Thursday, November 12, 2015

Wanita Priyayi

"Lady with Kebaya" by Basoeki Abdullah

"Jangan pernah berkecil hati disebut sebagai Priyayi. Priyayi harus berpendidikan. Bukan hanya tentang bagaimana mengisi seluruh keranjangmu, tetapi bagaimana itu akan menjadi penerang sepanjang hidupmu." - Eyang Kakung


Tuesday, November 10, 2015

Selamat Hari Pahlawan, Eyang!



Bicara tentang Hari Pahlawan, tentu kita semua akan ingat pada nama-nama seperti Soedirman, Pattimura, Syahrir, Soekarno, Soepriyadi, Slamet Riyadi, Cut Nyak Dien, Kartini, Moh.Hatta, dll, bukan? Ya, seluruh rakyat Indonesia pastinya akan selalu mengenang perjuangan mereka dalam bentuk gerakan perlawanan kepada para penjajah. Namun, kali ini dalam postingan pribadi, saya akan memperkenalkan sosok pahlawan yang tentu kalian tidak akan mengenalnya. Justru, saya menjadikannya pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau orang lain mengatakan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bagi saya Eyang Kakung adalah orang yang sangat pantas untuk diberi gelar yang serupa, setidaknya, bagi saya pribadi. Ya.

Eyang adalah sosok pengganti figur seorang bapak. Mencintai saya dengan segala kekurangan saya di waktu kecil hingga remaja. Mengajari saya banyak ilmu tidak hanya dunia tetapi juga pendekatan spiritual kepada Yang Maha Esa. Membukakan hati saya kepada hal-hal penuh empati yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Memberikan saya pemahaman tentang dunia di luar yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Menambah wawasan saya kepada segala sesuatu yang belum pernah saya temui. Mendukung saya dalam segala situasi.

Mungkin bagi kalian, orang pertama yang mengajari kalian cara berlari, berjalan, membaca, menaiki sepeda adalah orang tua, tetapi dalam kehidupan saya, eyanglah yang memberikan semua ilmu itu. Sungguh, banyak hal yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu untuk membeberkan betapa ketulusan dan kebaikan yang ada di dalam diri Eyang Kakung bagi tumbuh kembang saya hingga pada saat usia saya yang sekarang ini, semua sangat berarti. Semua hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua saya, Eyang Kakung yang menempati posisi itu. Sampai saat ini, saya tidak terlalu fasih jika harus memboncengkan orang dengan sepeda. Saya bisa naik sepeda, sendirian, tanpa memboncengkan orang di belakang.

Pernah di suatu pagi, sehabis shalat subuh berjamaah di bilik kamar beliau yang sunyi, lantas beliau mengajak saya untuk berjalan-jalan pagi. Kami berjalan beriringan sampai di suatu kampung, yang masih dalam satu kawasan. Saya masih dapat mengingat suasana di kala itu, tentu tidak seperti sekarang ini yang sudah banyak lampu di sana-sini. Suasana pagi masih terasa sepi, remang dan dingin. Hanya sedikit rumah yang sudah berdiri kokoh di kampung. Tiba-tiba, Eyang Kakung menghentikan langkah saya dengan tangan kirinya.

"Kenapa, Eyang?"
"Sssst..."

Eyang hanya memberi isyarat dengan tangan kanannya agar saya diam sejenak. Beliau menunjuk ke arah depan, di tengah kegelapan subuh, dengan telunjuk jari kanannya. Saya mengikuti arah telunjuk itu, tidak menemukan apa-apa.

"Ada apa, Eyang?"
"Itu, ada macan. Kelihatannya dari hutan di seberang, ayo kita balik arah saja."

Eyang menarik tangan saya pelan-pelan berjalan berbalik arah, tanpa tergesa. Hanya langkah biasa yang penuh waspada. Ketika saya hendak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah kami benar-benar aman, Eyang Kakung hanya menahan tolehan kepala saya agar tetap melihat lurus ke depan. Entahlah, apa mungkin pada saat itu masih ada macan yang berkeliaran di hutan, di bukit yang letaknya tidak jauh dari kampung kami. Mungkin saja ada. Sebab saya pernah melihat sebuah kidang/menjangan/kijang yang pernah tertangkap oleh tetangga ketika sedang mencari kayu di bukit itu pula. Kemudian menjadi tontonan menarik orang-orang kampung di waktu itu. Termasuk saya, tentunya.

Pernah dalam perjalanan hidup saya ketika hendak mencari Perguruan Tinggi yang terbaik setelah lulus Sekolah Menengah Atas, di saat bersamaan kondisi kesehatan Eyang Kakung sudah naik turun. Beliau mengajari saya untuk bertirakat. Memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa dengan segala kerendahan hati. Berpuasa, berdoa dan berlaku jujur. Beliau selalu membangunkan saya pukul tiga pagi untuk mengawali aktivitas. Waktu sepagi itu Eyang Kakung sudah mengisi penuh bak mandi kami yang besar. Beliau meneruskan dengan menyapu halaman dan sekeliling rumah. Beliau selalu mengajarkan untuk membersihkan halaman sebelum orang-orang beraktivitas pagi. Oleh karena rumah kami berdekatan dengan sebuah pasar tradisional, hanya berjarak -/+ 30 meter, kami harus terbiasa menyapu sebelum orang-orang berlalu-lalang menuju ke pasar.

Saya selalu bertugas menyiapkan sarapan pagi setelah Eyang Puteri meninggal, hal yang biasa saya lakukan dari kelas empat SD. Kami punya rewang yang membantu pekerjaan memasak dan mencuci, mereka datang pukul 08.00 pagi hingga selesai pukul 16.00 sore, setiap hari, apabila tidak ada kepentingan lain. Kalau rewang saya sudah memasak sayur di sore hari, biasanya pagi itu saya tinggal menghangatkan dan menggoreng lauk saja. Ketika pencernaan Eyang sudah mengalami gangguan, saya selalu menawari apakah beliau menginginkan sarapan dengan bubur atau nasi biasa. Kalau beliau menginginkan bubur, saya akan pergi berbelanja ke pasar sebentar, jadi tidak aneh apabila terkadang pukul lima pagi, dengan berseragam, saya sudah mengantri untuk sebuah bubur di pasar. Hampir seluruh pedagang di pasar itu mengenal saya, bahkan hingga kini.

Pernah merasa sangat terjatuh ketika usaha saya gagal untuk menembus beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, bahkan Universitas Sebelas Maret yang dekat dari rumah, semua gagal saya tembus melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) waktu itu. Nilai rapor saya tidak mampu bersaing dengan para pendaftar lain. Banyak dari teman-teman saya yang melakukan mark-up untuk nilai rapornya sebelum mendaftar PMDK. Saya bukan orang yang dididik dengan cara seperti itu. Eyang Kakung selalu menekankan pada saya untuk berlaku jujur (laku jujur kang utama), beliau lebih bangga kepada apa yang saya peroleh dari proses yang saya jalani, ketimbang bagaimana hasilnya. Meski, apa yang sudah kita usahakan dengan harga yang terbaik tidak selalu pasti hasilnya sesuai yang kita inginkan. Namun, ternyata Yang Maha Kuasa memberikan saya kemudahan di lain waktu, tes mandiri Universitas Gadjah Mada yang saya ikuti akhirnya lolos seleksi

Satu kali dalam hidup saya, saya pernah sangat membahagiakan Eyang Kakung sebelum beliau sedo, ya dengan diterimanya saya di Perguruan Tinggi Negeri yang baik itu. Saya bahagia, setidaknya beliau pernah menemani perjalanan saya di Perguruan Tinggi selama hampir dua setengah tahun. Hal yang selalu mengingatkan saya kepada beliau, bertirakat. Saat sudah mencapai titik yang diinginkan, jangan lupa untuk tetap rendah hati, ingat Siapa Yang Membantumu dengan Segala Keagungannya. Suatu sore selepas maghrib, ketika kami duduk bersama di regol depan rumah, Eyang Kakung berpesan sangat dalam kepada saya tentang banyak hal. Banyak hal yang belum bisa saya maknai di usia saya waktu itu, sehingga banyak pula kalimat-kalimat Eyang Kakung yang tidak bisa saya pahami maksudnya. Saya ingat salah satunya beliau menembangkan bait Dhandhanggula, yang masih bisa saya nyanyika dalam hati:

|| Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana, sartane kawruhana. ||
 
"Ngger anakku, orang boleh menyombongkan ilmunya di depan kita, tidak mengapa. Kamu tahu, orang berilmu tidak akan pernah merasa bahwa dirinya berilmu. Selalu ingatlah akan ilmu padi. Sing bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa."

Ya. Nasihat hidup orang Jawa, tidak hanya bersumber dari agama-agama dan kepercayaan yang berkembang di tanah Jawa, seperti Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Kong Hu Cu, dan Islam, tetapi juga dapat kita temui dalam karya budaya yang berupa tulisan dari para pujangga, wali, raja, dan para kaum cendekiawan lainnya. Eyang Kakung saya adalah satu contoh pahlawan nyata untuk hidup saya, juga kehidupan orang lain, who knows? Selama hampir 30 tahun beliau menjadi pemimpin di wilayah kami, belum pernah sedikitpun saya mendengar orang berkata buruk tentangnya. Belum pernah sedikitpun saya melihatnya menghukum orang dengan semena-mena, belum pernah sedikitpun saya mendapati ajaran dan tuturan beliau yang menyimpang dari nilai-nilai filosofis kebudayaan dan kearifan laku manusia. Belum pernah saya mendapati beliau berkata kasar kepada rewang-rewang di rumah. Saya selalu mendapati beliau membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan datang kepadanya. Saya selalu mendapati beliau dengan sabar memberikan pitutur kepada orang-orang yang datang sekadar ingin meminta nasihatnya. Saya selalu mendapati beliau tengah berdoa khusyuk di sepertiga malam, memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Memberi. Saya selalu mengamati beliau selalu tergesa untuk datang awal setiap shalat jum'at di mesjid besar kami. Beliau selalu mengajarkan 'lebih baik engkau datang untuk melayat saudaramu yang meninggal dan keluarga mereka yang sedang berduka, ketimbang engkau datang ke pesta-pesta pernikahan'. Beliau selalu melayat siapapun baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya secara pribadi di wilayah kami, menaiki sepeda tuanya. Bukan berarti datang ke pesta itu tidak diperbolehkan, katanya. Beliau juga selalu berusaha datang ke undangan pesta pernikahan, meski apabila berhalangan, beliau menyuruh saya dan rewang di rumah untuk njagongke/menggantikan beliau.



Saya yakin, banyak pahlawan-pahlawan di luar sana yang tidak pernah terjangkau oleh media-media besar, Mereka yang tulus memberikan pertolongan dan kasih sayang kepada orang lain, mengorbankan diri mereka untuk orang lain, memberikan perhatian kepada orang lain. Masing-masing dari kita pun pasti memiliki tokoh pahlawan imajiner yang kita banggakan. Siapapun itu, saya yakin mereka adalah orang-orang hebat yang pantas untuk diteladani dan mereka mengajarkan kepada kita tentang satu hal: kebaikan.





-Bening Rahardjo-


Friday, November 6, 2015

Secuplik dari Persahabat Saya dengan Pria-Pria ini....


"Gue kangen kalian..."

Akhirnya kalimat pancingan di grup chat yang saya lontarkan itu berhasil memancing para lelaki kampret untuk berhaha-hihi seperti biasanya. Sudah lama kami tidak melakukan candaan seperti itu rasanya, hmmm lama... Mungkin sejak si supervisor Bas sudah mendapatkan pasangan baru hasil perburuan yang cukup instan. Ya gimana nggak instan, orang dia pacaran sama anak buahnya sendiri. Saya sih berpesan semoga awet, tidak tertuah karma penikungan saja sih, haha skip yang terakhir ini, forgive me Bas! :D

"Elu sombong Bas, sudah persis kayak Bang Toyib sekarang."
"Bang Toyib gimana hlo?"
"Ya lu pulang kampung nggak kabar-kabar sekarang. Teman macam apa kaaauuu?"
"Gue minggu kemarin mampir tempat Fuad hlo, Ning."
"Iyaa tapi lo nggak kabar-kabar gueeeee!"
"Iya, iya maaf. BESOK kita meet up. Oke?"
"BESOK? Lu udah di rumah ini?"
"Iya, ini gue lagi ngobrol sama bokap, kangen. Gue kan juga kangen kalian, besok kabarin anak-anak ya?"

Hmmm...
Setelah dipancing, baru deh bisa kumpul lagi sama mereka. Akhirnya, sepanjang petang hingga malam itu kami habiskan dengan berhaha-hihi bersama. Puluhan bumbu-bumbu persahabatan sudah kami temui sepanjang kami tumbuh bersama. Apalagi kalau bukan kecrohan sarkasme yang membuat kami saling merindukan satu sama lain. Meskipun dalam perjalanan persahabatan kami diwarnai oleh perubahan sifat maupun perilaku masing-masing dari kami, tetapi kami tetap fleksibel dalam menghadapinya. Kami saling memaklumi, walaupun harus berakhir dengan kecrohan apabila nanti kami bertemu. Seperti apabila masing-masing dari kami mulai sedikit berubah setelah memiliki pasangan, ya kami bisa menerima.



Terkadang dalam banyak hal kami juga sering berkeras pendapat, tidak masalah, sepanjang kami masih bisa melihat konteks secara objektif. Sering pula dalam membahas masalah yang sedang dihadapi pada satu orang, maka yang lain akan turut memberikan pendapat yang berbeda-beda, tetapi pada intinya adalah kami menaruh rasa perhatian yang besar pada sahabat kami. Tak luput malah ketika salah satu diantara kami bersedih, bukan latar belakang masalah yang membuat kami sedih yang pada akhirnya dibahas. Semua akan berakhir dengan guyonan menghibur dan sedikit 'bangsat', memang.

Oleh karena saya adalah satu-satunya spesies wanita dalam The Red Ants, jadilah saya yang harus banyak (ditekankan, banyaaaaak sekali) beradaptasi dengan makhluk-makhluk pria itu. Mereka tidak se-melankolis wanita dalam persahabatan, yang jelas jauh dari drama, a good point. Contoh kecilnya, kalau kami sedang gitaran dan suara saya terdengar sumbang, mereka akan sangat gamblang bilang "Suara lu fals banget sih? Gue jadi bingung nih cord-nya!". Begitupula jika kita berpakaian atau berias sedikit berbeda dari biasanya, berharap sih akan mendapat pujian dari mereka, but...I am wish, yeah! Mereka akan dengan keras menyampaikan tanpa basa-basi bahkan meski di depan umum "Lu menor amat sih pake lipstik? Mau dangdutan?" atau "Lu dandan ya? Emang mau kemana pakai dandan begitu? HAHAHA". Itu kan nohok ya, kalau seandainya ada sahabat sesama wanita yang bilang begitu. Tapi tidak dengan pria-pria ini. Kuncinya, jadilah muka badak.

Pria-pria ini juga tidak semudah sahabat wanita dalam melakukan sesi curhat. Kalau bersahabat dengan wanita biasanya akan saling menyampaikan sesi curhat colongan bersama-sama diawali dengan kalimat "Eh, gue mau curhat nih, menurut kalian...bla3x...", Namun, yang saya temui selama bersama pria-pria ini adalah mereka akan diam-diam mencari waktu empat mata untuk menyampaikan keluh kesahnya serta untuk mendapatkan pendapat saya secara terbuka. Ya, wanita lebih baik dalam hal menjadi pendengar. Saya juga jarang sekali mendengar cerita yang bersifat rahasia dari para pria ini. Tergantung sih, menurut mereka pantas diceritakan ya diceritakan apa adanya, tidak pakai kode 'RHS' seperti kebanyakan sahabat wanita. Biasanya wanita akan memulai cerita berkode RHS mereka dengan headline "Eh, tapi ini rahasia ya? Lu jangan bilang siapa-siapa" tetapi selalu berujung pada bocornya kode RHS tersebut. Well...

Pria lebih kocak lagi dibanding wanita, jangan heran apabila Anda sering menemui umpatan-umpatan kalau bertemu dengan mereka. Meski jarang bertemu, sahabat pria lebih solid. Jarang sih mereka mengatakan 'kangen', ah terdengar sedikit manja mungkin bagi mereka. Tidak seperti saya, apabila saya kangen bertemu dengan mereka, ya saya sampaikan bahwa saya kangen. Pria nampaknya lebih malu-malu, meski mereka tidak menampik bahwa terkadang juga rindu untuk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.

Ya, itulah kami, The Red Ants. Ingin rasanya menulis sebuah kisah tentang kami, ya, sudah terpikirkan sih, hanya belum terlaksana. Guys, wherever you are, semoga kalian semua selalu dalam keadaan baik, sehat dan berbahagia.




-Kampret berwajah teduh-

Lagu Senja

Lagu Senja
By: Harmoni Amourest

Senja berganti malam
Menjemputmu pergi meninggalkan diriku sendiri
Sunyi sepi membunuhku
Kau tinggalkan luka teramat dalam

Membekas di hati

Reff :
Kini aku kan jalani hari
Meski tanpamu di sisiku lagi
Mentari kan tetap bersinar 

Menemani aku membasuh lukaku

Senja berganti malam
Menjemputmu pergi meninggalkan diriku sendiri
Sunyi sepi membunuhku
Kau tinggalkan luka teramat dalam

Membekas di hati

Back to Reff
 
Tuhan kan beri jawaban,
Resah gelisahku
Malam pun pasti berganti
Pagi kan datang menyapaku kembali


Back to Reff






Wednesday, February 18, 2015

Reflection...




Yesterday, I found an old album which stores my childhood photos.
What a happy!
I recollect my memories in the past, until present now.
I'm very, very thankful and grateful to God for this colorful life! 



Me, when I was 3,5 years old


Friday, January 9, 2015

Poker Face

Belakangan sering kita mendengar kata penggunaan frasa 'poker face' dalam beberapa kalimat, biasanya digunakan oleh anak-anak muda zaman sekarang. Lalu sebenarnya apa sih makna istilah 'poker face' itu? Bagaimana istilah itu sering digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan perasaan mereka? Baiklah, saya akan jelaskan sedikit sesuai keterbatasan pengetahuan yang saya miliki. Correct me if I am wrong. 'Poker face' diambil dari Bahasa Inggris. Kata face berarti wajah. Sedangkan kata poker merujuk pada sebuah permainan kartu yang melibatkan taruhan dalam permainan individu, dimana pemenang ditentukan oleh pangkat dan kombinasi kartu mereka, bahkan beberapa di antaranya tetap tersembunyi sampai akhir pertandingan. Permainan kartu ini melibatkan kesempatan dan strategi jangka panjang dari para pemain. Semua itu juga ditentukan oleh tindakan yang dipilih berdasarkan probabilitas, psikologi dan teori permainan. Selain memerlukan kecerdasan olah kemampuan matematis individu dalam memperhitungkan angka-angak statistik sebagai dasar pengambilan keputusan, ternyata permainan ini juga memerlukan trik psikologi untuk saling menjatuhkan. Hmm, kedengarannya menarik ya? 

Pada permainan poker, diperlukan kehandalan dalam mengendalikan emosi (baik secara gesture tubuh maupun teknik pernafasan). Lawan bisa saja membaca ekspresi dari wajah seseorang, apabila orang tersebut terlibat secara emosional pada kartu yang dipegangnya. Misalnya, sewaktu pemain memegang kartu yang buruk, cara menarik nafasnya pun dapat terbaca dengan mudah oleh lawan. Begitu juga dengan pergerakan bola mata, bibir, alis, kerutan di dahi, dan lain-lain. Oleh karena itulah beberapa orang menjuluki poker sebagai permainan perang mental pula. 

Lalu, apa itu 'poker face'? 'Poker face' menurut urbandictionary.com adalah ungkapan untuk menunjukkan gambaran wajah pada seseorang yang tidak menunjukkan emosi sama sekali atau datar. Penggunaan istilah 'poker face' ini menjadi umum karena dalam permainan kartu poker akan sangat bodoh untuk menunjukkan sifat emosional di depan lawan, yang mungkin akan mengacaukan permainan untuk Anda. Jadi, istilah 'poker face' yang sering digunakan oleh anak-anak muda saat ini diambil dari gambaran wjah seseorang saat bermain poker. Bisa berarti suatu ekspresi wajah yang dingin, datar atau tanpa ekspresi.






Regards,

Bening Rahardjo



Super Simple Hijab Tutorial (Try It Just in 3 minutes)

Here I choose for you the two super simple hijab tutorial which is no need to take much time to apply, if you are in hurry. This tutorial suitable to use to many event, such to go work, to go hangout, to go shopping, whatever. You just need inner and pashmina, glad news: you can apply this without pins.

Tutorial Number #1

1. Wear ninja inner to cover all neck and your hair. You can adjust the colors of pashmina and inner with the clothes you want to wear.
2. Wear a pashmina (longer on one side).
3. Swivel the longer side to cover your neck (no need too tight).
4. Trim to cover your chest. Finish :)



 Tutorial Number #2

1. Wear ninja inner
2. Wear pashmina longer one one side, folding a little so it's not too wide. (It also can make elegant look on all types of faces).
3. Wrap a little on the longer side, swivel until back of the neck (no need too tight).
4. Wrap a little on the shorter side, swivel it too.
5. Trim it to cover your chest. Finish :)

May it can help you. Give a try, gals!


Salam!

Bening Rahardjo



Tuesday, January 6, 2015

Responding To Sexual Violence in Conflict Areas

"Para prajurit membakar desa-desa kami. Mereka menembak suami dan saudara-saudara kami, membakar rumah-rumah kami. Mereka berhenti untuk menunggu suara bayi kami menangis. Ketika mereka menangis, tentara datang ke ratapan bayi-bayi itu. Mereka membunuh bayi kami. Mereka memperkosa kami..."
 - Wanita suku Mayan di Guatemala, korban pemerkosaan di daerah konflik.

Setiap konflik antarnegara, antardaerah maupun antargolongan tentu selalu membawa dampak kerugian dan kekerasan kepada warga sipilnya. Wilayah konflik adalah wilayah yang rentan terhadap kekerasan, terutama terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Kekerasan seksual berbasis gender sering digunakan sebagai alat perang untuk menyerang perempuan dan anak-anak. Seringkali dalam keadaan darurat seperti perang dan konflik, negara tidak mempunyai cukup sumberdaya untuk menegakkan hukum dan melindungi hak-hak warga sipil. Besarnya angka kekerasan terhadap perempuan dilatarbelakangi oleh konflik berkepanjangan yang membawa wilayah atau negara tersebut pada krisis kemanusiaan. Kekerasan seksual dalam wilayah konflik bersenjata mempunyai berbagai macam motif dalam aksinya. Oleh karena hal ini dianggap sebagai senjata yang efektif untuk menghancurkan mental lawan misalnya, ataupun menghancurkan moral individu, keluarga maupun kelompok tertentu. Masih minimnya kesadaran masyarakat akan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, semakin memperkuat stigma yang menimbulkan rasa trauma, malu, ketakutan dan beban, sehingga para korban tidak berani melaporkan kejahatan seksual yang telah diterimanya. 

Trauma perkosaan sangat sulit untuk diatasi. Mereka, para korban kekerasan seksual itu, mempunyai berbagai macam rasa trauma yang sama. Namun, mereka menghadapi rasa trauma itu dengan caranya masing-masing. Pada rasa trauma yang mendalam itu, tidak seorang pun yang mampu mengerti. Tetapi dengan keberanian dan ketabahan banyak korban, beberapa dari mereka mampu bertahan dengan pengharapan hidup yang meski tidak seperti sebelumnya. Bagi korban kekerasan seksual yang tidak kuat mental, tidak jarang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya ketimbang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan, atau trauma psikologis yang hebat, bahkan rawan terkena penyakit seksual menular. 


Masing-masing dari kita, mempunyai tugas untuk menjadi pegiat kerja advokasi untuk perubahan besar dalam jangka panjang, demi penegakan hak asasi perempuan dan anak-anak. Jika hati nurani Anda masih angkuh untuk bersikap apatis terhadap isyu ini, bukankah kita semua terlahir dari seorang perempuan? Kekuasaan dan kepentingan seringkali membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi manusia, mereka diliputi kerakusan naif, menyiksa perempuan dan anak-anak dengan teror mental. Apapun bentuknya, konflik adalah potret krisis dalam berbagai macam dimensi manusia. Bahkan dalam keadaan darurat, militer yang seharusnya menjadi pelindung, seringkali malah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Lantas, pada situasi konflik, siapa lagi yang bisa kita beri kepercayaan?

Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak dalam wilayah konflik. Kita tentu ingat, bagaimana kasus etnis tahun 1998-1999, kasus di Aceh, Poso, Maluku dan Papua di saat genting-gentingnya. Perempuan dan anak-anak terbungkam dalam nanar yang tak seharusnya mereka rasakan. Lantas bagaimana pemerintah kita memberi pendampingan pada para korban kekerasan seksual pasca konflik? Tentu saja negara mempunyai kewajiban dalam upaya pemulihan, bukan hanya pemulihan dalam jangka pendek. Pemulihan ini mempunyai makna dalam dan luas, serta dibutuhkan konsistensi. Penting untuk melihat kebutuhan terkait pencegahan dan penanganan para korban kekerasan seksual, tidak hanya oleh masyarakat dan korban, tetapi juga didukung oleh eksekutif dan legislatif, terkait rumusan strategis dan implementatif untuk mencegah terjadinya hal yang sama di kemudian hari.

Dua hal mendasar yang tertinggal pasca konflik. Pertama, tindak kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak, semacamnya, tidak ada kejelasan hukum sampai sekarang. Kedua, akses semua layanan kesehatan baik psikologis maupun fisik bagi para korban, yang masih kurang. Organisasi hak Amnesty Internasional merangkum ini menjadi beberapa indikator, seperti: berapa banyak tentara yang melakukan kekerasan seksual? Seberapa besar pos dalam anggaran suatu negara untuk membantu korban kekerasan seksual di bidang ekonomi, sosial, psikologi dan sektor hukum? Apakah setiap pemerintahan telah menerapkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1325, mengenai keikutsertaan perempuan dalam perundingan perdamaian, serta perlindungan bagi perempuan di wilayah konflik? Apakah kita telah memperhatikan testimoni atau kesaksian dari para korban? Apakah ada investigasi terkait kekerasan tersebut? Apakah korban kekerasan seksual memiliki akses pada pelayanan medis secara gratis sebagai upaya pemulihan? Berapa banyak jumlah perempuan pekerja medis dalam upaya pemulihan tersebut? Serta lain-lainnya. 

Tidak ada sistem universal terkait layanan yang tersedia untuk pemulihan korban kekerasan seksual. Bentuk layanan itu bervariasi dari masyarakat untuk masyarakat. Pertama, pada tingkat intervensi individu: berupaya untuk memperbaiki konsekuensi yang dihadapi korban individu. Kedua, di tingkat masyarakat: berupaya untuk mengubah sistem stigma masyarakat atas korban kekerasan seksual. Hanya itu yang biasa kita temui. Konseling dan dukungan oleh kelompok sesama mungkin menjadi layanan yang paling digunakan oleh perempuan korban kekerasan seksual, untuk berbicara tentang perasaan mereka. Tapi hampir tidak ada studi lanjut terkait evaluasi untuk layanan tersebut. Saat ini tidak ada cara yang jelas untuk mengukur pemberdayaan wanita-wanita dan anak-anak korban kekerasan seksual. Khususnya, di Indonesia. Terus terang, banyak dari kita yang tidak peduli tentang masalah ini. Sayangnya, kita justru sengaja memilih untuk tidak peduli tentang isyu ini. 

Kita, tidak boleh menolak lupa pada kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan dan anak-anak di daerah konflik. Hal ini agar tidak berulang, agar tidak menjadi rantai nanar yang terus berulang dalam setiap konflik. Pemerintah harus memastikan perlindungan hak-hak konstitusional perempuan dan mengembangkan mekanisme bagi penegakannya melalui peraturan-peraturan daerah. Khusus wilayah konflik, pemerintah harus segera melakukan dialog dengan masyarakt setempat secara damai, bermartabat dan memastikan jaminan keamanan dengan cara pendekatan untuk menghentikan kekerasan. Masyarakat, khususnya lembaga sosial, agama, budaya perlu meningkatkan peran aktifnya dalam dukungan relawan demi pemenuhan rasa keadilan bagi korban, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa membatasi ruang gerak perempuan korban kekerasan seksual.

Kita, tidak boleh menolak untuk berempati dan peduli kepada kasus yang menodai adab dan nilai-nilai kemanusiaan di sekitar kita. Jika kita bersikap acuh, layakkah kita hidup dengan predikat 'manusia'? Kita bisa menjadi aktor-aktor dalam upaya advokasi, setidaknya untuk orang-orang di sekitar kita, maupun dalam lingkup luas.


Regards,

Bening Rahardjo




Read more for English Version

Sunday, January 4, 2015

Sikil Sapi Ono...

"Tat, tat gala laga apa"

Baru saja saya menerima sebuah pesan teks dari keponakan murid kelas dua Sekolah Dasar yang baru bisa mengetik vokal 'a' melalui piranti yang bernama smartphone. Namanya Wira, begitu dia biasa dipanggil. Sedikit hiperaktif, mungkin dikarenakan rasa ingin tahu yang sangat besar, terutama pada hal-hal baru yang biasa dia temui. Sekarang Wira tinggal bersama kakak saya di Jakarta. Dulu dia sempat bersekolah di Yogyakarta dan Solo selama TK hingga bangku Sekolah Dasar kelas satu.

Wirananda dengan gigi ompongnya :*
Pesan itu tiba-tiba mengingatkan saya akan sosok kecil Wira saat masuk ke bangku Sekolah Dasar, dimana ada pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokalnya. Wira sempat mengalami kesulitan belajar dikarenakan sejak kecil dia tidak terbiasa dengan penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan tempat dia dibesarkan. Suatu hari, Ibunya memanggil saya agar menemani Wira belajar. Jujur saja, anak itu susah belajar apabila didampingi orangtuanya sendiri, jadi saya yang didaulat untuk menjadi tutor belajar Wira saat hendak Ujian Semester. Suatu siang setelah pulang sekolah Wira mengadu kepada sang ibu (dia memanggil ibunya dengan sebutan 'Tituk' karena cadel dan 'Apak' untuk bapak) dan saya (Wira memanggil saya 'Ante' alias tante) katanya, jawaban ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia diberi tanda silang merah oleh gurunya. Dia protes kepada saya dengan aksen cadelnya.

"Ante... Ini kan Ia uda jawab, tapi kok dikasih melah sama bu gulu...?" *nada mau nangis*
"Lah, emang kayak gimana soalnya? Coba sini tante lihat Mas..."
"Ini nih Ante..."

*baca soal yang ditunjukin sama Wira*
Soal itu berbunyi demikian: Bangun tidur kuterus....
pilihan jawaban: a. Mandi    b. Makan    c. Tidur lagi    d. Minum susu 
Di pilihan itu Wira menyilang angka 'd' yang berarti 'minum susu'.

"Wah, kalau ini Mas Ia memang salah jawabannya."
"Ih Anteeee... ini jawabnya Ia benaaal!!" *marah*
"Benar? Masa sih? Coba ya, ingat lagu ini nggak? Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..." *menyanyikan lagu bangun tidur*
"Iya."
"Iya kan? Jadi apa dong jawabannya tadi? Bangun tidur kuterus...?"
"Mandi."
"Nah, itu tahu... Berarti jawaban yang benar, bangun tidur kuterus... mandi. Bukan minum susu."
"Bukaaaan Ante Gaiiih!! Jawabnya minum susuuuu!" *ngeyel*
"Kok minum susu sih? Itu salah Mas Ia, yang benar mandi." *ngeyel juga*
"Anteeee Gaih ini gimana sik? Kata Tituk... kalau bangun tidul itu Ia halus minum susu dulu, makan nasi, balu mandi. Nanti kalau nggak minum susu, Tituk bisa malah." *menjelaskan dengan polos*
"Oh...gitu? Emangnya Mas Ia kalau pagi-pagi bangun tidur biasanya ngapain?"
"Minum susuuuu, bukan mandiiiii Anteeeee!!"

Saya dan ibunya Wira seketika berpandangan sambil melongo kemudian tertawa bersama. Okay, I got this, Wira....Iya, pemahaman anak ini tidak salah. Soal itu memang berbunyi "Bangun tidur KUTERUS..." Ya mau bagaimana? Setelah bangun tidur di pagi hari, hal yang Wira lakukan (menurut perintah dari sang ibu) adalah minum susu, sarapan, baru mandi pagi... (-___-)


Hari berikutnya, setelah ujian Bahasa Jawa, Wira pulang sambil menangis. Dia protes (lagi). Sebagai tutor belajar Bahasa Jawa, saya tentu penasaran soal apa yang dipermasalahkan. Saya berusaha menenangkan Wira sebelum tangisnya lebih lama.

"Sini coba tante lihat soalnya..."
"Yang ini Ante..."
"Ini?" *menunjuk soal yang dimaksud*
Anak itu mengangguk. Saya meneruskan membaca soal yang dimaksud. Jadi kira-kira dalam soal itu digambarkan seekor sapi lengkap dengan bentuk tubuhnya. Sapi itu sedang makan rumput, ada awan di atas sapi itu dan bentuk bagian bawahnya, emm...agak sedikit buram. Entahlah.

Soalnya berbunyi demikian: Sikil sapi iku ono..... (Kaki sapi itu ada....)
Karena tidak ada pilihan jawaban, maka di situ siswa harus mengisi jawaban sendiri. Saat saya membaca jawaban yang ditulis Wira. *Glek! Nelen ludah* Apa nggak salah tulis ni bocah??

"Mas Ia, ini apa?" *nunjuk jawaban yang ditulis Wira*
"E-E-K nya." *membaca dengan polos*
"APAH?!!"
"Iya ini jawabannya e-e-k-n-y-a  Anteee...."
"HAH?! KOK DIJAWAB  E-E-K-N-Y-A  SIH MAS IAAAA???"
"Iya kan itu jawaban yang Ia tulis..."
"Coba dibaca lagi soalnya, sikil sapi iku ono titik-titik... Apa jawabnya?"
"E-e-k-n-y-a..." *polos*


Wuahahahaha, Seketika saya ngakak sampai mengeluarkan air mata. Wira malah bingung melihat tawa saya yang meledak mendengar jawaban polos anak itu. Setelah tawa agak mereda, saya bertanya pada Wira mengapa dia bisa mendapat jawaban seperti itu.

"Mas Ia, kok bisa nulis e-e-k?"
"Ante Gaih ini gimana sik? Sikil sapi itu kan kotol Anteeee..... ada e-e-k-n-y-a itu kan di bawah. Hiii..."
Hahahahaha *ngakak sekali lagi*
"Loh, emang Mas Ia pernah lihat sapi?"
"Ia kan lihat itu di lumah olang ada." 
"Kapan lihatnya?"
"Pas Ia diajak naik motol sama Apak sama Tituk....Sapinya itu kotol, ada e-e-k cokelat di kakinya semua."
Hahahahaha....Okay, I GOT THIS, WIRA! I can not even blame the honest answer from this child. O my Lord!
"Iya emang bener itu sapinya suka ada e-e-k di kakinya, tapi yang dimaksud soal ini tuh, bukan ada apa di kaki sapinya Mas.... Jadi yang ditanyakan itu ada berapa jumlah kaki sapi itu....Lain kali jawabnya jangan e-e-k lagi ya? Tapi jumlah kakinya. Coba ada berapa?"
"Empat."
"Nah itu baru bener."

Hahahaha, well...I dunno but sometimes anak-anak itu lebih 'polos' dalam merepresentasikan apa yang mereka lihat dengan indera visual mereka. Oleh karena itu, kita harus sangat hati-hati dalam membimbing dan mendidik anak. Berikan pemahaman yang baik selama itu bisa diterima oleh otak mereka :)



Friday, January 2, 2015

This is What I Called 'Relaxing Music'

Listen to a beautiful, light instrumental music piece that combines a healthy mix of calming, relaxing, hmm sounds like meditation, No? Music is everywhere I go, everyplace I lock. Very universal, it is a ubiquitous activity found in every known human culture. Self-selected music factors are affected by both the social and auditory characteristics of the music. For me, listening to Music is an aesthetic experience. Music can improve an adolescent's mood by reducing stress and lowering anxiety levels. It affects the soul. Beside listening, I also enjoy to playing some instrument. So, sit back, relax, and enjoy our Javanese traditional musical offerings :)

One of Javanese traditional music instrumental







Regards,


Bening Rahardjo


Thursday, January 1, 2015

The New Year 2015: Rise With Us!


Semalam, sebagian dari kita telah melewati malam pergantian tahun dari 2014 menuju 2015. Bagaimana Anda melewatkan malam tadi? Saya tidak akan menggunakan kata 'biasanya' di sini. Sebab, kata 'biasanya' akan selalu merujuk kepada habit ataupun budaya. Bukankah budaya itu sendiri terbentuk oleh tatanan masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai dari sejarah, alam, lingkungan sosial, dan sebagainya. Masyarakat kita, dari tahun ke tahun, cenderung menganut penyeragaman dalam segala hal, termasuk salah satunya dalam hal perayaan malam pergantian tahun. Kempang api, terompet, balon, dan pernak-pernik lainnya yang serba sparkle selalu menjadi pilihan untuk menemani detik-detik pergantian tahun. Uniformitas kesemarakan satu malam itu seolah ditandai dengan simbol-simbol yang seragam. Saya rasa tidak jauh berbeda yang ada di Indonesia dengan yang ada di Hongkong maupun Brazil. Entah darimana asal mula simbol-simbol itu dikenalkan kepada khalayak untuk menandakan bahwa mereka sedang menantikan tahun baru yang akan datang. Entah pula apakah karena manusianya yang tidak memperhatikan pilihan-pilihan lain selain standarisasi budaya itu tadi.

Saya pribadi melewatkan detik pergantian tahun semalam secara takzim dan sederhana bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Suasana hangat hadir menyelimuti bersama cahaya dari lilin-lilin yang menemani perbincangan ringan kami mengenai hari-hari dalam setahun yang telah berlalu dan badai yang harus dihadapi esok hari. Apabila beberapa waktu lalu saya sempat merencanakan akan menghabiskan malam pergantian tahun bersama dengan sahabat-sahabat terdekat, tetapi kemudian rencana itu saya ubah total. Bagaimana mungkin Anda melewatkan hari-hari yang seharusnya penuh dengan battle dengan suasana gemerlap penuh suka cita? Satu sisi, ini bukanlah saat yang tepat untuk sebuah perayaan. Kita lihat, di sudut tempat yang lain baru saja terjadi banyak musibah beruntun untuk tanah kelahiran kita, mulai dari tanah longsor, banjir, angin puting beliung, kebakaran Pasar Klewer dan yang teraktual yakni kecelakaan pesawat Air Asia nomor penerbangan QZ 8501. Saya pribadi dan keluarga juga tidak sedang dalam kondisi tepat untuk perayaan sebuah momen, satu malam, dalam suasana gegap gempita. Kami lebih memilih untuk duduk bersama sembari mengobrol ringan sebagai refleksi hari-hari yang telah kami lewati kemarin. Ya, kita memang tidak bisa merasakan kepedihan orang lain atas luka yang sedang mereka rasakan. Namun setidaknya, kita bisa lebih bijak untuk tidak merayakan pergantian tahun ini secara berlebihan.

Menyalakan lilin-lilin di tengah kebersamaan keluarga, mungkin itu hal yang paling tepat bagi kami saat ini. Lilin adalah simbol pengharapan bagi kami. Saya ingat kalimat bijak dari Gede Prama di sebuah acara di Jakarta tahun lalu: "Kita memang tidak mampu menjadi matahari sebagai cahaya penerang bagi semua orang, tetapi setidaknya kita bisa menjadi lilin-lilin kecil sebagai penerang bagi orang-orang di sekitar kita". Sebagian dari kita bisa saja menertawakan musibah yang dialami oleh orang lain, kita bisa saja mencibir kepada orang-orang yang memilih untuk berempati kepada mereka yang mengalami musibah. Tidak apa-apa asal tidak Anda tunjukkan tawa dan cibiran itu di muka umum, kalau Anda tidak ingin dicap 'manusia tidak punya nurani'. Musibah bukanlah suatu hal yang pantas untuk dicandai. Coba bayangkan apabila musibah itu melibatkan sanak saudara Anda, atau mungkin malah diri Anda sendiri? Relakah Anda menjadi bahan tertawaan atau cibiran? Saya rasa orang pandir pun tahu jawabannya.


Ladies and gentlemen, hidup itu tidak pasti. Saya bisa jaminkan itu kepada Anda. Hanya ada satu hal di dunia ini yang pasti, yakni perubahan. Bisa jadi kemarin kita tertawa-tawa hingga meluapkan perasaan bahagia bertubi-tubi. Namun, esok hari bisa saja tawa itu terenggut dengan sobekan luka. Siapa yang tahu? Setiap orang selalu menuliskan angan-angan indah yang mereka sebut sebagai resolusi tahun baru, bahwa nanti di tahun depan saya mau ini, saya ingin itu. Memasang target harus begini, harus begitu. Ketika hari dalam setahun telah berakhir tetapi mimpi-mimpi indah dan ambisi-ambisi di dalamnya belum tercapai, kekecewaanlah yang didapat. Kita mungkin tidak pernah menengok kepada satu kekuatan penting lain di dalam satu tahun yang telah kita lewati, yakni proses. Kita menjadi tidak lebih hanya sekumpulan ambisi-ambisi yang memerintahkan otak untuk bertindak. Padahal, kita adalah proses dari perubahan yang pasti terjadi.

Akhirnya, hari ini tiba. Hari dimana  saya mulai memahami makna kalimat mulia dari salah seorang kolega dekat, yang ingin saya bagikan untuk Anda semua: "Jikalau hari ini berjalan sedemikian indahnya, dari manakah arah datangnya kesedihan berikutnya? Katakan.". Semoga kalimat itu menjadikan pengingat bagi kita semua, bahwa kesedihan, kebahagiaan, tawa, tangis, canda, amarah....itu semua tidaklah pasti.


Regards,

Bening Rahardjo



Monday, December 29, 2014

#LatePost Weekend From The Red Ants


Malam sebelumnya, Bas Bbm-in mau ngajak jalan gw. "Kata Fuad suruh ngajakin elu, Ning". Gw iyakan, dengan syarat minta dijemput karena gw ada urusan kerjaan dulu pagi harinya. Sebenernya gw masih ada kerjaan ke luar kota pagi hari itu, tapi bisa diatur lah kami berangkat setelah dzuhur. Nyatanya di hari H, pukul 14.00 WIB gw baru sampai rumah. Masih mandi lagi, shalat, baru bisa berangkat. Setengah jam kemudian datang si Bas. Tapi, kok sendirian...

"Lah Engkong mana?"
"Fuad nyusul nanti katanya."
"Kok nyusul? Trus kita berangkat berdua duluan gitu?"
"Iya, Lo Bbm-in dia aja bilang kalau kita udah berangkat."

Sebenernya gw udah agak merasa bakal ada yang nggak beres nih kalau sudah begini. Hawanya sudah nggak enak duluan soalnya di awal mau berangkat. Orang tujuannya sama aja pakai berangkat misah-misah. Tapi ya sudahlah. Gw hanya berkonsentrasi pada mendung yang mulai menghitam di atas langit Kota Solo. Waah, tebakan gw betul, baru jalan beberapa kilo dari rumah, hujan gerimis turun. Bas lantas ngeluarin mantel dari bagasi motornya. Setengah mikir sambil menepuk jidat, dia bilang kalau mantel si Fuad ada di bagasi motornya, dititipkan sama dia. Well, Bas....what happen next?

"Ning, coba lo tanyain dia, kehujanan nggak?"
"Bentar. Iya ini lagi gw tanyain dia butuh dianterin mantel apa nggak, kasihan dia kalau kehujanan. Mumpung kita masih di sekitar sini, bisa belok arah balik, belum kejauhan kok." 
Tapi, sekian menit gw nunggu balasan Fuad, hanya delivered doang. Mana kami berdua sudah makin jauh. TIK TOK TIK TOK....
"Gimana nih, Ning? Apa kita terus aja?"
"Ya udah deh lurus aja. Belum kebaca pesan gw sama dia."

Ternyata hujan sore itu sangat deras, hingga membuat beberapa genangan tinggi di beberapa titik sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Gw sama Bas memilih berkonsentrasi pada lalu lintas yang padat, serta badan kami yang mulai basah juga karena hujan deras. Sesampainya di parkiran lokasi tujuan, gw baru buka pesan dari Fuad.

"Ning, anterin gw mantel ke Pom Bensin Jurug. Ini masih berteduh di sini, deres banget hujannya"
Hah? Jurug Ad? x____x
"Yakaliii Koooong, kami udah nyampai SS ini. Masa musti balik jauh bangeeet? Ya lo beli mantel lah di sekitar situ."
"Di sebelah gw nggak ada orang jualan mantel, Bening."
YA IYALAAAH... Mantel mah dijual di toko, bukan di pom bensin -___-
"Ya sudah kalau gitu tabahkan hatimu yak Boy, tunggu hujannya reda. Gw  juga basah kok ini. Gw tunggu sambil ngeringin kaki dulu di food court :)"

Itulah kami, suka aneh-aneh nggak jelas maunya kalau masalah 'janjian' waktu. Walaupun sempat berdebat masalah waktu janjian (again? *sigh*), tapi ketemu mereka (minus Benny a.k.a Bendot) setelah stress berpanas-panas karena kerjaan di luar adalah obat mujarab. Walaupun setelah itu kami pun sama-sama tertawa konyol setelah ketemu, setidaknya bisa ngilangin sepet karena gagal ke Karimun Jawa bulan ini iyesss ~,,~

Ps: Anyway, gw sejujurnya ngerasa bersalah sih sama si tuyul Fuad kalau nyeritain bagian ini. Maaf ya Boy! :D

 






Have nice boxing day! ^^


Regards,

Bening Rahardjo


Sunday, December 28, 2014

"Sar Klewer Kobongan!"

"Sar Klewer kobongan!".

Kira-kira begitulah bunyi pesan berantai di Bbm dan Wa dari kakak dan beberapa teman yang mengabarkan kalau sedang terjadi kebakaran di Pasar Klewer, sekitar pukul 22.00 WIB. Saya yang sudah tidur dari pukul 20.00 karena badan sedang tidak fit karena flu, baru membaca pesan tersebut pukul 01.45 dini hari. Ingat belum shalat Isya' saya terbangun dan mendapati banyak pesan masuk ke handphone saya. Pasar Klewer kebakaran? Masih sambil di atas kasur, saya lantas membuka timeline twitter. Benar saja, pukul 01.00 dini hari saja masih banyak yang bersliweran di timeline sembari memberikan berita teraktual kondisi Pasar Klewer yang terbakar sekitar pukul 20.30 WIB itu. Saya tidak tahu sampai separah apa kebakarannya, karena mau membuka link gambar saja bandwidth server dari handphone payah dikarenakan bad signal Indo**t di rumah saya sudah hampir di tahap S-O-S. Saya hanya mengirimkan pesan ke Ibu dan beberapa orang dekat saja dini hari itu.

Pagi hari ini, pukul 05.53 WIB saya coba lagi koneksi internet dari handphone saya yang lumayan agak sedikit lebih baik. Begitu gambar-gambar di timeline bisa ditampilkan...innalillahi wainnaillaihi roji'un...ternyata saya baru tahu bahwa kebakaran semalam begitu hebatnya sampai melahap ratusan kios di deretan timur dan barat. Entah apa penyebabnya. Well, sejujurnya, pikiran buruk lantas menghampiri analisa saya sendiri pagi tadi. Saya ingat master plan Pasar Klewer yang pernah diajukan beberapa waktu lalu namun ditolak oleh para pedagang. Berbagai macam sumber akurat memberikan informasi mereka mengenai kondisi Pasar Klewer terkini. Hingga saat ini pukul 11.56 WIB, sudah tidak terlihat api yang menyala dari sisi luar pasar, tapi sisa kain-kain yang terbakar di dalam masih mengeluarkan asap yang bisa menjadi potensi kembalinya api membesar. Ya Tuhan, apapun yang menjadi penyebab kebakaran itu, semoga bukan karena sabotase oknum-oknum tertentu. Kita tunggu saja kabar hasil olah TKP dari tim forensik Jawa Tengah selanjutnya nanti.

Amukan api di Pasar Klewer semalam. Source: Dari berbagai sumber
(Pukul 00.30 WIB dini hari). Petugas gabungan berusaha memadamkan kobaran api. Source: Dari berbagai sumber
Amukan api sekitar pukul 00.00 WIB dini hari. Source: Dari berbagai sumber
(Pukul 00.56 WIB dini hari). Api terlihat di sebelah barat gapura Klewer. Source: @tentangSolo
Kondisi Pasar Klewer pukul 06.00 WIB. Source: Dari berbagai sumber


Pukul 06.00 WIB, petugas dan relawan membantu pedagang menyelamatkan beberapa dagangan. Source: dari berbagai sumber

Pasar Klewer pukul 09.00 WIB. Asap masih mengepul dari dalam kios. Source: Dari berbagai sumber

Api merembet ke sebelah utara. Source: dari berbagai sumber
(12.00 WIB) Api membesar karena angin, mobil DAMKAR sedang mengentikan kobaran. Source: @tentangSolo
(12.00 WIB) Asap bertambah banyak dari sebelah dalam. Source: @tentangSolo
(Pukul 12.30 WIB) Masih terlihat api dari bagian dalam kios :( Source: @tentangSolo

(Pukul 12.40 WIB) Semoga hujan membantu proses pemadaman api siang ini. Source: @tentangSolo

Baru beberapa hari lalu saya menemani pakde dan teman-temannya mencari oleh-oleh Intip Solo untuk saudara-saudara di Jakarta. Masih lekat kemacetan area Pasar Klewer setiap harinya. Dulu, Almarhum Bapak juga sering mengajak kami jalan-jalan di Pasar Klewer atau Pasar Gede. Sementara simbok rewang di rumah sering minta diantarkan ke Toko Mas yang berada di deretan lantai bawah sebelah timur, untuk menjual atau membeli perhiasan pada cicik-cicik juragan emas. Biasanya kalau jalan-jalan di sekitar Pasar Klewer, Bapak tidak lupa mengajak kami mampir ke Warung Tengkleng Bu Edi di dekat Gapura Klewer. Begitu terkenalnya tengkleng Pasar Klewer sampai bahkan mengundang penasaran banyak orang untuk mencoba mencicip masakan khas Solo tersebut. Pasar Klewer sendiri bukan hanya sekedar pasar tradisional semata. Namun, Pasar Klewer sudah menjadi trade mark bagi Kota Surakarta, selain tempat-tempat belanja batik yang lain seperti Beteng ataupun Laweyan. Saya dan adik saya juga sering berbelanja batik ke Pasar Klewer. Hampir sama dengan Beteng, yang membedakan hanya sepandai-pandainya saja Anda melakukan tawar-menawar di pasar itu. Kabar yang beredar, Pasar Klewer adalah pasar tekstil tradisional terbesar se-Asia Tenggara.

Gapura Pasar Klewer (potret aktivitas normal)

Semoga api di lokasi Pasar Klewer segera dapat diatasi. Begitu juga dengan para pedagang, semoga diberikan kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Al Fatihaah. #PrayForSolo #PrayForKlewer



Saturday, December 27, 2014

Mashup OST Kartun 90'an ^^

Hallo pembaca yang budiman! I wanna challenge you. Watch and listen the videos below. Kalau kamu bisa mengingat dan bahkan mengenali penggalan soundtrack berikut ini, berarti kamu adalah angkatan 90'an sejati dan masa kecilmu BA-HA-GI-A! :)

Check this video out!



Sudah bisa mengenali? Ahaa, kalau belum, dengarkan yang ini juga yaa...



Yup, itu adalah Mashup film-film kartun di tahun 90'an composed by Eka Gustiwana featuring Nadya Rafika. What a talent! Oke, yang belum tahu apa itu Mash-up dalam dunia musik, jadi Mashup adalah sebuah lagu atau komposisi yang diciptakan dengan memadukan dua atau lebih pra-rekaman lagu. Biasanya dilakukan oleh musisi atau komposer dengan melapisi jalur vokal dari satu lagu mulus atas lagu instrumental lain. 

Perhaps, some of you guys tidak mengenali lagu-lagu ini dan yaah...you think, "Apa istimewanya coba?". But, heeeyy! Buat kalian yang bisa mengenali lagu-lagu di sini, WAW! Let's high five buat kalian! Kalian anak 90'an sejati! Hahaha. Ingat kan bagaimana masa kecil kita yang begitu indah dihiasi dengan lagu-lagu itu? This is not same as soundtracks in films which are presented to the children in Z generation now. Sama sekali beda! Bisa kita bandingan sendiri geura kalau tidak percaya. Pada generasi Z sekarang, saya rasa jarang sekali anak-anak bisa hafal lagu-lagu anak-anak yang semestinya memang untuk anak-anak (ya iyalaah). Mau hafal gimana, sajian televisi sekarang kebanyakan adult content. Sinetron which is galak, marah-marah, musuh-musuhan, iri hati and bla-bla-bla adalah sajian yang biasa. Kalau ingat masa-masa film kartun berjaya di tahun 90'an, rasanya mau sujud syukur bahagia. Setidaknya, kita masih tumbuh di lingkungan yang semestinya saat itu. Hafal luar kepala lagu-lagu indah yang jadi soundtrack film anak-anak pula dan bukannya lagu-lagu orang dewasa. And the happy thing is....INI OST FILM ANIME DI TAHUN 90'AN YANG LUAR BIASA MEMORABLE! Luar biasa senang bisa mendengar lagu-lagu ini lagi!

Thank to Eka Gustiwana yang sudah berbaik hati mendaur-ulang dan mengumpulkan kepingan-kepingan indah di tahun 90'an ini. Thanks for bringing back our precious childhood memories. Good taste, boy! :)


Regards,

Bening Rahardjo


Friday, December 19, 2014

Dies Natalis UGM Ke-65

Hari ini bertepatan dengan Dies Natalis UGM ke-65, dengan tema "65 Tahun UGM Mengabdi", berbagai macam kegiatan untuk memperingati acara ulang tahun kampus telah diagendakan. Tanggal 14 Desember 2014 kemarin, salah satu pakdhe saya juga ikut serta dalam acara 'Niti Laku: Suci Nyawiji Datan Mangro'. Suci Nyawiji Datan Mangro adalah surya sengkalan dari tahun 2014 yang bermakna secara tulus bersatu, fokus pada satu tujuan, merupakan momentum silaturahmi seluruh anggota Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) dan para civitas academica UGM dalam suasana damai, penuh semangat serta kegembiraan. Ya, kebetulan banyak pakdhe budhe dari keluarga saya yang juga alumni dari UGM, mereka termasuk alumni angkatan lawas. Sementara generasi ke-tiga ini, saya dan adik lelaki saya Yostri yang meneruskan. 



Pakdhe kemarin cerita bagaimana acara tersebut berjalan, hari itu yang diagendakan dihadiri oleh banyak tokoh penting negeri ini yang--saya rasa tanpa kebetulan--dilantik dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi. I mean, you know lah... Bapak Jokowi juga alumni dari UGM. Jadi saya rasa pengangkatan menteri-menteri dari almamater yang sama juga bukannya tanpa tidak disengaja. Acara itu adalah acara niti laku perpindahan kampus Gadjah Mada dari Keraton Yogyakarta ke kampus Bulaksumur. Kata pakdhe lagi, peserta diajak menapaki rute perpindahan dengan berjalan kaki bersama, diiringi pasukan dari Keraton Yogyakarta: Pagilaran Keraton - Masjid Gedhe Kauman - Jl. Pangurakan/Trikora - Jl. Margo Mulyo/A.Yani - Jl. Malioboro - Jl. Kleringan - Jl. Margo Utomo/P. Mangkubumi - Tugu Yogyakarta Jl. Jend. Sudirman - Jl. Cik Di Tiro - Bundaran UGM - Jl. Pancasila/Boulevard - dan finish di Balairung UGM.

Seharusnya, acara niti laku itu bisa dihadiri oleh banyak tokoh menteri, pejabat, Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga Bapak Jokowi sendiri sebagai alumni UGM. Namun, berhubung telah terjadi  bencana alam longsor di Banjarnegara dua hari sebelumnya, maka para petinggi itu pun mengalihkan agenda yang sebelumnya di UGM langsung menuju ke Banjarnegara. Sehingga niti laku tersebut sedikit terasa kurang spesial. Ibu Rektor baru pun juga langsung meluncur ke lokasi bencana, karena beliau alumni Geologi, mengikuti instruksi Bapak Basuki Hadimuljono (Menteri PU). Jadilah acara tersebut hanya dipandu oleh Bapak Ganjar Pranowo selaku Ketua Kagama. Tetapi setelah selesai acara niti laku pun, beliau langsung meluncur ke lokasi bencana, dikarenakan beliau juga Gubernur Jawa Tengah. Hari itu, pakdhe tidak mengikuti acara sampai selesai. Beliau bersama beberapa temannya sesama anggota Kagama hanya meninjau beberapa proyek orang Geologi di sekitar Gunung Kidul dan Wonogiri, lalu pulangnya mampir ke Solo.

Ya, setidaknya Bapak Jokowi sudah membuka Festival Anti Korupsi beberapa hari sebelumnya di Grha Sabha Pramana bersama dengan ketua KPK. Setahu saya sih, sebelum Bapak Jokowi menjabat sebagai Presiden pun, beliau aktif dalam kegiatan Kagama. Bahkan saya pernah melihat langsung beliau datang saat acara Lustrum Kehutanan, almamaternya. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai Walikota Surakarta. Begitu juga dengan almarhum Prof Suhardi, mantan Ketua Umum Gerindra yang juga alumni Kehutanan. Beliau juga seangkatan dengan salah satu pakdhe saya. Cerita dari pakdhe, beliau juga selalu aktif apabila ada acara-acara yang mempertemukan Kagama.


Ya, begitulah kekeluargaannya alumni Gadjah Mada dan kecintaan mereka kepada almamater. Seperti makna Panca Prasetya Alumni UGM yang terucap dalam pengukuhan. Luar biasa, di masa-masa kuliah, saya selalu ikut serta setiap tahun dalam sosialisasi pendidikan tinggi ke sekolah-sekolah, baik yang pelosok maupun di perkotaan. Saya selalu mengulang-ulang cerita yang sama tentang asal mula Kampus UGM. Universitas negeri tertua yang di bangun atas prakarsa pribumi. Begitu haru-nya, saya selalu bangga ketika mereka--teman-teman lain sesama almamater--memberi ejekan pada warna almamater UGM yang--honestly, I dunno what color is it--saya justru dengan bangga menceritakan asal mula warna almamater ijo lumut khas UGM itu. Bagaimana perjuangan kalangan terdidik pribumi kita dan juga kerelaan dari Keraton Ngayogyakarta yang memberikan ruang bagi UGM untuk berdiri.

Saya ingat bagaimana ketika saya datang sebagai mahasiswa baru di tahun 2006, yang masih menikmati kuliah dengan bangku-bangku tua dan gedung tua Fisipol, baik kampus Sekip maupun kampus Socio-Yusticia. Para kakak tingkat yang waktu itu masih ada bahkan yang berpakaian seadanya dengan sandal jepit ke kampus. Masa dimana kantin Fisipol masih sering digunakan sebagai tempat diskusi berbagai macam aktivis. Saya ingat beberapa nama kakak tingkat yang kebetulan tinggal di depan kamar indekos. Salah satunya Mas Didi, dia punya banyak sekali teman-teman dengan berpenampilan 'nyentrik' yang datang dan pergi masuk kamarnya. Saya selalu menyapa mereka dengan sebutan 'Oom'. Semuanya anak-anak aktivis yang sering sekali ngobrol dengan 'tema berat' ditemani cangkir-cangkir kopi dan rokok. Wajah mereka tatkala menyapa saya "Hi, Bening!" terlihat kusut, sekusut teori-teori klasik yang saya dengar meluncur fasih dari mulut mereka. Pada masa itu, bahkan teman-teman saya anak Komunikasi yang cenderung sedikit lebih 'waw' secara penampilan, akan melontarkan pertanyaan: "Kenal dimana Ning sama mas-mas itu?". Entah dengan maksud apa, atau apa yang salah dengan look mereka. Memang sih, siapa yang tidak serem kalau melihat mas-mas itu. Ada yang berambut gondrong, kaos oblong seadanya, sandal jepit swallow usang, celana cargo pendek, tas ransel, rokok, belum lagi yang bertato atau pasang tindik di telinganya. Ada salah satu dari kawanan mas-mas itu yang saya panggil 'pakdhe', hingga teman-teman saya menyangka bahwa dia adalah pakdhe saya sungguhan. Bukan. Saya mengenal mereka dari pemikiran-pemikiran mereka yang luar biasa. Orang-orang luar biasa yang pernah berjuang di Tahun 1998 bersama para mahasiswa UGM lain di angkatan itu. Beruntung, saya bisa mengenal mereka, duduk bercengkerama menikmati kopi buatan saya di tempat indekos saya kadang-kadang. Ya, mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi perubahan roda pemerintahan negeri ini di tahun itu. Mereka menceritakan kelamnya masa-masa itu. Kepanikan dan keinginan untuk bangkit yang disertai dengan pertumpahan darah. Sungguh pertumpahan darah, kata mereka. Bahkan tidak jarang mereka berpindah-pindah tempat indekos karena harus menghindari militer saat itu. 

Berbeda sekali ketika saya melangkahkan kaki di kampus Fisipol yang sekarang. Tidak ada lagi bangunan tua itu, kini berganti gedung baru berlantai 5. Sudah tidak ada lagi tangga-tangga tua Fisipol yang biasa saya naiki terengah-engah saat telat kuliah dulu. Tidak nampak lagi bangunan Gedung Kuliah Umum milik Fisipol dan Hukum yang salah satu ruang besar di lantai 3-nya sering dijadikan tempat kuliah bersama. Tidak ada lagi ring basket di Gedung Kuliah Umum yang sering saya gunakan untuk bermain basket bersama anak-anak dulu. Tidak ada lagi Lapangan Sanshiro tempat anak-anak laki-laki biasa bermain futsal. Semuanya berubah. Namun, kenangan dan semangat dari Mas Didi dan kawan-kawannya itu tetap ada dalam ingatan saya. Semangat sesama warga Fisipol tidak ada yang berubah.

Selamat ulang tahun almamaterku, jayalah UGM!



Bening Rahardjo
-Fisipol Angkatan 2006-