Friday, December 30, 2011

Happiness

Note: Tulisan ini untuk melengkapi tulisan saya yang sebelumnya berjudul Most of All They Taught Me Happiness, karena saya pikir masih ada tautan satu sama lain. Bukan sebuah kisah penting, namun menjadi penting ketika kita sedikit berusaha memahami pribadi lain. 

Dalam hal ini, mungkin akan saya isikan pribadi saya sendiri terutama. Saya akan sangat berbahagia apabila Anda membaca tulisan saya ini dengan menanggalkan pikiran-pikiran konservatif yang ‘saklek’, semoga Anda membaca tulisan ini dengan berpedoman bahwa saya manusia biasa yang mempunyai segala emosi, segala keinginan, segala kemunafikan, segala kamuflase, segala gengsi, segala egois, segala pertanyaan dan harapan. Bahwa saya, Anda, kita, adalah manusia secara universal. Makhluk Tuhan. Mempunyai jantung dan bernafas. Itu saja.

Semuanya bermula dari sebuah pertanyaan demi pertanyaan yang menyelinap dalam otak dan hati saya…


Saya, sebagai pribadi yang jauh dari kata 'sempurna' --cantik, cerdas, kaya, baik, lugu, berlaku halus dan sopan, serta energik—jauh dari itu semua. Saya hanyalah seorang wanita bernama Bening. Memulai hidup dengan nafas dan detak jantung yang lemah kemudian menguat, menguat dan menguat, menjadi wanita yang menemukan independensi dalam perjalanan hidup saya. Mengenai perjalanan itu sendiri, bukan hanya saya, tapi juga Anda, pastinya mempunyai garisnya sendiri-sendiri yang telah dilalui. Entah tawa, tangis, suka, bahagia, sedih, marah, kecewa, semua menyertai perjalanan kita. Saya tidak akan mendongengkan kisah hidup saya satu per satu di sini, biarlah semua menjadi cerita saya sendiri. Anda pun punya dongeng perjalanan hidup untuk anak-cucu nanti, pasti. Namun, satu yang hendak saya bagi di sini, yakni sebuah perjalanan saya dalam pencarian jawaban dari sebuah kata: HAPPINESS, ya….kebahagiaan!

Terlepas dari semua yang menjadi masalahnya, saya menyadari bahwa saya banyak mengeluh. Betapa saya tidak mengeluh untuk semua masalah yang begitu kompleks dan bahkan untuk mengurai benang ruwet itu dari ujung yang sebelah mana saja, tidak ketemu-ketemu. Kadang saya merasa cerita hidup saya terlalu sinetron-minded. Sahabat terdekat–tempat curhat saya—pernah mengatakan: 


“pantesnya dibikin skenario sinetron aja tuh, Ning, cerita hidup lu!”. 


Saya sendiri terlalu merasa hidup saya ini sebuah drama, sandiwara. Hingga terkadang saya berdoa dan berharap untuk sesuatu yang lebih real. Saya berdoa datangnya sebuah yang nyata, bukan sandiwara. Jadi, saya hidup setiap hari dengan harapan, saya mampu mengurai satu per satu masalah-masalah yang saya hadapi. Konyol bukan? saya bahkan merasa bahwa saya ini artis lakon utama pemeran sandiwara sinetron untuk alur hidup saya sendiri, huh!


Lagi-lagi, ibarat satu kerikil, tidak akan cukup untuk mengokohkan tembok tanpa campur tangan bata, pasir, semen dan lainnya. Sekuat apapun kerikil disusun, tembok itu tidak akan jadi-jadi juga. Kalau saya mengibaratkan diri saya sendiri adalah kerikil, sedangkan material lain itu adalah mereka dan apapun yang bersangkutan dengan kompleksitas masalah, apakah saya cukup mampu untuk menguatkan tembok itu? Pada akhirnya, saya putuskan, bahwa saya tinggal menjalani hidup ini saja, semua yang menjadi benang ruwet itu, memang sudah digariskan ruwet. Jadi biarkan saja, daripada saya pusing mencari mana ujungnya, mana yang mestinya diluruskan. Saya sangat percaya, skenario Tuhan lebih indah. Benang yang tadinya ruwet itu, dapat dengan mudah digantiNYA dengan yang baru, jika DIA menghendaki terjadi. Bahkan tanpa perlu mengurai benang lama, hanya dengan kata “JADI” bisa saja menjadi sebuah baju indah, dengan benang baru yang bisa dibeli lagi. Jadi, saya pikir, untuk apa saya susah-susah berusaha mengurai yang ruwet dan bundet kalau begitu?

Akhirnya, saya mendapati ‘serangan hidup’ berturut-turut: mulai dari masalah keluarga yang begitu pelik; sebulan kemudian saya divonis penyakit yang tidak diduga; tiga bulan kemudian operasi penyakit lain yang juga tidak diduga pula; dua bulan kemudian kehilangan sosok eyang--orangtua terkasih yang sangat saya cintai dan mencintai saya, yang saya dhereki sejak bayi jebrot hingga usia 20an; sebulan kemudian kehilangan lagi sosok orang yang mewariskan darah dagingnya pada saya, ya bapak kandung saya sendiri;…..lengkap rasanya!

Dua tahun berjalan, saya tetap saja belum bisa sepenuhnya menyadari bahwa sekarang saya sudah tidak lagi bersama orangtua terkasih….yang saban hari selalu men-support saya, mencintai saya, menerima saya apa adanya sebagai seorang anak sekaligus cucu dengan segala bentuk kenakalannya. Masih terkadang hingga saat ini, saya merasa seperti kehilangan penyangga dalam hidup saya, saya menyadari bahwa saya terlalu rapuh tanpa beliau! Hingga ketika saya sudah sangat rapuh, satu-satunya hal yang bisa membangkitkan aroma kehadiran beliau dalam hidup saya adalah dengan nyadran ke ‘astana laya’-nya lalu kemudian pulang dan tidur di kamar beliau—sambil memikirkan segala wejangan yang selalu beliau sampaikan ketika saya mengalami hal yang sama. Berulang dan berulang. Saya seperti kecanduan dengan kasih sayang beliau. 


Lama-lama, saya menyadari bahwa hidup tidak sepasti hari kemarin. Ada kemungkinan-kemungkinan yang selalu terjadi hari ini dan esok hari. Namun, satu kepastian, bahwa Tuhan sengaja mengambil semua itu dari saya, karena DIA ingin mendidik saya: 
“Inilah hidup di dunia!”. 
Bukan sesuatu yang abadi, bukan sesuatu yang selalu indah dan manis; ada kalanya pahit dan satirnya sangat menyesakkan hati kita. DIA Maha Tahu bahwa saya mampu, karena itu saya diberi. ‘Pemberian’ Tuhan ini kadang saya rasa terlalu ‘banyak’, hingga saya lelah dan merasa baterai saya sudah melemah. Setiap low bat, DIA pun telah menyiapkan skenario sebagai ‘charger’ kembali. Jadi, saya bersyukur, tanpa saya sadari dan saya mintakan, Tuhan selalu memperhatikan dan memberikan semua kebutuhan saya….

Saya katakan ‘kebutuhan’, bukan ‘keinginan’. Karena keinginan itu berasal dari pribadi saya—yang balik lagi, sebagai seorang manusia mempunyai segala nafsu emosi lumrah. Keinginan saya bisa bermacam-macam, dan pencapaiannya pun juga bisa bermacam; sukses-tidak sukses; gagal-tidak gagal; sesuai-tidak sesuai; terpenuhi-tidak terpenuhi. Inilah yang terkadang kita tidak sadari, kita menginginkan sesuatu. Bila kemudian yang kita dapatkan bukan seperti yang kita inginkan, ada rasa kekesalan, kekecewaan, kesedihan; padahal jauh dari semua itu, Tuhan lebih tahu bahkan Maha Tahu apa yang kita butuhkan, dan tentunya itu yang terbaik untuk kita, karena DIA Sang Maha Tahu. Keinginan itu timbul sejajar dengan adanya rasa kepuasan. Oleh karena kita belum merasa puas, timbul keinginan kita atas sesuatu—yang berlebih dari kondisi sebelumnya pastinya, atau setidaknya, pencapaian kondisi yang dapat dikatakan lebih baik.

Nah, yang saya alami di sini mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah kesenjangan antara rasa kepuasan dengan keinginan. Jika semuanya berjalan dengan sesuai, selaras, itulah sebuah kebahagiaan. Simpel saja, itulah tafsiran manusia normal mengenai ukuran kebahagiaan. Namun, sepanjang saya mengalami berbagai peristiwa yang pelik dalam hidup saya, dan atas dasar itu pulalah saya mulai ‘melakukan pencarian tentang apa itu kebahagiaan?’, saya menemukan beragam jawaban dari sesuatu yang tidak pernah saya sangkakan datangnya…..

Dulu, tolak ukur saya di dunia ini adalah UANG. Bagaimana mungkin Anda mengelak bahwa uang adalah hal paling penting untuk bisa tetap bertahan hidup di dunia ini? Saya tidak akan memunafikkan, bahwa seorang yang hidup tanpa uang, itulah mereka yang kehidupannya di dunia selalu ditimpa kesedihan, kepiluan, kekurangan, dan lain-lain. Kurang gizi lah, kurang uang untuk makan sehari-hari lah, kurang pendidikan lah, kurang tempat tinggal lah, kurang dipandang lah, kurang diajeni lah. Jadi, bagi saya, uang itu MUTLAK = HUKUM ALAM. Siapa yang beruang, dialah yang memiliki segala duniawi, itulah yang bertahan sampai alam jebol nanti. Kemudian, mengenai PEKERJAAN, ini pun berkaitan dengan materi duniawi. Siapa yang lebih terpandang, mereka itulah yang memiliki jabatan dan pekerjaan yang dianggap ‘layak’—tentu berbeda dengan pengemis, tukang becak, tukang sapu, tukang parkir, pembantu, dll. 


Awalnya, saya sangka bahwa tolak ukur kebahagiaan itu adalah ketika kita merasa terpenuhi segala keinginan manusiawi. Saya merasa AKAN bahagia apabila saya punya banyak uang. Saya merasa AKAN bahagia kalau saya punya pekerjaan dan kedudukan yang hebat. So? Merasa puas setelah mencapai semuanya? Mari kita tanyakan pada diri kita pribadi, bahasa kerennya self talk. Apakah yang kita rasakan itu suatu kebahagiaan? Atau sekadar kepuasan? Lantas apa bedanya kebahagiaan dengan kepuasan? Kita merasa bahagia lalu kita puas? Atau kita merasa puas lalu bahagia?




Anda bingung?? Begitu juga saya *sigh*

*NJUK NGOPO NING KAMU BIKIN TULISAN INI?????*


Entahlah, tapi kebahagiaan itu bagi saya adalah sebuah energi positif yang terbangun dari dalam pikiran kita sendiri. Semakin dicari asalnya dan dimana kita dapat menemukannya, maka semakin absurd keberadaannya. Ini bukan mengenai materi. Bukan mengenai kedudukan dan pekerjaan. Mengejar materi dan kedudukan, tidak akan pernah ada puasnya. Rasanya masih akan kurang terus. Perasaan bahagia tidak hanya stuck pada ukuran seperti itu. Saya pernah melakukan sesuatu--anggaplah perjalanan--untuk menemukan keberadaan kebahagiaan. KONYOL? Jelas! Anda boleh menertawakan saya. Namun, saya bersyukur, kalau saya tidak pernah melakukan 'perjalanan' tadi, saya pun tidak akan pernah tahu bahwa hidup dapat kita nikmati di mana saja. Lalu, yang akhirnya saya sadari, bahwa kebahagiaan itu tidak akan saya dapatkan di luar. Kebahagiaan itu adalah keputusan diri saya sendiri, dalam diri saya sendiri. Bukan terbangun oleh materi dan orang-orang/lingkungan yang saya gauli.


Semoga Anda tidak bingung memahami tulisan saya :)

Sunday, December 25, 2011

Cemoro Sewu *Tawangmangu*

Liburan natal kali ini terasa sangat sangat sangat membahagiakan buat gw. Bisa kumpul dan hahahihi lagi sama ketiga sahabat NYetsai-gw (satu nyet lagi sedang menyibukkan diri di Djokja).

Dari jam 10 pagi kita dah ready untuk muncak ke Cemoro Sewu....yeeeey!
udah lama banget gw ngga maen ke puncak. Akhirnya terkabul juga....

walo sempet hipotermia (gara-gara cuaca ujan plus kabut turun di atas, bener2 gelap banget dan suhu mencapai di bawah 17' celcius waktu itu), dan mati rasa pas ngambil air wudhu di mesjid. But satu kata: SERU at all!!! :D


Monday, December 12, 2011

Gawean

Sejujurnya saya nyaman sekali berada di sini, tempat saya sehari-hari berkarya dan mendedikasikan diri untuk sesuap nasi demi keluarga. Saya senang, tidak harus datang pagi-pagi (tapi selesai kerja larut malam, sama aja! *sigh*). Kerjaan saya juga tidak berat (tapi tentu ada risiko kalo berleha-leha). Melayani orang dengan senyum di meja depan pintu masuk, tapi saya senang ketika mengucapkan kata "selamat datang" pada orang-orang baru dan "terima kasih" ketika mereka pergi. Saya banyak belajar kesabaran dan memanjangkan usus dari beberapa customer yang bawel dan banyak bertingkah. Setidaknya ini bagus, untuk mengajari saya kedewasaan (tapi kalo sudah sangat keterlaluan, saya sedikit 'sengak' ngelayani mereka). Bukan hal yang mudah melayani orang. Menjual jasa. Kadang pekerjaan sedubruk, kadang juga santai-santai saja sambil ngenet dan mantengin fesbuk orang :p. Saya senang ketika mengetik banyak garapan. Saya juga bersemangat ketika harus dipaksa berkreatif membuat desaign untuk beberapa orang/perusahaan. Tapi sungguh, bukan itu semua yang membuat saya kadang merasa sangat jenuh memikirkan kelangsungan saya di sini.


Banyak hal yang semakin lama semakin membuat saya merasa sudah bukan tempatnya lagi saya di sini. Entah karena produktivitas saya yang menurun atau mungkin dikarenakan status yang belum jelas. Hingga saya berfikir untuk tidak melanjutkan lagi dikemudian hari. Tapi sejujurnya saya tetap butuh pekerjaan, entah perusahaan mana lagi yang akan membutuhkan saya akhirnya.


Saya tahu ALLAH SWT sangat sangat sangat baik sama saya, sehingga saya terlena akan kebaikanNya. Entah saya hanya merasa tidak dihiraukan atau apa, yang pasti saya juga ingin sibuk dan sangat sibuk seperti mereka. Butuh dan sangat dibutuhkan di suatu tempat yang nyaman (lantas, apa saya merasa sekarang ini tidak nyaman?? *sigh*). Semoga kegamangan saya ini ada ujungnya, tak ingin berujung tidak baik nantinya. Saya hanya ingin mendedikasikan diri ini agar lebih berguna untuk orang lain, bangsa, negara dan agama. Entah melalui celah yang mana. Tetap di sini atau mungkin di tampat lainnya. Berharap itu lebih baik. Amin

Semoga ALLAH SWT menjawab doa-doa saya

Sekali lagi, saya tak ingin mengeluhkan apa yang terjadi, karena hanya membuang waktu saja. Ini yang pertama dan semoga jadi yang terakhir :)


Best Regard







-NIng-

Sunday, December 11, 2011

Megamendung

subhanalloh....allohuakbar....

sore-sore, waktu kenarsisan gw muncul setelah lelah kerja, gw poto-poto sendirian dari model alay sampai model gulung-kayang.....
udah puas poto-poto modal kamera hape,
gw sempet mengarahkan kamera ke langit.....langit waktu sore itu ceraaaah banget! biru! subhanalloh....
mana gw liat mega-nya cantikcantik banget.....
langsung deh gw arahin ke mega yang ada....

dan....pertama, gw belum ngeh'..... *loh? ko ada bentuk aneh yak....
sekali lagi gw poto....*cekrik....

hoh? subhanalloooooh.....gw merinding....


mega tadi berlafalkan kaligrafi ALLOH.....!!!

believe it or not, yaaa...tergantung kita juga sih, bisa saja itu tipuan kamera, bisa juga konstruksi ato apa terserah menurut anda-anda semua,
tapi saya percaya, bahwa Alloh, sekali lagi, menunjukkan kuasa dan tanda-tanda keAgunganNYA....


*cekrik-an pertama, gw masi ndomblong....

*cekrik-an kedua, gw dah mule ngeh....

ini paling jelas, ketika gw zoom....SUBHANALLOOOOH..... :O

uda mule ilang mega-nya...

uda mule kaga jelas.....

.(foto ini diambil tanggal 11.12.2011 at depan samping Ndalem Martanan :5.22 pm)

Come Back!

Hoi allemall…ketemu lagi akhirnya, setelah sekian lama gw hibernasi dari dunia blog ini…
Hibernasi  dari semua yang sempat membikin gw ngerasa gerah dengan namanya berbagi, hibernasi dari rasa sesek, hibernasi untuk keegoisan diri gw sebagai seorang manusia yang kadang ngerasa butuh namanya “selfish”. (Halah, ribet deh lo Ning!). Intinya, sekarang gw dah come back! (Yeeeey!). Rasa kangen buat nulis akhirnya memaksa gw untuk kembali setidaknya memikirkan berbagai tema-tema menarik untuk gw share di blog ini…
Segitu dah pidato pembukaannya,

See you later, di tulisan-tulisan selanjutnya :)

Saturday, November 26, 2011

Nikahan Sahabat

Beberapa saat gw sempet ga percaya dan membaca ulang sms yang dikirimkan sahabat dekat kuliah gw. Undangan kawinan! Hah?? Mala mo kawinan??? Ko gw ga dikasi kabar sebelumnya :(

Tapi, gw bahagia juga dia akhirnya bisa ngelepas masa lajang dan status single. Trus jadi mikir.....gw kapaaaaan -.-''

Saat itu, akhirnya dari Solo ke Klaten gw jabanin naek motor ma cowok gw, berangkat dari rumah jam 7 pagi, udah gitu sempat balik 5KM gara-gara dompet gw ketinggalan pula. Resepsi jam 10, akad nikah jam 9.

Sampe di sana, gw senyum-senyum sendiri ngeliat segala dekorasinya. Dasar pecinta ungu! batin gw sambil senyum. Gw tahu Mala pecinta ungu, begitu juga gw, hehe... Singkat cerita, gw terkagum-kagum dengan akad nikah yang sederhana namun sakral. Gw juga terkagum-kagum ama resepsi yang sederhana, ga banyak undangan (hanya orang-orang dekat, ga semua teman dia undang!) *say: thanks lot Mala...gw bole bangga dikit dong, gw masuk jadi orang dekat lo :)

Pokoknya, semua dari dekor, baju pengantin, acara, musik backsong.....Mala banget lah! Gw sampe berkali-kali nyubit lengan cowok gw.....*mupeeeeeeng, bahasa lainnya: nyung, besok kalo kita nikahan, temanya yang sederhana tapi kek gini aja yaaa, yang kita banget pokoknya! :p*
Cowok gw juga cuman gedeg-gedeg kepala aja, hehe....


right-left: tyo, gw, gleeny, mala and suami, gusti, husna, ify


Happy wedding Mala, mijn beste vriend..... semoga pernikahannya diberkahi Alloh, langgeng mpe kaki-nini, dilapangkan rizkinya.... amiiin :*

Sunday, October 23, 2011

Sekali Lagi, Aku Melihatnya...

Aku menemukannya….aku berhasil menemukan sebuah jalan untuk menuju tempat yang tidak ingin aku tuju…..(saat ini), tapi pasti akan kutuju nanti, semua orang pun akan menuju tempat itu….

Memori itu begitu kuat terekam di hati dan bayanganku…begitu nyata, hingga rasa-rasanya aku sangat mengenalnya… begitu hangat dan dekat….begitu membuat aku tak ingin jauh dari tempat itu….

Sweater biru, kacamata, sarung, sepatu cats putih, tongkatnya, baju singlet putihnya….aku bahkan-bahkan bisa merasakan kehangatan sosoknya hanya dari baunya ketika di dekatku….

Rumahnya mewah…asri…begitu nyaman untuk menjadi sebuah rumah tinggal….
Dan yang kucari, ada di tempat itu…


Entah sebuah kebingungan atau ketakutan atau apalah, kurasakan seolah begitu nyata, senyumnya, kehangatannya…semuanya yang memancarkan cinta dan sayang dari diri beliau…
Begitu pula dengan kang garwa, yang begitu hangat dengan baju biru toscha-nya…bahkan menggorengkan lauk kegemaranku….

Rabb, jika Engkau menempatkan keduanya, tempatkanlah di surgamu….
Lapangkanlah kuburnya dengan amal ibadah mereka…aminn


Love yaa,

Friday, September 2, 2011

Lebaran di Ndalem Martanan

As usually....mudik ke tanah kelahiran adalah salah satu hal paling wajib 'ain ketika libur lebaran. Mule sodara yang di ujung timur ampe ujung barat Indonesia, semua pada dateng tumpah ruah di Ndalem Martanan. Jumlah keluarga inti kami ada 50 orang, genap. Itu udah diitung dari pakdhe yang paling sulung sampai om paling bungsu. Udah diitung pula cucu yang paling gedhe ampe cicit yang paling indil, hehe...

Yaaa.. bisa dibayangin laaah...segimane ribetnya tuh Ndalem Martanan kalo pas pada mudik jadi satu. Riweuh, kata orang Sunda! 4 kamar mandi aja masih kurang kalo uda pada buru-buru mandi. Antrean di depan pintu kek antri ponari. Belom lagi kalo makan minum, gileeee.....gelas piring perabotan kotor dimane-mane, payah tujuh turunan yang nyuci!

Salah satu hal yang paling berkesan adalah ketika TIDUR! yap! kenapa gw bilang tidur menjadi berkesan? hahaha....sumpah! kalo pas mudik lebaran kek tahun ini, ketika menginjakkan kaki ke Ndalem Martanan, anda bisa melihat orang pada gelintungan tidur di mana-mana (bahkan sampai di kamar mandi, YAKIN!). Gw aja dulu, pernah ngga dapet tempat buat tidur, semua kamar udah full booking, njogan depan tivi alias di Ndalem inti juga udah digelari tikar buat gulung-gulung sekeluarga, hehe.... Walhasil, gw tidur di atas meja panjang yang tingginya kira-kira selutut orang dewasa lah.


Ini dia hasil candid suasana mudik lebaran di Ndalem Martanan yang hampir-hampir mirip camp pengungsian :D ,cekidot!












Friday, August 19, 2011

STUCK!

Yeah..maybe I'm waiting for something that isn't going to happen...or maybe I can have anyone in the world but I just stuck on that one person...
not knowing what to do and being took there for a while...
don't know wheather to be happy or sad... I honestly don't know about this...
ughh...I want back to my normal....I wish :(

Sunday, August 14, 2011

Independensi?

Ingin pergi. Namun, hatiku terpaku di sudut itu. Walau merasa tempatku bukan di situ. Tidak seharusnya berada di situ. 
Ingin pergi. Tidak semudah itu untuk pergi. Tetap tinggal pun, aku tak punya posisi tawar kuat. Tidak pula atas sesuatu yang pasti.
Aku mengatakan ini, sekali lagi kukatakan ini. Bahwa tidak kubenarkan sesuatu yang berpedoman pada ketiadaan pilihan. Hidup itu pilihan. Sesuatu yang muskil namun harus dilewati.

Tapi sekali lagi, aku tak punya posisi tawar kuat.
Tak cukup kuat, atau entah tidak mau menjadi kuat. Aku lemah. Mungkin.

Aku tak bisa beranjak dengan perasaan seperti ini. Tak mengerti. Tak tahu. Tak punya tanggungjawab atas kepastian.
Ternyata, benar seperti kata kakak-kakakku...
Aku masih menjadi gadis kecil mereka. Gadis kecil yang harus dibuntuti kemanapun ia pergi.

Dan aku katakan diriku independen? Wanita dewasa yang berindependensi? You're a girl not a woman! No offense!

Angel Tenan!

Angel tenan! 

Angel? Senajan wis nglothok karo unen-unen 
“Urip iki kari sadherma nglakoni. Urip iki wis ana sing ngatur! Manungsa ora bakal bisa ngluncati angger-anggere panguripan. Gusti Alloh wis milihake sing sakapik-apike”. 

Mulane ora usah ngangsa. Ora usah nganja-anja. Mundhak keselak-selak. Gek endang-endanga katekan sedyane. Gek endang nduweni iki apa iku. Nyawang nduwur terus. Ora tau gelem nyawang mangisor….

Mung kepriye carane? Nglakoni iku pancen ora gampang. Satus siji. Enggal nyadharana. Ora tansah gampang kena sawabe kiwa tengen. Lan kepriye carane awake dhewe iki tansah lempeng. Netepi apa kang ana. Nanjakake sing ana. Tanpa pasrah bongkokan klawan nasib. Paribasan ana tela pohung dipangan ngono bae. Ono beras dipangan beras. Ora kok ana tela pohung golek-golekan utangan kanggo mangan beras. Anane mung tempe luru-luru bon-bonan daging menyang pasar.

Wusanane kepriye? Racak kaya sing ngembyah sakiki iki. Ora nrima marang panduming Sing Kuwasa. Gampang mundhak tensine yen tanggane tetukon iki iku. Tansaya abot entek-entekane malah ora karu-karuwan.

Kabeh iku ora bakal dumadi menawa awake dhewe nduweni pethingan. Kabeh wong Jawa ngerti bandha-bandhu iku, kerep banget anggone gondhelan waton iku. 

Sepisan, yakin utawa ngandhel. Babagan iki awake dhewe mesthi nduweni. Ora bakal awake dhewe babar pisan ora nduweni rasa yakin. Sebab rasa iku wus ana lan tumanem sajrone ati. Senajan angen-angen lan kanyatan kerep nggodha. Yakin iku ora bakal pethal ngono bae. 

Yakin ing kene ora amung percaya marang Gusti Sing Maha Kuwasa. Percaya marang pepesthen ngenani lair, jodho, rejeki lan pati. Sing baku malah kepriye awake dhewe banjur ngandel amrang pangaturane Gusti Alloh. Ora bisa meri marang liyane, sing luwih kasil. Ora bisa banjur tumindhak drengki, srei marang liyan, nyahak peparingane Gusti. 

Wong sing ngandhel ngerti lan mangerteni yen Gusti Alloh iku Maha Adil, Maha Wicaksana, lan Maha Welas Asih. Saben uwong iku mesthi keparingan werna loro: kepenak lan ora kepenak; rekasa lan ora rekasa; seneng lan susah; turah lan kurang; mengkono sakteruse. Mula awake dhewe kudu tansah syukur yen keparingan apa ta apa.

Kapindho, lila legawa utawa ikhlas. Urip iki ana sing murbawasesa, lire awake dhewe lair uga saka Kersa-Ne. sapa sing rumangsa lair dhewe? Tak kira ora ana. Ewadene bareng awake dhewe diwasa, banjur melu-melu nggagas. Awake dhewe bisa mbacutake uripe yen temandang. Angger gelem obah mesthi ana mamah. Yen mung kendhangan dengkul ya mung mamah abab. 

Gagasan, rekadaya, lan tenaga disokake kanggo makarya. Abrang apa wae diranggeh nganggo obahe pretikele. Perkara apa wae bakal rampung yen dilakoni. Nganti sok thukul panganggep yen awake dhewe iki kang bisa nemtokake nasibe. Sing kaya ngono iku jebul ya sok nanggori pepalang. Pawitan ana, mlaku tleser-tleser, meh kasil, ndadak ana sing rewel. Ora sida kasil. Kasil sepisan, kasil pindho, telu, papat gagal total. Durung alangan sing liya-liyane. Lara, anak-anake nakal, omah-omah ora tau laras, kelangan wong sing ditresnani...

Bareng dining-ningake, jebul panguripan iki ora ana sing alus mulus tanpa gronjalan. Ya ing kahanan iku diperlokake lila legawa, ora nyalahake Pangeran Sing Gawe Urip, ora ngluputake wong liya, saliyane awake dhewe. Wateg lila legawa iku ora ngudokake awake dhewe supaya ajeg kepenak, ajeg gampang lan ajeg kasil. Wong sing lila legawa iku bisa ngrasakake nikmate kasangsaran, lan isa nikamati sepane kanikmatan lair. 

Sakengga loro-lorone iku pancen wis dadi sandhangane wong urip. Monggo gek ndang dijejegke opo sing bengkok. Gek ndang gembregah, tangi, anyak dionceki awake dewe-dewe. Ora perlu ngonceki boroke liyan. Uwong urip duwe borok dewe-dewe, duwe ayu dewe-dewe, duwe baguse dewe-dewe. Luput-lupute malah dadi ngatonake bodho awake dewe yen tansah nggembyah uyah adul umuk ngendikan empur.

Mulane, muga tulisan iki bisa dadi pepeling, kanggo kabeh. Kanggo sopo to sopo kang ngerasa isih durung jejeg anggone mlaku, anggone ngluru dalan kang isih urung padhang. Monggo disrateni dewe awake dewe. Nuwun.






-Bening Rahardjo-



Saturday, August 13, 2011

Canda Sebelum Ajal Menjemput...

"Ucapan adalah Doa"

Pernah denger ini guys? Mungkin udah banyak orang yang ngucapin kalimat sederhana itu. Yup, sederhana dan simpel. Buat kalian yang nggak percaya dan merasa nggak logis bahwa ucapan yang kalian keluarkan dari bibir itu bisa jadi doa, maybe...true story ini bisa jadi gambaran betapa ucapan adalah sebuah granat buat kita sendiri. Salah lempar, bisa jadi malah balik mengenai kita...

So, jaga ucapan, please.. :)


Gw baru saja baca di Twitter yang lagi heboh, (awal-awalnya gw baca tweet salah satu orang yang ada di TL gw sih, biasa aja...I mean, hal yang lumrah, biasa, wajar, jika setiap manusia yang berjiwa pasti akan kembali menghadap pada RABBnya...hanya pada masalah waktu yang kita sedang mengantri dan tidak tahu kapan pastinya)...

But, trust me... kalo lo dah baca sampe akhir postingan ini, baru lo bakal ngerti apa yang gw maksud...
Tweet itu dari salah satu rekan yang bilang tentang sebuah kecelakaan ketika SOTR (Sahur On The Road) SMA 28 Jakarta, yang merenggut nyawa dua siswa mereka yakni disitu disebutkan pemilik nama dan

Awalnya gw nggak respect, karena gw juga punya 2 temen yang habis ngalamin kejadian serupa, kecelakaan dan dua-duanya meninggal juga sebelum bulan puasa ini. Then yang bikin gw penasaran sebenarnya adalah wajah dari kedua anak tadi. So, gw check dan buka tuh profile mereka satu-satu. Biasa lah...gw sempet ngebaca twit mereka sebelum-sebelumnya. And....OH MY LORD!

Lemme tell you this, guys....saat gw baca TL yang terjadi adalah gw merinding! Serius, merinding... daann...miris ngebacanya....T,T
Jadi Aisah ini sempet ngetwit sesaat sebelum kejadian kecelakaan (yang akhirnya membawa nyawanya juga), hanya beberapa menit, dan saat itu mungkin gambaran ketika dia di dalam mobil bersama dengan keempat temannya (salah satunya adalah cowok yang dia panggil Bowcik, yang menyetir mobil),

dia bilang ke salah satu temennya : lo dimana ken? Gue lagi dibawa au nih kemana-_- wakakakka

Sebelumnya dia juga sempat ngetwit: Cuussssss balapan lagi guyssssssss. Banyak setan nih-_-

And yang dibawahnya lagi (semuanya hanya berselang beberapa menit): Dibawa balapan sama bowo guyssss.. Gue vera acid ratna langsung meleekkkkkkkk :O

So, bisa dicheck dari TL dia, bahwa temen cowok bernama Bowo ini yang ngebawa mobil dan ngebut. Setelah gw buka TL gw sendiri, bahkan sampai ada artis yang ngasi ucapan bela sungkawa gitu dan bilang bahwa mobil itu melaju dengan kecepatan 200 km/jam dan berhasil....menabrak pembatas jalan di depan Sarinah. Tragic.

Twit ketiga Aisah itu juga sempat di RT oleh
dan akhirnya bernasib sama....I say it once again....tragic! 
sebelumnya, acid ini sempat ngetwit juga yang bingung dengan nasib dia... : Bingung gimana nasib gue besok☹ bakalan capek bangettt haaaah :''(

Habis ngebaca itu gw merinding juga....guys, anak-anak itu bahkan nggak tahu bahwa becandaan mereka itu akan menjadi granat yang mengambil nyawa mereka.
Ngebut di jalan, siswa SMA pula...well, jujur...entah gw jadi netting sendiri, kenapa mesti ngebut-ngebutan sih? buat dibilang jago? (karena ndak cuman sekali sih si cowok ini ngebut, terlihat dari twit Aisah dibawah-bawahnya ada kok....yang jelas suka balapan (entah balapan sama siapa...she says banyak setan...yaa diajak balapan sama setan beneran tuh....)

And, satu lagi twit Aisah ini yang bikin gw dan siapapun yang baca ngelus dada: bisa jadi TT ini mah-_-wakaka lawak
Yes...and see....dia bener-bener jadi TT bagi dunia pertwitteran Indonesia....but, kalau teman-temannya semobil yang ikut dalam 'petualangan pembalap' itu ngebaca, believe me...pasti nyesek dan nyesal banget....

Akhirnya Aisah tau, dibawa kemana dia pergi...begitu juga Acid...yang sempat galau dengan nasibnya besok...


Semoga kisah ababil-ababil ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua....



Deep condolences to and student SMAN 28 jkt who passed away this morning may this be value lesson for us..
I don't know who you are, but I'm prayer for you guys :) may God bless you.




Friday, August 12, 2011

Piwucal Luhur

Wonten ing ngandap punika seratan sae ingkang ngemu piwucal luhur kangge sangu urip laladan wonten ing donya, serat punika kapethik saking Tembang Kinanthi, sareng kula bikak-bikak seratan Eyang Swargi ingkang sakdangu punika kasimpen rapet wonten lemari, kula malah kejot amargi mboten nyana, taksih wonten seratan sae kados Wedha Tama punika ingkang saged kangge piweling lan angger-angger kita sami:

“Ajwa sembrana ing kalbu
Wawasen wuwus sireki
Ing kono jekti karasa
Dudu utjape pribadi
Marma den sambadeng sedya
Wewesen praptaning uwis.”

Kapethik saking piwucal sae Serat Weda Tama (anggitanipun Swargi Sampeyan Dalem Kanjeng Gusti P.A.A. Mangkunagoro IV ingkang angadaton ing Nagari Surakarta  Hadiningrat-1959)


Kula lajeng kemutan, ugi tansah kula ugemi piweling luhur saking Sibu ingkang asring dipun tularaken dateng para putra putrinipun sambung rapetipun kaliyan rasa bungah injih punika:
“Ojo kesengsem ing bungah-bungah
   Awit adate nyuda kaprayitnan
   Wekasan nyuda ajining diri”

Mugi atur cekak punika sageta kangge piweling luhur utaminipun kangge kula piyambak, lan kangge para maos sedaya. Nuwun.


 

Thursday, August 11, 2011

Process, Life and Living...

" Process is the process, result is the other thing caused by the process. Eventhough, I like to remember the process I've done before separately, even it's bad process ..."

I get that phrase from a friend. Then the phrase led me to think about life and living....

If people are same when they die ... because they're same when they were on earth ...
wouldn't they still be mentally ill after they die? (I know the skeptics will say they don't have a brains) ... but maybe they don't need a brains after they die. Maybe your brain is only used to hold your spirit thoughts. Maybe your body is like a toy robot and your spirit is like the battery ...




Wednesday, August 10, 2011

I’ve Often Wondered if Love’s an Illusion

Untuk matahari yang menebarkan sinar dan kehangatannya
ke mana pun dia pergi, dan menjadi contoh bagi semua orang,
yang berfikir melampaui cakrawala-cakrawala mereka...

tak seorang pun menyalakan lampu untuk kemudian menyembunyikannya di balik pintu;
keberadaan cahaya adalah untuk menghasilkan lebih banyak cahaya, untuk membuka mata orang-orang,
untuk menyingkap hal-hal yang menakjubkan yang ada di sekitar;
tak seorang pun mengorbankan hal terpenting yang dia miliki: cinta...
tak seorangpun meletakkan mimpi-mimpinya ke dalam tangan mereka yang mungkin menghancurkannya.
tak seorang pun, tentunya, kecuali aku...


kali ini senjatanya bukan lagi panas menyala, tetapi ironi dan represi.
siapa pun yang kebetulan menyadari keadaannya dan berani mengungkapkan faktanya, lebih sering dihadapkan pada rasa ketidakpercayaan.
pada umumnya, ayah, ibu, isteri, suami, atau anak mereka, atau siapa pun, alih-alih merasa bangga, justru melarang mengungkit hal itu, takut membuka celah penghinaan bagi keluarga mereka.
Aku paham.

kusadari saat itu bahwa, tak peduli betapapun detailnya aku mengungkapkan fakta-fakta,
secara tak langsung aku telah berkolaborasi dengan kebohongan itu;
bahkan bila niat di balik naskahku adalah untuk menghapus mitos tentang posisiku sekarang ini, orang-orang akan lebih mempercayai apa yang ingin mereka percayai....

Aku melihat, seakan-akan aku penonton perjalanan hidupku sendiri, sementara hatiku berjuang sia-sia melarang dirinya tergoda pada seseorang, pada lelaki, yang tidak seharusnya ada dalam hidupku...
aku bertepuk tangan ketika akal sehat kalah dalam peperangan, dan yang bisa kulakukan hanya menyerah dan menerima bahwa aku telah jatuh cinta...
cinta itu memimpinku melihat hal-hal yang tak pernah terbayangkan ada--laku, ritual, pengejawantahan, trans.
percaya bahwa aku sedang dibutakan oleh cinta, aku meragukan semuanya, tapi keraguan sama sekali tidak melumpuhkanku, malahan mendorongku ke arah samudera hal yang keberadaannya tak mampu kuakui.
energi ini pula yang, dalam masa-masa sulit, telah membantuku menghadapi kesinisan.
dan karena cinta itu tetap hidup, energi itu tetap ada, meskipun cinta telah meninggal, meskipun yang kuinginkan saat ini hanyalah melupakan apa yang pernah kulihat dan pelajari...
Aku hanya sanggup menjalani semua itu saat bergandengan tangan dengannya...

Sepeninggal dirinya kini, aku membutuhkan segalanya untuk secepat mungkin kembali ke keadaan semula. aku akan berkonsentrasi pada masalah-masalah baru, aku ingin kembali berfikir bahwa dunia ajaib hanya sebuah tipuan cerdik,
bahwa orang-orang penuh dengan takhayul, bahwa semua yang tak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan tak punya hak untuk eksis...
jika ada kemungkinan menemukan penghiburan dari tragedi kehilangan seseorang yang amat kita cintai,
itu adalah harapan yang perlu ada, bahwa barangkali semua yang terjadi adalah yang terbaik...
aku terbangun dan jatuh tertidur dengan keyakinan itu...

sisa kehidupanku akan menjadi benturan pahit antara mimpi personalku dan kenyataan kolektif.
mengenalnya seperti aku mengenalnya, kupikir dia berjuang hingga akhir, menyia-siakan tenaga dan kebahagiaanku untuk mencoba membuktikan sesuatu yang tak seorang pun, sama sekali tidak seorang pun, siap memercayaiku...


tapi, lalu, berapa banyak dari kita dapat menghindar dari derita melihat hal terpenting dalam hidup kita menghilang dari satu momen ke momen lain berikutnya?
yang kumaksud bukan hanya orang-orang, tatapi juga niat dan impian kita; kita mungkin bertahan hidup, tapi, cepat atau lambat, jiwa kita akan meledakkan kefanaan.
kejahatan paling sempurna--karean kita tidak tahu siapa yang membunuh kebahagiaan kita, apa alasan mereka atau di mana kita bisa menemukan pihak yang bersalah....

sadarkah kita dengan apa yang kita lakukan, pihak-pihak bersalah tanpa nama? kuragukan itu, karena kita sendiri--orang-orang tertekan, orang-orang arogan, kita yang tak berdaya dan yang berkuasa--adalah korban dari kenyataan yang kita ciptakan sendiri...

mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mampu memahami duniaku...
ya, itulah cara terbaik memikirkan hal itu--duniaku.
pada akhirnya, aku belajar menerima bahwa aku hanya penghuni sementara, ada di sana karena rasa simpati, seperti orang yang menemukan dirinya di dalam rumah besar nan indah, mengunyah makanan mewah, dan sadar bahwa ini hanyalah pesta, dan akan tiba semua lampunya dipadamkan, sang pemilik beranjak tidur, pintu tertutup dan kita kembali ke jalanan....

Aku sedang kembali, atau, lebih jelasnya, sebagian diriku sedang berbalik pulang menuju dunia di mana yang masuk akal hanyalah yang sanggup kita lihat, sentuh dan rasakan...
aku ingin kembali ke dunia serba maya, ke dunia surat tilang, ke dunia serba materialistis, kepada film-film konyol dan horor, kepada cuaca tak menentu.
Bahwa aku akan menikah, akan memiliki anak, dan masa lalu akan menjadi samar, yang pada akhirnya akan membuatku bertanya kepada diriku sendiri: "Bagaimana mungkin aku bisa sebuta ini? bagaimana mungkin aku bisa senaif ini?
kemudian mengikuti saran nenekku, menaruh gunting di samping dipan tidurku untuk memotong akhir dari mimpi itu.
hari berikutnya, aku akan memandangi gunting itu dengan rasa menyesal, tapi aku harus  bisa menyesuaikan diri hidup di dunia ini lagi, atau akan terancam menjadi gila karenanya....

Tuesday, July 26, 2011

Galau...

Entah apa yang sebenarnya bersarang dalam diriku ini. Sudah berulang kali aku merasakannya. Rasa sakit yang begitu luar biasa di dada kiriku. Rasanya aku sering hampir pingsan bila berlari-lari menuju kampus karena terlambat kuliah. Sering pula aku alami rasa sesak yang amat di dadaku, rasanya susah sekali untuk bernafas. Saat berenangpun, pernah dadaku seperti hampir terbakar rasanya. 

Aku mencoba untuk tidak menggubris semua itu. Aku masih begitu bahagia menjalani hari-hariku bersama teman-teman. Seperti biasa, dengan segala aktivitasku yang begitu padat setiap harinya, aku tetap bersemangat dan selalu memasang senyumku yang paling cantik. Aku merasa lebih bahagia apabila bertemu dengan banyak orang, bercakap dengan mereka, beradu argumen dengan mereka. Mungkin, aku tidak perlu terlalu merisaukan apa penyakitku, bahkan ketika teman-teman terdekatku yang sering menolongku ketika kehilangan kontrol atas diriku sendiri, saat aku pingsan, saat aku melemah dengan tubuhku. Mereka menyuruhku untuk menaruh perhatian lebih pada diriku sendiri, pada kesehatanku, karena tidak tega melihat kondisku yang akhir-akhir ini sering di luar kendaliku. Aku sendiri kurang begitu mengerti, kadang tubuhku bisa diajak bekerjasama dengan otak dan kemauanku, tapi tak jarang pula tubuhku jadi di luar kontrol diriku sendiri.

Kadang, aku merasa ketakutanku lebih besar dari keyakinanku atas diriku sendiri, bahwa aku kuat, bahwa aku baik-baik saja. Setelah aku merasa kesakitan yang luar biasa, orangtuaku membawaku pada spesialis, dan seketika aku divonis sesuatu. Menyakitkan, tentu. Aku merasa, dokter yang menanganiku lebih pantas untuk dikasihani, terkadang. Usianya tua, sudah sangat tua, bila berjalan lemah dan sedikit terpincang, namun kecerdasan dan keahliannya menghibur pasien-pasiennya, itu yang nomor satu aku acungi jempol. 

Harusnya bukankah seusiaku saat ini yang merawatnya? Dia yang menjadi pasienku. Namun ini kebalikannya, sungguh hal konyol. Kakek tua sepertinya, yang sudah seharusnya di rumah dan dirawat, kini gantian merawat orang. Orang penyakitan sepertiku, yang jumlahnya tidak sedikit setiap kali dia menjalankan praktik jaga dan praktik umum di rumah sakit. Setahuku, dia wira-wiri ke dua rumah sakit. 

Kembali lagi pada kondisiku, vonis itu terkadang bagai momok tersendiri, namun terkadang kuperoleh sebagai penghargaan pada kekuatan dan kesabaranku, terkadang pula aku merasa sebagai penggugur dosa-dosaku, semoga. Mungkin aku cukup lihai dalam menyembunyikan kambuhnya penyakitku. Tidak ada yang tahu. Hanya aku dan ketakutanku. Namun kubalut dengan senyum palsu. Huh. Menyedihkan. Tapi kemudian aku berkaca pada kakek-nenek yang sering check control bersamaku di hari yang sama. Indah melihat mereka tersenyum. Kondisinya entah sama entah lebih parah dariku, tapi tatapan mereka tetap bersemangat, jadi mengapa aku harus bersedih.

Sering aku menghibur diriku, bila memang takdir sudah memanggil, bukankah setiap manusia yang punya jiwa tidak akan bisa lari menghindar? Jalani saja. Berdoa, agar khusnul khotimah, itu saja yang kulakukan.

Aku sedih, ketika dulu Eyang yang bahkan lebih paham nama dokter spesialis yang menanganiku, bertanya: "berarti, kamu selama ini mengidap penyakit ini? Penyakit untuk orang-orang seusiaku?"
Maaf, Eyang…aku menyembunyikan ini darimu. Dari semuanya. Bukan aku tidak mau bercerita. Tapi aku sedih, sedih dengan kekhawatiran kalian kepadaku. Biar saja. Aku menyimpan ketakutanku sendiri.

Hingga kini, masih saja fluktuatif kondisiku. Pernah dalam setahun yang lalu aku sama sekali tidak kambuh parah, namun di tahun ini, sekalinya kambuh, aku bahkan pernah merangkak tanpa busana keluar dari kamar mandi, merasakan sakit yang luar biasa yang bahkan rasanya ingin membuatku terkapar. Aku ngglesot, merangkak, mengambil obat yang kutaruh di meja dekat kamar mandi. Oh! Shame!

Itu yang kutakutkan…hingga aku berjaga-jaga menuliskan nomor handphone ibuku di dompet dan alamat rumahku yang jelas, sewaktu-waktu terjadi sesuatu dengan kondisiku. Ada orang yang langsung bisa menghubungi beliau. 

Sudahlah…mungkin cukup aku yang tahu bagaimana, toh kalaupun aku bercerita, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi nyeri dan sakitku….

Alloh, I know…YOU love me more than they do…..:’)