Sunday, November 29, 2015

Konser Iwan Fals HUT Karanganyar ke-98

Mendung menggantung di langit sebelah timur, utara dan selatan. Nampaknya kota kami akan diguyur hujan lebat. Benar saja, butiran air lumayan deras menghujani seluruh kota sejak siang hingga sore. Saya berharapnya sih hujan saja, tanpa pemadaman listrik. Jika ya, malam minggu kelabu, pikir saya. Sekelabu apa lagi saya harus menggambarkan coba, apabila hari Anda tersusun dengan komposisi: single; malam minggu; hujan lebat; mati lampu? Satu hal yang paling layak adalah berakhir di tempat tidur, tidur lebih awal dan mencoba bermimpi tentang Richard Armitage atau Theo James lagi jajan bakso di depan mata. Namun, rupanya Tuhan mengerti harapan kaum single macam saya. Alhamdulillah setelah maghrib hujan berangsur reda.

Sabtu malam kemarin adalah hari yang spesial untuk kota saya. Tepat pada hari itu adalah puncak acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-98 dengan digelarnya Konser Iwan Fals dalam tema "Lawuku Hijau dan Damai". Sebelumnya Om Iwan Fals memang sempat mengikuti rangkaian acara penghijauan Hutan Lawu di Cemoro Kandang yang sempat terbakar hebat beberapa waktu lalu. Kegiatan penanaman sejuta pohon ini juga merupakan kampanye lingkungan yang disuarakan oleh pemerintah daerah yang baru melalui Om Iwan sebagai duta lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam ada beberapa jenis, diantaranya damar, eukaliptus, kayu putih, beringin, liwung, dan tontrok. Salah satu langkah cerdas dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk menggandeng musisi sekelas Om Iwan Fals yang memang terkenal sebagai aktivis lingkungan, juga tentunya karena beliau dapat menggerakan massa yang besar dari jumlah OI/Orang Indonesia, sebutan untuk fans base Iwan Fals. Pemerintah Kabupaten Karanganyar memang berkomitmen untuk program Karanganyar Ijo Royo-Royo, sehingga dengan adanya kejadian kebakaran Hutan Lawu kemarin, menjadi pengingat bagi seluruh warga masyarakat bahwa pentingnya menjaga alam demi keberlangsungan ekosistem tahun-tahun ke depan.

Iwan Fals dan Bupati-Wakil Bupati Karanganyar dalam aksi penanaman sejuta pohon di Hutan Lawu. Source: www.sindonews.com
Malam kemarin, saya tidak bisa langsung menuju area konser dikarenakan ada acara kumbokarnan untuk hajatan tetangga dekat yang mengharuskan saya untuk setidaknya sumbang muka sebentar. Yah, saya pikir-pikir sih tidak terlalu telat untuk datang ke konser, karena mungkin saat kami tiba di sana nanti, Om Iwan baru naik panggung. Setelah acara selesai, saya bersama beberapa teman langsung bersemangat bergegas menuju lokasi konser. Jreeeeng....jreeeeennggg......Baru sepeda motor kami memasuki wilayah kurang lebih 2 kilometer dari spot konser berlangsung, antrean parkir kendaraan dari roda dua sampai roda empat sudah memenuhi wilayah sekitar itu. "What the heck!" Batin saya. Sebetulnya area 1 kilometer dari lokasi konser sudah steril dan tidak boleh dimasuki oleh kendaraan. Namun, saya terlalu bersemangat untuk mencari 'jalan tikus', menembus lalu-lalang orang yang berjalan kaki daaaaaannnn sampailah saya serombongan di parkiran 50 meter dari lokasi konser! Hahahaha. Sumpah, tidak tahu bagaimana jadinya kalau kami harus berjalan sepanjang lebih dari 2 kilometer untuk ke lokasi konser. Bahkan mas-mas penjaga parkir di lokasi itu heran bagaimana kami masih bisa memasuki area steril. Tanpa membuang waktu, saya dan teman-teman langsung menuju lokasi. Anyway, untuk memasuki lokasi konser ini pihak penyelenggara dan dibantu dengan aparat kepolisian mengerahkan penjagaan di pintu-pintu masuk dengan metal detector. Begitu hampir melalui pemeriksaan, saya sempat melihat banyak sekali sabuk-sabuk yang dijejer digantung. Hmm, mungkin salah satu upaya pencegahan apabila terjadi kerusuhan. Termasuk botol-botol minuman keras yang berhasil disita dan diamankan.
Iwan Fals konser di Karanganyar, source: Joglosemar/Rudi Hartono
Syukurlah, kami datang tepat saat Om Iwan mulai mendendangkan lagu ke-dua. Jadi kami masih bisa menikmati penampilan Om Iwan hingga selesai. Berhubung saya pendek, saya mencoba merangsek maju ke tengah. Meski hujan mengguyur sejak siang, tetapi malam itu sepenuhnya milik masyarakat Karanganyar dan OI tentu saja. Saya pikir "Gila! Ini mah melebihi kepadatan malam perayaan Tahun Baru!". Banyak OI berdatangan dari luar daerah sejak siang hari, bahkan area 1 kilometer sekitar lokasi konser sudah ditutup sejak pukul 13.00, dialihkan menuju lingkar selatan dan lingkar utara. Bang Iwan dan band begitu energic menghibur masyarakat, tak lupa menyelipkan celetukan-celetukan berisi pesan sosial dan pesan untuk tetap menjaga lingkungan. Konser berjalan dengan damai, meski sempat ada sedikit keributan kecil. Jangan sebut Om Iwan sebagai musisi berkelas kalau tidak bisa mengendalikan massa. Bahkan dengan gaya bercandanya yang khas, beliau berhasil menarik perhatian massa kembali kepadanya.

Source: Instagram drummer Iwan Fals, Yose Kristian
And, here I wanna tell you. Selagi menikmati konser, saya melihat ada beberapa panitia membawa sekantong karung plastik wadah beras. Rupanya mereka memunguti botol-botol plastik air minum yang dibuang dengan sengaja oleh penonton. Mereka juga memunguti sampah-sampah selama konser berlangsung sehingga area itu terlihat tetap bersih dari sampah plastik. Satu kata: Salut!!! Saya sungguh mengapresiasi komitmen Om Iwan dan EO untuk menjaga lingkungan. Tidak hanya sekadar beliau ungkapkan melalui ajakan-ajakan dari mulut dan lagu saja, tetapi juga aksi nyata membersihkan sampah di sekitar lokasi konser. Contoh baik bagi massa yang ada di situ. Saat konser berakhir, saya melihat segerombolan anak muda yang memunguti sampah-sampah botol dan plastik. Hmm, look at that, Om Iwan succeed give an encouragement to the younger. What a great aspect!

Satu lagu yang membuat saya merinding malam itu adalah ketika Om Iwan mulai memetik gitar intro lagu Ibu. Seketika penonton mulai duduk di tanah dan menyalakan penerangan apa saja yang mereka punya, dari senter, sorot lampu HP, lilin, dsb. Merindiiiingggg!!! Kekuatan syair lagu berjudul Ibu itu memang mampu memberikan efek yang luar biasa kepada ribuan penonton yang ada malam itu. Termasuk saya pribadi, tanpa dikomando, saya seketika mengeluarkan Hp dan mengangat tangan saya tinggi-tinggi mengikuti irama intro lagu itu. Ternyata hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang di sekitar dan di depan saya, tanpa dikomando.

Acara konser keseluruhan berjalan dengan lancar, Om Iwan membawakan kurang lebih 15 lagu. Kemudian penampilan itu ditutup dengan pesta kembang api hingga larut malam. Aaaaannnddd, bisa dibayangkan bagaimana kami pulang kan? Hahaha. Untungnya sih dapat parkir hanya 50 meter di sebelah timur lokasi konser. Jadi kami tidak perlu berjalan sepanjang 3 Kilometer seperti orang-orang. Yah, hanya perlu menutup wajah dengan masker ketika mengendarai motor membelah lautan manusia yang berjalan berduyun-duyun. Siap-siap disoraki "Huuuuuuu...." saat melewati mereka. Sabaaaaarrrr..... yang penting nggak gempor jalan kaki :D


-salam damai-

Bening Rahardjo



Wednesday, November 25, 2015

Orange The World (Not Only) Within 16 Days Activism

May some of you found the hashtag #OrangeTheWorld or #ViolenceAgainstWomen or #16Days in many media or social media within these days. Maybe you asked, what was that mean? Now, read my writing to find the answer. You can also read my writing before, due to this issue here or this post.

Maybe one of them is someone you MEET, maybe one of them is someone you KNOW, maybe one of them is someone CLOSE to you, maybe one of them is YOU.

What is Orange The World Means?


Orange The World is a campaign to the world to have encourage and take part in action to stop violence against women. Every 25th November we commemorate the day anti-violence against women. Why orange? Yep, orange is a power color. It's one of healing color. It also give an encourage about enthusiasm, relieving repressions and creativity. Orange represents enthusiasm, fascination, happiness, creativity, determination, attraction, success, encouragement, and stimulation.


To The Society

You might think, this is waste my time, or what I should care about, after all said, this is just a theoretical discourse and a mere of rhetoric. Just please. But, what I'm trying to say here is an advocate for you to openly think and together to fix what's wrong with us, our system, our thinking, our culture and perhaps even our ideology during this time. I am not an extreme feminist activist, but yes, I do put a big respect to gender issues. I mean, I don't refuse to give birth, take care of husband and children, cooking, clean up the house and so on, and so on...because, THE FACT is we are born from the womb of a woman. The fact is women can do the birth and men don't. I want to see my children well maintained with all good nutrition, I want my family stay in a clean and comfortable environment, and I will do all those things with pleasure. Fact. However, it doesn't mean the pleasure thing we're doing it, then you deserve to label it with the word 'SHOULD' and 'ONLY'. This should be done by a woman, this isn't man's job. Only woman should do this, this not man's business. Only women who should work on this, for man this is embarrassing. Oh peanuts, thanks. We, the women, had enough these wonderful words of yours, now get up! Wake up! If we were allowed by our grandma to shout out, then we would harshly say, "I hope one day you choke on the shit you talk". Ups, sorry, grandma says we should not say the rude thing, isn't it?

Listen, I say to the world, at least please...please look at us, put your respect to us. Highlighting dowry deaths, genital mutilation, rape, domestic violence, female foeticide, malnutrition, and all barbaric behavior and culture. Even, don't we always make women's body as a commodity comedy at any media? THIS IS A GLOBAL PANDEMIC. True. So....what we can do? You may say, "We can't help anyone. We can't help anything". I say, "Hey, smart! Absolutely, you CAN, I CAN, all of us CAN help to this issue! We can help MANY!" Maybe partly sarcastic saying, "Are you dreaming to change the world?". NO. I AM NOT. I may not dreaming if I could write to you here, to share and to give an understanding to you here. Further, to enlighten you. 

Most reason like--our government doesn't have any policy to reduce the amount of violence against women. But you can spread your words, no? At least you still have brains to think healthy. Respect is not taken for granted. If we want the world's respect, we should lead the way and show them in practices. Each of us has a duty to be advocacy worker for large changes in the long term, for the enforcement of women's rights. Be part of the change in the community to support our advocacy. Raise awareness about violence that women faced, everyday, everywhere. Why do we become  a pathetic human when we choose to silent while we hear, we see, and maybe even we be able to prevent the violence? Why? Whether we have deaf ears? Whether our eyes are blind? Whether the value of our humanity has been away from the word 'civilized'. Yes, we are not civilized humans. We being fought each other, we are pleased to degrading women, we are happy if we feel more intelligent than others. We feel satisfied by making women and girls as a weapon gratification. Don't we?

To The Survivors
Me, hardly condemned all of women who demeaning themselves to the world. To you, all the survivors, just go educate and empower ourselves to be part of the solution to the conflict. Don't perform action that approve of violence you experienced. NEVER. Here, Eleanor Roosevelt said: "No one can make you feel inferior, without your consent"


If you still have the patience and confidence to change things you meet, please survive and prove that you are worthy. You deserve to be loved. However, if you can not change them, the only way is to get away from it. Leave all the negative things that hurt you, leave all the negative things that humiliate your dignity, leave all the things that don't uphold human morality. We are entitled to all the better. We deserve better. Then, you may ask what should I do? Meet people who can help you and you trust. But keep remember, don't trust anyone exceed you trust yourself. Open your hearts and minds to people with positive energy around you, start from you, of course

I know, and I do really understand how it's not easy become a survivor with all the bad paradigms and bad stigma that still pick on survivors, but all will still end badly if you give up to inhumanity. You don't help yourself, you even don't help people out there who are facing similar cases like you. You are not alone. Never. If there is among you who read this, and become a survivor, you can exchange thoughts to me and told me, I give you a free warranty, until you don't up to talk again. You can email me up there--how to contact me. We all heal differently and within specific time frames and following our own distinctive patterns. No matter how quickly or slowly you move through the healing process, it only matters that you are moving through it at all. It's something you must learn and understand for yourself. You have no reason to feel guilty for your abuser's/attacker's actions because it was their choice to inflict violence on you. 

What We Can Do?

There are so many ways we can do to help, to protect and even to prevent all actions of violence against women. The simplest thing, if you meet or see the victim, you can help with listen and believe, instead of you give them order to explain their trauma; blamed for what happened to them; or judge about their future. You can make the survivors feel safer with having trustworthy, stable, and accepting community to support them. Give the survivors our support in appropriate ways. Like what? If you have excess money and you feel like a philanthropic, you can donate some for institutions that care for the survivor's health or whatever support programs that work to help victims and prevent family violence. What if you don't have excess money to donate to? You still CAN help of course! You can write, you can be conscious of the heinous crimes in different countries and highlight them, you can spread the words to your community. You can enlighten society culture to not embarrass or mock the survivors. They've experienced something tough, if it should be added with gossip or inhumane mocking. Go educate ourselves about violence against women: what we can help to the survivors; about state law to protect women's right; about the victim's health; about the symptoms and signs of post-trauma recovery; and so on. Together, we can UNITE to actively ensure that women the world over are safe from violence and can live with basic human dignity. Because, violence is always violence, whatever its form, whatever its excuse. There's just NO. Unacceptable. Speak up! Give our support to stand up, to speak out, and to STOP violence against women.



Regards,

Bening Rahardjo


Sunday, November 22, 2015

Unchained Melody


Unchained Melody, Keroncong version
By: Safitri

Oh, my love, my darling
I've hungered, for your touch
A long, lonely time

And time goes by so slowly
And time can do so much
Are you still mine?

I need your love
I need your love
God speed your love to me

Lonely rivers flow
To the sea, to the sea
To the open arms of the sea

Lonely rivers sigh
"Wait for me, wait for me"
I'll be coming home, wait for me

Oh, my love, my darling
I've hungered, for your touch
A long, lonely time

And time goes by so slowly
And time can do so much
Are you still mine?

I need your love
I need your love
God speed your love to me







Smile, You Are Beautiful!

Random times when you realize.. Hey, I'm happy. So much to be grateful for... :)


Frankly my dear, I just don't give a damn when someone call me crazy. Say what you want, what makes you happy. I don't need that. I don't need your wishes cake or some bullshit lips. I just want to surround myself with positive people who will support me when it rains, not just when it shines. Positivity helps me shine that light. Poor you, who still need to turn your head to the back, just to see me. #SundayFeeling #Happy #Loved



Xoxo***
-The lady whom you deem crazy-




Saturday, November 21, 2015

Fashion Bondage 1: Siffon Sackdress by House of Eny

*All these pictures bellow are protected by Copyright Laws and Intellectual Property Rights*

Semi-formal Blue Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Vira 

Semi-formal Sogan Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Dini


Semi-formal Orange Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon with pleat detail on front
Photographer: Aryo
Model: Dewi

 
Semi-formal Natural Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon on shoulders
Photographer: Aryo
Model: Vira
Semi-formal Grey Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon, detail sprinkled with sequins at the waist
Photographer: Aryo
Model:Vira

Semi-formal Red Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon
Photographer: Aryo
Model: Vira

Semi-formal Navy Sackdress
By: House of Eny
Boutique location: Yogyakarta, Indonesia
Designer: Eny Kurniawati
Materials: Weaving Lurik combined with Chiffon on shoulders
Photographer: Aryo
Model:Dini


Friday, November 20, 2015

The Monotony of Being Good


On my writing today, I will discuss about general topic that might be experienced by all of us. Yep, the monotony of being good, sounds like worst enemy of our virtue, no? Haha, true that. However, this is a very humane when you feel tired of being a good person. Do you ever feel that? Then a moment, thing comes into your mind and tell you to try to be the bad one, even though your conscience will wonder "How come I could think this way?". You feel your life has been too straight, you feel you are too obedient to the rules, you feel you are too loyal for your faith, you feel you are too nice to everyone, and so on.

We might think that way, but don't you know, if something is boring you, it's probably you. Yes, yourself. Such boredom could be an interstice for us to insult ourselves. We are tired of being good because we always treated unfairly, we are tired of being good because we always underestimated by envy people, we are tired of being good because we often exploited by people around us, we are tired of being good because we always lose to those sneaky people, we are tired of being good because we always lose to them who act hypocritically. For stack reasons, the we think like: I want to be bad!

Not so bad, when we were younger we have an ambition want to be good and beneficial person for many people. As adults, we see a wide range of emotionally draining experience and meet wide range of characters people which sometimes contrast with our character. We meet unfair reality story that is incompatible to the fairy story. Tell you, the world clearly would not be fair, man! Then the question is, why should we be bored? Or, what should we do? Now, make sure those 5 steps bellow you have done well, if you haven't done so, I suggest you should try it, at least one of the steps. Here they are:


Interesting. My grandpa ever told me like this: "Anything someone else has given to us, whether the goodness or badness, please, respond with goodness. Because every good thing we do will come back to ourselves. If we plant an orange tree, it would not probably bear an apple, as well as life". Sounds a bit naive, but I am sure that it would be better than you undergo something contrary to your own conscience. If you think so far you been a good person, whether all will be better after you become a bad person? It's very easy to change from bad to good, but to always be good, it's a tough. 

Whoever we are, we must keep learning. Anywhere, anytime, and from whatever we have encountered throughout life. And remember always keep being learners.





-Bening Rahardjo-

 

Thursday, November 19, 2015

BELA APA?

Photo by: Republika.com

Dua bulan belakangan ini rakyat Indonesia disuguhi oleh bahan diskusi baru, yakni program bela negara yang digagas oleh pemerintah melalui Kementrian Pertahanan. Bahkan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sewaktu diwawancarai oleh Pers mengatakan "...Bela negara dimaksudkan untuk memperkuat posisi rakyat yang secara ekonomi lemah. Kekuatan negara itu ada di rakyatnya, tapi ketika rakyat menganggur, makan kurang,  daya beli rendah, maka negara itu akan lemah,..."

Entah apa yang melatarbelakangi pemerintah dalam menafsirkan bunyi Pasal 30 Undang-Undang Dasar 1945 ini, "Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara". Baik, mari kita pahami lebih dalam maksud kata upaya pembelaan negara ini. Diawali dengan kata hak dan kewajiban di dalam satu kalimat. Ya, kita semua pasti setuju apabila negara dalam kondisi darurat militer dan semua warga negaranya berhak dan wajib membela negara. Tanpa diminta sekalipun saya yakin bahwa pemuda Indonesia cukup legowo untuk melakukan itu, pertanyaannya: siapa sih yang ingin perang? Saat di tengah situasi keamanan negara yang kondusif? Saat kita memiliki banyak jumlah Tentara Nasional yang tangguh dan alutsista yang canggih?

Apabila kita melakukan pencarian pengertian program bela negara ini, laman wikipedia telah menyiapkannya untuk Anda. Hal menarik yang perlu kita cermati, di halaman tersebut diambil contoh bela negara di beberapa negara seperti China, Korea, Israel, Amerika, dan Inggris. Mengapa pemerintah harus bercondong kepada contoh negara-negara tersebut apabila benar-benar menginginkan program bela negara yang sesuai dengan nilai-nilai UUD 1945 dan Pancasila? Bahkan secara personal, Menteri Ryamizard Ryacudu juga memberi contoh dengan menyebutkan negara Korea, memuji rasa rela berkoban yang tinggi. Kenapa harus mencontoh kepada Korea yang memang penduduknya rata-rata lebih senang untuk berkecimpung di dunia entertain, pertanian dan pelaku bisnis. Sedangkan Indonesia, orang akan bangga apabila mampu menjadi bagian dari militer, menjadi anggota militer (kita bisa merujuk pada jumlah tentara dan polisi yang kita miliki, maupun para pemuda-pemudi yang mendaftar sekolah militer setiap tahunnya). Korea wajar mewajibkan program wajib militer kepada penduduk laki-laki yang sudah dewasa setelah Perang Korea, karena negara mereka selalu siaga apabila harus berperang sewaktu-waktu dengan tetangga serumpun. Intinya adalah latar belakang politik. Mengapa Israel juga mewajibkan penduduk sipil untuk terjun di militer? Juga karena latar belakang politik. Kemudian pemerintah kita ingin mengadopsi wacana tersebut secara sepihak atas dasar kehendak mereka atas rakyat sipil tanpa menggodoknya dengan mendalam?

Kalau alasan pemerintah adalah untuk memperdalam kurikulum lima nilai dasar yakni cinta tanah air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, serta memiliki kemampuan awal dalam bela negara baik fisik maupun nonfisik, mengapa tidak para koruptor itu duluan yang diwajibkan untuk program bela negara ini? Rakyat sipil yang taat membayar pajak dan hukum harus menjalani program bela negara sementara para koruptor yang SAMA SEKALI TIDAK mencerminkan nilai-nilai Pancasila masih bisa dengan santai makan-makan di restoran di luar penjara? Menonton kejuaraan tenis sesekali lalu balik lagi ke penjara? Rakyat sipil diwajibkan untuk mencintai produk dalam negeri, di saat pemerintah menerbitkan Permendag No.87 Tahun 2015 tentang ketentuan impor produk tertentu yang mengancam keberlangsungan indsutri dalam negeri. Apa yang harus dibela?

Lucunya, ketika rakyat sipil disuguhi wacana mewajibkan bela negara tetapi saat yang bersamaan negara tidak bisa menjamin hak hidup rakyatnya. Bagaimana tidak? Wacana ini keluar disaat kabut asap melanda di beberapa tempat hingga berlarut-larut dan memakan korban. Apa yang harus dibela? Hak untuk hidup dengan bernafas di udara yang sehat saja tidak bisa dijamin oleh negara. Hak anak-anak untuk tenang bermain dan belajar dengan rasa aman saja tidak bisa dijamin oleh negara, serta bagaimana dengan ketegasan pemerintah atas kasus kekerasan yang menimpa anak-anak? Apa yang harus dibela?

Revolusi mental? Pembenahan mental? Mental siapa yang harus dibenahi? SIAPA atau APA yang harus dibela? Bukankah kita lebih pantas membela diri kita sendiri disaat pemerintah dan negara tidak bisa menjamin hak-hak dasar kita? Memang, meski tidak ada ancaman peperangan, pelatihan bela negara bisa saja dilakukan oleh negara jika muncul bentuk-bentuk ancaman yang dinilai bisa membahayakan keamanan negara. Bentuk-bentuk ancaman tersebut bisa saja berupa kejahatan terorisme internasional dan nasional, aksi kekerasan berbau SARA, pelanggaran wilayah negara baik di darat, laut, udara, dan luar angkasa, gerakan separatisme, kejahatan dan gangguan lintas negara, dan perusakan lingkungan. Oleh karena itu, rakyat sipil disiapkan sebagai komponen cadangan. Pemerintah merasa program bela negara ini dapat menjadi solusi untuk setiap permasalah bangsa di masa yang akan datang.

Photo by kapanlagi.com
Ya, kita melihat tujuan jangka panjang dari program bela negara ini, tetapi bukan hanya masalah dana, bagaimana program ini bisa efektif dalam membangun karakter bangsa? Program ini diberlakukan bagi SELURUH warga Indonesia sampai dengan usia 50 tahun, dengan jumlah peserta 100 juta orang dengan target waktu 10 tahun. Itu artinya, hampir semua pembaca opini saya ini (kecuali Anda yang sudah berusia di atas 50 tahun) kemungkinan akan dituntut untuk mengikuti realisasi dari program ini, terlepas status Anda sebagai siswa, mahasiswa, atau pekerja profesional. Rakyat sipil setiap hari disuguhi oleh dagelan politik para petinggi negeri, apakah orang-orang yang setiap hari hidup di kampung peduli pada wacana bela negara? Lebih baik mereka pergi ke ladang untuk mengisi perut mereka sendiri. Mereka lebih peduli pada harga bahan makanan yang melambung tinggi, mereka lebih peduli pada harga pupuk yang melonjak, mereka lebih peduli pada kurangnya distribusi bahan bakar untuk kegiatan sehari-hari, mereka lebih peduli pada mengapa pemerintah lebih banyak mengandalkan impor barang luar negeri daripada bagaimana caranya meningkatkan kualitas daya saing produk pertanian dan perdagangan nasional? Apa yang harus dibela? Siapa yang harus dibela?

Tanpa bermaksud apriori pada program bela negara, Menteri Pertahanan bermaksud untuk mengubah otak rakyat sipil agar bangga kepada negara ini. Otak? Bicara tentang otak bukankah lugas bila saya menyebutnya program doktrin? Mungkin yang dimaksud Bapak Menteri adalah hati, hati nurani kita sebagai rakyat Indonesia. Tunggu dulu, Anda merasa sudah punya nurani yang cukup untuk mengaku cinta Indonesia? Ya, kita semua cinta Indonesia, yang tidak cinta Indonesia itu hanya orang-orang bodoh yang korupsi di sana itu, orang-orang yang melakukan gerakan separatisme dengan radikal, orang-orang yang tega menghabisi nyawa anak kecil, orang-orang yang tega merampas hak-hak hidup warga sipil. Betul? Kalau memang seperti apa yang dikatakan Bapak Menteri bahwa program bela negara ini berbeda dengan program wajib militer, tanpa kekerasan fisik, akankah? Ataukah rakyat sipil hanya dijadikan alat politik pemerintah? Silakan beropini masing-masing, terlepas dari pendapat kita menolak atau mendukung, program ini akan mulai dijalankan. Selamat berbela negara!




-Bening Rahardjo-


Saturday, November 14, 2015

Aku Tenang





Aku Tenang
by: Gili Trawangan


Denganmu, tenang
Tak terfikir dunia ini
Karenamu, tenang
Semua khayal seakan kenyataan

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Karenamu, tenang
Semua khayal seakan kenyataan

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Aku berbeda
Aku berbeda

Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi tlah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna
Tak seperti orang biasa

Pikiran indah tentang surga
Seakan-akan disana
Berkhayal semua tentang jiwa. 
Ku tenang





 

Sugeng Ambal Warsa Kaping 98, Karanganyar!

Semalam cuaca cukup cerah, meski sempat terdengar gemuruh petir tetapi hujan tidak turun deras, sedikit gerimis saja. Kebetulan, di tengah kota kami, tepatnya di alun-alun kota/plaza alun-alun, sedang diadakan acara bertajuk Soloraya Creative Expo 2015. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Karanganyar ke-98. Tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, saya merasakan banyak sekali perubahan positif dari tata ruang kota di tempat kelahiran saya ini. Pemimpin baru, perubahan tata ruang yang baru, kebijakan baru, UMR yang naik lebih signifikan, tentunya semua ini juga berdampak positif bagi semangat baru warga Karanganyar. 


Saya selalu suka acara-acara yang merakyat, Anda bisa menyebutnya 'kampungan', 'ndeso', or whatever. Tell you, I don't care. Bagi saya yang pecinta budaya lokal ini, tentu saja acara-acara seperti Expo atau pesta rakyat menjadi sebuah pertunjukan menarik untuk dikunjungi. Saya tidak hanya akan menemui pemandangan penuh sesak dengan berbagai macam aroma keringat di sana, sebab itu sudah pasti jelas, tetapi juga pemahaman baru akan hal-hal baru. Ada seorang kawan yang ketika saya ajak mengujungi tempat-tempat dan acara-acara merakyat, kemudia ia merasa itu adalah tempat/acara yang membosankan dan membuat dia pusing. Tidak demikian dengan saya.

Mungkin lebih cocok baginya untuk duduk bersantai di kafe-kafe dengan alunan musik, menyantap menu mewah meski dengan isi kantong yang dipaksakan. Asal bisa mengisi album elektronik di akun Instagram-nya. Mungkin, tempat-tempat dengan lampu-lampu menyorot tajam di sana-sini, gemerlap dan penuh dengan aroma pengharum ruangan yang dingin. Asal bisa berpose layaknya fashionista sejati untuk bisa dipajang di lama Instagram-nya. Ya. Bukankah ini hampir sama dengan situasi dimana seorang teman yang jarang berjumpa dikarenakan kesibukan masing-masing, lantas mengajak Anda untuk bertemu di suatu tempat yang cozy, dengan headline 'meet up', but then, believe me, after she/he asks you to take a wefie or selfie, then she/he stuck on their smartphone to upload the pictures, and forget to talk to you. Selfish, yes, we are. They ask you to meet up, but disregarding you with their attitude. No, you're welcome.

Sebuah pelajaran besar bagi saya. Itulah mengapa saya lebih senang pergi ke tempat-tempat merakyat bersama orang-orang yang memang benar-benar tertarik. Mendatangi event bertajuk 'meet up' hanya jika saya merasa benar-benar dirindukan oleh mereka, bukan seperti berjudi untuk menentukan akhir cerita 'meet up' tadi. Apakah saya akan diacuhkan karena smartphone-nya atau kami akan benar-benar menikmati obrolan yang memang menyenangkan. Sekali lagi, itu pilihan. Saya memilih dengan pertimbangan dan sebagian besar adalah pengalaman.

Saya senang sekali bermain ke tempat-tempat yang masih kental dengan budaya, saya senang sekali bahkan turun menyusuri bukit sebentar hanya untuk bermain air di kali pegunungan ketika sedang bepergian. Saya senang memotret aktivitas sosial yang dilakukan orang-orang di tempat merakyat, seperti pasar tradisional, acara budaya lokal, dan lain-lain, dengan mata dan hati saya sendiri. Indah. Menenangkan.

Damai mengunjungi tempat yang tidak hanya bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan sosial atas, tetapi juga terjangkau bagi mereka, orang-orang kampung yang memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang besar pada keramaian. Jangan mengeluh ramai berdesakan, pusing dan bau kalau Anda mengunjungi pasar tradisional, pasar malam, pameran, bazaar buku, pasar tiban dan sejenisnya. Sebab saya pastikan, Anda pasti akan mendapati semua itu.

Tahun 2015 ini, hari jadi Kabupaten Karanganyar diisi oleh banyak event menarik, mulai dari launching logo Burung Derkuku untuk Kabupaten Karanganyar (ada sejarah lokal yang ingin diangkat oleh pemerintah yang baru, salut), pengajian akbar, kejuaraan beberapa cabang olahraga, napak tilas Raden Mas Said (ini adalah sejarah lokal yang menurut saya sangat bagus untuk diangkat juga), lomba tradisional (maksudnya permainan tradisional yang sudah hampir mulai dilupakan seperti bakiak, balap karung, tarik tambang, dll), gerak jalan massal, bazaar buku, pagelaran wayang kulit, trail adventure di lereng Gunung Lawu (kakak saya pun menjadi salah satu peserta di acara ini), jambore karya inovatif masyarakat Karanganyar, khitanan massal, TNI Military Expo, Soloraya Creative Expo (namun saya lihat semalam acara ini bukan hanya diisi oleh stand-stand dari Soloraya saja, ada juga dari daerah Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara), lomba karawitan dan masih banyak lagi.

Stand yang paling saya minati adalah stand milik TNI, menurut saya TNI mencoba menghilangkan kesan seram para tentara yang masih hinggap di benak masyarakat. Mereka sangat ramah menyambut masyarakat yang antusias untuk mengetahui seluk beluk senjata, kendaraan, pakaian, dan lain-lain. Beberapa juga menyambut saya dengan sangat ramah, mempraktekan cara memegang senjata yang berat, kemudian menjelaskan dengan serius. Meski banyak pertanyaan meluncur dari bibir saya, mereka juga sangat sabar menjawab, bahkan sesekali diisi dengan lelucon. Bahkan, salah seorang memasangkan topi baretnya di atas kepala saya ketika hendak berfoto. Ya, ramah sekali. Merakyat. Mereka menyapa, menyalami dan menggendong anak-anak kecil yang takut-takut ingin mengajak berfoto bersama. Bahkan mereka mengeluarkan sebuah tank tempur yang sengaja diparkir di halaman depan plaza alun-alun agar masyarakat bisa melihat, memegang bahkan memasuki ruang sempit di dalam tank tersebut. Apresiasi tinggi kepada TNI kita!



Apalah arti sebuah tanah tempat tinggal jika tidak bisa menjadi sarana yang baik untuk masyarakat yang ada di dalamnya? Mungkin ini yang digagas oleh pemerintah daerah yang baru. Perbaikan city walk di sepanjang jalan utama membuat jalan terlihat lebih lebar, tatanan Pedagang Kaki Lima juga lebih rapi. Area publik dimanfaatkan dengan sangat baik untuk bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Area publik tidak hanya dikuasai oleh pedagang-pedagang yang mangkal, sehingga tidak ada tempat nyaman untuk publik berkreasi. Perbaikan Monumen Kasih Ibu di pusat kota, perbaikan Taman Gajah dengan air mancur warna-warni, penataan Taman Pancasila, masterplan untuk public area di Waduk Lalung, dll. Perlahan tapi pasti, Kabupaten Karanganyar mulai berbenah. Pertumbuhan ekonominya pun terasa lebih baik dengan standar UMR yang lebih signifikan, layanan sosial yang juga lebih baik di bidang pendidikan, kesehatan terutama. Meski banyak hal yang masih perlu diperbaiki di sana-sini. Kenyamanan orang ketika memanfaatkan ranah publik untuk tempat berkreasi, mulai dijunjungnya nilai-nilai sejarah dan budaya lokal tidak hanya dalam pendidikan formal untuk generasi muda di sekolah saja, tetapi juga untuk masyarakat umum yang masih buta akan sejarah dan budaya lokal.  

video

Sugeng ambal warsa kutha kinasih Karanganyar ingkang kaping 98, mugi tansah handarbeni hangrungkebi, lan mulat sariro angroso wani. Guyup rukun ngudi tentrem saklawase. Kaya ingkang dadi pemujine, Kabupaten Karanganyar Tenteram.




-Bening Rahardjo-


Friday, November 13, 2015

Watched The Teather Show



Few days ago I bought tickets for Nglilir's Theater performances. Earlier, Those were CANGKIR #7 performances that held by 13th generation (in which, my generation was the first generation who initiated the founding of Nglilir Theater), CANGKIR means Calon Anggota Kreatif Teater Nglilir (Show that initiated by all creativity of prospective members). I remembered when I watched their first show, Calon Arang. This theater has been much evolved, sometimes I also watched when they held shows in TBS (Taman Budaya Surakarta). I also often see some performances of other theaters in TBS, but I give more point for Nglilir as their creativity decoration stage that is not half-hearted.
Salute, to Nglilir!



- BR -


Kucari Kamu

Kucari Kamu
By: Payung Teduh

Kucari kamu dalam setiap malam
Dalam bayang masa suram
Kucari kamu dalam setiap langkah
Dalam ragu yang membisu 

Aku cari kamu dalam setiap ruang 
Seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam
Aku cari kamu
Disetiap malam yang panjang
Aku cari kamu
Kutemui kau tiada
 
Aku cari kamu 
Di setiap bayang kau tersenyum 
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah
 
Aku cari kamu dalam setiap jejak
Seperti aku yang menunggu kabar dari matahari 
Aku cari kamu
Disetiap malam yang panjang
Aku cari kamu
Kutemui kau tiada
 
Aku cari kamu 
Di setiap bayang kau tersenyum 
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah
 
 
 
 
 
 

Thursday, November 12, 2015

Wanita Priyayi

"Lady with Kebaya" by Basoeki Abdullah

"Jangan pernah berkecil hati disebut sebagai Priyayi. Priyayi harus berpendidikan. Bukan hanya tentang bagaimana mengisi seluruh keranjangmu, tetapi bagaimana itu akan menjadi penerang sepanjang hidupmu." - Eyang Kakung


Tuesday, November 10, 2015

Selamat Hari Pahlawan, Eyang!



Bicara tentang Hari Pahlawan, tentu kita semua akan ingat pada nama-nama seperti Soedirman, Pattimura, Syahrir, Soekarno, Soepriyadi, Slamet Riyadi, Cut Nyak Dien, Kartini, Moh.Hatta, dll, bukan? Ya, seluruh rakyat Indonesia pastinya akan selalu mengenang perjuangan mereka dalam bentuk gerakan perlawanan kepada para penjajah. Namun, kali ini dalam postingan pribadi, saya akan memperkenalkan sosok pahlawan yang tentu kalian tidak akan mengenalnya. Justru, saya menjadikannya pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau orang lain mengatakan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bagi saya Eyang Kakung adalah orang yang sangat pantas untuk diberi gelar yang serupa, setidaknya, bagi saya pribadi. Ya.

Eyang adalah sosok pengganti figur seorang bapak. Mencintai saya dengan segala kekurangan saya di waktu kecil hingga remaja. Mengajari saya banyak ilmu tidak hanya dunia tetapi juga pendekatan spiritual kepada Yang Maha Esa. Membukakan hati saya kepada hal-hal penuh empati yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Memberikan saya pemahaman tentang dunia di luar yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Menambah wawasan saya kepada segala sesuatu yang belum pernah saya temui. Mendukung saya dalam segala situasi.

Mungkin bagi kalian, orang pertama yang mengajari kalian cara berlari, berjalan, membaca, menaiki sepeda adalah orang tua, tetapi dalam kehidupan saya, eyanglah yang memberikan semua ilmu itu. Sungguh, banyak hal yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu untuk membeberkan betapa ketulusan dan kebaikan yang ada di dalam diri Eyang Kakung bagi tumbuh kembang saya hingga pada saat usia saya yang sekarang ini, semua sangat berarti. Semua hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua saya, Eyang Kakung yang menempati posisi itu. Sampai saat ini, saya tidak terlalu fasih jika harus memboncengkan orang dengan sepeda. Saya bisa naik sepeda, sendirian, tanpa memboncengkan orang di belakang.

Pernah di suatu pagi, sehabis shalat subuh berjamaah di bilik kamar beliau yang sunyi, lantas beliau mengajak saya untuk berjalan-jalan pagi. Kami berjalan beriringan sampai di suatu kampung, yang masih dalam satu kawasan. Saya masih dapat mengingat suasana di kala itu, tentu tidak seperti sekarang ini yang sudah banyak lampu di sana-sini. Suasana pagi masih terasa sepi, remang dan dingin. Hanya sedikit rumah yang sudah berdiri kokoh di kampung. Tiba-tiba, Eyang Kakung menghentikan langkah saya dengan tangan kirinya.

"Kenapa, Eyang?"
"Sssst..."

Eyang hanya memberi isyarat dengan tangan kanannya agar saya diam sejenak. Beliau menunjuk ke arah depan, di tengah kegelapan subuh, dengan telunjuk jari kanannya. Saya mengikuti arah telunjuk itu, tidak menemukan apa-apa.

"Ada apa, Eyang?"
"Itu, ada macan. Kelihatannya dari hutan di seberang, ayo kita balik arah saja."

Eyang menarik tangan saya pelan-pelan berjalan berbalik arah, tanpa tergesa. Hanya langkah biasa yang penuh waspada. Ketika saya hendak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah kami benar-benar aman, Eyang Kakung hanya menahan tolehan kepala saya agar tetap melihat lurus ke depan. Entahlah, apa mungkin pada saat itu masih ada macan yang berkeliaran di hutan, di bukit yang letaknya tidak jauh dari kampung kami. Mungkin saja ada. Sebab saya pernah melihat sebuah kidang/menjangan/kijang yang pernah tertangkap oleh tetangga ketika sedang mencari kayu di bukit itu pula. Kemudian menjadi tontonan menarik orang-orang kampung di waktu itu. Termasuk saya, tentunya.

Pernah dalam perjalanan hidup saya ketika hendak mencari Perguruan Tinggi yang terbaik setelah lulus Sekolah Menengah Atas, di saat bersamaan kondisi kesehatan Eyang Kakung sudah naik turun. Beliau mengajari saya untuk bertirakat. Memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa dengan segala kerendahan hati. Berpuasa, berdoa dan berlaku jujur. Beliau selalu membangunkan saya pukul tiga pagi untuk mengawali aktivitas. Waktu sepagi itu Eyang Kakung sudah mengisi penuh bak mandi kami yang besar. Beliau meneruskan dengan menyapu halaman dan sekeliling rumah. Beliau selalu mengajarkan untuk membersihkan halaman sebelum orang-orang beraktivitas pagi. Oleh karena rumah kami berdekatan dengan sebuah pasar tradisional, hanya berjarak -/+ 30 meter, kami harus terbiasa menyapu sebelum orang-orang berlalu-lalang menuju ke pasar.

Saya selalu bertugas menyiapkan sarapan pagi setelah Eyang Puteri meninggal, hal yang biasa saya lakukan dari kelas empat SD. Kami punya rewang yang membantu pekerjaan memasak dan mencuci, mereka datang pukul 08.00 pagi hingga selesai pukul 16.00 sore, setiap hari, apabila tidak ada kepentingan lain. Kalau rewang saya sudah memasak sayur di sore hari, biasanya pagi itu saya tinggal menghangatkan dan menggoreng lauk saja. Ketika pencernaan Eyang sudah mengalami gangguan, saya selalu menawari apakah beliau menginginkan sarapan dengan bubur atau nasi biasa. Kalau beliau menginginkan bubur, saya akan pergi berbelanja ke pasar sebentar, jadi tidak aneh apabila terkadang pukul lima pagi, dengan berseragam, saya sudah mengantri untuk sebuah bubur di pasar. Hampir seluruh pedagang di pasar itu mengenal saya, bahkan hingga kini.

Pernah merasa sangat terjatuh ketika usaha saya gagal untuk menembus beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, bahkan Universitas Sebelas Maret yang dekat dari rumah, semua gagal saya tembus melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) waktu itu. Nilai rapor saya tidak mampu bersaing dengan para pendaftar lain. Banyak dari teman-teman saya yang melakukan mark-up untuk nilai rapornya sebelum mendaftar PMDK. Saya bukan orang yang dididik dengan cara seperti itu. Eyang Kakung selalu menekankan pada saya untuk berlaku jujur (laku jujur kang utama), beliau lebih bangga kepada apa yang saya peroleh dari proses yang saya jalani, ketimbang bagaimana hasilnya. Meski, apa yang sudah kita usahakan dengan harga yang terbaik tidak selalu pasti hasilnya sesuai yang kita inginkan. Namun, ternyata Yang Maha Kuasa memberikan saya kemudahan di lain waktu, tes mandiri Universitas Gadjah Mada yang saya ikuti akhirnya lolos seleksi

Satu kali dalam hidup saya, saya pernah sangat membahagiakan Eyang Kakung sebelum beliau sedo, ya dengan diterimanya saya di Perguruan Tinggi Negeri yang baik itu. Saya bahagia, setidaknya beliau pernah menemani perjalanan saya di Perguruan Tinggi selama hampir dua setengah tahun. Hal yang selalu mengingatkan saya kepada beliau, bertirakat. Saat sudah mencapai titik yang diinginkan, jangan lupa untuk tetap rendah hati, ingat Siapa Yang Membantumu dengan Segala Keagungannya. Suatu sore selepas maghrib, ketika kami duduk bersama di regol depan rumah, Eyang Kakung berpesan sangat dalam kepada saya tentang banyak hal. Banyak hal yang belum bisa saya maknai di usia saya waktu itu, sehingga banyak pula kalimat-kalimat Eyang Kakung yang tidak bisa saya pahami maksudnya. Saya ingat salah satunya beliau menembangkan bait Dhandhanggula, yang masih bisa saya nyanyika dalam hati:

|| Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana, sartane kawruhana. ||
 
"Ngger anakku, orang boleh menyombongkan ilmunya di depan kita, tidak mengapa. Kamu tahu, orang berilmu tidak akan pernah merasa bahwa dirinya berilmu. Selalu ingatlah akan ilmu padi. Sing bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa."

Ya. Nasihat hidup orang Jawa, tidak hanya bersumber dari agama-agama dan kepercayaan yang berkembang di tanah Jawa, seperti Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Kong Hu Cu, dan Islam, tetapi juga dapat kita temui dalam karya budaya yang berupa tulisan dari para pujangga, wali, raja, dan para kaum cendekiawan lainnya. Eyang Kakung saya adalah satu contoh pahlawan nyata untuk hidup saya, juga kehidupan orang lain, who knows? Selama hampir 30 tahun beliau menjadi pemimpin di wilayah kami, belum pernah sedikitpun saya mendengar orang berkata buruk tentangnya. Belum pernah sedikitpun saya melihatnya menghukum orang dengan semena-mena, belum pernah sedikitpun saya mendapati ajaran dan tuturan beliau yang menyimpang dari nilai-nilai filosofis kebudayaan dan kearifan laku manusia. Belum pernah saya mendapati beliau berkata kasar kepada rewang-rewang di rumah. Saya selalu mendapati beliau membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan datang kepadanya. Saya selalu mendapati beliau dengan sabar memberikan pitutur kepada orang-orang yang datang sekadar ingin meminta nasihatnya. Saya selalu mendapati beliau tengah berdoa khusyuk di sepertiga malam, memohon dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Memberi. Saya selalu mengamati beliau selalu tergesa untuk datang awal setiap shalat jum'at di mesjid besar kami. Beliau selalu mengajarkan 'lebih baik engkau datang untuk melayat saudaramu yang meninggal dan keluarga mereka yang sedang berduka, ketimbang engkau datang ke pesta-pesta pernikahan'. Beliau selalu melayat siapapun baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya secara pribadi di wilayah kami, menaiki sepeda tuanya. Bukan berarti datang ke pesta itu tidak diperbolehkan, katanya. Beliau juga selalu berusaha datang ke undangan pesta pernikahan, meski apabila berhalangan, beliau menyuruh saya dan rewang di rumah untuk njagongke/menggantikan beliau.



Saya yakin, banyak pahlawan-pahlawan di luar sana yang tidak pernah terjangkau oleh media-media besar, Mereka yang tulus memberikan pertolongan dan kasih sayang kepada orang lain, mengorbankan diri mereka untuk orang lain, memberikan perhatian kepada orang lain. Masing-masing dari kita pun pasti memiliki tokoh pahlawan imajiner yang kita banggakan. Siapapun itu, saya yakin mereka adalah orang-orang hebat yang pantas untuk diteladani dan mereka mengajarkan kepada kita tentang satu hal: kebaikan.





-Bening Rahardjo-