Thursday, June 23, 2011

“Separoh Abad Lebih Ndalem Martanan dan Gulawentahan yang Membentuk Pribadi dan Prinsipku, Seorang Bening Rahardjo” PART 6

Berkeras dalam prinsip, itulah aku. Kerasnya watak dan pendirianku atas apa yang kuyakini benar, itu menurun dari Eyang Kakung sendiri sebenarnya. Beliau juga orang yang keras atas prinsipnya. Namun, yang membedakan adalah, Eyangku tidak pernah menaruh dendam dalam hatinya pada orang-orang yang telah sedemikian di luar batasnya menyakiti beliau. Sedangkan aku, aku menjadi orang yang berkeras hati, apabila yang dilakukan padaku telah lebih dari batas wajar. Aku memang berpegang pada prinsip lakon dalam wayang, siapa menabur bakal menuai, cepat atau lambat, setiap apa yang kita lakukan, akan ada balasannya. Tetapi memang untuk hal yang satu itu, entah mengapa rasanya sulit bagiku untuk bisa menerima dan memaklumi tindakan orang-orang yang telah menyebabkan ketraumaan seumur hidup dalam diriku, bahkan tega membuat malam-malamku menjadi tidak indah dengan bunga tidur. Semakin aku mencoba untuk melupakan, semakin rasa sakit itu terkubur dalam hatiku. Jadi, caraku untuk tetap ‘berpegang’ pada lakon wayang yang sabar adalah: Move on! Ya, pergi sejauh-jauhnya dari mereka yang telah membuatku luka. Menciptakan kehidupan baru yang bahagia, tentunya tanpa mereka.

Bagi sebagian orang, mungkin itu dianggap sebagai ketidakmampuanku dalam menerima kenyataan pahit. Justru karena aku menerima dan meyakini bahwa Tuhan punya balasan yang sangat adil untuk semua perbuatan, itu yang membuatku menjadi sosok yang arogan, hidup untuk kebahagiaan yang aku ciptakan sendiri tanpa orang-orang yang berlaku picik, berlaku tidak benar. Sedikit ada benarnya, namun ternyata ada juga salahnya dalam aku mempersepsikan kebahagiaan. Setelah aku tahu, bahwa kebahagiaan itu dapat kita rasakan bukanlah dengan sengaja diciptakan, tapi berjalan dengan sendirinya. Itulah yang aku sadari, mengapa aku tidak pernah bisa menemukannya sekeras usahaku untuk mencari dan menciptakannya. Suatu hal bodoh yang menurutku tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku tahu, ada beberapa sahabat yang bahkan mengatakan padaku, ia tidak habis pikir mengapa aku sebegitu kerasnya mencari apa itu kebahagiaan. Dia katakan padaku, hidupnya selalu dipenuhi dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu, ia katakan, adalah saat dimana ketika ia jauh dan merasa rindu, mamanya meneleponnya dengan suara yang lembut. Kebahagiaan itu adalah dimana saat ia makan es krim. Kebahagiaan itu adalah saat dimana ia  mendapat sms dari kekasihnya, kebahagiaan itu adalah saat dimana dia tahu bahwa tulisannya dimuat dalam sebuah majalah. Kebahagiaan itu adalah saat dimana dia bersepeda mengelilingi kompleks. Mungkin, temanku ini menganggap aku gila. Orang gila yang tengah mencari hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dicari dan dapat dengan mudah dirasakan dalam hal-hal yang sepele. Yah, mungkin dia benar. Tapi, menurutku dia pun tidak sepenuhnya benar, ketika dia mengatakan “hidupku selalu penuh dengan kebahagiaan”. Aku katakan itu membosankan! Bahagia yang sebenarnya adalah ketika kita merasakan bahagia setelah melewati ketidakbahagiaan. Hidup akan menjadi lebih berwarna.

Tapi seperti apapun, itulah aku, Bening Rahardjo. Wanita yang telah menemukan independensi dalam perjalanan hidupku….



-Best Regards-