Wednesday, June 18, 2014

A 'Truth' Which Comes From Tradition


"I do this, because people do the same thing too"

We've ever heard that sentence, right? Tradition is an image about human attitudes and behavior which has stood for a long time and carried by generation of the ancestors. Tradition influenced by tendency to do something and repeating something that it becomes a habit. Society, especially Indonesia, is highly thick with cultural and traditions. Because society itself is formed by the unity of human life whose bound by custom system and tradition. When someone is in a group then he/she will tend to follow what are group doing. Someone perform conformity because they want to be accepted as a member/part of group, so that is not considered wrong. Talk about wrong, there are must be truth too. 

What is truth? Truth is rapprochement between knowledge and the object. There are two kind of truth, objective truth and subjective truth. The question is, in our pluralistic society with complexity of problems that occur in it, is there any real truth? What such of standard that used to determine something is mistake or truth? While standard itself generally appears from an existing system or it maybe the result of reflection or a rethinking of an existing system. Generally, the concept of "truth" is associated with mistake, inaccuracy, error, pretense/hypocrisy or dishonesty/lies.

But what is going on in society today is subjective truth, which each individual has their own opinion about right and wrong concept. And what happened is contradiction. Lot of people follow some deviant thing, as what many people do, and unfortunately it is regarded as a 'truth'. 'Truth' that according to their own thought. If you are asking, why I can say like that. I give you one example, in a case, there are a clever student who don't want to do some fraud at exam, beside his/her friends does that thing. Even, they join together to do that fraud at exam. Then, when the clever student don't want to do that fraud, he/she become avoided by people around. The pity, people feels what are they do is a 'normal' thing, and it is considered as a 'truth'. Why a 'truth'? Because they do it together. So, when their grade are higher than the clever student, they feel proud--and even without shame they say that it's a result of their hard work. What a pity!

The shifting truth values like this is even considered as a common thing in our society, which most people nowadays do the good thing but it's considered as a pious. But when there are someone do the wrong thing, many people defend it. So, it sounds like "I feel something so right by doing the wrong thing, and I feel something so wrong by doing the right thing", isn't it? It almost happen in many case nowadays. Then the next question is, how to choose the real truth? Truth claim for something wrong will continue happen. Here the truth is no longer the real truth, but it become just a symbol that has no meaning. The implication is that someone can do anything 'arbitrarily' as their will and there is no standard to judge what is right and what is wrong. Everything is a 'goodness'. Even though what are he/she does are contrary to morality and conscience. But we live in a society where it’s been ingrained in us to do these things. So, just be wise upon everything.




Regards,


Bening Rahardjo






(Read more: Indonesia Version)



"Saya melakukan ini, karena orang-orang melakukan hal yang sama juga"
 

Anda pernah mendengar kalimat itu, bukan? Tradisi adalah gambar tentang sikap dan perilaku manusia yang telah berdiri untuk waktu yang lama dan dibawa oleh generasi nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk melakukan sesuatu dan mengulangi sesuatu yang menjadi kebiasaan. Masyarakat, khususnya Indonesia, sangat kental dengan budaya dan tradisi. Karena masyarakat itu sendiri terbentuk oleh kesatuan hidup manusia yang terikat dalam satu sistem adat dan tradisi. Ketika seseorang berada dalam satu kelompok maka dia akan cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh kelompoknya. Seseorang melakukan sesuatu yang sesuai dengan kelompoknya karena mereka ingin diterima sebagai anggota/bagian dari kelompok tersebut, sehingga dia tidak dianggap salah. Bicara tentang salah, pasti ada kebenaran juga.

Apakah kebenaran itu? Kebenaran adalah kesesuaian antara pengetahuan dan objek. Ada dua jenis kebenaran, yakni kebenaran obyektif dan kebenaran subyektif. Pertanyaannya adalah, di dalam suatu masyarakat majemuk dengan kompleksitas masalah yang terjadi di dalamnya, apakah masih ada kebenaran yang nyata? Seperti apa standar yang digunakan untuk menentukan sesuatu itu disebut salah atau benar? Sementara standar itu sendiri umumnya muncul dari sistem yang ada, atau mungkin hasil dari refleksi/pemikiran ulang dari sistem yang telah ada. Secara umum, konsep 'kebenaran' dikaitkan dengan kesalahan, ketidakakuratan, kemunafikan atau ketidakjujuran/kebohongan.

Tapi apa yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah kebenaran subyektif, dimana setiap individu memiliki pendapat mereka sendiri tentang konsep benar dan salah. Sehingga apa yang terjadi adalah kontradiksi. Beberapa orang mengikuti beberapa hal yang menyimpang, seperti apa yang dilakukan oleh banyak orang dan sayangnya penyimpangan itu dianggap sebagai sebuah 'kebenaran'. 'Kebenaran' yang sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Jika Anda bertanya, mengapa saya bisa mengatakan seperti itu. Saya beri Anda satu contoh, dalam sebuah kasus, ada seorang mahasiswa pintar yang tidak ingin melakukan kecurangan saat ujian, padahal teman-temannya yang lain melakukan kecurangan itu. Bahkan, mereka bergabung bersama-sama untuk melakukan kecurangan itu saat ujian. Kemudian, ketika siswa pintar tersebut tidak ingin melakukan kecurangan, dia dikucilkan oleh teman-teman di sekitarnya. Malang, orang-orang itu merasa apa yang mereka lakukan adalah hal yang 'normal' dan dianggap sebagai suatu 'kebenaran'. Mengapa 'kebenaran'? Karena mereka melakukannya bersama-sama. Jadi, ketika nilai yang mereka peroleh lebih tinggi daripada siswa yang cerdas, mereka akan merasa bangga--dan bahkan tanpa rasa malu mereka mengatakan bahwa itu adalah hasil dari kerja keras mereka. Ironis!

Pergeseran nilai-nilai kebenaran seperti ini bahkan dianggap sebagai hal umum dalam masyarakat kita--dimana kebanyakan saat ini orang yang melakukan kebaikan dianggap sebagai orang yang sok suci. Tapi ketika ada seseorang melakukan hal yang salah, banyak orang membelanya. Jadi, kedengarannya seperti "Saya merasa sesuatu itu benar dengan melakukan hal yang salah dan aku merasa sesuatu itu salah dengan melakukan hal yang benar", bukan? Ini hampir terjadi di banyak kasus saat ini. Lalu pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kita memilih kebenaran sejati? Klaim kebenaran atas sesuatu yang salah akan terus terjadi. Berikutnya, kebenaran bukan lagi kebenaran sejati, tapi hanya menjadi sebuah simbol yang tidak bermakna. Implikasinya adalah bahwa seseorang dapat melakukan apa-apa 'seenaknya sendiri' sesuai keinginan mereka dan tidak ada standar untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya adalah 'kebaikan'. Meskipun apa yang dia lakukan bertentangan dengan moralitas dan hati nurani. Tetapi kita hidup dalam sebuah masyarakat di mana hal itu sudah mendarah daging dalam diri masyarakatnya. Jadi, bijaksanalah atas segala sesuatu!


Salam,

Bening.