Thursday, January 1, 2015

The New Year 2015: Rise With Us!


Semalam, sebagian dari kita telah melewati malam pergantian tahun dari 2014 menuju 2015. Bagaimana Anda melewatkan malam tadi? Saya tidak akan menggunakan kata 'biasanya' di sini. Sebab, kata 'biasanya' akan selalu merujuk kepada habit ataupun budaya. Bukankah budaya itu sendiri terbentuk oleh tatanan masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai dari sejarah, alam, lingkungan sosial, dan sebagainya. Masyarakat kita, dari tahun ke tahun, cenderung menganut penyeragaman dalam segala hal, termasuk salah satunya dalam hal perayaan malam pergantian tahun. Kempang api, terompet, balon, dan pernak-pernik lainnya yang serba sparkle selalu menjadi pilihan untuk menemani detik-detik pergantian tahun. Uniformitas kesemarakan satu malam itu seolah ditandai dengan simbol-simbol yang seragam. Saya rasa tidak jauh berbeda yang ada di Indonesia dengan yang ada di Hongkong maupun Brazil. Entah darimana asal mula simbol-simbol itu dikenalkan kepada khalayak untuk menandakan bahwa mereka sedang menantikan tahun baru yang akan datang. Entah pula apakah karena manusianya yang tidak memperhatikan pilihan-pilihan lain selain standarisasi budaya itu tadi.

Saya pribadi melewatkan detik pergantian tahun semalam secara takzim dan sederhana bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Suasana hangat hadir menyelimuti bersama cahaya dari lilin-lilin yang menemani perbincangan ringan kami mengenai hari-hari dalam setahun yang telah berlalu dan badai yang harus dihadapi esok hari. Apabila beberapa waktu lalu saya sempat merencanakan akan menghabiskan malam pergantian tahun bersama dengan sahabat-sahabat terdekat, tetapi kemudian rencana itu saya ubah total. Bagaimana mungkin Anda melewatkan hari-hari yang seharusnya penuh dengan battle dengan suasana gemerlap penuh suka cita? Satu sisi, ini bukanlah saat yang tepat untuk sebuah perayaan. Kita lihat, di sudut tempat yang lain baru saja terjadi banyak musibah beruntun untuk tanah kelahiran kita, mulai dari tanah longsor, banjir, angin puting beliung, kebakaran Pasar Klewer dan yang teraktual yakni kecelakaan pesawat Air Asia nomor penerbangan QZ 8501. Saya pribadi dan keluarga juga tidak sedang dalam kondisi tepat untuk perayaan sebuah momen, satu malam, dalam suasana gegap gempita. Kami lebih memilih untuk duduk bersama sembari mengobrol ringan sebagai refleksi hari-hari yang telah kami lewati kemarin. Ya, kita memang tidak bisa merasakan kepedihan orang lain atas luka yang sedang mereka rasakan. Namun setidaknya, kita bisa lebih bijak untuk tidak merayakan pergantian tahun ini secara berlebihan.

Menyalakan lilin-lilin di tengah kebersamaan keluarga, mungkin itu hal yang paling tepat bagi kami saat ini. Lilin adalah simbol pengharapan bagi kami. Saya ingat kalimat bijak dari Gede Prama di sebuah acara di Jakarta tahun lalu: "Kita memang tidak mampu menjadi matahari sebagai cahaya penerang bagi semua orang, tetapi setidaknya kita bisa menjadi lilin-lilin kecil sebagai penerang bagi orang-orang di sekitar kita". Sebagian dari kita bisa saja menertawakan musibah yang dialami oleh orang lain, kita bisa saja mencibir kepada orang-orang yang memilih untuk berempati kepada mereka yang mengalami musibah. Tidak apa-apa asal tidak Anda tunjukkan tawa dan cibiran itu di muka umum, kalau Anda tidak ingin dicap 'manusia tidak punya nurani'. Musibah bukanlah suatu hal yang pantas untuk dicandai. Coba bayangkan apabila musibah itu melibatkan sanak saudara Anda, atau mungkin malah diri Anda sendiri? Relakah Anda menjadi bahan tertawaan atau cibiran? Saya rasa orang pandir pun tahu jawabannya.


Ladies and gentlemen, hidup itu tidak pasti. Saya bisa jaminkan itu kepada Anda. Hanya ada satu hal di dunia ini yang pasti, yakni perubahan. Bisa jadi kemarin kita tertawa-tawa hingga meluapkan perasaan bahagia bertubi-tubi. Namun, esok hari bisa saja tawa itu terenggut dengan sobekan luka. Siapa yang tahu? Setiap orang selalu menuliskan angan-angan indah yang mereka sebut sebagai resolusi tahun baru, bahwa nanti di tahun depan saya mau ini, saya ingin itu. Memasang target harus begini, harus begitu. Ketika hari dalam setahun telah berakhir tetapi mimpi-mimpi indah dan ambisi-ambisi di dalamnya belum tercapai, kekecewaanlah yang didapat. Kita mungkin tidak pernah menengok kepada satu kekuatan penting lain di dalam satu tahun yang telah kita lewati, yakni proses. Kita menjadi tidak lebih hanya sekumpulan ambisi-ambisi yang memerintahkan otak untuk bertindak. Padahal, kita adalah proses dari perubahan yang pasti terjadi.

Akhirnya, hari ini tiba. Hari dimana  saya mulai memahami makna kalimat mulia dari salah seorang kolega dekat, yang ingin saya bagikan untuk Anda semua: "Jikalau hari ini berjalan sedemikian indahnya, dari manakah arah datangnya kesedihan berikutnya? Katakan.". Semoga kalimat itu menjadikan pengingat bagi kita semua, bahwa kesedihan, kebahagiaan, tawa, tangis, canda, amarah....itu semua tidaklah pasti.


Regards,

Bening Rahardjo