Sunday, March 19, 2017

Join BDK Cycling Club (Klub Gowes)

Selamat berhari minggu, teman!

Hari ini tadi diawali dengan mendung yang menggantung, saya pergi bersepeda bersama dengan klub sepeda kantor kakak. Hal baru lagi saya coba. Awalnya tidak tertarik untuk ikut gowes, apalagi gabung di klub pesepeda. Beberapa waktu lalu kakak menawarkan saya untuk gabung sebagai anggota klub sepeda kantornya. Saya ditawari membayar seratus ribu rupiah untuk menjadi anggota plus sebuah jersey club. Sempat nanya ini itu. 
"Entar kalau cuma gue yang orang luar kantor gimana Kak? Nggak mau ah, gue sungkan.." 
"Udah lu ikut aja. Lagian ini klub untuk umum, yang ikut itu kebanyakan para nasabah. Orang kantor mah malah pada nggak tertarik"
"Serius nih? Tapi ntar gue naik  apa?"
"Ya naik sepeda lah, Oneng.. Namanya juga klub sepeda."
Hello brooo... gue mah juga tahu kalau gowes itu naik sepeda. Maksudnya...gue kan cuma punya sepeda polygon yang dipasang kerenjang di depannya. Is that make a sense for join the cycling club? Bisa-bisa sepeda gue paling unyu ntar. 😣
Akhirnya saya bergabung. And for the first info, hari minggu akan ada acara gowes bareng 10Km. Ya acaranya jatuh pada hari ini tadi. Waduh, 10Km? Awalnya mikir serem juga bayangin 10Km. Pulang pergi berarti udah 20Km. Belum jarak dari rumah ke tempat kumpul. Buat yang sudah senior gowes mah.. Pasti jarak segitu hanya kacang buat mereka *hormat suhu!*. Sanggup apa enggak ya saya sepedaan segitu jauhnya. Sepedaan paling jauh terakhir kali ya waktu ke sekolah jaman SMP. Lol 😝 Habis itu, saya sepedaan paling banter dari rumah ke alun-alun kota aja. Basmallah aja deh.

Berbekal sepeda yang saya punya, jersey polyster bagus, sepatu olahraga yang nyaman dan air minum, akhirnya saya berangkat juga ikut acara klub. Anyway, setelah dijalani ternyata it was fun! Huulaa.. Kumpul sama bapak-bapak yang usianya rata-rata pensiunan sih, seru juga. Mungkin yang usia 30-40 hanya beberapa, malah yang sudah sepuh lebih mayoritas. FYI, sepeda mereka ya sepeda untuk gowes yang memang mehong harganya. Jauh lah kalau dibandingkan sepeda saya yang apa atu. Awalnya dijalan yang menanjak curam saya nggak kuat, masih dituntun. Beginner. Harap maklum. So far, menyenangkan sekali ternyata. Serasa di negeri oranye yang kemana-mana pakai sepeda gowes. Pantesan orang barat lebih kuat secara fisik dibanding kita, karena kita kemana-mana naik motor mobil. Mau beli sesuatu ke warung yang hanya 30 meter aja naik motor. Lah orang barat lebih suka bersepeda dan jalan kaki. Hal positif yang baik dicontoh.

Pengalaman pertama saya sih ada beberapa kendala, seperti:
  1. Kram (actually, saya nggak pemanasan lebih dulu. Padahal pemanasan kaki, tangan dan badan itu penting. Jangan asal mengayuh sepeda saja).
  2. Tidak kuat di tanjakan curam. Nih ya gaes.. Ada triknya ternyata mindah-mindahin geer sepeda itu. Bodohnya saya karena nubie, asal aja pindah geer. Emang sih kalau tanjakan landai, cukup main feeling. Maksudnya, kalau masih kuat tanpa pindah geer ya diusahakan tetap mengayuh/jangan berhenti.
  3. Alat pompa portable. Ya, saya lupa bawa alat ini. Penting sekali, kalau ban kita kempes di jalan, tidak perlu cari bengkel. Bahkan untuk mereka yang sepedanya dah mahal-mahal itu, ternyata punya alat emergency untuk menangani permasalahan sepedanya sendiri loh gaes.
  4. Handuk kecil. Baju jersey yang dipakai biasanya gampang dingin karena keringat , apalagi saya pakai jilbab begini. Keringat udah basah aja di dada dan punggung. Nah, biasanya para pesepeda bawa handuk kecil minimal untuk mengelap keringat. Pada tahap jarak yang lebih jauh, biasanya mereka bawa baju ganti. Agar tidak terjadi paru-paru basah, angin duduk atau masuk angin.
  5. Minyak gosok. Penting! Apalagi kalau sewaktu-waktu terjadi kram.
Itu sih beberapa yang saya pastikan lain kali kalau ikut gowes lagi harus dibawa. Memang rasa kekeluargaan sesama pesepeda satu klub itu besar ya. Contoh kecil waktu saya mau parkir sepeda, harus menjinjing melewati trotoar tinggi, salah seorang bapak langsung menawarkan bantuan dengan sigap. Apalagi karena saya perempuan dan paling muda diantara mereka 😄


Jadi gimana, kalian ada yang tertarik gabung klub gowes? 😉


Regards.



Saturday, March 18, 2017

Viewer Discretion in Social Media

Baru saja kemarin netizen Indonesia dibuat heboh oleh aksi bunuh diri seorang laki-laki warga Jagakarsa yang merekam aksi nekadnya gantung diri dengan video live di Facebook. Video live tersebut menjadi viral setelah akun @lambe_turah mempostingnya. Sorry not sorry, buat saya pribadi, lu mau bunuh diri apa gimana terserah aja, kalau mau ninggalin pesan bermakna buat keluarga yang ditinggal, silakan. Tapi karena itu sudah merambah media internet, mempostingnya secara LIVE dan membiarkan seluruh masyarakat untuk melihat aksi lu, itu jelas SALAH. Ada juga cara-cara seperti itu bakal menjadi legitimasi sosial kalau dibiarkan.

Seketika saat akun @lambe_turah memposting mengenai info ini, saya langsung cari tahu akunnya. Beuuh! Malah banyak yang nge-share videonya. Ni orang-orang mikirnya apa sih ya, batin saya waktu itu. Bukannya di-report kek ke Official Facebook bahwa pemilik akun udah meninggal; juga adanya konten video berisi violence di dalamnya yang sangat tidak pantas ditonton. Eh malah banyak yang nonton dan membagikannya. Hmm... Parahnya lagi saya hanya baca komentar orang-orang di situ. Kebanyakan sih menyesal sudah nonton dan merasa takut. (Jelas lah. Ngapain juga coba pakai nonton tindakan suicide gantung diri, nungguin orang meregang nyawanya sendiri pakai tali sampai sakaratul maut menyakitkan. Saya mah ogah).

Seingat saya dulu juga pernah ada aksi gadis 12 tahun bunuh diri membakar diri sendiri yang kemudian direkamnya secara live juga di Facebook. Fitur siaran langsung media sosial jadi dimanfaatkan untuk merekam aksi bunuh diri. Mungkin depresi yang tidak ditangani dengan baik menjadikan orang mudah untuk melakukan hal-hal nekad. Please kepada para pembaca dimanapun Anda berada, apabila menemukan contoh kasus seperti ini lagi, langsung REPORT ACCOUNT saja. Report video-nya juga biar pihak Facebook langsung menutupnya. Bukan hal yang pantas lah disebarin. Apalagi jika dilihat oleh orang-orang dengan emosi labil atau anak-anak, bisa menjadi contoh buruk tentunya. Seperti apabila Anda melihat konten yang tidak layak dilihat/dibaca di media sosial, saat ini pihak penyelenggara media sosial sudah menerapkan layanan report account atau block untuk mencegah konten negatif. Tidak perlu disebarluaskan, langsung saja laporkan. Kalau Anda menyebarkannya, sama saja Anda meracuni orang lain. Please, be wise ya peeps!


Regards.


Friday, March 17, 2017

(Apakah) Tuhan (Perlu) Berpolitik (?)

Yo guys, judul postingan ini mungkin terdengar 'bit strange'. Actually, memang ini terkait dengan isyu hangat yang sedang banyak diberitakan oleh media belakangan: Pemerintah melalui Kementerian Agama tengah menyusun aturan mengenai ceramah di rumah ibadah yang berlaku untuk semua agama yang diakui di Indonesia. Read this linkhttp://m.metrotvnews.com/video/primetime-news/8koXodRK-pemerintah-siapkan-standarisasi-ceramah-di-rumah-ibadah

Ketika membaca beberapa berita online mengenai wacana ini, saya seketika langsung mikir: "Wait, wait... Maksudnya penyeragaman seperti apa? Penyeragaman konten kah? Penyeragaman format kah? Atau yang seperti apa?; Maksud label standarisasi itu bagaimana ya? Apakah-- ceramah, khutbah, kajian, atau apapun bentuknya itu--harus melalui semacam screening baik/tidaknya, layak/tidaknya?"; Apakah itu bisa bermakna 'pembatasan'?. 

Lalu mulailah saya mencari informasi tentang wacana ini. Segitu kritisnya ya kondisi toleransi umat beragama di negara kita hingga perlu adanya aturan mengenai ceramah di rumah ibadah? Rumah ibadah. To be sure... Bukan sekadar 'rumah' atau tempat. Tetapi ini jauh lebih sakral maknanya. Tempat dimana kita lebih memfokuskan diri pada hubungan hamba dengan Tuhan. Tempat kita mencari kedamaian diri dan energi spiritualitas. Mari kita bahas dari berbagai sudut pandang.

Rumah ibadah bermacam-macam, sesuai dengan agama yang diakui dan dilindungi oleh negara: ada masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng. Semua itu adalah tempat suci yang digunakan bagi umat untuk melakukan praktik keagamaan. Masing-masing agama punya ajaran tentang kebaikan. Masing-masing agama punya topik bermacam-macam bersumber dari kitab suci, yang dapat dipakai bagi para pendakwah untuk melakukan praktik keagamaan kepada umat (pemeluk agama). Praktik keagamaan ini bermacam-macam, bisa mencakup ceramah, ritual, khutbah, peringatan atau pemujaan, kajian, dll. 

Bukan bermaksud apriori, tetapi wacana baru mengenai aturan ceramah di tempat ibadah, menurut saya hal itu boleh atau bisa dilakukan hanya jika keadaan suatu negara sudah sedemikian gentingnya untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas nasional. Itu yang mengusik saya, apakah keamanan dan stabilitas nasional kita sudah pada tahap yang bisa dikatakan kritis? Apakah warga negara sudah benar-benar krisis toleransi hingga memunculkan wacana seperti tersebut oleh pemerintah? 

Label standarisasi ini--seperti yang ditulis di media-media--cenderung meletakkan posisi pemerintah bermanipulasi politik pada agama. Apakah Tuhan yang kita sembah di tempat ibadah perlu berpolitik? Hambanya iya, melakukan politik. Apakah agama juga menjadi manuver lain bagi elit kala jalan politik sudah dirasa kaku dengan cara 'lawas'? Sudah jelas iya. 

Mungkinkah pribadi individu sebagai pemeluk agama ataupun sebagai umat masih bisa berteduh pada bunyi "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing; dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu". Jaminan ibadah yang kemudian dilabeli dengan 'standar' yang ditetapkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa politik dan agama menjalankan peran masing-masing dalam keutuhan negara. Kita tidak mungkin mendasarkan pilihan politik yang tidak ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebaliknya, politik juga bisa memecah belah kerukunan beragama.

Lalu pertanyaannya adalah beragama itu apa sih? Apakah hanya dengan mengucapkan kalimat tertentu "Aku percaya Tuhan" bisa dianggap beragama? Apakah dengan mengakui adanya kekuatan luar biasa di luar diri individu? Apakah beragama itu pengakuan secara formalitas? Apakah beragama itu adalah ketika individu bisa berdoa kepada Tuhan? Apakah beragama itu sebatas pengakuan bahwa individu menganut agama tertentu? Lalu dimana letak pemahaman, pengahayatan akan ajaran agama dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya? Melalui agama itu sendiri diatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan sesama manusia.

Apakah tempat suci yang dianggap 'rumah Tuhan' begitu 'perlu' diajak berpolitik? Kita semua tahu bahwa sejarah penyebaran agama adalah melalui jalan politik. Bukankah tempat ibadah merupakan tempat yang dianggap suci dalam penyelenggaraan peribadatan? Tempat dimana individu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Tempat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta,. Tempat untuk memaknai hubungan manusia sebagai hamba dengan segala kekurangan dan dosa-dosanya. Tempat dialog/komunikasi sosial antarpemeluk agama mengenai pemahaman keagamaan.

Pemerintah sendiri menjamin dan melindungi tempat ibadah sebagai wujud nyata dari UUD 1945 mengenai kebebasan beragama. Sejarah bangsa menjelaskan bahwa negara dan landasan negara kita disepakati di atas kesepakatan bersama. Semua kembali lagi kepada UUD 1945 dan Pancasila, bahwa negara kita menjamin kebebasan tetapi juga mengakui perbedaan di dalamnya. Kita telah belajar nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 mengenai toleransi beragama sejak bangku sekolah dasar. Kemudian apabila dalam praktiknya di kehidupan bernegara nilai-nilai tersebut luntur, apakah kemudian cara mengatasinya dengan melakukan 'penyeragaman' ceramah atau khutbah di tempat ibadah akan efektif? 

Mungkin yang ditakutkan oleh pemerintah adalah berkembangnya paham-paham radikal dari praktik keagamaan yang dilakukan di tempat ibadah. Tidak kita pungkiri bahwa saat ini sedang marak peningkatan radikalisme yang memunculkan konflik dan kekerasan sosial bernuansa agama. Tengok saja pilkada atau pilpres yang selaku diwarnai dengan konflik dan perpecahan berbasis SARA. Sudah menjadi hal melelahkan bagi siapa saja yang melihat dari konteks humanisme tentunya. Tindakan memaksakan pendapat, bahkan pada tindakan memobilisasi massa pada satu pandangan politik tertentu dengan nama agama. Well, bagi saya silakan saja apabila individu meyakini suatu pandangan tertentu mengenai politik (yang dibasiskan pada keyakinan agama), tetapi apakah TUHAN perlu dilibatkan dalam deprivasi politik? Sedangkan sebagai individu beragama kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Suci. Tuhan adalah Maha dengan segala Maha-NYA.


Sangat kompleks apabila melihat dari sudut pandang netral. Beberapa yang bisa dipandang secara kasat mata mengapa radikalisme bisa menjamur dan menjadi endemi sosial, yakni: Pertama, euforia kebebasan yang tidak mau peduli kepada pihak lain yang berakibat menurunnya toleransi; Kedua, fragmentasi politik dan sosial di kalangan elit yang berimbas pada grassroot dan menyebabkan konflik laten horizontal; Ketiga, tidak konsistennya penegakan hukum, terutama beberapa kasus konflik dan kekerasan sosial membawa atribut keagamaan; Keempat, disorientasi nilai dan norma sosial, ujung dari semuanya adalah kebimbangan individu dan ketidakpercayaan pada lembaga penyelenggara pemerintahan yang berakibat penyimpangan nilai dan norma sosial (bahkan nilai dan norma agama itu sendiri). 

Kelompok radikal sangat mudah memanfaatkan tempat ibadah yang tidak terurus dengan baik oleh masyarakat sekitar. Akan lebih gampang menyusupkan paham radikal melalui agama. Maka upaya menanggulangi radikalisme ini tidak cukup hanya dilakukan satu dua elemen saja, tetapi diperlukan semua elemen untuk bersinergi. Penguatan nilai norma Pancasila dan UUD 1945 sangat perlu diajarkan terus-menerus. Tidak cukup hanya di sekolah-sekolah, di dalam institusi dan keluarga pun perlu diperkuat. Peran keluarga dan masyarakat adalah yang paling dekat untuk membentengi dari propaganda radikalisme terselubung dalam praktik keagamaan. Masyarakat yang dapat mengawasi praktik keagamaan yang dilakukan di tempat ibadah yang ada di sekitar mereka. Pengurus tempat ibadah juga harus melibatkan masyarakat setempat sehingga apapun kegiatan keagamaan yang dilakukan atas sepengetahuan masyarakat sekitar.


Regards.

Wednesday, March 15, 2017

'Bug Transition' at Work (Do What You Love / Love What You Do)

Hi, apa kabar? Hope you guys in a good and happy situation. Bless for all of us :)

Hmm... have you ever faced 'bug transition' at work? No, this is not about the 'bug' as in software system, kinda like that analogy. I mean, each people may react differently to different type of changes; or event the same type of change occurring at different times in life. For example I had a weird problem when I was suddenly confronted with the work related to tender or auction; as some of you already knew, that my basic previous work before are related to computer and fashion; and right when I'm faced with the procurement tender process, of course I experienced a kind of 'bug transition', like some kind of 'jetlag' at work. I just realize that I am facing a very much different job from what I've lived, in spite of the fact that all still related to administration stuff, but this is obviously much different. When I lived my role at fashion work, I so enjoyed it. Take care of mailing, filing documents, scheduling a meeting with client, set the work plan, do the contract agreement, choose material fabrics, body fitting, make sure the tailors working hard to support production system, do packing, shipping, and others. I know, a job that is associated with passion will feel more alive and energized. True.


Afterwards, when I was faced with tender projects which its debt ceiling could be far above the usual contract I ever signed, honestly I felt scared and nervous. Is this the work I really want? Still, the document selection were super strict and meticulous, no doubt, it was electronically and transparently project organized by the government. All bidders could monitor via internet. Still, bureaucratic system are very complicated. It does not matter when it comes to permission and other terms, because it should to be legal. But my point here is, the appointment documents that are exhausting; you have to get there, you have to go here, you have to do this, you have to be so (anyway I don't know what's the function of electronic transparency here). When the government are ready for electronic procurement, it should not need to be complicated as it was for physical document screening process. Well, maybe it was just me who don't understand about auction. Just skip.
 
Adjusting to a new culture and environment is a normal process and can generate a wide variety of reactions and feelings. People move through life they continually experience change and transition. These changes often result to new networks, new relationships, new behaviors, and new self-perceptions; juts like what I faced. Many people go through a period of personal frustration or disenchantment with their new environment. Such a 'culture shock' and it's normal part. Whereas, this could be a serious problem if the stress factors aren't handled properly. Still, to keep in mind is happiness. Are you happy living your job? Or is it just to make something negative to you? It's all up to you. We have different type of person at work. There are people who are challenged to do work which 'THIS ISN'T ME AT ALL'. Beside, there are people who prefer to pursue job what became their PASSION. It depends which personally are you? Me? I am clearly for the second anyway. I don't want to be stuck in the wrong place :)


 So for those of you who also experienced a 'bug transition' as I am, let us prepare ourselves to adapt with any situation. Be bouncy and flexible, because life is just a matter of how we are prepared to accept any impacts. Be bold for the change, and more importantly: Be bold for who you are!




Regards,

Bening Rahardjo
 

Monday, February 27, 2017

Life List: Pengalaman Pertama Mendaki

Hi guys, postingan saya kali ini mau bahas seputar pendakian. Pasti kalian punya dong Life List yang ingin kalian lakukan minimal sekali dalam hidup? Demikian juga dengan saya, salah satu hal terbesar dalam hidup yang ingin saya lakukan adalah mendaki. Bagi banyak orang, mungkin melakukan pendakian ke gunung-gunung adalah hal normal dan biasa dilakukan. Tetapi bagi sebagian orang lain dengan kondisi fisik yang kurang beruntung, mendaki mungkin akan menjadi pengalaman berharga yang ingin mereka lakukan minimal sekali dalam hidup. Pengalaman saya kali ini adalah kali pertama dalam menaklukan ego saya dan diri saya sendiri. Kalau ada yang bertanya apa sih motivasi naik gunung? The truth is, saya ingin merasakan sensasi mendaki seperti yang banyak orang ceritakan, meski dengan kekurangan-kekurangan yang saya miliki. Banyak orang bercerita bahwa kalau kamu ingin tahu dirimu yang sebenarnya, cobalah mendaki gunung. Semua watak aslimu akan keluar. Dulu sih nggak begitu paham. KKN UGM selama 3 bulan di tempat yang terpencil nggak ada sinyal dan sangat jauh dari modern, menurut saya itu juga bisa memunculkan watak asli seperti apa hanya dalam seminggu di rumah pondokan hehehe :p


Nggak sih, itu hanya salah satu motivasi. Salah dua yang lain adalah rasa minder saya. Minder? Kok bisa? Iya. Sejujurnya, saya sering sekali iri melihat banyak teman yang sering pamer foto muncak. Bawa-bawa bendera merah putih di puncak. Bawa-bawa tulisan "Elu dapat salam dari ketinggian sekian Mdpl" (oh gosht!). Atau yang paling ekstrem adalah foto bergandengan tangan (dimana hanya tangan si pengandeng doang yang kelihatan) di puncak sama pasangan, sambil dikasih caption ala-ala "Jangan lepaskan genggamanmuuu oooww...." (somehow, malah mirip liriknya Tulus). Sering sih mikir, mereka naik puncak segitunya ya persiapan bawa tulisan segala, trus mikir mau foto pose begini begitu, dll. Who knows guys, mungkin saya aja yang terlalu iri. Eh tapi betul loh, kalau niat awal kalian mendaki untuk lebih memahami diri dan memaknai hubungan dengan alam; hubungan dengan Sang Pencipta, kalian pasti nggak akan se-alay itu untuk pamer ke khalayak.. Peace to all! xD  

Another reason is.... the guy who has my heart (ahiyy!), adalah seorang anak gunung banget deh. He named hiself as a traveler, nature lovers. Gileeee....mimpi apa saya jadi secret admirer orang macam begini hahahaha. Bertolak belakang banget sama saya. Saya adalah orang yang homey sekali. Clue for me: family, sensitive, fragile, books, art, theater, basketball, fashion, advocacy, social. Jauuuh dari kata traveling. Oke lah, saya suka melakukan vacation at least thrice in a year, but ya nggak pernah naik gunung. Sampai suatu ketika, saya selalu menemukan postingan-postingan doi yang pakai caption begini: "Wanita yang hobi traveling dan hiking itu istriable banget". Nah loh! Seketika saya mikir...emangnya wanita yang rumahan banget, yang lebih senang menghabiskan waktu dengan buku, teater, hobi basket dan nonton basket, seni lukis, mengamati perkembangan fesyen, hobi nulis dan uji coba masak; isn't she worth for a wife? Lol. God, beruntungnya para wanita yang diberkahi dengan fisik yang sehat dan kemampuan untuk bisa olahraga lari marathon dan naik gunung. Saya jadi bercermin ke diri sendiri. Olahraga lari aja harus dengan advice yang benar dari dokter. Udara dingin juga saya tidak kuat, susah nafas dan jantung jadi agak nyeri. So, dari situ...saya punya tekad dan list of life untuk minimal sekali dalam hidup naik gunung. Bukan berarti untuk menunjukkan ke si dia itu loh ya. That's a cheesy. Kalau saya mau pamer mah, saya upload foto terus saya tag dah si doi, pakai caption: "Eh, gue udah istriable banget looh!". Hahaha. NOPE. Buat saya, yang terpenting adalah berkompromi dengan tubuh dan diri sendiri. Itu saja.


Lanjut cerita, bagi teman-teman yang sering naik gunung pasti familiar dengan apa yang musti dipersiapkan; bekal apa yang harus dibawa terutama pada gunung yang masih aktif yang masih berbau belerang;  juga medan seperti apa yang bakal ditemui. Namun, bagi mereka para pemula dan orang-orang yang belum pernah sama sekali mendaki, pasti akan sangat memerlukan sharing pengalaman. So, the story begins from this...

Sekitar dua minggu lalu saya baru saja pulang dari 'muncak' (God...baru pertama kali dalam hidup rasanya saya nuliskan kata ini). Jujur, due to my medical health history, saya memang sangat dilarang untuk melakukan aktivitas berat oleh dokter; apalagi aktivitas seperti naik gunung, membayangkannya pun tidak. Bagi penderita jantung seperti saya, sangat berbahaya jika memaksakan diri. For some reason, finally I could fill one of my llife list. But then, I gave my best advice to you--person with the same medical health history--DON'T DO ANYTHING THAT COULD ENDANGER YOURSELF. That's all.

Jadi saya melakukan perjalanan ke salah satu gunung di daerah Dieng bersama dengan rombongan. Sekian orang yang bergabung, hanya saya kira-kira yang masih single; sedang yang lain bergabung bersama dengan pasangan mereka. It was okay. I mean, literally okay until I found difficulties with me. Bukan masalah baper loh ya. Yaelah, masalah apalagi sih selain yang saya ceritakan di atas. Yup kondisi jantung yang tidak stabil. The thing became worse when you chose the wrong time for traveling. Ya, waktu itu saya pikir pertengahan bulan Februari sudah masuk ke spring season. Well, ternyata sampai seminggu sebelum tanggal keberangkatan cuaca masih sama dinginnya. Curah hujan tinggi, angin kencang dan udara yang begitu dingin.  

The day was coming.

Berangkatlah saya dengan bekal winter jacket, duck boots anti licin, gloves, hat, socks, wool scarf, baju berlapis-lapis, jilbab langsungan yang super comfy dan hangat. Beberapa hari sebelum berangkat saya sudah prepared macem-macem tuh; mulai dari make up yang bakal dipakai biar kulit nggak kusam dan kering (dari sekian banyak persiapan entah kenapa harus ini yang muncul di benak saya saat itu. Lol!); juga bawa bekal makanan snack untuk nyemil biar bisa ngilangin dingin kalau ada api unggun (dikira kemah pramuka kali ya hahaha). Alat mandi; minimal sabun cuci muka, sikat gigi dan tooth paste. I told you nih, sampai sana hilang semua angan-angan kamu bakalan gosok gigi ataupun cuci muka. Hilang semua selera mengunyah snack atau minum orange water. EVEN, my most gold chimera....doing make up biar muka agak kinclong saat foto-foto; maupun angan-angan bakalan ada api unggun. Hell! Semua itu nggak bakalan kalian lakukan. Buat menangkal udara dingin yang begitu menusuk tulang aja kita udah sangat payah, apalagi mau make up an. Hahaha, the stupid thing I've ever dreamed saat mau muncak. Yah maklumin aja ya, anak baru xD


Jadi pastikan saja kalian bawa ini:
  • Baju hangat dan jacket yang tidak gampang basah saat terkena kabut, sebab ini bahaya untuk paru-paru kalian juga ya.
  • Jangan pakai celana yang terlalu skinny dan berbahan tipis, kalau ada sih celana cargo untuk naik gunung; atau jeans biasa yang nyaman.
  • Kalau memakai jilbab, pakailah jilbab yang aman dan nyaman. Nggak ribet dengan peniti dan jarum pentul dan inner dan lain-lainnya. Lol.
  • Sepatu usahakan yang bawahnya tidak licin, agar saat kalian mendaki dan berpijak pada batu-batu yang licin, tidak mudah terpeleset.
  • Masker, kaus kaki, sarung tangan, topi penutup telinga, dan wool scarf
  • Obat-obatan khusus; plester, tissue basah, kantung plastik (untuk membuang sampah agar tidak mengotori puncak, saat turun kalian bisa membuangnya di tempat pembuangan sampah)
  • Air minum (sumber kehidupan, fungsi lainnya ya saat nggak ada air di puncak bisa kalian gunakan untuk wudhu emergency)
  • Roti, makanan yang gampang dimakan. Kemasannya tidak ribet untuk dibuka.
  • Tas ransel yang kuat
  • Kompas dan peluit.
  • Senter biasa/head lamp (yakin kalian akan butuh ini) 




Singkat cerita, rombongan saya harus berpindah dari bus besar ke kendaraan omprengan mini untuk bisa menjangkau lokasi. Masih tengah malam kami harus menyusuri jalanan sepi, kecil, licin, berkabut tebal. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari shalter bus besar tadi, kami sampai di desa terakhir untuk menuju lokasi. Oh ya, the sad news was...tepat 3 kendaraan di depan kami, satu rombongan kendaraan tergelincir ke jurang. Suasana jadi bertambah mencekam. I couldn't tell you in detail, but the weather was really bad. Even our driver also said he had a few days bad weather conditions there. When I looked out the window, fog obscured the view. Visibility to the front was only about 1 until 2.5 meters. Really bad. Sampai akhirnya sempat berhenti beberapa menit, hingga 3 kendaraan di depan kami tidak berani melanjutkan perjalanan. Sopir rombongan kami membuka jalan untuk yang lain dengan sangat lihai dan hati-hati. Mendebarkan. Kurang lebih 1 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di parkiran terakhir untuk menuju pintu masuk ke puncak.

Pukul hampir setengah 1 dini hari, guide kami mengumpulkan tim untuk berdoa bersama, sempat beliau mengatakan bagi anggota rombongan saat itu yang merasa tidak kuat secara fisik untuk ke atas, sebaiknya tidak melanjutkan. Sebab, memang kami diberi peringatan dari pos penjagaan di pintu masuk bahwa cuaca sangat buruk, bisa jadi jarak pandang semakin ke atas semakin tipis. Kami memang mengejar sunrise pagi itu dari puncak, berharap akan cerah tanpa kabut. Cuaca begitu dingin berkabut hingga ketika saya membuka masker bisa berhembus uap dari mulut saya. Lembab dan basah. Saya membuka hp saat itu sinyal masih agak bagus, suhu terakhir adalah 9' Celcius. Okaaay......here we go.... Sempat terpikir untuk tidak ikut ke atas, tapi akhirnya I challenged myself. Bismillahirrohmanirrohim... In the name of God, with His Almighty, I have to do this, batin saya waktu itu. I didn't bring my med, actually...

Berangkatlah kami dari pos pertama melewati jalan menanjak yang sudah dibuat dengan bata-bata awalnya, makin lama makin tidak kelihatan karena tebalnya kabut dan gelap. Medan yang kami lalui juga makin lama makin berupa bebatuan besar, belum lagi angin yang mashaa Allah kencangnya. I never imagined in my whole life would be in a situation like that. LIKE THAT, Gusti....enteng banget saya ngetiknya. Hahaha. Sepanjang jalan yang bisa kami ucapkan dalam hati hanya doa-doa, perbanyak dzikrullah dan mengingat bahwa there's no power without His Name, Allah SWT. Setelah melewati pos kedua, saya makin merasa lelah luar biasa. Ya gimana ya, olahraga yang biasa saya lakukan hanya lari kecil dan yoga sederhana aja. Routine sih abs workout 7 menit. Nah ini tiba-tiba harus melalui medan menanjak begitu. Jantung saya rasanya berdebar tidak keruan dan panas. Nafas semakin memburu dan terengah. Rasanya dada mau meledak. Beristirahat namun tetap berdiam dan berdzikir dengan lafaz perlahan. Gilaaa aja, saya nggak mau tiba-tiba bikin susah satu team rombongan di situ. Makanya dalam hati saya cuma bisa bilang KAMU HARUS KUAT, NING! Inget seorang teman dulu pernah bilang, hal-hal yang pantang kamu ucapkan saat mendaki adalah mengomel, mengeluh, atau dalam bahasa jawa 'nyelathu'. Jadi sebisa mungkin saya membatin pada diri saya sendiri untuk tidak mengeluh. Melewati pos ke-dua, medan semakin terjal dan berat. Angin juga luar biasa kencang (SERIUS!). Langkah kami juga tidak kelihatan, hanya berbekal feeling saja sih. Dalam hati kami masing-masing waktu itu saya yakin, pasti sama membatin: Gue salah milih tanggal pendakian! Lol. Yah, as you know saja, dari jumlah rombongan kami itu, hanya empat orang saja (termasuk guide) yang pernah punya pengalaman naik gunung, yang lain it was the very first moment layaknya saya.

Akhirnya setelah melewati pos terakhir.....Kami benar-benar sampai di PUNCAK. OMG! 2565 Mdpl! Entah berapa lama perjalanan kami ke puncak (mungkin sekitar 3 jam lebih), yang jelas sampai sana saya langsung shalat subuh. Hell! Nggak ada air di atas, dengan susah payah kami hanya berwudhu memakai botol air mineral seadanya. Selesai sholat (di udara sedingin itu, I didn't know sure seberapa celcius, yang pasti....dari awal aja udah 9'C...kira-kira di atas dengan kabut setebal itu dan angin sekencang itu, saya cuma bisa memperkirakan suhu di bawah 5'C pastinya. Sebab HP saya juga sudah tidak ada sinyal. Kami berharap kabut bisa segera menipis agar golden matahari terlihat. Apesnya kami....hingga pukul 6 pagi, matahari tidak juga terlihat karena tebalnya kabut dan cuaca yang sangat buruk. WORTH THE JOURNEY. Hahahaha. Sarkas deh.

Ya, itu pengalaman pertama saya naik gunung. Belum setinggi Lawu atau gunung lain sih, tetapi buat saya pribadi dengan riwayat kesehatan yang saya sebutkan tadi, untuk bisa mencapai tempat setinggi 2565 Mdpl adalah pengalaman yang luar biasa hebat dan tidak akan terlupakan. Meski tidak bisa melihat matahari karena kabut dan cuaca yang tidak mendukung, saya serombongan tim tetap bersyukur. Gave a check for one of my life list! :)




- Bening Rahardjo-




Friday, January 20, 2017

Bermedia Sosial yang Sehat.

Hi guys, lama sekali rasanya saya tidak update laman ini. Rindu menulis dan sering juga sih kepikiran untuk menulis, tetapi karena kesibukan pekerjaan dan persiapan pernikahan kakak saya sehingga saya menjadi tidak produktif menulis. Sebenarnya banyak sekali topik yang melintas di kepala saya dan mengusik rasa gatal di tangan untuk mengetikkan jari-jemari di atas keyboard, but oh.... #nosebleed ...Huh, pitty. Now, I get my chance to write here and well...let's start this! 



Few days ago, saya baru saja meng-unfollow seorang relasi di Twitter. So, what's the big deal? Ya, memang bukan hal baru dan bukan hal yang besar sih kita follow/unfollow seseorang di media sosial. Seperti hal yang normal, wajar, lumrah, I mean, it literally just happened. Tapi yang jadi point di sini adalah alasan me-remove seseorang dari daftar kontak atau daftar teman di media sosial. That's it. Just like me. I don't know, saya termasuk orang yang cepat ilfeel atas sesuatu. Sikap, bicara atau mungkin gaya seseorang saja besar pengaruhnya kepada pemahaman saya akan mereka--in another side, it wasn't good way to making connection with others.

Ceritanya cukup simpel, saya dan relasi ini berkenalan melalui dunia sastra. Lalu terjalinlah komunikasi, walaupun kami baru bertatap muka sekali saja, selebihnya komunikasi lewat sosial media. Terlepas dari apapun, beliau adalah seorang penulis yang saya kagumi. Bahasa penulisannya menunjukan bahwa beliau orang yang cerdas dan berwawasan. Sebelumnya saya katakan, benar ucapan orang bahwa pemilihan pilihan politik sering kali menjadi sumber pemecah pertemanan. Tidak hanya jelang Pilkada Jakarta, jejak jelang Pilpres juga timeline media sosial selalu ramai dengan postingan-postingan yang banyak berisi hasutan, hoax, saling menjatuhkan satu-sama lain, dsb. Rasanya jengah setiap scrolling timeline selalu menemukan hal yang begitu-begitu saja. Negative thought, memang. Racun bagi jiwa jika setiap hari hanya melihat dan membaca hal-hal negatif. 

Kembali ke relasi, beliau adalah salah satu orang yang aktif di Twitland. Aktif dengan bahasa-bahasa sastranya yang menarik. Entah mengapa menjelang Pilkada Jakarta beliau menjadi karakter yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Adaaa saja yang dicacinya, ada saja yang dicibirnya, ada saja yang ditulisnya dengan bahasa penuh kebencian atas satu ras tertentu. Mengenai pilihan politik, tidak hanya beliau sih, saya juga punya banyak teman di media sosial yang terang-terangan mengenai pilihan politik. SILAKAN. Saya tidak tahu ya, apakah saya yang old fashion atau memang sekarang jamannya orang cenderung blak-blakan. Masalah pilihan politik yang seharusnya menjadi privasi, kini orang dengan bangga blak-blakan di muka umum. Biar gimana sih? Lalu mulai muncul pengamat politik dadakan di media sosial, beropini sendiri, menggiring opini publik pada satu cara pandang tertentu--tetapi bukan dengan cara positif. Terlebih parah adalah menyebar hoax.

Relasi saya ini bisa dikatakan hampir tiap jam tiap menit menuliskan tweet yang berisi kebencian dan opini yang rasis. Setiap saya baca, negatif terus nih orang, batin saya. Beliau menggiring opini pada perpecahan agama. Jujur, kalau itu sehari sekali saya masih AGAK toleran. Tapi kalau tiap menit tweet dan setiap buka timeline isinya hanya dia terus yang menuliskan sampah-sampah penyakit seperti itu terus, GHOST! I better not to read it. So, saya tanpa ragu langsung meng-unfollow beliau. Case closed. Tidak sedikit juga yang mungkin mengatakan: itu cuma media sosial kali, nggak usah baperan deh. Ya memang, memang dunia maya dan media sosial. Justru karena media sosial adalah dunia maya, tempat kita melepas penat dari dunia riil, kita pun punya hak untuk memilah dan memilih siapa yang 'bisa' menemani kita di dunia maya itu.
 
Bisa nggak sih kita berteman SEHAT di media sosial?

Bisa kok! Bisa banget! Kalian sendiri yang menentukan mau bermedia sosial dengan sehat atau dengan negatif. It's on your hand. Hanya kalian yang bisa menyaring siapa-siapa yang bisa diajak berteman di media sosial dengan positif atau negatif. 
Lalu bermedia sosial yang sehat itu yang seperti apa? Apa patokannya?

Bermedia sosial secara sehat seperti apa, itu juga kalian yang punya ukuran sendiri! Bisa jadi hanya gebetan pasang foto sama orang lain, bagi kalian itu menyakitkan. Bisa jadi hanya karena seseorang memposting sesuatu lalu kalian merasa tersindir dan merasa itu menyakitkan. Bisa jadi hanya karena mantan memposting foto dengan pacar barunya, namun bagi kalian itu menyakitkan.
Hello guys, it's absolutely up to you.
Kalau saya pribadi sih, sehat itu jauh dari kata-kata negatif. Bagi saya--yang berasal dari keluarga plural, dari beragam agama, beragam etnis, beragam ciri fisik--kalimat yang mengandung unsur provokasi pada perpecahan agama dan SARA itu adalaah TIDAK SEHAT.

So, satu kalimat penutup yang mau saya sampaikan di sini....



See ya guys!

Monday, February 1, 2016

Younger Brother, Gundam, Business and Integrity

Hi everybody, how's your monday?
Hope it will be the money day for all of us, true?

Here I wanna tell you about my younger brother named Yostri. First, he is student of Gadjah Mada University, the same as my university was. By appearance, my younger brother is not look like hanging out young boy. I mean he just a innocent young boy who has interest to Gundam. Gundam defined as real robot genre of anime by featuring giant robots in a militaristic war setting. If you want to know more about Gundam, click Wikipidia here. Unlike his brothers and sisters, Yostri has unique hobby since he was 7 years old, such as collecting robots and car toys. Early, we thought it was reasonable that done boys, you know... have interest in robot and car toys. But then, his business soul has been high since he was 5th grade of elementary school or when he was 11 years old . That time, he's been trying to do business like buying and selling the birds by his own. To be note, he did it without any funding or our intervention. You might ask like this: "It's impossible, how could 11 years old boy did his own business without any funding from the parents?". Yes, he did. He went hunting bird near the teak forest or paddy fields close to our house, then took care of it until it sold. For hunting, he did not use a weapon. Of course! He was child, who had the heart to give him a gun to shoot the birds? NO. He used Javanese traditional way of hunting, sufficiently armed with tree sap, hay and feed. It's called "mlitrang" in Javanese words. He also made the bird cages by his own.

Back to story, when he was in Junior High School, he was able to buy sophisticated mobile phone at the year, with the proceeds of his own business. Before, we as elder sibling annoyed sometimes because almost everyday Yostri always went for hunting. How did not? He was so thin, rarely eat, and his skin was sunburned. But apparently we knew that it was his journey of life. It started move when he was in Senior High School, he also began to change interest in Manga and Japanese Anime. He began to love Japanese anime games. From game, he started to learn business by selling games. I didn't know how its process but what I knew is he would have a lot of friends by gaming business. It was not just friends in virtual world, but they often hold joint gathering. In fact, his business partners much older than him, there were same by my age and even upon me. He began to buy modern electronic goods and sophisticated mobile phone from the money that generated by own results.

There are pride sense in us as he managed to run his own business and even more he went to the pride university in Indonesia. The same university which became my almamater too. Thankful too, he went to university with a scholarship student achievement. OMG! I REALLY PROUD OF HIM! Indeed, I also graduated from the same university, but my struggle to reached the university was really not easy and no scholarship I could get. But Yostri proved that he was able to get in scholarship student achievement even though he was busy with his business

Like what I told before, he is doing his Gundam hobby and develop it into Gundam business. Why we don't forbid him? Absolutely NO. We support his hobbies and interests. While it is not burden others and it can stimulate his creativity, why not? Provided you know, to assemble Gundam is not an easy thing. I guarantee that. Why? It is not just children's toys? Well to know, to assemble Gundam, it requires precision and high focus. Even smaller parts of the robot, it is increasingly difficult to craft it. Though, there are instructions on how to assemble, but I assure you that not everyone can do it. Yostri often won 1th place in assembling robot competitions, of course the jury is master Gundam. For competitions, its 'not only in terms of equipment but also all fineness of the sand and also how to pose the robot itself. Today he has a lot purchase personal items from his own business. We only give advice and give signs that do not lead to negative things. Just it its.
Nendo cyber
Now, it's not only doing his own business, he begin to show his skill in running organization's leadership. Coincidentally, he joined non-profit organization Kaskagama which has also been raising my name as long as 6 years I joined the organization. I was helped up the golden years building a name Kaskagama for almost 5 years. Perhaps, my name is already widely known by alumni and also the fellow. Sometimes, I still often get invitations as elders to come in their events. But I've chosen to fully devolved to my successor, I'm pretty proud just to see their development from outside the circle. Now, is the years in which my own brother who were involved in it. Why I don't want to appear though I've suffered the heyday of organization? No, because currently, my brother is there. He is now chosen to be the leader of organization. I want my brother to develop and show his capability not because of my name. I never mentioned him as my younger brother and so did he rarely mention my name as his elder sister. We were same. 

Chose as Ganteng UGM LOL :P
This year, he is believed to hold three big events which become the benchmark of his work and leadership management. During preparation of the events, he was a lot confide to me. Such like how its validity; the matters which become obstacles, criticism that given to him by elders, etc. He just told me all sense of interest in leadership, as his new learning. I often give him advice, views, case examples, and even we often arguing our opinion in high tense too. But overall, I actually worried on my younger brother. He never had any experience in organization leadership before, he never had experience to handle big events too. But yesterday, he proved me that what all I worried about him was nothing. He just did his leadership style in organization and it worked good. He just showed me his capability, integrity and creativity to handle more than 1000 people in a event. He just made his own name not because of me, not because he is my elder brother, not because the name "Bening". Good work for you boy! I'm really proud of you! Though finally, many alumni and elders knew that he is my elder brother but he just raised his name within successful. And for the bonuses from his work hard, he got many fans and chose as "Ganteng UGM" hahaha. Nailed that boy! :p



With all proud, Xoxo


Bening Rahardjo


Friday, January 22, 2016

Turkish Hijab Style

Hi, assalamu'alaikum, ladies!

Today I want to share about hijab style that I used to wear. For me personally, you can see me as a simply woman from my hijab style. Really, I am not a person who wear too much, means I prefer to wear hijab and outfit that suit in me and comfy to wear. Just it is.

Recently, I often wear simple style for my hijab, you can see on my pictures that I've posted before. There was no special tips I could give you, but now, I can share you what style I used to wear. Yup, it's named Turkish style!

I prefer to wear Turkish style beside its comfy, it also simply to apply. Here's I give you some examples so you can think over if you are interest to apply it.

But please, just please read this before you judge or whatever:
"If you do not get along and uncomfortable to wear or you feel it doesn't fit with your style/your principle, better you should not adopt it."


Because I like to wear skirts, so I often combine my simply look just like this.

If you have four square scarf/hijab made from silk/nylon, you can wear it like this style. Just pin it or strap in the middle.



If you have paris drapery four square hijab, you can apply this style too.


I love this look!





Okay, how is it?
If you feel it is not syar'i, then I recommend: DO NOT WEAR.

Now, just for you who feel compelled to try this Turkish style, here's following that you can practice at home. Check this out!













Hope it can help you guys!

Salam!

Bening Rahardjo


Thursday, January 21, 2016

Beberapa Alasan Wanita Saat Menolak Pria

"Cewek itu emang serba rumit. Sekarang bayangin ya, gue pernah deketin satu cewek nih. Kelihatannya dia ngasih respon waktu gue pedekate. Ya udah, akhirnya gue tembak kan, saat itu ntah kenapa dia malah nolak gue. Dia bilang mau bersahabat aja sama gue, soalnya dia lebih nyaman bersahabat sama gue. Oke nih. Berhubung gue ditolak, gue akhirnya move on dong ya, gue pedekate sama cewek lain. Eh, giliran hubungan gue sama si cewek ini sudah lancar, tiba-tiba cewek yang nolak gue itu cemburu, manas-manasin cewek yang lagi deket sama gue. MAKSUDNYA APAA COBA?"
                                                                                             - R (pria lajang 27 tahun)


Curhatan salah seorang sahabat dekat pria itu membuat saya sedikit berpikir juga. Memang sih, saya sering menemui kasus seperti di atas. (Mikir juga: atau jangan-jangan saya juga pernah begitu? >,<). But, is that true: "Apakah wanita memang serumit itu?" Meskipun saya juga wanita, tetapi dalam postingan kali ini saya akan mencoba mengulasnya dengan sudut pandang netral. 

Terkadang wanita memang punya sifat jinak-jinak merpati, saat didekati oleh pria bisa jadi mereka memberi respon menyenangkan. Tentu hal ini akan membuat si pria merasa bahwa dia diberi peluang oleh wanita. Namun, kebanyakan kasus yang sering saya dengar dari pria, ketika pria menyatakan perasaannya kepada wanita, seringkali si wanita menolaknya. Alasan? Macam-macam, misalnya: 

  • Wanita mengatakan bahwa dia sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan pria; ingin fokus pada pendidikan/pekerjaan/studi tertentu. Well, guys, sebenarnya untuk alasan yang satu ini adalah alasan yang sangat klasik, intinya sih wanita itu memang tidak ada perasaan apapun dengan kamu. Mereka hanya menyampaikannya dengan cara yang halus agar tidak menyakiti kamu.

      • Wanita memberi alasan bahwa dia hanya sekadar menganggap pria itu sebagai kakak/temannya saja; untuk hal yang ini sebenarnya bisa dikatakan dia tidak sepenuhnya menolak kehadiran kamu dalam hidupnya. Dia merasa nyaman dekat dengan kamu, tetapi terlalu takut untuk mengambil risiko yang lebih besar bila harus berhubungan dengan kamu. Bisa jadi, dia egois, masih belum mau terikat olehmu, tetapi juga tidak ingin kehilangan perhatianmu. Kalau kalian sabar, kalian bisa mengambil hatinya perlahan. Kuncinya hanya perlu meyakinkan keraguan si wanita ini.
      • Wanita memberi alasan bahwa dia tidak menolakmu, dia hanya tidak ingin terikat secara serius tetapi ingin hubungan kalian tetap dekat; okay, guys.... I warn you, beware to this girl! Hati-hati dengan wanita tipe seperti ini. Hubungan tanpa status tapi dia seenak jidat minta dianterin ke sini-ke situ, minta ditemenin ke sini-ke situ. Bayarin makannya, betulin gadget atau mobil dia yang rusak, dll. Maaf, kamu apanya ya? Sopir? Montir? Atau bodyguard gratisan? Kalau kamu merasa bahwa si wanita ini memberi kamu harapan, sebaiknya berhati-hati. Tipe seperti ini yang justru biasanya akan menyakiti kamu semakin lama. Hubungan tanpa status? Oh, come on guys.... Begitu pria minta kejelasan statusnya, wanita akan berdalih "Aku nyaman seperti ini, kamu juga kan? Ya sudah, dijalani saja". Ohooo, ini bahaya sekali! Kalau mau menggunakan istilah kasar kami, kaum wanita: dia hanya memanfaatkan kamu saja. Tidak ingin terikat sama kamu, tetapi tidak mau kehilangan kamu. Percaya deh, dia pasti akan marah-marah saat kamu deketin wanita lain. Stay away dari tipe ini guys! Kamu lebih berharga untuk wanita yang jelas.

      • Wanita yang tidak menolakmu, tetapi ingin melihat perjuanganmu. Sudah jelas, dia menyukaimu tetapi hanya perlu beberapa waktu lagi untuk bisa yakin bahwa kamu adalah pilihan yang tepat, dengan cara menguji perjuangan kamu untuk mendapatkannya.
      Nah, jadi untuk kalian para lelaki, sudah jelas kan sedikit bocoran yang saya sampaikan? Kalau kasusnya seperti curhatan teman saya R itu, satu saran yang dapat saya berikan adalah jangan mau diakali oleh wanita yang sudah menolak Anda. Ingat, Anda juga harus jujur dan meyakinkan wanita yang sedang Anda dekati. Jangan sampai hanya karena Anda merasa diberi kesempatan lagi oleh wanita yang pernah menolak Anda, lalu Anda melepaskan kesempatan dengan wanita yang sedang Anda dekati saat ini. Saran saya, pilih yang kedua.



      Salam damai!


      Bening Rahardjo