Friday, December 19, 2014

Dies Natalis UGM Ke-65

Hari ini bertepatan dengan Dies Natalis UGM ke-65, dengan tema "65 Tahun UGM Mengabdi", berbagai macam kegiatan untuk memperingati acara ulang tahun kampus telah diagendakan. Tanggal 14 Desember 2014 kemarin, salah satu pakdhe saya juga ikut serta dalam acara 'Niti Laku: Suci Nyawiji Datan Mangro'. Suci Nyawiji Datan Mangro adalah surya sengkalan dari tahun 2014 yang bermakna secara tulus bersatu, fokus pada satu tujuan, merupakan momentum silaturahmi seluruh anggota Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) dan para civitas academica UGM dalam suasana damai, penuh semangat serta kegembiraan. Ya, kebetulan banyak pakdhe budhe dari keluarga saya yang juga alumni dari UGM, mereka termasuk alumni angkatan lawas. Sementara generasi ke-tiga ini, saya dan adik lelaki saya Yostri yang meneruskan. 



Pakdhe kemarin cerita bagaimana acara tersebut berjalan, hari itu yang diagendakan dihadiri oleh banyak tokoh penting negeri ini yang--saya rasa tanpa kebetulan--dilantik dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi. I mean, you know lah... Bapak Jokowi juga alumni dari UGM. Jadi saya rasa pengangkatan menteri-menteri dari almamater yang sama juga bukannya tanpa tidak disengaja. Acara itu adalah acara niti laku perpindahan kampus Gadjah Mada dari Keraton Yogyakarta ke kampus Bulaksumur. Kata pakdhe lagi, peserta diajak menapaki rute perpindahan dengan berjalan kaki bersama, diiringi pasukan dari Keraton Yogyakarta: Pagilaran Keraton - Masjid Gedhe Kauman - Jl. Pangurakan/Trikora - Jl. Margo Mulyo/A.Yani - Jl. Malioboro - Jl. Kleringan - Jl. Margo Utomo/P. Mangkubumi - Tugu Yogyakarta Jl. Jend. Sudirman - Jl. Cik Di Tiro - Bundaran UGM - Jl. Pancasila/Boulevard - dan finish di Balairung UGM.

Seharusnya, acara niti laku itu bisa dihadiri oleh banyak tokoh menteri, pejabat, Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga Bapak Jokowi sendiri sebagai alumni UGM. Namun, berhubung telah terjadi  bencana alam longsor di Banjarnegara dua hari sebelumnya, maka para petinggi itu pun mengalihkan agenda yang sebelumnya di UGM langsung menuju ke Banjarnegara. Sehingga niti laku tersebut sedikit terasa kurang spesial. Ibu Rektor baru pun juga langsung meluncur ke lokasi bencana, karena beliau alumni Geologi, mengikuti instruksi Bapak Basuki Hadimuljono (Menteri PU). Jadilah acara tersebut hanya dipandu oleh Bapak Ganjar Pranowo selaku Ketua Kagama. Tetapi setelah selesai acara niti laku pun, beliau langsung meluncur ke lokasi bencana, dikarenakan beliau juga Gubernur Jawa Tengah. Hari itu, pakdhe tidak mengikuti acara sampai selesai. Beliau bersama beberapa temannya sesama anggota Kagama hanya meninjau beberapa proyek orang Geologi di sekitar Gunung Kidul dan Wonogiri, lalu pulangnya mampir ke Solo.

Ya, setidaknya Bapak Jokowi sudah membuka Festival Anti Korupsi beberapa hari sebelumnya di Grha Sabha Pramana bersama dengan ketua KPK. Setahu saya sih, sebelum Bapak Jokowi menjabat sebagai Presiden pun, beliau aktif dalam kegiatan Kagama. Bahkan saya pernah melihat langsung beliau datang saat acara Lustrum Kehutanan, almamaternya. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai Walikota Surakarta. Begitu juga dengan almarhum Prof Suhardi, mantan Ketua Umum Gerindra yang juga alumni Kehutanan. Beliau juga seangkatan dengan salah satu pakdhe saya. Cerita dari pakdhe, beliau juga selalu aktif apabila ada acara-acara yang mempertemukan Kagama.


Ya, begitulah kekeluargaannya alumni Gadjah Mada dan kecintaan mereka kepada almamater. Seperti makna Panca Prasetya Alumni UGM yang terucap dalam pengukuhan. Luar biasa, di masa-masa kuliah, saya selalu ikut serta setiap tahun dalam sosialisasi pendidikan tinggi ke sekolah-sekolah, baik yang pelosok maupun di perkotaan. Saya selalu mengulang-ulang cerita yang sama tentang asal mula Kampus UGM. Universitas negeri tertua yang di bangun atas prakarsa pribumi. Begitu haru-nya, saya selalu bangga ketika mereka--teman-teman lain sesama almamater--memberi ejekan pada warna almamater UGM yang--honestly, I dunno what color is it--saya justru dengan bangga menceritakan asal mula warna almamater ijo lumut khas UGM itu. Bagaimana perjuangan kalangan terdidik pribumi kita dan juga kerelaan dari Keraton Ngayogyakarta yang memberikan ruang bagi UGM untuk berdiri.

Saya ingat bagaimana ketika saya datang sebagai mahasiswa baru di tahun 2006, yang masih menikmati kuliah dengan bangku-bangku tua dan gedung tua Fisipol, baik kampus Sekip maupun kampus Socio-Yusticia. Para kakak tingkat yang waktu itu masih ada bahkan yang berpakaian seadanya dengan sandal jepit ke kampus. Masa dimana kantin Fisipol masih sering digunakan sebagai tempat diskusi berbagai macam aktivis. Saya ingat beberapa nama kakak tingkat yang kebetulan tinggal di depan kamar indekos. Salah satunya Mas Didi, dia punya banyak sekali teman-teman dengan berpenampilan 'nyentrik' yang datang dan pergi masuk kamarnya. Saya selalu menyapa mereka dengan sebutan 'Oom'. Semuanya anak-anak aktivis yang sering sekali ngobrol dengan 'tema berat' ditemani cangkir-cangkir kopi dan rokok. Wajah mereka tatkala menyapa saya "Hi, Bening!" terlihat kusut, sekusut teori-teori klasik yang saya dengar meluncur fasih dari mulut mereka. Pada masa itu, bahkan teman-teman saya anak Komunikasi yang cenderung sedikit lebih 'waw' secara penampilan, akan melontarkan pertanyaan: "Kenal dimana Ning sama mas-mas itu?". Entah dengan maksud apa, atau apa yang salah dengan look mereka. Memang sih, siapa yang tidak serem kalau melihat mas-mas itu. Ada yang berambut gondrong, kaos oblong seadanya, sandal jepit swallow usang, celana cargo pendek, tas ransel, rokok, belum lagi yang bertato atau pasang tindik di telinganya. Ada salah satu dari kawanan mas-mas itu yang saya panggil 'pakdhe', hingga teman-teman saya menyangka bahwa dia adalah pakdhe saya sungguhan. Bukan. Saya mengenal mereka dari pemikiran-pemikiran mereka yang luar biasa. Orang-orang luar biasa yang pernah berjuang di Tahun 1998 bersama para mahasiswa UGM lain di angkatan itu. Beruntung, saya bisa mengenal mereka, duduk bercengkerama menikmati kopi buatan saya di tempat indekos saya kadang-kadang. Ya, mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi perubahan roda pemerintahan negeri ini di tahun itu. Mereka menceritakan kelamnya masa-masa itu. Kepanikan dan keinginan untuk bangkit yang disertai dengan pertumpahan darah. Sungguh pertumpahan darah, kata mereka. Bahkan tidak jarang mereka berpindah-pindah tempat indekos karena harus menghindari militer saat itu. 

Berbeda sekali ketika saya melangkahkan kaki di kampus Fisipol yang sekarang. Tidak ada lagi bangunan tua itu, kini berganti gedung baru berlantai 5. Sudah tidak ada lagi tangga-tangga tua Fisipol yang biasa saya naiki terengah-engah saat telat kuliah dulu. Tidak nampak lagi bangunan Gedung Kuliah Umum milik Fisipol dan Hukum yang salah satu ruang besar di lantai 3-nya sering dijadikan tempat kuliah bersama. Tidak ada lagi ring basket di Gedung Kuliah Umum yang sering saya gunakan untuk bermain basket bersama anak-anak dulu. Tidak ada lagi Lapangan Sanshiro tempat anak-anak laki-laki biasa bermain futsal. Semuanya berubah. Namun, kenangan dan semangat dari Mas Didi dan kawan-kawannya itu tetap ada dalam ingatan saya. Semangat sesama warga Fisipol tidak ada yang berubah.

Selamat ulang tahun almamaterku, jayalah UGM!



Bening Rahardjo
-Fisipol Angkatan 2006-