Thursday, April 10, 2014

Lalu Bagaimana Dengan Janji?



Mungkin dalam setiap satu tarikan nafas, ada kata yang kusebut hasrat.
Hasrat itu seperti sebuah doaku untuk menjadi yang halal bagimu.
Seperti satu keyakinan bahwa suatu saat janji akan ditepati.
Atau harapan agar pemegang janji masih setia meski telah terkubur ribuan hari.
Kalau kita sama-sama berdoa, aku rasa malaikat pun akan mengamini.
Bukan begitu janji Tuhan?
Insan yang baik untuk insan yang baik.
Masalahnya hanya, aku tidak tahu apa itu kriteria baik.
Apa aku insan baik? Apa engkau insan baik?
Apa kita sama-sama bukan insan baik?
Mengertilah, ada rumah yang tidak selalu bersih.
Ada air sungai yang tidak selalu jernih.
Namun, aku ingin menjadi baik, bagi Tuhan-ku dan bagimu.
Itupun jika Tuhan tidak terlanjur kecewa padaku.
Bukankah, kita hamba yang selalu mengecewakan-Nya?
Kalau kau ingin bersama orang yang baik, selipkan aku dalam doamu, tolong.
Begitu pula aku, yang tak pernah lelah menyelipkan namamu untuk menuntunku dalam kebaikan.
Biarkan malaikat tersenyum ketika mengamini doa-doa yang kita panjatkan pada Tuhan.
Dan biarkan semesta menjadi saksi bahwa janji akan ditepati bersama keyakinan hati.


-as clear as you call my name-