engkau datang untuk melayat saudaramu yang meninggal dan keluarga mereka yang sedang berduka, ketimbang engkau datang ke pesta-pesta pernikahan'. Beliau selalu melayat siapapun baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya secara pribadi di wilayah kami, menaiki sepeda tuanya. Bukan berarti datang ke pesta itu tidak diperbolehkan, katanya. Beliau juga selalu berusaha datang ke undangan pesta pernikahan, meski apabila berhalangan, beliau menyuruh saya dan rewang di rumah untuk njagongke/menggantikan beliau.



Saya yakin, banyak pahlawan-pahlawan di luar sana yang tidak pernah terjangkau oleh media-media besar, Mereka yang tulus memberikan pertolongan dan kasih sayang kepada orang lain, mengorbankan diri mereka untuk orang lain, memberikan perhatian kepada orang lain. Masing-masing dari kita pun pasti memiliki tokoh pahlawan imajiner yang kita banggakan. Siapapun itu, saya yakin mereka adalah orang-orang hebat yang pantas untuk diteladani dan mereka mengajarkan kepada kita tentang satu hal: kebaikan.





-Bening Rahardjo-


Friday, November 6, 2015

Secuplik dari Persahabat Saya dengan Pria-Pria ini....


"Gue kangen kalian..."

Akhirnya kalimat pancingan di grup chat yang saya lontarkan itu berhasil memancing para lelaki kampret untuk berhaha-hihi seperti biasanya. Sudah lama kami tidak melakukan candaan seperti itu rasanya, hmmm lama... Mungkin sejak si supervisor Bas sudah mendapatkan pasangan baru hasil perburuan yang cukup instan. Ya gimana nggak instan, orang dia pacaran sama anak buahnya sendiri. Saya sih berpesan semoga awet, tidak tertuah karma penikungan saja sih, haha skip yang terakhir ini, forgive me Bas! :D

"Elu sombong Bas, sudah persis kayak Bang Toyib sekarang."
"Bang Toyib gimana hlo?"
"Ya lu pulang kampung nggak kabar-kabar sekarang. Teman macam apa kaaauuu?"
"Gue minggu kemarin mampir tempat Fuad hlo, Ning."
"Iyaa tapi lo nggak kabar-kabar gueeeee!"
"Iya, iya maaf. BESOK kita meet up. Oke?"
"BESOK? Lu udah di rumah ini?"
"Iya, ini gue lagi ngobrol sama bokap, kangen. Gue kan juga kangen kalian, besok kabarin anak-anak ya?"

Hmmm...
Setelah dipancing, baru deh bisa kumpul lagi sama mereka. Akhirnya, sepanjang petang hingga malam itu kami habiskan dengan berhaha-hihi bersama. Puluhan bumbu-bumbu persahabatan sudah kami temui sepanjang kami tumbuh bersama. Apalagi kalau bukan kecrohan sarkasme yang membuat kami saling merindukan satu sama lain. Meskipun dalam perjalanan persahabatan kami diwarnai oleh perubahan sifat maupun perilaku masing-masing dari kami, tetapi kami tetap fleksibel dalam menghadapinya. Kami saling memaklumi, walaupun harus berakhir dengan kecrohan apabila nanti kami bertemu. Seperti apabila masing-masing dari kami mulai sedikit berubah setelah memiliki pasangan, ya kami bisa menerima.



Terkadang dalam banyak hal kami juga sering berkeras pendapat, tidak masalah, sepanjang kami masih bisa melihat konteks secara objektif. Sering pula dalam membahas masalah yang sedang dihadapi pada satu orang, maka yang lain akan turut memberikan pendapat yang berbeda-beda, tetapi pada intinya adalah kami menaruh rasa perhatian yang besar pada sahabat kami. Tak luput malah ketika salah satu diantara kami bersedih, bukan latar belakang masalah yang membuat kami sedih yang pada akhirnya dibahas. Semua akan berakhir dengan guyonan menghibur dan sedikit 'bangsat', memang.

Oleh karena saya adalah satu-satunya spesies wanita dalam The Red Ants, jadilah saya yang harus banyak (ditekankan, banyaaaaak sekali) beradaptasi dengan makhluk-makhluk pria itu. Mereka tidak se-melankolis wanita dalam persahabatan, yang jelas jauh dari drama, a good point. Contoh kecilnya, kalau kami sedang gitaran dan suara saya terdengar sumbang, mereka akan sangat gamblang bilang "Suara lu fals banget sih? Gue jadi bingung nih cord-nya!". Begitupula jika kita berpakaian atau berias sedikit berbeda dari biasanya, berharap sih akan mendapat pujian dari mereka, but...I am wish, yeah! Mereka akan dengan keras menyampaikan tanpa basa-basi bahkan meski di depan umum "Lu menor amat sih pake lipstik? Mau dangdutan?" atau "Lu dandan ya? Emang mau kemana pakai dandan begitu? HAHAHA". Itu kan nohok ya, kalau seandainya ada sahabat sesama wanita yang bilang begitu. Tapi tidak dengan pria-pria ini. Kuncinya, jadilah muka badak.

Pria-pria ini juga tidak semudah sahabat wanita dalam melakukan sesi curhat. Kalau bersahabat dengan wanita biasanya akan saling menyampaikan sesi curhat colongan bersama-sama diawali dengan kalimat "Eh, gue mau curhat nih, menurut kalian...bla3x...", Namun, yang saya temui selama bersama pria-pria ini adalah mereka akan diam-diam mencari waktu empat mata untuk menyampaikan keluh kesahnya serta untuk mendapatkan pendapat saya secara terbuka. Ya, wanita lebih baik dalam hal menjadi pendengar. Saya juga jarang sekali mendengar cerita yang bersifat rahasia dari para pria ini. Tergantung sih, menurut mereka pantas diceritakan ya diceritakan apa adanya, tidak pakai kode 'RHS' seperti kebanyakan sahabat wanita. Biasanya wanita akan memulai cerita berkode RHS mereka dengan headline "Eh, tapi ini rahasia ya? Lu jangan bilang siapa-siapa" tetapi selalu berujung pada bocornya kode RHS tersebut. Well...

Pria lebih kocak lagi dibanding wanita, jangan heran apabila Anda sering menemui umpatan-umpatan kalau bertemu dengan mereka. Meski jarang bertemu, sahabat pria lebih solid. Jarang sih mereka mengatakan 'kangen', ah terdengar sedikit manja mungkin bagi mereka. Tidak seperti saya, apabila saya kangen bertemu dengan mereka, ya saya sampaikan bahwa saya kangen. Pria nampaknya lebih malu-malu, meski mereka tidak menampik bahwa terkadang juga rindu untuk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.

Ya, itulah kami, The Red Ants. Ingin rasanya menulis sebuah kisah tentang kami, ya, sudah terpikirkan sih, hanya belum terlaksana. Guys, wherever you are, semoga kalian semua selalu dalam keadaan baik, sehat dan berbahagia.




-Kampret berwajah teduh-

Lagu Senja

Lagu Senja
By: Harmoni Amourest

Senja berganti malam
Menjemputmu pergi meninggalkan diriku sendiri
Sunyi sepi membunuhku
Kau tinggalkan luka teramat dalam

Membekas di hati

Reff :
Kini aku kan jalani hari
Meski tanpamu di sisiku lagi
Mentari kan tetap bersinar 

Menemani aku membasuh lukaku

Senja berganti malam
Menjemputmu pergi meninggalkan diriku sendiri
Sunyi sepi membunuhku
Kau tinggalkan luka teramat dalam

Membekas di hati

Back to Reff
 
Tuhan kan beri jawaban,
Resah gelisahku
Malam pun pasti berganti
Pagi kan datang menyapaku kembali


Back to Reff






Wednesday, February 18, 2015

Reflection...




Yesterday, I found an old album which stores my childhood photos.
What a happy!
I recollect my memories in the past, until present now.
I'm very, very thankful and grateful to God for this colorful life! 



Me, when I was 3,5 years old


Friday, January 9, 2015

Poker Face

Belakangan sering kita mendengar kata penggunaan frasa 'poker face' dalam beberapa kalimat, biasanya digunakan oleh anak-anak muda zaman sekarang. Lalu sebenarnya apa sih makna istilah 'poker face' itu? Bagaimana istilah itu sering digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan perasaan mereka? Baiklah, saya akan jelaskan sedikit sesuai keterbatasan pengetahuan yang saya miliki. Correct me if I am wrong. 'Poker face' diambil dari Bahasa Inggris. Kata face berarti wajah. Sedangkan kata poker merujuk pada sebuah permainan kartu yang melibatkan taruhan dalam permainan individu, dimana pemenang ditentukan oleh pangkat dan kombinasi kartu mereka, bahkan beberapa di antaranya tetap tersembunyi sampai akhir pertandingan. Permainan kartu ini melibatkan kesempatan dan strategi jangka panjang dari para pemain. Semua itu juga ditentukan oleh tindakan yang dipilih berdasarkan probabilitas, psikologi dan teori permainan. Selain memerlukan kecerdasan olah kemampuan matematis individu dalam memperhitungkan angka-angak statistik sebagai dasar pengambilan keputusan, ternyata permainan ini juga memerlukan trik psikologi untuk saling menjatuhkan. Hmm, kedengarannya menarik ya? 

Pada permainan poker, diperlukan kehandalan dalam mengendalikan emosi (baik secara gesture tubuh maupun teknik pernafasan). Lawan bisa saja membaca ekspresi dari wajah seseorang, apabila orang tersebut terlibat secara emosional pada kartu yang dipegangnya. Misalnya, sewaktu pemain memegang kartu yang buruk, cara menarik nafasnya pun dapat terbaca dengan mudah oleh lawan. Begitu juga dengan pergerakan bola mata, bibir, alis, kerutan di dahi, dan lain-lain. Oleh karena itulah beberapa orang menjuluki poker sebagai permainan perang mental pula. 

Lalu, apa itu 'poker face'? 'Poker face' menurut urbandictionary.com adalah ungkapan untuk menunjukkan gambaran wajah pada seseorang yang tidak menunjukkan emosi sama sekali atau datar. Penggunaan istilah 'poker face' ini menjadi umum karena dalam permainan kartu poker akan sangat bodoh untuk menunjukkan sifat emosional di depan lawan, yang mungkin akan mengacaukan permainan untuk Anda. Jadi, istilah 'poker face' yang sering digunakan oleh anak-anak muda saat ini diambil dari gambaran wjah seseorang saat bermain poker. Bisa berarti suatu ekspresi wajah yang dingin, datar atau tanpa ekspresi.






Regards,

Bening Rahardjo



Super Simple Hijab Tutorial (Try It Just in 3 minutes)

Here I choose for you the two super simple hijab tutorial which is no need to take much time to apply, if you are in hurry. This tutorial suitable to use to many event, such to go work, to go hangout, to go shopping, whatever. You just need inner and pashmina, glad news: you can apply this without pins.

Tutorial Number #1

1. Wear ninja inner to cover all neck and your hair. You can adjust the colors of pashmina and inner with the clothes you want to wear.
2. Wear a pashmina (longer on one side).
3. Swivel the longer side to cover your neck (no need too tight).
4. Trim to cover your chest. Finish :)



 Tutorial Number #2

1. Wear ninja inner
2. Wear pashmina longer one one side, folding a little so it's not too wide. (It also can make elegant look on all types of faces).
3. Wrap a little on the longer side, swivel until back of the neck (no need too tight).
4. Wrap a little on the shorter side, swivel it too.
5. Trim it to cover your chest. Finish :)

May it can help you. Give a try, gals!


Salam!

Bening Rahardjo



Tuesday, January 6, 2015

Responding To Sexual Violence in Conflict Areas

"Para prajurit membakar desa-desa kami. Mereka menembak suami dan saudara-saudara kami, membakar rumah-rumah kami. Mereka berhenti untuk menunggu suara bayi kami menangis. Ketika mereka menangis, tentara datang ke ratapan bayi-bayi itu. Mereka membunuh bayi kami. Mereka memperkosa kami..."
 - Wanita suku Mayan di Guatemala, korban pemerkosaan di daerah konflik.

Setiap konflik antarnegara, antardaerah maupun antargolongan tentu selalu membawa dampak kerugian dan kekerasan kepada warga sipilnya. Wilayah konflik adalah wilayah yang rentan terhadap kekerasan, terutama terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Kekerasan seksual berbasis gender sering digunakan sebagai alat perang untuk menyerang perempuan dan anak-anak. Seringkali dalam keadaan darurat seperti perang dan konflik, negara tidak mempunyai cukup sumberdaya untuk menegakkan hukum dan melindungi hak-hak warga sipil. Besarnya angka kekerasan terhadap perempuan dilatarbelakangi oleh konflik berkepanjangan yang membawa wilayah atau negara tersebut pada krisis kemanusiaan. Kekerasan seksual dalam wilayah konflik bersenjata mempunyai berbagai macam motif dalam aksinya. Oleh karena hal ini dianggap sebagai senjata yang efektif untuk menghancurkan mental lawan misalnya, ataupun menghancurkan moral individu, keluarga maupun kelompok tertentu. Masih minimnya kesadaran masyarakat akan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, semakin memperkuat stigma yang menimbulkan rasa trauma, malu, ketakutan dan beban, sehingga para korban tidak berani melaporkan kejahatan seksual yang telah diterimanya. 

Trauma perkosaan sangat sulit untuk diatasi. Mereka, para korban kekerasan seksual itu, mempunyai berbagai macam rasa trauma yang sama. Namun, mereka menghadapi rasa trauma itu dengan caranya masing-masing. Pada rasa trauma yang mendalam itu, tidak seorang pun yang mampu mengerti. Tetapi dengan keberanian dan ketabahan banyak korban, beberapa dari mereka mampu bertahan dengan pengharapan hidup yang meski tidak seperti sebelumnya. Bagi korban kekerasan seksual yang tidak kuat mental, tidak jarang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya ketimbang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan, atau trauma psikologis yang hebat, bahkan rawan terkena penyakit seksual menular. 


Masing-masing dari kita, mempunyai tugas untuk menjadi pegiat kerja advokasi untuk perubahan besar dalam jangka panjang, demi penegakan hak asasi perempuan dan anak-anak. Jika hati nurani Anda masih angkuh untuk bersikap apatis terhadap isyu ini, bukankah kita semua terlahir dari seorang perempuan? Kekuasaan dan kepentingan seringkali membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi manusia, mereka diliputi kerakusan naif, menyiksa perempuan dan anak-anak dengan teror mental. Apapun bentuknya, konflik adalah potret krisis dalam berbagai macam dimensi manusia. Bahkan dalam keadaan darurat, militer yang seharusnya menjadi pelindung, seringkali malah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Lantas, pada situasi konflik, siapa lagi yang bisa kita beri kepercayaan?

Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak dalam wilayah konflik. Kita tentu ingat, bagaimana kasus etnis tahun 1998-1999, kasus di Aceh, Poso, Maluku dan Papua di saat genting-gentingnya. Perempuan dan anak-anak terbungkam dalam nanar yang tak seharusnya mereka rasakan. Lantas bagaimana pemerintah kita memberi pendampingan pada para korban kekerasan seksual pasca konflik? Tentu saja negara mempunyai kewajiban dalam upaya pemulihan, bukan hanya pemulihan dalam jangka pendek. Pemulihan ini mempunyai makna dalam dan luas, serta dibutuhkan konsistensi. Penting untuk melihat kebutuhan terkait pencegahan dan penanganan para korban kekerasan seksual, tidak hanya oleh masyarakat dan korban, tetapi juga didukung oleh eksekutif dan legislatif, terkait rumusan strategis dan implementatif untuk mencegah terjadinya hal yang sama di kemudian hari.

Dua hal mendasar yang tertinggal pasca konflik. Pertama, tindak kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak, semacamnya, tidak ada kejelasan hukum sampai sekarang. Kedua, akses semua layanan kesehatan baik psikologis maupun fisik bagi para korban, yang masih kurang. Organisasi hak Amnesty Internasional merangkum ini menjadi beberapa indikator, seperti: berapa banyak tentara yang melakukan kekerasan seksual? Seberapa besar pos dalam anggaran suatu negara untuk membantu korban kekerasan seksual di bidang ekonomi, sosial, psikologi dan sektor hukum? Apakah setiap pemerintahan telah menerapkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1325, mengenai keikutsertaan perempuan dalam perundingan perdamaian, serta perlindungan bagi perempuan di wilayah konflik? Apakah kita telah memperhatikan testimoni atau kesaksian dari para korban? Apakah ada investigasi terkait kekerasan tersebut? Apakah korban kekerasan seksual memiliki akses pada pelayanan medis secara gratis sebagai upaya pemulihan? Berapa banyak jumlah perempuan pekerja medis dalam upaya pemulihan tersebut? Serta lain-lainnya. 

Tidak ada sistem universal terkait layanan yang tersedia untuk pemulihan korban kekerasan seksual. Bentuk layanan itu bervariasi dari masyarakat untuk masyarakat. Pertama, pada tingkat intervensi individu: berupaya untuk memperbaiki konsekuensi yang dihadapi korban individu. Kedua, di tingkat masyarakat: berupaya untuk mengubah sistem stigma masyarakat atas korban kekerasan seksual. Hanya itu yang biasa kita temui. Konseling dan dukungan oleh kelompok sesama mungkin menjadi layanan yang paling digunakan oleh perempuan korban kekerasan seksual, untuk berbicara tentang perasaan mereka. Tapi hampir tidak ada studi lanjut terkait evaluasi untuk layanan tersebut. Saat ini tidak ada cara yang jelas untuk mengukur pemberdayaan wanita-wanita dan anak-anak korban kekerasan seksual. Khususnya, di Indonesia. Terus terang, banyak dari kita yang tidak peduli tentang masalah ini. Sayangnya, kita justru sengaja memilih untuk tidak peduli tentang isyu ini. 

Kita, tidak boleh menolak lupa pada kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan dan anak-anak di daerah konflik. Hal ini agar tidak berulang, agar tidak menjadi rantai nanar yang terus berulang dalam setiap konflik. Pemerintah harus memastikan perlindungan hak-hak konstitusional perempuan dan mengembangkan mekanisme bagi penegakannya melalui peraturan-peraturan daerah. Khusus wilayah konflik, pemerintah harus segera melakukan dialog dengan masyarakt setempat secara damai, bermartabat dan memastikan jaminan keamanan dengan cara pendekatan untuk menghentikan kekerasan. Masyarakat, khususnya lembaga sosial, agama, budaya perlu meningkatkan peran aktifnya dalam dukungan relawan demi pemenuhan rasa keadilan bagi korban, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa membatasi ruang gerak perempuan korban kekerasan seksual.

Kita, tidak boleh menolak untuk berempati dan peduli kepada kasus yang menodai adab dan nilai-nilai kemanusiaan di sekitar kita. Jika kita bersikap acuh, layakkah kita hidup dengan predikat 'manusia'? Kita bisa menjadi aktor-aktor dalam upaya advokasi, setidaknya untuk orang-orang di sekitar kita, maupun dalam lingkup luas.


Regards,

Bening Rahardjo




Read more for English Version

Sunday, January 4, 2015

Sikil Sapi Ono...

"Tat, tat gala laga apa"

Baru saja saya menerima sebuah pesan teks dari keponakan murid kelas dua Sekolah Dasar yang baru bisa mengetik vokal 'a' melalui piranti yang bernama smartphone. Namanya Wira, begitu dia biasa dipanggil. Sedikit hiperaktif, mungkin dikarenakan rasa ingin tahu yang sangat besar, terutama pada hal-hal baru yang biasa dia temui. Sekarang Wira tinggal bersama kakak saya di Jakarta. Dulu dia sempat bersekolah di Yogyakarta dan Solo selama TK hingga bangku Sekolah Dasar kelas satu.

Wirananda dengan gigi ompongnya :*
Pesan itu tiba-tiba mengingatkan saya akan sosok kecil Wira saat masuk ke bangku Sekolah Dasar, dimana ada pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokalnya. Wira sempat mengalami kesulitan belajar dikarenakan sejak kecil dia tidak terbiasa dengan penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan tempat dia dibesarkan. Suatu hari, Ibunya memanggil saya agar menemani Wira belajar. Jujur saja, anak itu susah belajar apabila didampingi orangtuanya sendiri, jadi saya yang didaulat untuk menjadi tutor belajar Wira saat hendak Ujian Semester. Suatu siang setelah pulang sekolah Wira mengadu kepada sang ibu (dia memanggil ibunya dengan sebutan 'Tituk' karena cadel dan 'Apak' untuk bapak) dan saya (Wira memanggil saya 'Ante' alias tante) katanya, jawaban ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia diberi tanda silang merah oleh gurunya. Dia protes kepada saya dengan aksen cadelnya.

"Ante... Ini kan Ia uda jawab, tapi kok dikasih melah sama bu gulu...?" *nada mau nangis*
"Lah, emang kayak gimana soalnya? Coba sini tante lihat Mas..."
"Ini nih Ante..."

*baca soal yang ditunjukin sama Wira*
Soal itu berbunyi demikian: Bangun tidur kuterus....
pilihan jawaban: a. Mandi    b. Makan    c. Tidur lagi    d. Minum susu 
Di pilihan itu Wira menyilang angka 'd' yang berarti 'minum susu'.

"Wah, kalau ini Mas Ia memang salah jawabannya."
"Ih Anteeee... ini jawabnya Ia benaaal!!" *marah*
"Benar? Masa sih? Coba ya, ingat lagu ini nggak? Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..." *menyanyikan lagu bangun tidur*
"Iya."
"Iya kan? Jadi apa dong jawabannya tadi? Bangun tidur kuterus...?"
"Mandi."
"Nah, itu tahu... Berarti jawaban yang benar, bangun tidur kuterus... mandi. Bukan minum susu."
"Bukaaaan Ante Gaiiih!! Jawabnya minum susuuuu!" *ngeyel*
"Kok minum susu sih? Itu salah Mas Ia, yang benar mandi." *ngeyel juga*
"Anteeee Gaih ini gimana sik? Kata Tituk... kalau bangun tidul itu Ia halus minum susu dulu, makan nasi, balu mandi. Nanti kalau nggak minum susu, Tituk bisa malah." *menjelaskan dengan polos*
"Oh...gitu? Emangnya Mas Ia kalau pagi-pagi bangun tidur biasanya ngapain?"
"Minum susuuuu, bukan mandiiiii Anteeeee!!"

Saya dan ibunya Wira seketika berpandangan sambil melongo kemudian tertawa bersama. Okay, I got this, Wira....Iya, pemahaman anak ini tidak salah. Soal itu memang berbunyi "Bangun tidur KUTERUS..." Ya mau bagaimana? Setelah bangun tidur di pagi hari, hal yang Wira lakukan (menurut perintah dari sang ibu) adalah minum susu, sarapan, baru mandi pagi... (-___-)


Hari berikutnya, setelah ujian Bahasa Jawa, Wira pulang sambil menangis. Dia protes (lagi). Sebagai tutor belajar Bahasa Jawa, saya tentu penasaran soal apa yang dipermasalahkan. Saya berusaha menenangkan Wira sebelum tangisnya lebih lama.

"Sini coba tante lihat soalnya..."
"Yang ini Ante..."
"Ini?" *menunjuk soal yang dimaksud*
Anak itu mengangguk. Saya meneruskan membaca soal yang dimaksud. Jadi kira-kira dalam soal itu digambarkan seekor sapi lengkap dengan bentuk tubuhnya. Sapi itu sedang makan rumput, ada awan di atas sapi itu dan bentuk bagian bawahnya, emm...agak sedikit buram. Entahlah.

Soalnya berbunyi demikian: Sikil sapi iku ono..... (Kaki sapi itu ada....)
Karena tidak ada pilihan jawaban, maka di situ siswa harus mengisi jawaban sendiri. Saat saya membaca jawaban yang ditulis Wira. *Glek! Nelen ludah* Apa nggak salah tulis ni bocah??

"Mas Ia, ini apa?" *nunjuk jawaban yang ditulis Wira*
"E-E-K nya." *membaca dengan polos*
"APAH?!!"
"Iya ini jawabannya e-e-k-n-y-a  Anteee...."
"HAH?! KOK DIJAWAB  E-E-K-N-Y-A  SIH MAS IAAAA???"
"Iya kan itu jawaban yang Ia tulis..."
"Coba dibaca lagi soalnya, sikil sapi iku ono titik-titik... Apa jawabnya?"
"E-e-k-n-y-a..." *polos*


Wuahahahaha, Seketika saya ngakak sampai mengeluarkan air mata. Wira malah bingung melihat tawa saya yang meledak mendengar jawaban polos anak itu. Setelah tawa agak mereda, saya bertanya pada Wira mengapa dia bisa mendapat jawaban seperti itu.

"Mas Ia, kok bisa nulis e-e-k?"
"Ante Gaih ini gimana sik? Sikil sapi itu kan kotol Anteeee..... ada e-e-k-n-y-a itu kan di bawah. Hiii..."
Hahahahaha *ngakak sekali lagi*
"Loh, emang Mas Ia pernah lihat sapi?"
"Ia kan lihat itu di lumah olang ada." 
"Kapan lihatnya?"
"Pas Ia diajak naik motol sama Apak sama Tituk....Sapinya itu kotol, ada e-e-k cokelat di kakinya semua."
Hahahahaha....Okay, I GOT THIS, WIRA! I can not even blame the honest answer from this child. O my Lord!
"Iya emang bener itu sapinya suka ada e-e-k di kakinya, tapi yang dimaksud soal ini tuh, bukan ada apa di kaki sapinya Mas.... Jadi yang ditanyakan itu ada berapa jumlah kaki sapi itu....Lain kali jawabnya jangan e-e-k lagi ya? Tapi jumlah kakinya. Coba ada berapa?"
"Empat."
"Nah itu baru bener."

Hahahaha, well...I dunno but sometimes anak-anak itu lebih 'polos' dalam merepresentasikan apa yang mereka lihat dengan indera visual mereka. Oleh karena itu, kita harus sangat hati-hati dalam membimbing dan mendidik anak. Berikan pemahaman yang baik selama itu bisa diterima oleh otak mereka :)



Friday, January 2, 2015

This is What I Called 'Relaxing Music'

Listen to a beautiful, light instrumental music piece that combines a healthy mix of calming, relaxing, hmm sounds like meditation, No? Music is everywhere I go, everyplace I lock. Very universal, it is a ubiquitous activity found in every known human culture. Self-selected music factors are affected by both the social and auditory characteristics of the music. For me, listening to Music is an aesthetic experience. Music can improve an adolescent's mood by reducing stress and lowering anxiety levels. It affects the soul. Beside listening, I also enjoy to playing some instrument. So, sit back, relax, and enjoy our Javanese traditional musical offerings :)

One of Javanese traditional music instrumental







Regards,


Bening Rahardjo


Thursday, January 1, 2015

The New Year 2015: Rise With Us!


Semalam, sebagian dari kita telah melewati malam pergantian tahun dari 2014 menuju 2015. Bagaimana Anda melewatkan malam tadi? Saya tidak akan menggunakan kata 'biasanya' di sini. Sebab, kata 'biasanya' akan selalu merujuk kepada habit ataupun budaya. Bukankah budaya itu sendiri terbentuk oleh tatanan masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai dari sejarah, alam, lingkungan sosial, dan sebagainya. Masyarakat kita, dari tahun ke tahun, cenderung menganut penyeragaman dalam segala hal, termasuk salah satunya dalam hal perayaan malam pergantian tahun. Kempang api, terompet, balon, dan pernak-pernik lainnya yang serba sparkle selalu menjadi pilihan untuk menemani detik-detik pergantian tahun. Uniformitas kesemarakan satu malam itu seolah ditandai dengan simbol-simbol yang seragam. Saya rasa tidak jauh berbeda yang ada di Indonesia dengan yang ada di Hongkong maupun Brazil. Entah darimana asal mula simbol-simbol itu dikenalkan kepada khalayak untuk menandakan bahwa mereka sedang menantikan tahun baru yang akan datang. Entah pula apakah karena manusianya yang tidak memperhatikan pilihan-pilihan lain selain standarisasi budaya itu tadi.

Saya pribadi melewatkan detik pergantian tahun semalam secara takzim dan sederhana bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Suasana hangat hadir menyelimuti bersama cahaya dari lilin-lilin yang menemani perbincangan ringan kami mengenai hari-hari dalam setahun yang telah berlalu dan badai yang harus dihadapi esok hari. Apabila beberapa waktu lalu saya sempat merencanakan akan menghabiskan malam pergantian tahun bersama dengan sahabat-sahabat terdekat, tetapi kemudian rencana itu saya ubah total. Bagaimana mungkin Anda melewatkan hari-hari yang seharusnya penuh dengan battle dengan suasana gemerlap penuh suka cita? Satu sisi, ini bukanlah saat yang tepat untuk sebuah perayaan. Kita lihat, di sudut tempat yang lain baru saja terjadi banyak musibah beruntun untuk tanah kelahiran kita, mulai dari tanah longsor, banjir, angin puting beliung, kebakaran Pasar Klewer dan yang teraktual yakni kecelakaan pesawat Air Asia nomor penerbangan QZ 8501. Saya pribadi dan keluarga juga tidak sedang dalam kondisi tepat untuk perayaan sebuah momen, satu malam, dalam suasana gegap gempita. Kami lebih memilih untuk duduk bersama sembari mengobrol ringan sebagai refleksi hari-hari yang telah kami lewati kemarin. Ya, kita memang tidak bisa merasakan kepedihan orang lain atas luka yang sedang mereka rasakan. Namun setidaknya, kita bisa lebih bijak untuk tidak merayakan pergantian tahun ini secara berlebihan.

Menyalakan lilin-lilin di tengah kebersamaan keluarga, mungkin itu hal yang paling tepat bagi kami saat ini. Lilin adalah simbol pengharapan bagi kami. Saya ingat kalimat bijak dari Gede Prama di sebuah acara di Jakarta tahun lalu: "Kita memang tidak mampu menjadi matahari sebagai cahaya penerang bagi semua orang, tetapi setidaknya kita bisa menjadi lilin-lilin kecil sebagai penerang bagi orang-orang di sekitar kita". Sebagian dari kita bisa saja menertawakan musibah yang dialami oleh orang lain, kita bisa saja mencibir kepada orang-orang yang memilih untuk berempati kepada mereka yang mengalami musibah. Tidak apa-apa asal tidak Anda tunjukkan tawa dan cibiran itu di muka umum, kalau Anda tidak ingin dicap 'manusia tidak punya nurani'. Musibah bukanlah suatu hal yang pantas untuk dicandai. Coba bayangkan apabila musibah itu melibatkan sanak saudara Anda, atau mungkin malah diri Anda sendiri? Relakah Anda menjadi bahan tertawaan atau cibiran? Saya rasa orang pandir pun tahu jawabannya.


Ladies and gentlemen, hidup itu tidak pasti. Saya bisa jaminkan itu kepada Anda. Hanya ada satu hal di dunia ini yang pasti, yakni perubahan. Bisa jadi kemarin kita tertawa-tawa hingga meluapkan perasaan bahagia bertubi-tubi. Namun, esok hari bisa saja tawa itu terenggut dengan sobekan luka. Siapa yang tahu? Setiap orang selalu menuliskan angan-angan indah yang mereka sebut sebagai resolusi tahun baru, bahwa nanti di tahun depan saya mau ini, saya ingin itu. Memasang target harus begini, harus begitu. Ketika hari dalam setahun telah berakhir tetapi mimpi-mimpi indah dan ambisi-ambisi di dalamnya belum tercapai, kekecewaanlah yang didapat. Kita mungkin tidak pernah menengok kepada satu kekuatan penting lain di dalam satu tahun yang telah kita lewati, yakni proses. Kita menjadi tidak lebih hanya sekumpulan ambisi-ambisi yang memerintahkan otak untuk bertindak. Padahal, kita adalah proses dari perubahan yang pasti terjadi.

Akhirnya, hari ini tiba. Hari dimana  saya mulai memahami makna kalimat mulia dari salah seorang kolega dekat, yang ingin saya bagikan untuk Anda semua: "Jikalau hari ini berjalan sedemikian indahnya, dari manakah arah datangnya kesedihan berikutnya? Katakan.". Semoga kalimat itu menjadikan pengingat bagi kita semua, bahwa kesedihan, kebahagiaan, tawa, tangis, canda, amarah....itu semua tidaklah pasti.


Regards,

Bening Rahardjo